Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 61 - Jalan Lahir


__ADS_3

"Jangankan kamar, kalau mau aku bisa beli bioskop ini dan isinya!!" Alex masih gusar. Dia berdiri sembari menunjuk wajah orang-orang yang meneriakinya.


"Ishh, apaan sih Mas. Norak banget. Ayo keluar. Aku malu banget nih..." Khansa menutup wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dia gunakan untuk menarik-narik kaos Alex.


"Mereka yang nggak sopan yank!! Seenaknya saja menyorot kita. Aku perlu bertemu dengan managemen!!"


"Duh jangan malu-maluin Mas. Kita kok yang salah. Ayo keluar, please... Aku beneran malu Mas..." Khansa mulai merengek. Sebenarnya Alex masih ingin meladeni orang-orang itu, namun rengekan istrinya membuat pikirannya teralihkan. Akhirnya dia menuruti mau Khansa. Mereka keluar dari gedung bioskop itu.


"Lain kali kita sewa satu studio yank. Kita bisa bermesraan tanpa ada gangguan," bisik Alex mesum.


"Nggak ada lain kali. Aku malu, malu, malu..." Khansa masih menutup wajahnya, Alex terkekeh melihatnya.


"Mau kemana kita?"


"Pulang. Aku malu..."


"Jangan pulang dulu..."


"Eh, kenapa kalian di sini?" Alex maupun Khansa menoleh untuk menengok asal suara itu. Mereka melihat Diana dan Aaron di depan mereka.


"Nggak di rumah, nggak di luar, ketemu kalian lagi. Bosan." gerutu Alex. "Kita mau kencan, sudah jangan ganggu." Alex membuat gerakan dengan tangannya, menyuruh kedua orang itu untuk menjauh. Tentu saja keduanya mengabaikan kata-kata Alex, mereka fokus pada Khansa.


"Lho, kamu kenapa Sha? Kenapa pake kursi roda? Bukankah sudah nggak apa-apa ya? Apa kandunganmu bermasalah lagi?" Diana mendekat dan membelai perut Khansa. Aaron juga ikut-ikutan mendekat. Melihat Khansa selalu membuatnya takjub. Ternyata ada seorang wanita yang mampu membuat adiknya bahagia, bahkan menjadikan wanita itu pusat dunianya. Andaikan diijinkan, Aaron ingin menciumi tangan Khansa untuk menunjukkan rasa terima kasihnya, tapi tentu saja dia tidak akan bisa melakukannya. Sebelum ia melakukannya, si adik lebaynya itu pasti sudah menghujaninya dengan bogem mentah.


"Aku nggak apa-apa Di. Dia aja yang berlebihan. Aku dilarang jalan. Katanya takut ketubannya merembes lagi..."


"Dasar laki-laki lebay. Hamil tua seperti kita-kita ini harus banyak-banyakin jalan Al, jangan lupa juga sering tengokin bayinya. Biar jalan lahirnya makin gampang," Diana tertawa usil, sementara Khansa wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Betapa mudahnya Diana membicarakan hal memalukan seperti ini di tempat umum? pikirnya malu.


"Ya, bisa kulihat. Kalian terlalu sering membuat jalan lahir sampai seluruh dunia pun akan tahu." Alex melirik leher Diana yang dipenuhi dengan cupangan.


"Sudah kubilang pakai syal. Kenapa tidak mau nurut sih?" Aaron membuka jaketnya dan menyelubungi tubuh Diana dengannya.

__ADS_1


"Aakh, panas hon... Siang-siang pakai jaket. Biar semua lihat juga. Biar tahu kalau aku milikmu..." Diana bergelayut manja, membuat Alex hampir muntah melihat kemesraan mereka. [Alex tidak berkaca, padahal sikapnya pada Khansa lebih membuat orang-orang ingin muntah dibanding sikap kedua orang itu 😏]


"Ya, sebentar lagi semuanya juga akan tahu." bisik Aaron sembari mengecup kening Diana lembut.


"Hah, muak aku melihat kalian. Kami pergi dulu!" Alex bersiap-siap mendorong kursi roda, namun Aaron menahannya.


"Mau kemana? Kita pergi bersama-sama saja."


"Malas. Aku hanya mau berduaan dengan istriku,"


"Mas, aku mau ikut mereka..." Khansa menarik ujung baju suaminya. Akhirnya mau tak mau Alex menuruti keinginan Khansa.


Mereka pergi ke cafe yang masih berada di dalam mall. Mereka duduk dalam satu meja layaknya pasangan yang sedang melakukan double date.


