Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 59 - Kehidupan setelah Badai


__ADS_3

Selepas kepergian keluarga besar, rumah Alex dan Aaron kembali damai. Dua pasang pasutri itu mulai menjalani kehidupan pernikahan layaknya pasangan pada umumnya. Tentu saja dengan tingkah polah yang berbeda-beda.


Hari itu Khansa bangun pagi sekali. Dia ingin membuat sarapan, namun kemudian dia ingat pesan Alex. Pria itu melarangnya untuk melakukan hal ini-itu. Memang berlebihan, namun Khansa memilih untuk mematuhi kata-kata pria itu mengingat ini kali kedua cairan amnionnya merembes.


Selepas mandi, Khansa menelepon Mbak Asih untuk membawakan sarapan untuk Alex. Kemudian dia mendekati suaminya yang masih tertidur lelap.


Khansa memperhatikan wajah suaminya itu dengan seksama. Kalau dulu, melihat Alex seperti ini akan membuatnya selalu menyalahkan diri sendiri karena sudah mencintai pria milik wanita lain. Namun sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi. Yohan Alexander bukan milik wanita lain, tapi milik Khansa Aulia.


Memikirkan hal itu membuat Khansa senyum-senyum sendiri. Jari lentiknya mulai menelusuri wajah Alex secara perlahan. Membelai setiap bagian wajah itu. Menyusuri alis tebal, hidung mancung, hingga berakhir di bibir sensualnya.


Rasanya dirinya masih tidak percaya pria seperti Alex juga mencintainya. Bagaimana mungkin seorang idola sekolah yang sempurna dalam berbagai hal menyukai wanita sepertinya yang tidak memiliki kelebihan apapun? Bila Dino tidak menceritakan semua dan membawa bukti-bukti itu kepadanya, mungkin sampai saat ini dia tidak akan mempercayainya.


"Terima kasih karena sudah memiliki perasaan yang sama kepadaku..." ucap Khansa sembari mencium kening Alex. Ciuman sekali rupanya tak cukup. Khansa mulai memberi kecupan bertubi-tubi di pipi suaminya.


"Sayang, jangan menggodaku," geram Alex dengan mata yang masih terpejam, sementara kedua tangannya langsung merengkuh tubuh istrinya.


"Eh, sejak kapan bangun Mas?"


"Sejak tadi," Alex membuka matanya dengan malas. Raut wajah mengantuk masih memenuhi wajahnya. "Sudah tahu aku kurang tidur, masih saja menggodaku ya," Alex mencubit pipi Khansa dengan gemas. Ya, dirinya memang kurang tidur. Akibat hasrat yang tak tersalurkan membuatnya kesulitan memejamkan mata.


"Sudah jam tujuh Mas. Bangun dan segera siap-siap..."


"Siap-siap? Mau kemana?"


"Kerja. Mau kemana lagi? Cuti yang kamu ambil sudah terlalu lama Mas, sudah waktunya kembali kerja..."


"Aku nggak kerja."


"Hah?"


"Aku sudah berhenti. Sekarang suamimu ini pengangguran sayang,"


"Se-serius Mas?"


"Iya." Alex menatap Khansa yang tampak bingung. Wanita itu terdiam. Otaknya terlihat berpikir. Kemudian raut wajah kesungguhan nampak di wajahnya.

__ADS_1


"Ehm, nggak apa-apa. Uang tabunganku masih ada. Uang mahar pernikahan juga ada. Masih cukup untuk biaya melahirkan Alkha dan biaya hidup kita beberapa tahun ke depan..."


"Pffftttt!! Hahahaha!!" Alex tidak tahan untuk tidak tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah polos Khansa. Dia meraih wajah wanita itu dan mulai mengecupinya. "Sudah mau punya anak tapi kok pikiranmu masih polos sih yank? Gemes," Alex mencubit pipi Khansa, sementara wanita itu mulai cemberut.


"Serius dong Mas," dengan masih tertawa, Alex mulai menjelaskan. Dia memang sudah berhenti menjadi GH di perusahaan Khansa. Dia juga memutuskan untuk menyerahkan pengelolaan perusahaannya terhadap anak buahnya sampai waktu yang tidak ditentukan.


"Jadi aku sekarang benar-benar pengangguran sayang."


"Sampai kapan?"


