Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 63 - Menanti Kelahiran Alkha


__ADS_3

Malam itu mereka kembali melakukannya selama beberapa kali. Khansa mengeluh kelelahan, namun Alex selalu berhasil merayunya untuk memberinya jatah lagi. Kegiatan itu baru berhenti menjelang dini hari.


Begitu pagi datang, Alex kembali meminta jatah lagi. Alex baru benar-benar berhenti melakukannya ketika Khansa mengancamnya akan melapor pada dokter Afifah.


Seharian itu mereka memutuskan untuk tidak keluar kamar. Kegiatan makan pun dilakukan di dalam kamar. Yang mereka lakukan hanya bercinta dan bercanda ria, layaknya pasangan pengantin baru yang baru bisa menikmati kebersamaan satu sama lain.


"Sayang..."


"Ya Mas?"


"Kapan jadwal kelas kehamilanmu?"


"Aku belum daftar Mas..."


"Kenapa? Bukankah aku sudah memberimu ijin?"


"Iya. Memang aku berniat untuk daftar, tapi kemudian ketubanku merembes Mas, jadi aku fokus bedrest. Aku jadi lupa dengan kelas itu..." Alex kembali mengetatkan pelukannya. Setiap kali pembahasan tentang masalah itu muncul, perasaan bersalah selalu menghantamnya.


"Kenapa menutupi kondisimu? Bukankah aku menyuruh Winda untuk mengikutimu? Mengapa menutupi masalah segenting itu? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan kalian tanpa aku tahu?" Khansa semakin menyurukkan wajahnya di dada Alex. Memain-mainkan jarinya di dada pria itu, membentuk suatu pola.


"Waktu itu kupikir kamu tidak akan peduli Mas. Kamu tidak menghubungiku selama beberapa hari. Jadi untuk apa membicarakan masalah ini? Aku memutuskan untuk melepaskan perasaanku dan hidup berdua saja dengannya. Aku tidak sanggup hidup denganmu..."


"Sayang..." suara Alex kembali bergetar, sementara pelukannya terasa lebih berat. "Kamu terlalu banyak salah paham. Terlalu banyak mengambil kesimpulan, sementara aku juga tidak banyak menjelaskan. Ini salahku. Sayang, berjanjilah satu hal."


"Apa Mas?"


"Berjanjilah kamu akan selalu mengatakan apapun yang ada dalam hati dan pikiranmu. Jangan menyembunyikan apapun dariku, sekecil apapun. Paham?"


"Iya Mas... Tapi kamu juga harus berjanji Mas..."


"Janji apa sayang? Aku akan melakukan apapun permintaanmu."


"Jangan menghilang tanpa kabar. Bila pergi kemana pun, setidaknya beri aku kabar. Jangan membuatku menunggu dengan ketidakpastian. Aku sangat mengkhawatirkanku Mas..."


"Iya sayang, aku janji." Mereka kembali saling berpelukan, menikmati kebersamaan satu sama lain.

__ADS_1


***


Kurang beberapa minggu lagi menjelang Khansa melahirkan. Kegiatan menunggu itu mereka lakukan dengan mengikuti kelas kehamilan dan mempersiapkan segala kebutuhan baby.


Mereka sedikit merenovasi rumah mereka sehingga membuat kamar mereka terhubung dengan kamar lain yang nantinya kamar itu dipersiapkan untuk kamar baby Alkha.


Sebenarnya Khansa ingin membesarkan baby Alkha di kota kelahirannya, dekat dengan keluarganya, namun karena pusat perusahaan Alex berada di Jakarta mau tidak mau mereka harus membesarkan putra mereka di kota itu.


Kamar baby Alkha di dominasi oleh warna biru tua dengan ornament berwarna putih di sekelilingnya. Mereka menghias kamar itu berdua tanpa bantuan ahli desain interior, karena mereka pikir hal itu akan memberikan kepuasaan dan kebahagiaan tersendiri.


Semakin mendekati HPL (Hari Perkiraan Lahir), suasana hati Alex menjadi semakin tak menentu. Wajahnya terlihat selalu cemas dan gelisah. Bila malam tiba dia jarang tidur karena takut istrinya melahirkan sewaktu-waktu.


Khansa sudah melakukan konsultasi dengan dokter Afifah. Melihat perkembangan kondisinya, dokter mengijinkannya untuk melahirkan secara normal, dengan catatan tidak ada kondisi khusus yang berbahaya bagi kesehatan ibu dan bayinya.


Setiap malam Alex selalu merengek, menghiba bahkan memerintah, memohon pada istrinya agar melakukan operasi caesar saja. Namun Khansa dengan sabar selalu meyakinkan suaminya, bahwa melahirkan secara normal adalah impian semua wanita tak terkecuali dirinya.


"Beneran mau lahiran normal yank? Benar-benar nggak mau mengubah keputusan?"


"Iya Masku sayang... Kenapa selalu menanyakan hal yang sama berulang-ulang sih?"


"Nggak akan terjadi apa-apa. Doakan dan dukung aku ya..." Khansa meraih pipi Alex dan menekannya hingga mulut pria itu berbentuk hati, kemudian dia mengecup bibir itu dengan gemas berharap dengan melakukan hal itu bisa meredakan kekhawatiran suaminya.


