Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 47 - Tidak Mengubah Keputusan


__ADS_3

Khansa tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Kejutan ini terlalu berat untuk otaknya yang baru tersadar dari pingsan. Perasaannya campur aduk, antara ingin mempercayai perkataan itu atau menolaknya. Selama ini, pemikiran Diana adalah istri Alex begitu bercokol di otaknya. Pemikiran dirinya telah menjadi istri kedua juga sudah mendarah daging. Ketika menghadapi kenyataan bahwa semua pemikirannya itu tidak benar, gelombang emosi mulai berdatangan. Tanpa sadar airmata mengalir di pipinya yang lembut.


"Ssshhhh, jangan menangis sayang..." Alex mengusap airmata itu dan merengkuh Khansa dalam pelukan. Beberapa kali dia kecupi kening Khansa untuk menenangkan pikirannya.


"Be-benarkah D-diana bu-bukan istrimu?? Be-benarkah ka-kalian bu-bukan suami istri?" tanya Khansa terbata-bata.


"Iya sayang, itu benar. Hubunganku dan Diana hanya sebatas ipar. Dia akan menikahi kakakku. Istriku hanya satu, dan itu kamu. Hanya kamu satu-satunya. Tidak ada yang lain."


"Ukkhhhh, huuuuu..." Ledakan tangisan Khansa memenuhi ruangan. Membuat beberapa keluarga inti melongok ke dalam ruangan untuk melihat apa yang terjadi.


Keluarga terkejut melihat adegan di kamar itu. Khansa dan Alex berada di atas ranjang, tengah berpelukan sambil bertangis-tangisan. Sementara Aaron dan Diana duduk bersimpuh di lantai. Secara perlahan Aaron membimbing Diana keluar dari ruangan, menyisakan sepasang suami istri itu untuk meluruskan kesalahpahaman.


"Jahat kamu Mas. Kenapa kamu membuatku berpikir seperti itu?! Jahat kamu, huuuu..."


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak menyangka kamu akan berpikir kesitu. Aku pikir kamu tahu, bahwa kamu hanya satu-satunya..."


"Mana mungkin aku tahu? Kamu tidak pernah mengatakannya Mas..." Khansa menangis di pelukan Alex. Perasaannya campur aduk. Selama ini dia begitu bodoh. Dia berasumsi bahwa dirinya hanyalah seorang istri kedua. Pemikirannya yang seperti itu membuatnya selalu stres dan depresi, hingga hampir membahayakan nyawa bayinya. Andaikan dia tahu kalau dari awal dia hanya satu-satunya, mungkin tidak akan seperti ini ceritanya. Mungkin dia akan lebih bahagia menikmati masa-masa kehamilannya.


Namun kesalahan tidak terletak sepenuhnya pada dirinya yang salah berasumsi. Alex juga salah. Pria itu selalu diam. Tidak pernah menjelaskan apa-apa. Sikap Alex yang seperti itu membuatnya selalu berasumsi buruk. Meskipun dirinya satu-satunya istri Alex, tapi tidak menjamin mereka akan bahagia. Tidak ada jaminan Alex tidak akan membuatnya stres dengan sikap diamnya. Dia sudah membuat keputusan, dan dia tidak akan merubah keputusan itu.


Alex masih memeluk Khansa dengan erat. Dia mendaratkan ciuman bertubi-tubi di kening istrinya. Seolah-olah ingin menyetempel, menunjukkan kalau Khansa miliknya.


"Cincinnya ketinggalan di mobil." Khansa masih beruraian airmata, menatap Alex penuh tanda tanya. "Aku membawa keluarga besar ke restoran itu untuk kembali melamarmu sayang. Pernikahan kita di mulai tidak sesuai dengan step-step yang dilakukan pasangan pada umumnya. Aku ingin kita seperti pasangan normal lainnya. Melamar terlebih dulu, sebelum menikah..." Alex terdiam sejenak, menelan ludah dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Meskipun tanpa cincin, apa kamu bersedia menikah denganku lagi sayang? Ini adalah jawaban dari permintaanmu. Menikahlah denganku lagi sayang. Jangan meminta untuk berpisah. Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu..." suara Alex lirih, sementara tatapannya menghiba-hiba. Menatap Khansa dengan tatapan memohon.


Khansa menatap Alex dengan seksama. Dia sudah membuat keputusan, dan dia tidak berniat untuk mengubahnya.

