Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
[POV Alex] Ch 37 - Sakit Hati & Kecewa


__ADS_3

Berulang kali aku membujuknya, namun Khansa tetap acuh. Dia seolah-olah menganggapku tidak ada. Aku melakukan berbagai cara untuk menarik perhatiannya, namun tetap tidak mendapat respon darinya.


Sikap Khansa yang seperti itu sedikit banyak membuatku kecewa. Aku sangat merindukannya. Aku berharap mendapat sambutan yang hangat. Kupikir Khansa juga mungkin sedikit merindukanku, namun kenyataannya tidak seperti itu. Khansa terlihat dingin dan menjaga jarak. Sebenarnya apa salahku?


Meskipun responnya dingin, aku tetap berusaha untuk mengambil hatinya. Melakukan hal-hal kecil yang mungkin saja akan membuatnya senang dan mau memaafkan kesalahan yang tak kutahu.


Hari itu aku mengantarkan Khansa untuk melakukan check up kandungan. Kabar baiknya, tidak ada masalah apapun dengan kandungannya. Alkha tumbuh dengan sehat dan kuat. Jagoanku menepati janjinya, untuk tidak rewel dan merepotkan mamanya.


Kabar buruknya, kami dilarang untuk melakukan hubungan suami istri terlebih dulu. Kabar ini tentu saja membuatku kecewa. Menyentuh Khansa merupakan kebutuhan primer bagiku. Layaknya aku butuh udara untuk bernapas. Sosok Khansa sepenting itu untukku. Membayangkan tidak bisa menyentuhnya selama beberapa bulan ke depan membuatku sangat tersiksa, namun aku tidak punya pilihan lain. Bila aku ingin istri dan anakku baik-baik saja, maka aku akan melakukan apapun termasuk bila harus menahan diri untuk tidak menyentuh istri tersayangku.


***


Hari itu terjadi insiden yang cukup memalukan dan menyakitkan. Ketika aku membuatkan susu untuk Khansa, bagian tubuh kebanggaanku tersiram air panas. Aku berharap *masa depanku* itu akan baik-baik saja.


Tapi ada sisi positif dari insiden itu. Karena hal itu, Khansa tidak lagi acuh. Wanita itu mengkhawatirkanku. Setidaknya aku tahu masih ada sedikit perhatiannya untukku.


Aku pikir Khansa tidak lagi marah padaku dan memaafkan kesalahan yang tak kutahu. Aku pikir semuanya sudah baik-baik saja. Hubungan kami kembali normal seperti sedia kala, namun nyatanya tidak seperti itu. Rasa bahagia itu seketika sirna.


Aku terlalu menyepelekan kemarahannya. Aku pikir dia hanya marah biasa. Marajuk untuk mendapatkan perhatian. Namun aku salah, benar-benar salah. Kata-katanya menamparku. Membuatku sesaat kehilangan pikiran.


"Al, aku tidak bisa hidup denganmu lagi. Ini terlalu menyakitkan. Aku tidak bahagia. Lepaskanlah aku..."


Aku merasa seolah-olah waktu telah berhenti. Telingaku menjadi tuli. Otakku buntu. Tidak ada lagi suara-suara yang kudengar, selain suara Khansa. Dadaku seketika sesak. Seolah-olah ada beban besar yang diletakkan di sana.


Khansa tidak bahagia. Di-dia tidak bahagia hidup denganku?? A-aku pasti salah dengar kan?


"Ka-kamu be-benar-benar tidak bahagia?" Aku benci suaraku yang bergetar. Aku takut Khansa akan melihat kelemahanku. Aku segera membalikkan tubuh, menyembunyikan ekspresiku darinya.


Jantungku berdebar-debar, menunggu jawaban. Khansa pasti sedang bercanda. Dia tidak serius dengan ucapannya. Atau dia berkata seperti itu karena dorongan emosi saja. Tidak mungkin dia tidak bahagia hidup denganku. Benar seperti itu kan?


Tapi jawaban Khansa merusak semua asumsiku. "Iya, aku tidak bahagia. Ijinkan aku pergi..."

__ADS_1


Aku memejamkan mata. Tubuhku mulai gemetar tanpa kudasari. Luapan emosi memenuhi dada. Kecewa, sedih, putus asa, marah, sakit hati, terluka menjadi satu. Aku merasa menjadi manusia yang paling tidak berguna.


Wanita yang paling ingin kubahagiakan ternyata tidak bahagia hidup bersamaku. Kepercayaan diriku kembali hilang. Apakah sebagai laki-laki aku semengecewakan itu?


