
Ayah menatap keluargaku dengan tercengang. Beliau tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Terlebih lagi ketika melihat Papa.
Ayah yang biasanya galak dan tegas terlihat gugup sekaligus antusias. Seperti melihat seorang penggemar yang bertemu dengan idolanya. Tatapan mata Ayah tak lepas dari Papa. Aku menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi Ayah.
Rumah Khansa dipenuhi oleh keluargaku yang berjumlah tiga puluh orang. Ruang tamu yang tergolong kecil itu tidak cukup menampung kami semua, sehingga beberapa dari kami harus puas duduk di teras rumah beralaskan karpet. Belum lagi jumlah seserahan yang kami bawa. Atas ide dari Mama, setiap orang dari kami membawa seserahan layaknya prosesi lamaran.
Kedatangan kami yang tiba-tiba membuat Ayah maupun Ibu tidak melakukan persiapan apa-apa. Mereka tampak bingung dan sibuk, namun kami meyakinkan mereka bahwa mereka tidak perlu melakukan apa-apa.
Kami duduk di ruang tamu beralaskan karpet. Papa Mama duduk berdampingan, berhadapan dengan Ayah Ibu yang juga duduk berdampingan. Acara dadakan itu dimulai dengan Papa yang membuka percakapan.
"Assalamu'alaikum Bapak Ahmad dan istri selaku orangtua dari ananda Khansa Aulia. Perkenalkan, saya Surya Atmadja dan ini istri saya. Kami adalah orangtua dari Yohan Alexander. Tujuan dari kedatangan kami adalah untuk meminta maaf sekaligus bersilaturahmi."
"Wa-wa'alaikumsalam... Sa-saya menerima niat baik Anda. Ti-tidak ada yang perlu dimaafkan..." Ayah tampak gugup. Mata Ayah masih memandang Papa dengan tatapan tak percaya, seolah-olah meyakinkan diri apakah benar yang ada di depannya itu adalah mantan walikota kota ini.
"Dengan kerendahan hati, dari hati yang terdalam kami sekeluarga meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kelakuan putra kami. Kami tidak mendidiknya dengan benar sehingga menyebabkan kerugian bagi putri Anda. Meskipun tergolong terlambat, ijinkan kami menyampaikan rasa penyesalan kami." Papa meminta maaf mewakili kami semua.
Melihat Papa seperti itu membuatku sangat malu. Aku sudah membuat keluargaku malu. Aku dari pihak laki-laki, tapi sudah merasakan perasaan semalu ini. Tidak terbayang rasanya bagaimana bila berada di pihak perempuan. Pasti akan sangat memalukan. Memiliki seorang putri yang hamil di luar nikah. Bagaimana tanggapan orang-orang sekitar? Terjangan rasa bersalah menghantuiku. Aku mengutuk diri sendiri karena rasa peka yang tidak kumiliki.
"Saya tahu ini sangat terlambat. Anak-anak kita sudah terlanjur menikah. Tapi sudilah kiranya Bapak menerima niat baik kami. Kami sekeluarga ingin melamar putri Bapak. Kami akan menjaganya layaknya putri kami sendiri. Memberinya kasih sayang dan dukungan yang sangat pantas untuk didapatkannya. Memberikannya semua perhatian. Sudikah Bapak menerima lamaran kami dan memberikan putri Bapak yang berharga kepada putra bodoh kami?" Papa berkata dengan suara tercekat. Terdengar nada penyesalan serta pengharapan di dalam suaranya. Mama maupun Ibu mulai terisak. Sementara kulihat ada genangan airmata di pelupuk mata Ayah maupun Papa. Karena kelakuan bodohku, aku telah membuat para orangtua ini sedih. Andaikan malam itu aku bisa menahan diri, mungkin prosesi lamaran ini tidak akan semenyedihkan ini.
"Saya terima niat baik Bapak sekeluarga. Kami titipkan putri bodoh kami kepada keluarga Anda. Tolong jaga dia untuk kami..." Ayah berkata dengan sedih. Papa langsung merangkul Ayah dan berkata,
"Kami akan menjaganya dengan baik layaknya putri kami sendiri. Terima kasih karena telah menerima kami sekeluarga."
***
__ADS_1
Sore itu dilanjutkan dengan acara ramah tamah. Keluarga Khansa tampak keberatan menerima semua seserahan yang kami bawa, namun kami tetap memaksanya.
Beberapa jam kemudian, hampir semua keluarga besarku telah pulang. Tinggal kami berlima di rumah itu.
Mama dan Ibu sudah tampak akrab. Mereka bercerita ini itu. Mama lebih banyak bertanya tentang Khansa, dan Ibu dengan senang hati menceritakan semua hal tentang putri kesayangannya.
