Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 51 - Aku Ingin Menemuinya


__ADS_3

"Matanya selalu mengikutimu, kemanapun kamu melangkah. Lucu kan? Harusnya dia membencimu, tapi mengapa dia melakukan hal itu? Kamu tahu jawabannya Khan? Karena rasa sayang yang dimilikinya untukmu jauh lebih besar dari rasa sakit yang kamu tinggal


kan,"


Dino terdiam sejenak. Dia melihat tubuh Khansa gemetar, seperti sedang menahan tangis. Setidaknya Dino tahu bahwa Khansa sedang mendengarkannya. Ada sebersit rasa bersalah di hati Dino, karena telah membuat wanita yang tengah hamil besar itu menangis. Tapi dia meyakinkan diri, bahwa hal ini tidak akan berimbas apa-apa terhadap kesehatan Khansa.


"Singkat cerita, dia selalu memperhatikanmu. Dia menyuruhku untuk menjagamu. Memperhatikan setiap detail kecil yang kamu lakukan, dan melaporkan padanya. Mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa dia tidak memiliki keberanian untuk mendekatimu secara langsung?"


"Jawabannya adalah karena rasa takut dan tidak percaya diri. Dia takut melihat kebencian di matamu. Ucapanmu benar-benar membuatnya trauma. Dia begitu dilema. Dia tidak bisa melepasmu begitu saja, namun dia tidak memiliki keberanian untuk mendekat. Pada akhirnya dia memutuskan untuk menjagamu dari jauh,"


"Fisiknya memang jauh darimu, tapi hatinya selalu untukmu. Untuk mengetahui kabarmu, dia sampai menyewa orang untuk memperhatikan tingkah lakumu."


"Aku tahu sikapnya itu tidak normal, tapi aku berusaha memahaminya. Dia berusaha mengekspresikan perasaannya dengan caranya sendiri,"


"Khansa, pernahkah kamu berpikir mengapa reuni itu diadakan di Surabaya? Mengapa tidak di kota J*****, kota asal kita? Jawabannya, karena kamu ada di kota itu. Pernahkah kamu berpikir mengapa dia tiba-tiba menjadi atasanmu sementara bidang yang ditekuninya sangat bertolak belakang dengan pekerjaanmu itu? Jawabannya lagi-lagi kamu."


"Dia memberanikan diri keluar dari zona nyamannya karena melihatmu dilamar laki-laki lain. Dia tidak ingin melihatmu dimiliki laki-laki lain,"


"Khansa, aku berkata seperti ini bukan semata-mata untuk membelanya. Aku tahu dia juga salah. Perlakuannya terhadapmu, sikap diam dan tidak pekanya, semua itu salahnya. Tapi pernahkah kamu berpikir bahwa karakternya itu terbentuk karena keadaan? Dia bukannya sengaja bersikap seperti itu..." Dino terdiam, kemudian menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.


"Hah, sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara di sini. Sudah saatnya aku pergi. Tujuanku ke sini hanya satu, membuatmu tahu bagaimana perasaannya selama ini. Aku tidak memintamu untuk memaafkannya, namun setidaknya kamu perlu tahu posisinya. Merefleksikan dirimu sebagai dirinya. Mungkin dengan melakukan itu kamu akan sedikit memahaminya,"


"Khansa, aku adalah orang pertama yang akan bertepuk tangan untuk kebahagiaan kalian. Aku harap kamu tidak mengambil keputusan bodoh yang akan disesali nantinya," Dino berdiri, bersiap-siap untuk pergi. Namun sejurus kemudian, dia mengingat sesuatu.


"Aku tidak tahu apakah dengan melihat ini akan mengubah keputusanmu atau justru memperparahnya. Aku hanya ingin sedikit menunjukkan cinta seorang laki-laki bodoh untukmu. Aku harap kamu bisa merasakan perasaannya." Dino meletakkan ponsel Alex di samping Khansa. Menatap Khansa penuh harap. Berharap wanita itu akan berbalik dan melihat isi dari ponsel itu. Namun Khansa tetap tak bergeming, terlihat tidak peduli.

__ADS_1


Dino menghela napas panjang dan memejamkan matanya rapat-rapat.


Nguk, setidaknya aku sudah berusaha. Hasil akhirnya, kita serahkan saja pada Tuhan. Hanya Dia yang mampu membolak-balikkan hati manusia, tak terkecuali hati Khansa. Semoga kebahagiaan segera datang untukmu, Nguk.


***


Khansa menatap gambar demi gambar dengan airmata berlinangan. Semenjak sepuluh menit yang lalu, dia menatap gambar yang seolah-olah tiada habisnya itu. Keseluruhan isi galery itu hanya berisi foto-fotonya. Dari dirinya SMA sampai kerja. Bahkan foto Andre yang sedang melamarnya juga ada di sana.


Rasanya dia ingin marah, karena merasa privasinya telah di obrak-abrik. Namun di sisi lain dia tidak bisa melakukannya. Inilah wujud cinta dari seorang Yohan Alexander yang diragukannya.


