
"Berapa menit sekali kontraksinya?" tanya dokter Afifah dengan tenang.
"Ak-aku tidak tahu. Aku tidak menghitungnya." Alex enggan melepas Khansa. Dia memeluk Khansa dari belakang. Wanita itu bersandar di dadanya dengan wajah menahan kesakitan.
Khansa tidak sedikit pun mengeluh. Dia hanya sedikit merintih, sementara wajahnya mengekspresikan rasa sakit yang dirasakannya. Bulir-bulir keringat dingin membasahi dahinya. Sangat jelas terlihat rasa sakit yang nyata namun berusaha untuk disembunyikan.
"Pak Alex, tenang. Anda tidak boleh panik. Anda harus menjadi kekuatan bagi istri Anda. Berpikirlah yang jernih. Berapa kali kontraksi terjadi selama perjalanan kemari?"
"Arrghh!!" Alex menjambak rambutnya sendiri. Berusaha untuk berpikir, tapi kepalanya seolah-olah buntu.
"Mu-mungkin dua tiga kali... Arghhh mungkin empat kali? Aku lupa Dok," suara Alex terdengar putus asa.
"Baiklah Pak Alex. Dengarkan perkataan saya. Fokus dan jangan panik. Barusan saya telah memeriksa serviks (mulut rahim). Untuk saat ini serviks membesar empat sentimeter, artinya masih pembukaan empat. Karena ibu Khansa belum pernah melahirkan sebelumnya, jadi butuh waktu sekitar enam sampai sepuluh jam untuk mencapai pembukaan sepuluh. Semakin mendekati pembukaan besar, interval kontraksi akan semakin pendek."
"Tugas Anda adalah mensupport dan menjadi kekuatan bagi istri Anda. Bila sakit datang, beri dia pelukan dan gosokan di punggung. Bila kontraksi hilang, usahakan dibuat jalan-jalan agar proses pembukaan bisa berlangsung lebih cepat."
"Ibu Khansa, tetap tenang ya. Tahan rasa sakitnya. Bayangkan, sebentar lagi Anda akan bertemu dengan bayi yang telah Anda kandung selama sembilan bulan. Bayi itu akan segera berada di pelukan Anda. Pasti sangat membahagiakan..." dokter Afifah tersenyum hangat, menepuk-nepuk tangan Khansa dengan lembut. Khansa tersenyum lemah dan menganggukkan kepalanya.
Selesai menasehati sepasang suami istri itu, dokter Afifah segera keluar dari ruangan. Karena masih pembukaan empat, Khansa di tempatkan di ruang perawatan untuk sementara waktu.
"Mas..."
"I-iya sayang..."
"Tolong ambilkan pembalut..."
"Hah?"
"Pembalut... Di tas yang tadi aku siapin... Ini kayaknya keluar cairan lagi..." Khansa menundukkan wajahnya. Entah mengapa ia merasa malu mengucapkan kata-kata itu.
"Cairan?!! Cairan apa? Apa dia sudah akan lahir?!"
"Belum Mas... Jangan panik dong... Tolong ambilkan..."
"Mana cairannya?" Alex segera meraba bagian bawah tubuh Khansa. Kilas terkejut nampak jelas di wajahnya ketika mendapati tangannya basah. "Ap-apa ini air ketuban?!! A-aku panggil dokter dulu!!"
"Mas... Sudah dibilang jangan panik... Ini wajar. Kemarin di kelas kehamilan juga sudah dijelaskan kan. Mana pembalutnya Mas... Aku mau memakai pembalut dulu sebelum kontraksi selanjutnya datang..."
"Tasnya ketinggalan sayang. Tadi aku panik. Aku suruh orang membawanya ya?"
"Iya..."
Selama beberapa jam penantian, yang dilakukan Alex adalah dengan setia menemani istrinya. Ketika rasa sakit datang pria itu akan memeluk Khansa, mengelus-ngelus punggungnya dan memijatnya dengan lembut. Menyeka buliran keringat dingin yang datang silih berganti. Berusaha untuk tegar dan tenang, memberi support yang dibutuhkan oleh istrinya.
__ADS_1
Ketika rasa sakit hilang, Khansa akan aktif bergerak. Dia berjalan hilir mudik di kamar. Menonton TV dan makan dengan lahapnya, karena dia tahu butuh energi besar untuk melahirkan.
***
Alex memberi kabar keluarga besar. Dalam waktu empat jam seluruh keluarga telah berkumpul di rumah sakit itu. Diana maupun Aaron pun turut datang.
"Seharusnya hari ini aku yang melahirkan, kenapa malah kamu yang kontraksi Sha?" Diana duduk di samping Khansa dan memijat-mijat punggung wanita itu dengan lembut.
"Aku juga tidak tahu Di. HPL-nya masih kurang dua minggu lagi, tapi uuuukkkkhhhh!!" Khansa meremat selimut dengan kuat. Sengatan rasa sakit kembali datang. Kali ini lebih sakit dari sebelum-sebelumnya. Alex dengan cepat langsung berada di samping istrinya. Raut panik kembali membayangi wajahnya.
"Panggil dokter cepat!!" ucap Alex sembari melihat jam tangannya.
"Tapi Al, sepertinya belum waktunya..." ucap Diana.