__ADS_1


"Kamu seperti ini karena anak ini kan Mas? Aku sudah mengatakan padamu, meskipun kita berpisah aku tidak akan menjauhkan anak ini darimu. Aku istrimu satu-satunya atau bukan sudah tidak menjadi prioritasku lagi Mas. Yang kuprioritaskan sekarang hanya anak ini..."


"Ta-tapi aku sangat mencintaimu Khansa... Bagaimana dengan perasaanku? Apa kamu tidak memikirkan perasaanku?"


"Kata-kata dan perasaanmu itu hanya spontanitas Mas. Kamu seperti ini karena aku sedang mengandung anakmu. Kamu tidak benar-benar mencintaiku..."


Alex menggeleng-gelengkan kepalanya, "Itu tidak benar sayang... Aku benar-benar mencintaimu..." suara Alex serak, dia seperti bisa membaca tanggapan Khansa ke depannya. Pikiran buruk melintas di kepalanya.


Khansa menatap Alex dengan tatapan tak percaya. Sejak kapan pria ini mencintainya? Apa semenjak mereka tinggal bersama? Mata Alex terlihat tidak sedang berbohong. Mata itu seolah-olah mengatakan benar-benar mencintainya. Khansa ingin mempercayai perkataannya, namun kemudian ingatan akan kehilangan Alkha menyurutkan kepercayaannya.


"Aku tetap tidak bisa memaafkanmu Mas...aku tetap ingin kita pisah..." kata-kata Khansa membuat Alex begitu terkejut. Dia merasa dapat tamparan yang keras. Bukan fisiknya yang merasakan sakit, namun hatinya.


Kata-kata Khansa selanjutnya sungguh membuat Alex tertegun. Dengan suara emosional, Khansa mengeluarkan semua uneg-unegnya. Hal-hal yang tak pernah dipikirkan Alex sebelumnya.


"Mencintai tidak seperti itu Mas. Apa kamu pernah memikirkan perasaanku? Apa kamu pernah berpikir bagaimana bingungnya hatiku? Apa kamu pernah merasakan perasaanku ketika ditinggalkan? Kamu tidak pernah memikirkannya kan?"


"Apa kamu tahu betapa bingungnya aku ketika hamil Alkha? Aku sendirian Mas. Tidak ada siapa-siapa di sampingku. Aku tidak bisa mengatakannya pada keluarga maupun teman-temanku. Hanya kamu yang kuharapkan, namun kamu tidak ada. Kamu hilang tanpa kabar."


"Ketika aku mulai menata hidupku, kabar pernikahan kalian datang. Kamu bisa bayangkan bagaimana perasaanku? Hancur Mas... Tapi aku menahan itu semua, demi Alkha. Demi bayi ini. Aku berjanji dalam hati, akan hidup hanya untuknya. Aku tidak akan peduli lagi padamu."


"Ketika aku mulai berhasil, kamu kembali datang. Apa maksud kedatanganmu Mas? Bukankah kamu sudah membuangku? Kenapa datang lagi? Apa tujuanmu memang sengaja untuk menyakitiku?" Khansa tak bisa menahan buliran airmatanya yang jatuh tanpa bisa ditahan. Entah mendapat kekuatan darimana, dia mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini hanya bercokol di hatinya.



"Kamu bertanya mengapa aku berpikir aku hanya istri kedua? Kamu tidak pernah menjelaskan statusmu Mas. Kamu menikahiku hanya secara siri. Wanita mana yang tidak berpikir ke arah itu? Semua wanita butuh kepastian Mas, tak terkecuali aku. Apakah kamu pikir dengan diamnya aku maka aku menerima dan menyetujui semua perlakuanmu? Tidak Mas..."

__ADS_1


"Kamu bilang mencintaiku? Itu bukan cinta. Cinta tidak seperti itu. Cinta tidak akan menyakiti. Tapi kamu selalu menyakitiku dengan sikapmu Mas..."


"Aku tanya sekarang, kenapa kamu tidak menghubungiku sama sekali ketika di Singapura? Mengapa mengabaikan chat dan teleponku? Mengapa bisa berkomunikasi dengan Winda tapi tidak denganku? Apa itu yang disebut cinta? Apa kamu pernah memikirkan perasaanku Mas? Aku begitu kebingungan. Aku takut terjadi apa-apa denganmu. Namun hanya sekedar memberi kabar saja kamu tidak bisa. Apa itu cinta?"