Khansa menyangka Alex mungkin mencintai atau menyayanginya karena kehadiran bayi di dalam perutnya. Namun bila melihat foto-foto ini, hal itu terpatahkan seketika. Semua isi foto-foto ini menunjukkan perasaan Alex untuknya.


"Bodoh, bodoh, bodoh...hiks..." Khansa terisak. Perasaannya bercampur aduk tidak karuan. Senang dan sedih membaur menjadi satu.


"Bodoh... Kalau suka, mengapa tidak mengatakannya? Mengapa diam seperti itu? Bodoh..." Khansa menangis. Airmata bercucuran di wajah ayunya.


"Bodoh... Bodoh... Huuuu..." Khansa menangis sesegukan. Kilatan dari banyaknya kejadian berkelibatan di dalam pikirannya. Hal-hal yang menurutnya sia-sia dan banyak membuang-buang waktu. Andaikan perasaan itu diungkapkan dari dulu, mungkin tidak akan seperti ini kisah perjalanan mereka. Mereka tidak akan melalui semua drama kesalahpahaman ini dan akan hidup dengan bahagia.


["Bila tidak ada kesalahpahaman, bagaimana aku bisa bikin cerita kalian?", said ErKa 😌]


Khansa menelungkupkan wajahnya diantara kedua tangannya. Dia menangis terisak-isak, menyesali setiap perkataan bodohnya. Menyesali setiap sikap-sikapnya. Dia menyesal...


KLEK (Suara pintu yang dibuka tiba-tiba)


"Dasar bodoh. Di saat istrinya sedang butuh perhatian malah ikut-ikutan sakit. Dasar anak bodoh! Tidak bisa diharapkan!" Mama tiba-tiba masuk ke kamar Khansa sembari mengomel. Sementara Ibu mengikuti di belakangnya sembari menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

__ADS_1


"Sudahlah Dek. Anak sakit itu harus dirawat, bukan malah diomelin seperti ini..."


"Lah, gimana nggak ngomel Mbak? Istrinya sakit, butuh istirahat dan perhatian yang banyak dari dia. Tapi bukannya menemani istrinya, dia malah ikut-ikutan sakit. Drama apalagi ini?"


"S-siapa yang sakit Ma?" Khansa membuka mulut. Perasaannya menjadi tidak enak. Entah mengapa dia merasa bahwa yang sakit itu Alex, padahal Mama juga punya anak laki-laki lainnya.


Mendengar pertanyaan Khansa, Mama langsung memfokuskan perhatiannya pada menantunya, "Oh sayang, mengapa matamu merah? Apa kamu menangis?" Mama menghampiri Khansa dan menghapus jejak-jejak airmata di pipinya. "Ah anak bodoh. Dia pasti membuatmu menangis. Benar-benar tidak bisa diharapkan! Sakit saja terus, kalau perlu tidak usah sembuh saja!!"


"Dek, jangan bicara kayak gitu. Awas ada malaikat lewat." ucap Ibu khawatir, tampak sangat keberatan dengan ucapan yang terlontar dari bibir Mama.


"Aku kesel Mbak. Lihat ini. Si bodoh itu membuat istrinya menangis seperti ini." Mama memeluk Khansa dengan hangat, berusaha untuk menghiburnya, "Sshhh, sayang, jangan menangis lagi. Jangan pikirkan si bodoh itu lagi. Dia tidak pantas mendapat perhatianmu. Biarkan dia sakit..."


"Ma, Alex sakit?!" Khansa menarik tubuhnya dari dekapan ibu mertuanya dengan cepat. Dia memegang kedua sisi tubuh Mama, menatap Mama dengan tatapan bertanya-tanya sekaligus mendesak.


"Ma?? D-dia sakit?" Khansa sudah tidak bisa menahan suaranya yang hampir pecah karena tangis. Matanya mulai berkaca-kaca.


Mama membelai rambut Khansa dengan lembut, "Iya, si bodoh sakit sayang. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan kita..."


"Dimana dia?!" Tiba-tiba Khansa beranjak, berusaha untuk berdiri dengan tiba-tiba. Wajahnya dipenuhi dengan kekalutan. Mama terkejut melihat pergerakan Khansa yang begitu tiba-tiba. Beliau langsung menahan tubuh Khansa, agar tidak pergi kemana-mana.


"Mau kemana sayang? Kamu masih harus bedrest..."


"Aku mau menemuinya Ma. D-dimana dia Ma? Dimana?!! Aaaakhhhh..." Khansa tak bisa menahan tangisnya. Airmatanya kembali jatuh bak bendungan air yang jebol. Dia menangis dengan menghiba-hiba. Airmata penuh penyesalan, kesedihan sekaligus kekhawatiran.


***

__ADS_1


Happy Reading 😪


NB : Sumveh nggak niat gantung genk, aku ngantuk parah 😪 Mataku gak bisa melek lagi buat ngetik. Cukup ini dulu ya, maafkeun 🙏


__ADS_2