"Aku sebentar lagi akan mengadakan konferensi pers." ucap Diana tiba-tiba.


"Serius?" tanya Khansa.


"Kak, aku benar-benar tidak mengerti dirimu. Kalau kamu begitu mencintai Diana, mengapa selama bertahun-tahun ini menolaknya? Apa koma menyadarkan perasaanmu?" tanya Alex dengan bingung. Aaron membuka mulut untuk menjawab, namun Diana menahannya.


"Dia salah sangka Al..."


"Salah sangka gimana?" tanya Alex bingung. Dan Diana mulai menceritakan semuanya. Rasa bersalah Aaron terhadapnya. Keinginan Aaron untuk membuat mereka kembali bersama, hingga kehadiran Khansa yang memutus kesalahpahaman mereka.


"Ya ampun Kak, bagaimana kamu berpikir aku masih ada perasaan pada Diana?"


"Aku juga berpikir seperti itu Mas..." bisik Khansa lirih. Alex langsung melayangkan pandang pada Khansa. "Apalagi setelah melihat berita bahwa Princess D akan menikahi pacar semasa SMA-nya, aku pikir dia pasti akan menikah denganmu. Siapa lagi pacar SMA-nya Diana yang kutahu selain dirimu? Teman-teman juga pasti akan berpikiran sama denganku..."


"Sayangku, maaf telah membuatmu berpikir kesitu. Maafkan aku. Ini semua salahku yang tidak peka. Maaf ya, cup...cup...cup..." Alex kembali membombardir Khansa dengan ciuman-ciuman kecil. Kali ini pasangan Aaaron dan Diana yang muak melihat tingkah mereka.


Siang itu mereka habiskan dengan bercengkrama. Membahas hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang. Kemudian pembahasan itu mulai melebar. Aaron dan Alex membahas perusahaan, sementara Diana dan Khansa membahas kehamilan.

__ADS_1


Aaron merasa sudah waktunya dia kembali ke perusahaan, membantu Papa Atmadja yang berjuang mengurus perusahaan sendiri. Sementara Alex dengan santainya berkata, "Biarkan papa yang mengurusnya. Nanti setelah anak-anak kita lahir, beliau berencana untuk pensiun dan mengurus anak-anak kita. Selagi beliau belum pensiun, biarkan beliau yang mengurusnya." ucap Alex licik, sementara Aaron hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelicikan adiknya itu.


***


"Yank..."


"Iya?" Khansa menjawab tanpa melihat Alex. Tangannya sibuk melipat pakaian bayi yang baru saja datang.


"Sayang..." rengek Alex. Tangannya langsung melilit pinggang Khansa, sementara ciuman-ciuman kecil ia daratkan di tengkuk istrinya.


"Iya Masku sayang? Ada apa? Manja banget," Khansa mengecup puncak kepala Alex yang membuat pria itu semakin menyurukkan kepalanya di leher Khansa, membuat wanita itu kegelian.


"Yank..."


"Apa sih Mas? Kok nggak jelas gini?"


"Yank..."


"Nggak jelas aku tinggal nih. Kenapa sih?" Khansa membalikkan tubuhnya dan merangkum wajah Alex. Wajah pria itu tampak muram, namun penuh pengharapan, "Ada apa? Ada sesuatu mengganjal yang ingin dibicarakan?" tanya Khansa.


"Yank... Itu, tadi ucapan Diana... Katanya hamil tua disuruh sering nengokin baby, biar lahirannya lancar..." Alex berkata tanpa melihat wajah Khansa. Sepertinya pria itu takut melihat reaksi istrinya. Khansa tersenyum kecil melihat kelakuan suaminya.


Ya untuk ukuran pria sehat dengan gairah yang besar, cukup luar biasa juga melihat suaminya itu bertahan selama beberapa minggu ini. Biasanya dalam waktu sehari pria itu bisa meminta jatah berkali-kali, namun karena kondisi tubuhnya, pria itu harus menahan diri. Khansa merasa kasihan juga melihat penderitaan di wajah suaminya.


"Apa maksudmu Mas? Aku nggak ngerti," Khansa berpura-pura bodoh, senang sekali dia melihat suaminya dalam kondisi lemah seperti itu.


"Aku akan membuatmu mengerti yank," Alex langsung menempelkan bagian tubuhnya yang menonjol yang bersinggungan dengan perut Khansa.


"Ya ampun, iya-iya aku sudah mengerti Mas. Sebentar, aku hubungi dokter Afifah dulu. Nggak sabaran banget ya," Khansa mencubit perut Alex dengan gemas.


***

__ADS_1


Happy Reading 😚


__ADS_2