"Sa-sayang..." suara Alex mulai pecah. Airmata mulai bercucuran di wajahnya. Dia menyesal. Tubuhnya mulai gemetar. Selama ini pemikirannya salah. Dia pikir dengan memantau kondisi Khansa dan mengetahui semua kegiatannya, sudah cukup. Dia tidak pernah berpikir bahwa Khansa juga membutuhkan hal yang sama. Khansa juga butuh tahu kabarnya.


"Kamu bilang mencintaiku? Sepertinya kamu perlu belajar cara mencintai Mas. Mencintai itu tidak akan menyakiti. Kamu akan selalu menjaga perasaanku, memastikan aku baik-baik saja. Tapi kamu tidak seperti itu Mas. Kamu egois. Kamu selalu mengaturku. Memastikan aku untuk selalu menuruti perintahmu, sementara kamu tidak pernah menjelaskan sikap-sikapmu."


"Ini tidak baik Mas. Tidak baik untuk hubungan kita. Aku selalu menjadi pihak yang merasakan sakit. Aku begitu mencintaimu Mas. Bahkan perasaan ini melebihi rasa cintaku pada diri sendiri. Tapi sebesar apapun perasaanku padamu, tidak akan melebihi rasa cintaku pada bayi ini. Mencintaimu membuatku hampir kehilangannya. Ini sangat tidak adil untuknya. Aku telah menjadi ibu yang tidak baik. Aku begitu malu dengan diriku..."


"Untuk menebus kesalahanku, aku berjanji untuk memberikan hidupku untuknya. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Untuk itu, aku sangat berterima kasih dengan perasaanmu Mas. Meskipun aku tidak yakin perasaan itu benar atau tidak, aku berterima kasih karena telah membiarkanku mendengarkan kata-kata yang begitu ingin kudengar. Tapi, keputusanku tetap sudah final. Aku ingin kita tetap berpisah Mas..."


Seperti mendapat tamparan yang begitu keras, Alex tersentak dari perasaan sedihnya. Secara spontan tubuhnya langsung memeluk Khansa dan mulai menghiba,


"Tidak!! Aku tidak mau!! Aku tidak mau!!" Alex merengkuh tubuh Khansa dan memeluknya dengan erat. Pria itu menangis.


"Aku tidak mau. Please, jangan tinggalin aku yank. Aku mati. Aku akan mati. Jangan, jangan tinggalin aku. Aku janji!! Aku janji akan intropeksi diri! Aku akan melakukan apapun sayang. Apapun akan kulakukan! Aku janji, aku janji. Jangan tinggalkan aku ya. Aku tidak mau!! Aku tidak mau!!" Alex tetap merengkuh pinggang Khansa. Suara teriakan putus asa memenuhi kamar itu. Suara menyayat yang akan membuat sedih orang yang mendengarnya.


"Jangan, jangan tinggalin aku ya, ya, ya... Ya sayang ya, jangan tinggalim aku. Aku akan menerima semua hukumanmu, tapi jangan tinggalkan aku. Aku mati!! Aku akan mati kalau kamu tinggal yank, please..." Wajah Alex dipenuhi airmata. Dia menghiba-hiba, merayu, membujuk Khansa dengan berbagai cara. Dia ciumi tangan Khansa, mencium perut Khansa. Airmata mengalir di wajah tampannya. Matanya memerah, rambutnya acak-acakan. Tatapan matanya tampak putus asa. Dia bukanlah seorang Yohan Alexander yang angkuh, sombong, galak, jenius dan tegas di mata para bawahannya. Dia hanyalah seorang suami yang salah dalam mencintai istrinya. Cintanya begitu besar, namun cara mencintainya begitu salah.


"Alkha... Alkha... Maafin papa. Papa bener-bener nggak tahu... Maafin Papa... Jangan tinggalin Papa.. Please.. Jangan tinggalin Papa ya, ya, ya..." Alex menciumi perut khansa secara bertubi-tubi. Tangannya merengkuh pinggang Khansa dengan erat. Tidak rela utk melepaskan istrinya.



***

__ADS_1


Happy Reading 😂


NB : Sabtu & Minggu ini libur update ya genk. Ada kepentingan di real life. Jadi, sampai jumpa hari Senin genk.. Muuaacchh 😚🤗😂


__ADS_2