Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
[POV Alex] Ch 39 - Apa Kamu juga Mencintaiku?


__ADS_3

Tubuhku gemetar melihatnya. Luapan rasa marah ini sudah mencapai ubun-ubun. Aku bergerak mendekat dan meraih kerah bajunya. Bersiap untuk memberinya kepalan tanganku yang mengeras.


Sebelum tanganku melayang, pria itu memegang tanganku dengan kuat. "Seorang pria tidak harus selalu menunjukkan kekuatannya dengan kekerasan." Dia menghempaskan tanganku, kemudian kembali duduk. Menatapku dengan tatapan tak terbaca.


"Sepertinya banyak kesalahpahaman di sini. Anda memiliki dua pilihan. Duduk dan selesaikan kesalahpahaman ini, atau pergi. Membiarkan kesalahpahaman ini tetap berlanjut." ucapnya.


Aku menatapnya, membaca semua ekspresinya dan menimbang-nimbang. Ekspresi mimik geli sudah tidak terlihat di wajahnya, yang tertinggal hanya ekspresi wajah serius.


Aku tertarik dengan kata-kata terakhirnya. Kesalahpahaman? Apa maksudnya? Aku ingin mendengar penjelasan mengenai kata-katanya. Dan itu bisa kulakukan bila aku duduk dengan tenang, mendengar setiap kata yang diucapkan.


Kutarik kursi dan kembali duduk di depannya. Jujur saja, amarah masih memenuhi dadaku. Rasa terhina karena ditertawakan masih tidak bisa hilang dari hatiku. Namun aku memilih mengesampingkan itu semua, karena aku begitu tertarik dengan ucapannya.


"Apa maksudmu kesalahpahaman? Kata-kataku yang mana yang membuatmu berpikir kalau semua ini hanya kesalahpahaman?!" tanyaku dengan tidak sabar.


"Pak Yohan, kenapa Anda berpikir kalau istri Anda mencintai saya? Saya sungguh tidak mengerti pemikiran itu..."


"Kalau kamu menyuruhku duduk hanya untuk membahas perasaan istriku, maka aku menutup pembicaraan ini."


"Kita harus membahasnya, karena puncak kesalahpahaman ini berasal dari pernyataan Anda. Saya benar-benar tidak mengerti. Sebenarnya Anda mendapat pemikiran itu darimana? Mengapa Anda berpikir istri Anda masih mencintai saya? Karena setahu saya, istri Anda tidak pernah mencintai saya. Bahkan ketika kami masih berstatus pacaran."


Sengatan perasaan terkejut menghantamku. Kutatap wajah pria itu dalam-dalam, untuk melihat mimik wajahnya. Tidak ada tatapan merendahkan, menghina ataupun menyepelekan. Mata itu terlihat jujur dan bersungguh-sungguh.


Aku menelan ludah dengan susah payah. Pernyataan pria itu membuatku bahagia sekaligus takut. Aku takut terlalu berharap dan pada akhirnya kenyataan akan membuatku kembali terjatuh.


"Saya tidak tahu permasalahan rumah tangga Anda, tapi yang saya lihat banyak kesalahpahaman di sini. Entah Anda yang tidak mempercayai istri Anda, atau tidak adanya keterbukaan dalam hubungan kalian." Andre terdiam, menatapku. Menungguku untuk bereaksi terhadap ucapannya. Tapi aku memilih diam. Aku ingin mendengar semua ucapannya.

__ADS_1


"Jujur saja, saya memang mencintai Khansa, jauh sebelum wanita itu menjadi istri Anda. Tapi perasaan itu sudah saya buang jauh-jauh. Saya mengikhlaskannya untuk bahagia. Anda adalah pria pilihannya. Anda adalah pria yang dicintainya."


"Mengapa Anda ragu dengan perasaan istri Anda? Mengapa Anda datang menemui saya hanya untuk menyampaikan omong kosong seperti ini? Bila Khansa tahu suaminya seperti ini, dia pasti akan sakit hati. Perasaannya telah diragukan..." ucap Andre dengan tatapan serius. Aku langsung memotong ucapannya.


"Tidak ada yang perlu diragukan dari perasaannya. Dari awal Khansa tidak mencintaiku. Tapi itu tidak apa-apa, aku akan membuatnya..."


"Mengapa Anda sangat yakin dia tidak mencintai Anda? Apakah Anda sudah menanyakan hal ini kepadanya? Apa dia dengan jelas mengatakan bahwa dia tidak mencintai Anda?"


Aku kembali terdiam, tidak bisa menjawab perkataannya karena aku memang tidak pernah melakukannya. Aku hanya berasumsi dan menyimpulkan, bahwa Khansa tidak mencintaiku. Aku terlalu malu dan pengecut untuk menanyakannya secara langsung apakah dia mencintaiku atau tidak.


