
"Kalian sedang apa?"
Khansa maupun Alex menoleh pada asal suara itu. Di pintu terlihat keluarga dan dokter Afifah yang menatap dengan pandangan bertanya-tanya.
Dokter Afifah tampak tercengang. Dino, Mama dan Papa tersenyum usil, sementara Ayah dan Ibu memalingkan wajahnya yang memerah karena malu.
"Le-lepasin Mas..."
"Nggak mau." Alex tetap mengeratkan pelukannya. Ingin rasanya Khansa bersembunyi di lubang semut untuk menutupi rasa malunya.
"Pak Yohan, bukankah saya sudah bilang jangan melakukan hubungan suami istri dulu sampai Ibu Khansa melahirkan, tapi mengapa..."
"Ka-kami tidak aneh-aneh kok Dok." Khansa membela diri. Dia berusaha melepaskan tubuhnya dari capitan tangan Alex, "Lepasin Mas. Malu dilihat orang..."
"Kenapa harus malu? Semua orang tahu kita suami istri."
"Kalau nggak dilepasin, aku nggak mau sama kamu lagi." tandas Khansa.
"Jahat kamu yank. Iya, iya aku lepasin. Jangan ngancam kayak gitu dong yank." dengan berat hati Alex melepaskan pelukannya. Kemudian mereka sama-sama duduk di ranjang. Menghadapi orang-orang yang datang dengan suasana penuh kekikukan.
Dokter Afifah mendekati Khansa. Memeriksa suhu tubuh Khansa dan pemeriksaan lainnya. "Masih ada rembesan?" tanyanya.
"Tidak ada Dok,"
"Bagus. Jangan capek-capek. Tidak boleh banyak gerak. Satu hal yang penting Bu, bila suami Anda meminta macam-macam, jangan dikasih ya Bu. Pastikan Anda tidak tergoda dengan rayuannya,"
"Dan Anda Pak Yohan, jangan merayu istri Anda. Pasien harus bedrest. Sudah dua kali cairan amnion ibu Khansa merembes. Anda harus menahan diri setidaknya sampai ibu Khansa melahirkan secara normal dan menyelesaikan masa nifasnya. Apa Anda mengerti?"
Alex hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia terlihat seperti anak kecil yang tengah dimarahi oleh gurunya. Entah harus tertawa atau sedih melihat Alex seperti itu.
"Pak Yohan, Anda harus segera sehat agar bisa merawat istri Anda. Jadilah suami siaga dan peka. Ya sudah, itu saja. Ibu Khansa, jangan lupa segera kembali ke kamar Anda dan beristirahat."
"Baik Dok..." Khansa menyahut lirih, sementara dokter Afifah keluar dari ruangan itu.
"Huft..." hembusan napas lega terdengar dari bibir Alex. "Kenapa aku merasa dokter itu sangat membenciku?"
"Ya pantas saja dokter Afifah membencimu. Kamu hampir membuat kami kehilangan cucu." Mama berkata dengan nyinyir, sengaja menyindir anaknya agar sadar dengan kesalahannya. Wajah Alex langsung mengernyit sakit mendengar kata-kata Mama.
"Ayo sayang, kita kembali ke kamar. Biarkan si bodoh ini di sini..." Mama mengulurkan tangannya pada Khansa, sebelum Khansa berkesempatan untuk meraihnya, Alex terlebih dulu memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.
"Please yank, di sini saja. Jangan tinggalin aku. Istirahat di sini saja, ya, ya, ya..." suara Alex terdengar menghiba-hiba, matanya dipenuhi pengharapan. Dia seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.
"Lepas Al! Jangan ganggu istrimu!" Mama menampar tangan Alex yang membelit tubuh Khansa, tapi Alex tetap bersikukuh untuk tidak melepasnya.
__ADS_1
Mama sudah akan memarahi Alex kembali ketika beberapa perawat datang dengan membawa troli berisi makanan.
"Bapak Yohan, ini adalah makan siang Anda. Diusahakan untuk dihabiskan karena sebagai pengganti cairan tubuh Anda yang telah keluar. Kalau begitu, kami permisi dulu," selepas tiga orang perawat itu pergi, Mama kembali berbalik pada Alex.
"Makan makananmu Al. Kami akan membawa Khansa keluar..."
"Aku tidak mau makan kalau dia tidak di sini."
"Ya ampun Al, jangan seperti anak kecil!! Ingat, sebentar lagi kamu juga akan menjadi seorang ayah!"
Alex tidak memedulikan ucapan Mama. Dia hanya sibuk mendekap Khansa. Begitu enggan untuk melepasnya.