Tenaga kesehatan yang menjadi mentor di kelas kehamilan menyuruh para suami atau calon ayah untuk selalu menjadi suami siaga, tegar dan memberi dukungan pada istri sepenuhnya. Alex mencoba untuk melakukan hal itu semua, tapi rasa khawatir di hatinya tidak bisa hilang. Melihat dari betapa khawatirnya dia, serasa bukan Khansa yang akan melahirkan melainkan dirinya.


Di sisi lain Alex turut andil dalam setiap proses penantian itu. Dia menemani Khansa melakukan senam kehamilan, melatih pernapasan, mempersiapkan mental dan lain-lain.


Di lihat dari segala sisi, Khansa terlihat lebih siap di bandingkan Alex. Wanita itu terlihat sangat tenang dan percaya diri. Mengikuti kelas demi kelas dengan ketenangan yang luar biasa.


Setiap malam Mama dan Ibu selalu meneleponnya. Memberi wejangan dan menguatkannya. Meyakinkan menantunya bahwa wanita itu bisa melakukan semuanya. Mereka berjanji akan datang seminggu sebelum HPL.


***


Malam itu Khansa tengah memasukkan segala barang untuk persiapan melahirkan ke dalam tas. Baik itu barang untuk dirinya sendiri maupun untuk calon bayinya. Dia persiapkan sedetail-detailnya hingga tidak ada barang yang tertinggal.


Melihat istrinya melakukan hal itu membuat Alex kembali berdrama. Pria itu langsung memeluk Khansa dari belakang sembari merengek dan membujuk.

__ADS_1


"Yank... Aku hubungi dokter Afifah ya?"


"Buat apa?"


"Mau bilang, kalau kamu nggak jadi lahiran normal,"


"Mas, kita kan sudah sepakat kemaren."


"Aku tidak menyepakatinya. Itu kesepakatan sebelah pihak."


"Kemarin kan dokter juga sudah memberi pengertian pada kita, kalau melahirkan normal lebih aman dan minim risiko..."


"Tapi kamu akan kesakitan yank. Tidak cukup sejam dua jam, bisa berjam-jam. Aku tidak bisa membayangkan melihatmu kesakitan seperti itu!"


"Masku, ini tidak akan sakit kok. Lagian semua wanita yang melahirkan pasti juga merasakannya. Buktinya banyak wanita yang memiliki lebih dari satu anak, itu artinya tidak sesakit yang kamu pikirkan Mas..." Khansa mencubit hidung Alex. Cukup melelahkan juga memberikan pengertian pada Alex yang cukup keras kepala bila menyangkut hal ini. Yang bisa Khansa lakukan adalah dengan sabar memberikan pengertian itu step by step.


***


Biasanya ketika malam datang, Alex susah memejamkan mata, namun entah mengapa malam itu dia tertidur dengan lelapnya. Khansa menatap wajah lelap suaminya dengan tatapan penuh cinta. Bila menilik dari kisah mereka, rasanya ia masih tidak percaya melihat bintang dan idola sekolah, pujaan semua wanita, akan berakhir tidur di sebelahnya. Pria itu menjadi suaminya, bahkan membalas cintanya. Memperlakukannya dengan sangat baik.


Khansa membelai wajah Alex dengan lembut, "Betapa beruntungnya aku memilikimu Mas. Betapa baiknya Tuhan menuliskan garis hidupku. Mencintai dan dicintai oleh pria sepertimu. Aku wanita yang paling beruntung dan bahagia..."


Khansa mulai mengecupi kening dan pipi Alex, hal itu dilakukannya selama berulang kali dan selama beberapa menit sebelum akhirnya aktivitas itu berhenti dia lakukan ketika dia merasakan nyeri di bagian perutnya yang menjalar ke punggungnya.


"Uhhmm..." Khansa merintih tertahan. Dia nikmati rasa sakit itu, sembari mulai mempersiapkan mental.


Bila mengacu pada HPL, kelahiran itu masih akan terjadi dua minggu lagi. Tidak menutup kemungkinan kelahiran itu akan terjadi lebih cepat atau lambat, Khansa sudah siap dengan semuanya.


Rasa sakit itu perlahan mulai hilang. Khansa turun dari ranjang dan mulai mencari air mineral. Dia minum sebanyak-banyaknya untuk mengurangi rasa sakit yang akan datang.


"Adek mau lahir sekarang apa sekedar ngeprank Mama nih? Kalau mau lahir sekarang, yuk segera lahir. Mama sama Papa sudah nggak sabar untuk bertemu denganmu Nak..." Khansa mengelus-ngelus perutnya dengan lembut.


***


Happy Reading 😚

__ADS_1


NB : Bagi yang merasa ceritanya mulai membosankan, sabar ya 🤗 sebentar lagi benar-benar akan tamat. Hanya mau menyelesaikan beberapa PR yang mungkin masih menjadi ganjalan. Terima kasih untuk yang masih bersedia membaca cerita ini 😚🤗


__ADS_2