Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Side Story 2


__ADS_3

"Kak ... Kakak ..."


"Hem?"


"Kakak liat apa?" Alesha duduk di sebelah Zoey dan mengintip tablet yang berada di tangan pemuda tanggung itu.


"Desain game."


"Gem? Apa itu?"


"Game itu permainan."


"Main? Kakak main apa?"


"Aku sedang mendesain permainan. Mau lihat?"


"Iya, mau, mau ...."


Alesha dengan bersemangat bersender di lengan Zoey dan mulai mendengarkan ketika pemuda itu menjelaskan.


"Ini game farmer. Jadi, kalau kamu menanam tumbuhan dan panen, kamu akan mendapat poin."


"Poin? Apa itu?"


Dengan sabar Zoey menjelaskan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti anak usia 4 tahun. Meskipun tidak begitu memahami, Alesha terlihat mengangguk-anggukan kepalanya dengan antusias.


Alesha terlihat sangat nyaman berada di dekat Zoey. Sementara Zoey memperlakukan Alesha dengan penuh kesabaran dan ketelatenan layaknya adik sendiri.


***


Perdebatan mengenai nama putri ketiga Alex dan Khansa masih belum usai. Khansa terlihat tidak bisa mempercayai Alex dalam pemberian nama itu sehingga keputusan pemberian nama diserahkan pada Ayah Ahmad dan Papa Atmaja.


"Merupakan suatu kebahagiaan bagi kami karena telah dipercaya memberi nama untuk cucu kami ...." Papa Atmaja memulai. Keluarga besar berdiri di tengah-tengah tamu undangan. Berfokus pada Khansa yang tengah menggendong putri ketiganya.


"Setelah mencari dan berunding, kami memutuskan untuk memberinya nama Adeeva Alkhaleena Afsheen yang artinya wanita cantik, sholeh, menyenangkan, lemah lembut dan bersinar seperti bintang di langit. Kami berharap cucu kami bisa tumbuh seperti namanya." Pemberian nama itu disambut dengan khidmat. Khansa terlihat sangat puas. Ia menoleh pada suaminya. Untuk melihat responnya.


"Yohan," ucap Alex menarik perhatian. Seluruh mata berfokus pada dirinya. Alex berdehem sejenak. "Adeeva Alkhaleena Afsheen Putri Yohan, itu nama putri ketiga kami," tegasnya dengan nada tak bisa dibantah. Melihat keteguhan di mata Alex, Khansa pun tak berani menyanggah. Maka ditetapkan nama itu sebagai nama putri mereka.


***

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika acara itu berakhir. Setiap tamu undangan mulai kembali ke rumah masing-masing, tak terkecuali keluarga Rizal.


"Sini Dek, Papa gendong." Rizal meraih tubuh kecil putrinya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain menuntun Eijaz.


"Nggak mau. Lili mau jalan sendiri." Elisa menghentak-hentakkan kaki, sebagai bentuk protes.


"Kenapa?" Rizal menatap wajah putrinya dengan mata bertanya-tanya. Biasanya Elisa sangat suka digendong, kenapa saat ini malah menolak?


"Al nggak suka anak cengeng. Al suka anak pintar. Lili akan belajar. Biar pintar." Lili mengoceh sendiri, sementara kedua kaki masih digerak-gerakkan sebagai bentuk protes agar diturunkan.


"Al?" Rizal bersikukuh tetap menggendong Lili. Matanya menatap wajah putrinya dalam-dalam.


"Iya. Al akan menikah dengan Lili asalkan Lili nggak cengeng dan jadi anak pintar." Lili memain-mainkan pita besar yang menjadi hiasan bajunya.


Mata Rizal berputar. Dia menoleh pada Tia dengan pandangan bertanya-tanya. Seolah-olah meminta penjelasan pada istrinya. Mutia tersenyum kalem. Dia mengusap kepala Lili.


"Alkha Mas. Putra pertama mas Alex dan mbak Khansa. Mas lupa?"


"Oh ...." Rizal mengangguk-anggukan kepala, namun sejurus kemudian, sekelebat sinar kecemasan muncul di netra hitamnya. Ia merengkuh Lili semakin erat, memaksa anak itu untuk menatapnya.


"Tadi Adek bilang apa? Mau menikah dengan Al?"


"Tidak boleh!" Rizal berkata dengan tegas. "Adek tidak boleh menikah dengan siapa pun. Adek harus tinggal dengan Papa, selamanya!" Suara Rizal penuh dengan keposesifan. Membuat takut siapa pun yang mendengar.