"Sudah waktunya!! Interval kontraksinya tiga menit sekali!! Cepat panggil dokter!!" Tidak ada yang berani membantah lagi. Alex seperti orang kesetanan yang tak punya sopan santun. Dia hanya fokus pada Khansa.
Beberapa menit kemudian dokter datang. Beliau memeriksa serviks Khansa dengan teliti. Setelah memastikan observasinya, beliau memerintahkan perawat untuk membawa Khansa ke ruang bersalin.
Ruangan itu sangat dingin dan tampak menyeramkan. Alat-alat aneh mulai di pasang di tubuh Khansa seperti selang infus, kateter, dan sejenis sabuk yang di pasangkan di perut Khansa. Alat ini terhubung dengan alat CTG (Cardio Monitoring/Electrocardiograph) yang berfungsi untuk memantau denyut jantung bayi.
"Ukhhhhmmm!!" Khansa kembali meringis. Dia meremas tangan Alex dengan kuat.
"Sakit ya sayang? Sakit banget ya?" Alex mengecupi kening Khansa, matanya sudah berkaca-kaca. Dia menahan diri untuk tidak menangis. Hatinya seolah-olah robek melihat penderitaan istrinya. Kalau bisa, ingin rasanya dia menggantikan rasa sakit itu.
"Dokter lakukan sesuatu!! Dia kesakitan!! Beri suntikan apapun agar sakitnya hilang!!" Alex begitu heboh. Sebentar-sebentar dia mengecupi kening Khansa, namun kemudian dia kembali berbalik pada dokter Afifah.
Sikap Alex yang seperti itu sangat mengganggu konsentrasi Khansa. Ingin rasanya dia melakban mulut suaminya agar diam dan tidak berisik.
"Tahan ibu Khansa. Jangan mengejan dulu. Pembukaan Anda belum sempurna." dokter Afifah tidak menggubris Alex. Beliau tetap tenang dan fokus dengan Khansa.
"Ukkkhhmm!!" Khansa kembali merintih kesakitan. Wajah cantiknya mulai terlihat pucat.
"Dokter!! Lakukan operasi!! Segera keluarkan bayinya!! Istriku kesakitan!!"
"D-dokter..." lirih Khansa.
"Ya Ibu Khansa?"
"Ke-keluarkan d-dia..." Khansa mengalihkan perhatiannya pada Alex, "D-dia sangat mengganggu..."
Bagaikan mendapat tamparan hebat, Alex menatap wajah istrinya dengan memelas.
"Dengar kata istri Anda Pak Alex? Anda sangat mengganggu. Kalau Anda tidak bisa diam dan bersikap tenang, saya akan mengeluarkan Anda dari ruangan ini!!"
__ADS_1
"Jangan Dok!! Ba-baiklah, aku akan berusaha tenang..."
Selama beberapa menit berikutnya Alex berakting tenang. Yang dilakukannya hanya mencium, mengelap keringat, membelai dan menggenggam tangan Khansa. Hingga akhirnya dokter menyuruh Khansa untuk mengejan.
"Baiklah Ibu Khansa, bersiaplah untuk mengejan. Tarik napas dalam-dalam, dan dorong!!"
"Urrrrgghhhhhh!!" Khansa mengejan sekuat tenaga. Wajahnya memerah dan mengernyit. Sementara keringat mulai mengalir di wajahnya.
Rasa ini terlampau sakit untuk dirasakannya. Seolah-olah tulang belulangnya dirontokkan pada saat bersamaan. Semua sendi-sendinya seolah-olah terlepas dari tubuhnya. Tapi bayangan memeluk tubuh mungil itu membuat Khansa mengabaikan rasa sakitnya.
"Sedikit lagi Ibu Khansa. Kepala si kecil mulai terlihat. Atur napas, dan dorong!!"
"Huft... Huft... Huft...Uugghhhhhh!!!"
"Dorong lagi!!"
"Uuggguhhh!!!"
"Apa perlu episiotomi Dok?" tanya perawat yang membantu.
"Tidak perlu. Tidak akan terjadi robekan sebesar itu." Dokter Afifah kembali mengalihkan perhatiannya pada Khansa, "Ibu Khansa, fokus. Atur napas lagi. Bayangkan si kecil di pelukan Anda. Si kecil yang Anda rindukan kehadirannya. Atur napas lagi ya, kali ini saya harap satu dorongan. Kasihan si kecil bila terlalu lama di dalam. Apa Anda mengerti?"
Khansa mengangguk-anggukan kepalanya. Rasa nyeri dan desakan mendorong kembali datang. Wanita itu mengatur napasnya dalam-dalam, mengerahkan seluruh energinya dan mendorong dengan kuat.
"Aaaarrrrrrghhhhhh!!!"
"Dorong lagi."
"Aarrrhghhhhh!!"
"Sedikit lagi."
"Eerrrrrggghhhh!!"
"Ya!! Inilah si kecil." suara dokter Afifah terdengar ceria. Beliau menarik bayi mungil itu dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Oeeee!! Oeeee!! Oeeee!!" suara tangisan bayi memecah atmosfir ruangan itu.
Welcome to the World Baby Alkha 🥰
***
Happy Ending 🥳 eeeh Happy Reading kamsudnya 😂
__ADS_1
NB : Yalord proses lahirnya baby Alkha aja sampai 2 chapter full 😂 Btw, maaf lama tidak update. Badan drop selama 3 hari 🙏