"Ma, aku mau di sini dulu. Setelah dia selesai makan, aku akan kembali ke kamar,"
"Sayang, ingat perkataan dokter. Jangan tergoda dengan rayuannya," Mama membelai pipi Khansa, "Kalau begitu, kami keluar dulu. Ingat Al, jangan macam-macam. Istrimu masih sakit." Mama mendelikkan matanya pada Alex, sementara pria itu hanya menjawab dengan mengacungkan jempolnya.
Semua keluarga keluar dari kamar. Alex segera memanggil Dino sebelum pria itu hilang dari pandangan.
"Din, ke sini."
"Apalagi sih Nguk? Bukannya kamu sudah sehat? Sudah nggak butuh aku?"
"Panggilkan Winda. Suruh dia urus administrasi kepindahan istriku kemari. Suruh mereka mengganti ranjang ini dengan yang lebih besar."
"Kalau pun nggak ada, diada-adain. Cepat!"
"Ya ampun. Menyesal aku sudah membantumu kalau tahu sifat menyebalkanmu ini kembali keluar." meskipun begitu, Dino dengan patuh melaksanakan perintah Alex. Entah darimana hal itu bermula, sepertinya dia memang tercipta untuk menjadi budak dari seorang Yohan.
Hanya tinggal mereka berdua di kamar itu. Alex masih tidak melepaskan pelukannya. Bahkan bibirnya mulai mengecupi pundak Khansa, membuat wanita itu kegelian.
"Sudah Mas, lepasin. Makan dulu..."
"Suapin."
"Iya, tapi lepasin dulu..." Alex dengan berat hati melepaskan capitan tangannya, membiarkan Khansa mengambil makanan yang hanya sejangkauan tangan.
"Ayo makan,"
"Iya." Alex dengan patuh membuka mulutnya, sementara Khansa dengan telaten menyuapinya.
Alex menatap wajah Khansa lekat-lekat. Tiba-tibanya matanya kembali berkaca-kaca. Rasanya masih tidak percaya wanita yang selama ini dipikirnya telah membencinya ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Sering seperti ini?" tanya Khansa dengan suara lirih.
__ADS_1
"Seperti apa?"
"Muntah-muntah seperti ini," suara Khansa mulai pecah. Dia fokus pada makanan di tangannya. Dia terlalu malu menatap mata Alex, karena hatinya dipenuhi dengan rasa bersalah.
"Tidak sering sayang. Aku jarang sakit,"
"Maaf ya Mas... Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini..."
"Kata siapa? Aku kayak gini karena masuk angin saja."
"Aku, aku tidak berniat mengucapkan kata-kata itu. Aku pikir, kamu pasti akan senang kalau bisa kembali dengan Diana. Aku melakukannya agar kamu membenciku. Kata-kata itu bukan berasal dari hatiku. Malah kebalikannya..."
"Kebalikan?"
"Iya..."
"Waktu itu kamu bilang muak padaku. Kalau kebalikannya, apa itu artinya kamu tidak muak? Tidak membenciku karena menangis waktu itu? Tidak memanfaatkanku? Tulus berteman denganku?"
"Ya Tuhan... Mas, kamu benar-benar mengingat semua ucapanku. Pasti ucapanku sudah meninggalkan luka di hatimu... Maaf, maaf... Aku tidak bermaksud seperti itu..." Khansa meraba dada Alex, seolah-olah ingin menyembuhkan luka yang terlanjur bercokol di sana.
Alex meraih tangan Khansa dan mengecupi jari-jemarinya. Membawa tangan itu hingga membelai wajahnya.
"Semua rasa sakit itu sudah hilang sayang. Ada kamu di sini. Rasa sakit itu sudah tidak kurasakan lagi. Katakan padaku, sejak kapan kamu menyukaiku?"
"Tidak mau," Khansa menggoda Alex.
"Yakin tidak mau mengatakannya?"
"Hem..."
"Jangan salahkan aku," bibir Alex mulai merayap. Dia menjilati satu persatu jari jemari Khansa dan mengulumnya. Menimbulkan sengatan sensasi aneh pada tubuh istrinya.
"Mas, apa yang kamu lakukan?!!" Ingin rasanya Khansa melempar mangkok berisi bubur itu ke wajah suaminya yang kembali mesum!
***
Happy Reading 😂
NB : Dear kezheyengan... Mungkin sudah tau ya, novelku kena report lagi. Dalam satu hari ada 3 report 🙈 bahkan ada yang down rate setiap novel juga 🙊
Kalau ditanya, apa aku tau siapa yang mereport?? Jawabannya, ya aku tau. Tapi aku tidak ingin memperpanjang lagi. Masalahnya telah selesai.
Jadi di sini aku mau minta tolong genk, tolong bantu aku untuk memberi rate bintang 5 di setiap novel-novelku ya. Terima kasih 🙏🙇♀
__ADS_1