Papa dan Ayah juga sudah akrab. Ayah banyak memuji-muji Papa mengenai kepemimpinan beliau selama memimpin kota ini. Mereka lebih banyak membicarakan tentang politik. Aku ditengah-tengah mereka, menjadi pendengar yang baik, sementara pikiranku ada pada Khansa. Alangkah bahagianya bila kami semua bisa berkumpul seperti ini. Perkataan Khansa yang meminta untuk berpisah kembali berkelebat dipikiran. Membuat perasaanku kembali sedih.
"Al, bukannya kamu datang ke sini untuk menyelesaikan masalah kalian?" Tiba-tiba Mama berceletuk. Semua perhatian langsung tertuju padaku. Membuatku gugup sekaligus malu.
"Ada masalah apa?" tanya Ibu dengan khawatir. Aku malu untuk menjawab pertanyaan itu, sementara semua perhatian tertuju padaku. Setelah berbagai desakan, akhirnya aku menceritakan semua permasalahanku. Dari Khansa meminta berpisah serta pertemuanku dengan laki-laki itu.
Semua keluarga tampak terkejut. Mereka pikir hidupku dan Khansa sudah bahagia, karena kami menikah atas dasar cinta. Mereka tidak menyangka bahwa permasalahan kami justru ada di sana.
"Ayah mengenal anak Ayah dengan baik. Meskipun anak Ayah bodoh, karena melakukan hal itu sebelum terikat pernikahan, tapi Ayah yakin dia memiliki alasan kuat di belakangnya. Ayah yakin, dia mencintaimu. Sebodoh-bodohnya anak Ayah, dia tidak mungkin melakukan hal itu tanpa memiliki perasaan padamu. Ayah setuju dengan pernyataan Nak Andre." Mata Ayah menerawang, seperti sedang mengingat-ngingat laki-laki yang hampir menjadi menantunya itu.
Kapan Khansa mulai berubah? Seingatku kami masih baik-baik saja. Kami sangat mesra, bahkan ketika aku akan berangkat ke Singapura. Perubahan sikap Khansa adalah ketika aku pulang dari Singapura. Ada apakah ini?
Aku menceritakan semua kronologi perubahan sikap Khansa. Semua keluarga mendengarkan dengan seksama. Rasanya sangat memalukan menceritakn semua ini pada keluarga besar. Aku sudah dewasa, tapi bagaikan anak kecil, aku masih butuh saran dari keluarga untuk permasalahan rumah tanggaku sendiri.
"Selama di Singapura, bagaimana komunikasi kalian? Apa istrimu sudah menunjukkan tanda-tanda perubahan?" tanya Mama.
"Kami tidak berkomunikasi Ma. Aku menahan diri untuk tidak menghubunginya, karena aku takut dia akan melihat kelemahan..."
"Jadi selama seminggu lebih kamu tidak menghubungi istrimu?!"
__ADS_1
"Ya..."
"Tidak telepon? Atau kirim pesan?!"
"Y-ya..."
"Tidak menanyakan kabarnya sedikit pun?!!" Mama tampak emosi.
"Aku tahu kabarnya melalui sekretarisku. Dia mengirimiku foto dan kegiatan Khansa sehari-hari, jadi aku tidak perlu menanyakan kabarnya..."
"Dasar bodoh!!"
PLAAAKK!! Mama memukul punggungku dengan keras.
"Auuuwww!! Sakit Ma!!"
"Dari dulu kamu tidak pernah peka!! Tidak pernah belajar dari kesalahan!! Istri mana yang tidak marah bila suaminya tidak menghubunginya selama berhari-hari?!! Apalagi posisinya sekarang sedang hamil!! Kenapa Mama melahirkan anak sebodoh kamu sih!! Bahkan Aaron lebih pintar dari kamu!! Dasar anak tak berguna!!"
"Auuwww, Ma!! Le-lepas Ma. Beneran sakit Ma. Ma, lepas... Ada Ayah Ibu yang lihat... Malu Ma..."
"Biar mereka melihat kelakuanmu!! Dari dulu Mama sudah menyuruhmu untuk peka!! Kenapa sifatmu ini tidak hilang-hilang hah?! Awas saja terjadi apa-apa dengan cucu Mama, kamu akan Mama bunuh Al!! Ingat itu!!"
"Ma, Khansa maupun cucu Mama baik-baik saja. Kami baru dari dokter kandungan, Mama tidak perlu khawatir..."
"Tidak perlu khawatir katamu?! Bagaimana Mama tidak khawatir bila punya putra bodoh sepertimu?! Pantas saja istrimu minta berpisah!! Istri mana yang akan betah punya suami sepertimu?! Dasar anak bodoh!! Tidak berguna!! Mama tidak mau tahu!! Segera perbaiki hubungan kalian. Bila kamu tidak bisa membujuknya, kami akan mencoretmu dari daftar KK. Kami bukan keluargamu lagi!! Ingat itu Al!!"
__ADS_1
***
Happy Reading 😂