Kenapa Khansa tidak bahagia? Apa karena dia belum mencintaiku? Atau ada alasan lain? Tiba-tiba sekelebat bayangan laki-laki itu muncul di pikiranku. Tubuhku bergidik membayangkan kemungkinan itu.


Tidak, tidak. Khansa sudah tidak ada hubungan dengan pria itu lagi. Tidak mungkin alasan ketidakbahagiaannya karena laki-laki itu. Pasti karena hal lain. Tapi apa?


Ingatan Khansa masih menyimpan cincin pemberian si brengsek kembali menghantuiku. Hal itu kembali membuatku ragu.


"Ap-apa itu karena DIA?" tanpa sadar pertanyaan itu meluncur dari mulutku. Aku menyesal. Seharusnya aku tidak pernah menanyakan pertanyaan itu. Aku takut mendengar jawabannya. Aku takut akan semakin sakit hati dan kecewa.


"Ya, sebagian besar karena DIA."


DEG


Jawaban Khansa membuat jantungku seolah-olah berhenti berdetak. Sengatan rasa sakit memenuhi dadaku. Kepalaku mulai pusing dan perutku mual.


Tubuhku mulai limbung. Akan sangat memalukan dan tidak berharga diri bila Khansa melihatku jatuh seperti ini.


Dddrrrttt... Dddrrrttt... Dddrrrttt...


Bunyi ponsel menyadarkan sekaligus menyelamatkanku dari kejadian memalukan. Aku mengambil ponsel dan berpura-pura sibuk dengannya. Panggilan itu dari salah satu pimpinan anak perusahaanku. Tanpa melihat Khansa, aku keluar dari kamar.


"Aku akan menjawab pertanyaanmu setelah kita bertemu lagi."


Aku yang pengecut ini memutuskan untuk kabur. Aku butuh waktu sendiri untuk mencerna semua yang terjadi. Aku tidak siap untuk menjawab pertanyaan Khansa saat ini.


***


Aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku. Hatiku hancur, benar-benar hancur. Dadaku sesak. Ada lubang besar di dada, seolah-olah jantungku terenggut dari tempatnya berada. Perutku bergejolak, rasa mual kembali melanda. Kepalaku mulai berputar. Gelombang rasa mual ini pernah kurasakan sebelumnya. Aku merasa dejavu.

__ADS_1


BUUUKK... BUUUKK... BUUUKK...


Kupukul-pukul dadaku, berusaha menghilangkan rasa sakit dan perih yang bersarang di sana.


"Tu-tuan, Anda tidak apa-apa?" suara sopir terdengar khawatir.


"Huuuumpp!!" Perasaan ingin muntah kembali melanda. Perutku bergejolak, ingin memuntahkan segala isinya. Sopir melihatku dengan khawatir.


"Tuan?! Anda tidak apa-apa? Sa-saya antar Anda ke RS..." Aku menggeleng-gelengkan kepala. Memberi aba-aba padanya untuk menepikan mobil. Tanpa diperintah kedua kali, sopir segera menghentikan mobil di bahu jalan. Begitu mobil berhenti, aku langsung membuka pintu dengan terburu-buru dan...


"Hoeeek... Hoeeek... Hoeeek..." Aku muntah-muntah dengan hebatnya. Sopir terlihat canggung ketika menepuk-nepuk punggungku, berusaha membuatku baik-baik saja. Aku memberi gerakan dengan tangan, menyuruhnya untuk pergi dan menjauh. Meskipun ragu, dia menuruti perintahku.


Gejolak di perutku tidak kunjung mereda. Malah semakin memburuk. Aku memuntahkan semuanya, hingga perutku sakit karena sudah tidak ada lagi yang tersisa.



Lelehan airmata membanjiri pipiku. Dadaku sesak dan sakit. Setelah belasan tahun berusaha dan berjuang untuk menghilangkan trauma, rasa sakit ini kembali kurasakan. Perasaan ini terasa lebih sakit dari sebelumnya. Wanita yang kuanggap mampu menyembuhkan luka hati ternyata kembali menorehkan luka, bahkan lukanya jauh lebih dalam dari sebelumnya.


"Khan... Khansa... Sakit... Ha-hatiku sakit... Khansa... Huuuu..."


BUUUKKK... BUUUUKKK... BUUUUUKK...


Aku kembali memukul-mukul dadaku, berharap dengan melakukan hal itu rasa sakit di dada ini akan hilang. Semua ucapan Khansa kembali terngiang-ngiang.


Aku tidak pernah bahagia hidup denganmu Al. Tidak sedikit pun. Tidak semenit, atau bahkan sedetik pun!!


Apa semua ini karena dia?


Ya, semua ini karena DIA.


***

__ADS_1


Happy Reading 😊


__ADS_2