
Khansa tengah memeluk Alkha ketika melihat suaminya datang.
"Mamaaaaaa..." Alesha turun dari gendongan Papanya dan menubruk tubuh Khansa.
"Sudah pulang? Mana oleh-olehnya?"
"Itu di Papa. Mama, tau nggak?"
"Apa sayang?"
"Tadi ada tante yang pegang-pegang tangan Papa. Adek teriak-teriak. Adek bilang, 'jangan pegang-pegang Papa!! Papa punya Adek sama Mama!!',"
"Oh ya?" Khansa menatap Alex dengan tatapan tajam. Selalu saja ada kejadian seperti ini. Tidak salah kalau ia selalu menyuruh Alesha untuk menempel pada Papanya.
"Iya Ma..."
"Terus?"
"Tante itu lepasin tangan Papa. Hah, Adek haus Ma. Mau jus tomat."
"Sebentar ya, Mama buatin dulu..."
"Nggak perlu yank, biar aku yang buat. Kamu duduk saja." Alex menyerahkan bungkusan berisi buah kiwi pesanannya, namun Khansa tak mengindahkan kata-kata suaminya. Dia tetap berjalan ke dapur.
Perasaan Alex sangat tidak enak. Dia merasakan sedikit perubahan di wajah istrinya. Akhirnya ia membuntuti istrinya ke dapur.
Khansa mengambil tomat dan mulai membersihkannya. Alex mengambil juicer dan gelas kecil.
"Kali ini siapa lagi?" tanya Khansa seolah tak peduli, padahal hatinya panas terbakar.
"Teman SMA."
"Siapa? Aku pasti kenal."
"Tidak penting yank,"
"Siapa?"
"Kamu tidak akan ingat yank..."
"Siapa?!" suara Khansa mulai meninggi. Ah, entah mengapa rasanya sangat sakit setiap kali membayangkan suaminya disukai wanita lain.
Khansa tahu hati dan keseluruhan dari diri Alex adalah miliknya, namun entah mengapa rasa takut Alex akan meninggalkannya begitu besar. Ia takut Alex akan terbangun dan tidak mencintainya lagi.
__ADS_1
"Briana." ucap Alex lirih.
"Siapa?"
"Briana, teman sekelas kita dulu." Seketika tomat di tangan Khansa terlepas.Tangannya mulai gemetar. Khansa segera mengambil tomat itu dengan cepat untuk menutupi rasa gugupnya. Ia berusaha tenang.
"Oh..." hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulutnya. Ingatan semasa SMA yang ingin dilupakannya pun mulai melintas. Selain Diana, Briana menjadi wanita kedua di SMA yang dicemburuinya. Bagaimana tidak? Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat suaminya itu berciuman dengan buas. Ingatan tangan Alex menyusuri tubuh Briana serta bekas liptint di bibirnya waktu itu memenuhi kepalanya.
Tanpa sadar mata Khansa mulai berkaca-kaca. Hah, kehamilan ini membuatnya sangat sensitif. Bahkan hal kecil saja membuatnya menangis, apalagi membayangkan suaminya kembali bertemu dengan wanita yang dulu pernah diciumnya.
"Sayang..." Alex menjangkau tubuh istrinya.
"Lepas." Khansa berusaha melepaskan tangan Alex dari tubuhnya.
"Hei kenapa ngambek?"
"Aku nggak ngambek." Khansa berjalan ke ruang keluarga dengan jus tomat di tangannya, "Dek, ini jusnya."
"Makasih Ma, Adek sayang Mama, cup..." Alesha mengambil jus itu dan kembali bermain dengan kakaknya. Alkha tampak menjelaskan beberapa materi yang ada di tablet, namun Alesha terlihat bosan. Pada akhirnya mereka menonton film kartun dan tertawa-tawa bersama.
Melihat anak-anaknya sudah mulai sibuk dengan dunianya sendiri, Alex kembali mendekati Khansa. Dia kembali duduk bersimpuh di depan Khansa dan mulai memijat kaki istrinya dengan lembut.
"Kiwinya nggak dimakan? Aku potongin ya?"
"Tadi katanya mau buah itu?"
"Sekarang sudah nggak."
"Kamu kenapa sih yank? Ngambek gara-gara tadi aku ketemu Briana? Bahkan namanya saja aku sudah lupa kalau dia..."
"Aku ngantuk, mau tidur. Titip anak-anak," Khansa berdiri, "Kakak, Adek, Mama mau tidur dulu ya. Nanti Kakak sama Adek bobonya sama Papa ya. Sini Mama cium dulu..." Khansa merentangkan lengannya. Tanpa disuruh dua kali, dua bocah itu langsung menghambur ke pelukannya dan memberinya pelukan serta kecupan.