"Huaaaaaaaaaa!!! Lili mau nikah sama Al!! Lili mau sama Al!! Mamaaaa!!" Lili mengulurkan tangan, berharap Tia menggendongnya. Sementara buliran bening mulai membasahi pipi chubbynya.


Tak tega melihat putrinya berderai airmata, Tia langsung mengambil tubuh mungil Lili dari dekapan suaminya.


"Sssshhhhh, sssshhhh ... sudah, cup, cup, jangan nangis lagi."


"Lili mau nikah sama Al Ma!! Huaaaaaaa..."


"Iya, iya .... Nanti Adek akan menikah dengan Alkha ya. Sudah jangan nangis lagi ...." Lili merangkul leher Tia sembari menyandarkan kepala di dada ibunya. Tangisannya mulai berhenti, berubah menjadi isakan dan segukan kecil.


"Janji ya Ma? Lili akan nikah sama Al?" Lili mengangkat tangan dan mengacungkan jari kelingking. Matanya yang masih terlihat berkaca-kaca nampak penuh pengharapan. Tia menahan diri untuk tidak tertawa. Ia mengambil jari kecil itu dan menautkan di kelingkingnya.


"Iya. Mama janji, Adek akan menikah dengan Alkha," ucapnya dengan wajah dibuat seserius mungkin.


Lili tersenyum lebar. Ia kembali merangkul leher Tia dengan erat. "Makasih Ma!"

__ADS_1


***


"Mama ...." Suara itu terdengar sangat imut dan manja. Sudut bibir Khansa tertarik. Nampak berusaha menyembunyikan senyum. Gaya Alesha ketika menginginkan sesuatu hampir sama dengan dirinya. Membuat suara seimut mungkin dengan mata dikedip-kedipkan genit.


"Iya sayangku?"


"Mama .... Kapan kita main ke rumah Kakak lagi?" Suara Alesha mulai terdengar merengek. Khansa yang tengah menyisir rambut panjang Alesha menghentikan aktivitasnya sejenak. Dia menatap mata Alesha melalui pantulan cermin di depan mereka.


"Kakak? Kakak siapa?"


"Kakak Zoey. Ayo main ke rumahnya Ma. Kakak janji mau ajarin Adek main game Ma. Ya, ya, main ke sana ya Ma?" Alesha membalik tubuhnya dan memeluk pinggang Khansa, sementara kepalanya ia surukkan di perut ibunya.


"Jangan main game. Game membuatmu bodoh. Nanti Kakak ajarin cara berhitung cepat ya? Jangan main sama Kakak itu lagi." Tiba-tiba Alkha datang mendekat dan mengkusuk-kusuk kepala Alesha. Sedari tadi anak itu berdiam di sisi ranjang sembari menciumi adik bungsunya. Mereka tengah berada di kamar Khansa. Begitu mendengar percakapan Alesha dan ibunya, Alkha langsung mendekat.


"Nggak mau!! Adek nggak mau belajar!! Adek mau main sama kak Zoey aja!!" Alesha menepis tangan Alkha dengan kuat, tatapannya terlihat tak bersahabat.


"Kakak temenin nonton barbie ya? Barbie yang cantik, seperti Adek ...."


"Memang Adek cantik kayak barbie?"


"Lebih cantik lagi."


"Beneran? Adek cantik?" Alesha mulai mengangkat kepala dan menatap Alkha.


"Cantik sekali. Mama sama Adek sangat cantik. Adek kecil juga cantik. Kakak sayang semuanya." Alkha merangkul tubuh Khansa dan Alesha sekaligus.


Melihat kedewasaan Alkha selalu berhasil membuat Khansa bangga. Alkha selalu menomorsatukan adik-adiknya. Tipe seorang kakak yang akan melindungi adiknya dengan mati-matian.


"Kenapa Mama sangat beruntung? Kenapa anak Mama baik-baik semua sih. Sini Mama peluk dan cium kalian satu-satu." Khansa balik merangkul dan menciumi pucuk kepala keduanya.


***


Rengekan Alesha tak berhenti sampai di situ saja. Setiap ada kesempatan, dia akan merengek pada Khansa untuk membawanya ke rumah Zoey. Sepertinya Alesha benar-benar tergila-gila pada pemuda blasteran itu. Tentu saja Alkha sangat tidak suka dengan hal itu. Bocah kecil sok dewasa itu akan berusaha mengalihkan perhatian adiknya dengan berbagai cara. Dari mengiming-ngimingi dengan mainan, nonton film, hingga merelakan dirinya sendiri menjadi kelinci percobaan adik perempuannya dalam hal pengaplikasian make up.


***


Happy Reading 🥰


NB : Jangan lupa baca Secretly Loving You di Noveltoon ya 🤭🥰

__ADS_1


__ADS_2