"Sampai waktu yang tidak ditentukan. Pokoknya setelah kurasa siap, aku akan kembali ke perusahaan."


"Kenapa menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada orang lain Mas?"


"Ya, karena aku ingin menempel padamu sayang,"


"Hah? Alasan macam apa itu? Pikirkan kehidupan ribuan karyawan Mas..."


"Karena aku memikirkan mereka makanya pengelolaan perusahaan kuserahkan pada orang-orang yang unggul di bidangnya. Sekarang aku hanya akan memikirkanmu saja. Aku pengangguran, aku akan menempel padamu sepanjang hari." Alex mengelus bibir Khansa dan mengecupnya.


"Jadi kamu seharian akan di rumah Mas?"


"Iya."


"Beneran?"


"Iya. Kenapa nggak percaya sih? Kenapa? Ada yang mau diminta?" Khansa menyandarkan kepalanya di dada Alex. Senyum kecil tersungging di bibir manisnya. Entah mengapa ia senang membayangkan Alex akan bersamanya sepanjang hari. Kebahagiaan yang jarang di dapatnya.


"Mas..."


"Hem?"


"Aku pengen jalan-jalan..."


"Tidak boleh. Dokter menyuruhmu untuk banyak bedrest sayang. Bagaimana nanti kalau ketubanmu merembes lagi?"

__ADS_1


"Tapi nggak mungkin satu setengah bulan aku di rumah terus Mas. Ketuban merembes karena aku stress. Sekarang aku sudah nggak stres, nggak mungkin merembes lagi. Temani jalan-jalan ya Mas? Ya, ya, ya?" Khansa memasang wajah puppy eyes, membuat Alex tak kuasa untuk menolaknya.


"Arrrghhg!! Kenapa kamu harus secantik ini sih!!"


"Hmmmphh!!" Alex langsung meraih wajah Khansa dan mel😘mat bibirnya dengan rakus. Lidahnya menelusup masuk, menari-nari di kehangatan rongga bibir Khansa. Mengeksplorenya layaknya seorang musafir yang menemukan oasis di tengah padang pasir yang tandus.


"Huft, huft, huft..." Alex bernapas tersengal-sengal. Dia menjauhkan tubuh Khansa darinya, sementara tonjolan birahi menjadi bukti bahwa dia begitu menginginkan istrinya.


Alex merebahkan Khansa, sementara ia memutuskan untuk beranjak dari ranjang. Berada di ranjang dengan Khansa selalu membuatnya khilaf.


"Ehem!! A-ayo jalan-jalan. Berada di kamar berdua denganmu sangat berbahaya bagi kita. Aku tidak tahu sampai kapan bisa menahannya." Selepas berkata seperti itu, Alex segera berlari ke kamar mandi dan memutuskan untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


***


Khansa berhasil merayu Alex untuk mengajaknya jalan-jalan. Namun bukan Alex namanya kalau tidak berlebihan dalam segala hal bila menyangkut Khansa.


"Mas, ini tidak perlu."


"Perlu. Jangan membantah."


"Tapi aku malu Mas... Nggak lucu kalau jalan-jalan pakai ini..."


"Siapa yang bilang lucu? Fungsinya juga bukan buat lucu-lucuan kok. Ini buat keselamatanmu."


"Tapi ini terlalu berlebihan Mas..."


"Khansa, jangan membantahku." suara Alex yang tegas menyurutkan niat Khansa untuk berdebat. Akhirnya wanita itu dengan pasrah menerima semua perlakuan suaminya.


Alex mengeluarkan kursi roda dari dalam mobil dan membukanya. Setelah siap, dia menggendong Khansa dan menempatkan wanita itu di atasnya. Mengecek semua persiapan. Alex tersenyum puas ketika merasa semua persiapan telah sempurna.


"Ayo kita jalan-jalan." Mereka tengah berada di parkiran sebuah mall. Dengan bangganya Alex mendorong kursi roda itu memasuki mall, sementara Khansa menutup wajahnya. Dia terlalu malu menjadi pusat perhatian semua orang. Kecurigaan Khansa memang terbukti, karena hampir semua orang yang berpapasan dengan mereka menatap Khansa dengan perasaan ingin tahu dan kasihan.


***


Happy Reading 😅

__ADS_1


__ADS_2