"Anggap saja dia mengatakan tidak mencintai Anda, apa Anda akan langsung mempercayainya? Ucapan yang keluar dari mulut seorang wanita tidak selalu sama dengan apa yang dirasakan di hatinya. Anda tidak bisa langsung mempercayainya." Andre berhenti sejenak, suaranya tampak dipenuhi dengan emosi. Lagi-lagi aku tidak bisa menjawab perkataannya.


"Tidakkah Anda melihat tatapannya? Tidakkah Anda melihat gerak-geriknya? Dia begitu memuja Anda. Saya pikir Anda pria cerdas, namun ternyata pikiran saya salah!!"


"Seperti anak kecil yang kehilangan mainannya, Anda membabi buta datang kemari hanya untuk mengatakan bahwa istri Anda tidak mencintai Anda? Kenapa?Apa Anda ingin dikasihani seluruh dunia? Kenapa Anda tidak menanyakan secara langsung kepadanya? Apa Anda sepengecut itu?!"


"Ah, sudahlah. Saya tidak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian. Jangan libatkan saya dalam urusan rumah tangga kalian lagi. Hubungan saya dan Khansa telah selesai." Andre berdiri, tampak bersiap-siap meninggalkan tempat itu. Sementara aku masih terduduk, terlalu bingung untuk melakukan sesuatu.


Andre melangkah mendekati pintu. Tangannya memegang kenop pintu, bersiap untuk keluar dari ruangan itu. Sejurus kemudian dia menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Satu hal lagi. Jangan pernah meragukan perasaannya. Dia sangat mencintai Anda. Saya dengan tulus mendoakan kebahagiaan kalian." Andre kembali berbalik.


Perkataan terakhirnya membuatku tergelitik. Khansa mencintaiku? Mengapa dia bisa seyakin itu?


"Kenapa kamu sangat yakin kalau dia mencintaiku? Sementara aku tidak melihat cinta itu..." gumamku lirih. Rupanya Andre mendengar gumamanku. Dengan langkah lebar dia kembali mendekat dan menarik kerah bajuku.

__ADS_1


"Hei Tuan Yohan yang terhormat!! Sepertinya Anda tidak mengenal istri Anda dengan baik!! Coba Anda pikirkan!! Wanita baik-baik mana yang rela menyerahkan hartanya yang paling berharga hanya untuk seorang pria bila dia tidak benar-benar mencintai pria itu!!"


"Dua bulan kami berpacaran, bahkan untuk memegang tangannya saja dia tidak mengijinkan!! Tapi dia rela menyerahkan kesuciannya pada pria tidak peka yang meragukan perasaannya. Perasaan apalagi itu kalau bukan perasaan cinta?!"


"Mungkin kata-kata saya ini akan membuat Anda yakin. Ya, Khansa mencintai Anda!! Dia menolak lamaran saya karena mencintai Anda!! Kenapa saya tahu? Karena dia mengatakan itu secara langsung!! Apa Anda sudah puas dan yakin sekarang?!" Andre melepas cekalan tangannya di kerah kemejaku dengan hentakan, membuat tubuhku terdorong ke belakang. Kemudian dia pergi menjauh. Sebelum mencapai pintu, dia kembali berkata,


"Saya tidak peduli bila Anda akan memecat, memutasi atau mendemosi saya. Lakukan apapun yang Anda mau!! Saya tidak peduli!!"


BRAAAAKKK


Pria itu membanting pintu tepat di depan wajahku. Aku masih menatap pintu itu dengan tatapan kosong. Pikiranku berkelana kemana-mana. Ucapan Andre terngiang-ngiang di pikiranku.


Khansa mencintai Anda!! Dia menolak lamaran saya karena mencintai Anda!! Dia mengatakan itu secara langsung!!


Tubuhku tiba-tiba menggigil mendengar perkataan itu. Aku ingin mempercayainya, tapi terlalu takut bila kenyataan tidak akan sesuai dengan yang kuharapkan.


Be-benarkah Khansa juga mencintaiku. Be-benarkah semua ucapan yang dilontarkan pria itu?


Wanita baik-baik mana yang rela menyerahkan hartanya yang paling berharga hanya untuk seorang pria bila dia tidak benar-benar mencintai pria itu!!


Ucapan itu kembali terngiang-ngiang. Khansa adalah wanita baik-baik. Wanita paling polos dan lugu yang pernah kukenal. Wanita seperti dia tidak akan bertindak sejauh itu tanpa ada alasan di belakangnya. Apakah benar alasan dia mau melakukan hal itu denganku karena dia mencintaiku?!


Me-mengapa aku tidak pernah berpikir hal seperti itu sebelumnya? Mengapa yang kupikirkan hanya kebencian Khansa terhadapku? Mengapa aku tidak melihatnya dari sudut pandang lain?


Khansa sayang, benarkah kamu juga mencintaiku?

__ADS_1


***


Happy Reading 🤗


__ADS_2