Tanpa menoleh pada suaminya, Khansa pergi ke kamar. Alex ingin mengejarnya, namun karena ada tugas untuk menjaga dua bocah, ia menahan diri untuk tidak melakukannya. Pria itu memutuskan akan merayu istrinya setelah menidurkan anak-anak mereka.
Emosi Khansa mulai meluap. Sebenarnya pergi tidur hanya alasan saja. Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam, terlalu sore untuk tidur, tapi Khansa tak bisa menahan diri lagi. Ia hanya ingin menangis untuk melegakan hatinya yang terluka.
***
"Bobo ya, sudah malam."
"Tapi Adek nggak ngantuk Pa..."
"Kakak juga."
__ADS_1
"Papa akan stempel kartu kalian,"
"Nggak mau. Kata Mama, hanya Mama yang bisa stempel. Pa, Kakak mau makan mie..."
"Adek mau ice cream!!"
"Tidak boleh. Mama melarang kalian makan itu kan. Nanti radang..."
"Adek mau ice cream!! Adek nggak mau tidur kalau nggak makan ice cream!!" Alesha menautkan kedua tangannya di depan dada, sementara wajahnya cemberut.
"Princess tidur sama Papa semalaman ya, tapi nggak boleh makan ice cream..."
"Nggak mau!! Ice cream!! Ice cream!!" Alesha mulai berteriak. Pada akhirnya Alex mengalah.
"Tapi janji setelah makan ice cream kalian akan bobo?"
"Janji!!"
Alex membawa keduanya ke garasi. Dia berniat mengeluarkan mobil, tapi anak-anak bersikeras untuk naik motor. Pada akhirnya mereka ke mini market menggunakan motor.
Di mini market, anak-anak mulai mengambil beberapa camilan. Alex membiarkannya saja. Sebenarnya ia tahu Khansa melarangnya untuk memberi anak-anak makanan ringan, tapi untuk malam ini ia memberi keleluasaan itu. Harapannya dengan menyenangkan hati bocah-bocah itu, akan semakin cepat membuat mereka tertidur.
Pada kenyataannya tidak seperti itu. Prediksi Alex salah. Kedua bocah itu bukannya tidur tapi malah semakin asyik bermain. Sesampainya di rumah, Alesha maupun Alkha tak kunjung memejamkan mata. Alex sudah berusaha membaca cerita untuk mereka, namun hal itu tak ada pengaruhnya. Pada akhirnya Alex menemani mereka bermain sampai mereka kelelahan. Menjelang pukul sebelas malam, kedua bocah itu baru memejamkan matanya.
"Kenapa kalau Mama yang menidurkan kalian cepat sekali tertidur?" ujarnya seraya menyelimuti tubuh putra-putrinya dan memberi kecupan di kening masing-masing. Setelah mematikan lampu, Alex keluar dari kamar itu menuju kamar utama yang letaknya bersebelahan dengan kamar anak-anak.
Sedari tadi pikirannya selalu tertaut pada istrinya. Perubahan pada mimik wajah Khansa membuatnya kepikiran.
Sebenarnya hal seperti ini tidak terjadi sekali dua kali. Setiap kali Khansa mendengar ada wanita yang mendekat padanya, reaksi istrinya akan seperti ini. Cukup diberi pelukan, kata-kata yang hangat dan kenyamanan, biasanya sudah akan luluh. Semoga kali ini pun akan seperti itu.
Alex menatap tubuh Khansa yang sedang berbaring membelakangi. Perasaannya selalu hangat setiap kali menatap sosok itu. Rasa cinta di dalam hatinya semakin hari semakin bertambah.
Pria itu ikut berbaring dan memeluk istrinya dari belakang. Kecupan-kecupan hangat bersarang di tengkuk dan pipi Khansa.
"Sayang... Maaf ya... Jangan ngambek lagi..." bisiknya lirih.
Tidak ada jawaban. Namun sejurus kemudian tubuh mungil itu terguncang-guncang menahan isakan. Tubuh Alex serasa kaku. Dia terkejut mendapati istrinya menangis karena hal sepele.
"Sayang, kamu menangis?" Alex membalik tubuh Khansa secara perlahan. Wanita itu tidak menolak. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tidak membiarkan Alex untuk menatap wajahnya. Sementara isakan tertahan masih terdengar dari bibir mungilnya.
"Sayang, kenapa menangis? Hemm?" bukannya mendapat jawaban, isakan dan tangisan Khansa malah semakin nyaring terdengar. Alex langsung merengkuh tubuh itu. Membawanya ke dalam pelukan, "Shhhhh, cup, cup, cup, jangan nangis lagi..."
***
__ADS_1
Happy Reading 😊