Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 56 - Awal Mulai Menyukaimu


__ADS_3

Acara lamaran yang awalnya romantis itu berubah menjadi konyol. Semua itu disebabkan tingkah bodoh yang dilakukan Alex. Namun Khansa dengan lapang hati menerima kebodohan suaminya. Dia membiarkan tangannya terisi sepuluh cincin. Setidaknya dia lebih unggul dari wanita lainnya. Bila wanita lain hanya memiliki cincin tunangan dan cincin pernikahan masing-masing satu, namun tidak dengan dirinya. Dia langsung memiliki sepuluh cincin sekaligus!! Betapa luar biasanya!!


Selepas acara lamaran itu, dilanjutkan dengan acara ramah tamah keluarga. Seluruh keluarga besar berkumpul di sana, tak terkecuali Diana maupun Aaron. Mereka sudah melakukan pembicaraan dari hati ke hati dan memutuskan untuk saling memaafkan dan melupakan masa lalu.


Menjelang pukul sepuluh malam, kedua keluarga itu mulai berpencar. Mama dan Papa memutuskan untuk menginap di rumah Aaron, sementara Ayah, Ibu dan Fian menginap di rumah Alex. Dino dan istrinya memutuskan untuk kembali ke hotel.


Alex menggendong Khansa menuju kamar mereka. Di dalam kamar, Khansa mendapat kejutan kedua. Kamar yang awalnya bernuansa baby pink itu berubah menjadi bernuansa putih. Kelopak mawar berwarna putih bertaburan dimana-mana. Menambah romantisnya suasana.


"Kenapa jadi seperti kamar pengantin ya Mas?"


"Karena memang seharusnya dari awal kamar kita seperti ini sayang." Alex mendudukkan Khansa di tepi ranjang dan mulai membuka flat shoesnya.


Pria itu memijat-mijat kaki Khansa yang membengkak dengan pijatan ringan. "Capek?" tanyanya dengan lembut.


Khansa menggelengkan kepalanya. Tangannya bergerak perlahan, membelai wajah Alex dengan lembut. Alex mengecupi tangan itu, seolah-olah tangan itu adalah pusat dari hidupnya.


"Terima kasih... Tadi, sangat indah... Aku tidak menyangka bisa mendapatkan hal seindah itu..."


"Sayang, kamu lebih dari pantas untuk mendapatkannya. Kamu seharusnya mendapatkan lebih dari ini. Maafkan aku karena sudah membuatmu mengalami semua ini." Alex merengkuh pinggang Khansa dan merebahkan kepalanya di pangkuan wanita itu. Khansa mengecupi kepala suaminya.


Mereka pada akhirnya berbaring di ranjang dengan posisi saling berhadapan. Tangan mereka saling bertautan, sementara tatapan mata mereka tak lepas satu sama lain.


"Sejak kapan mulai menyukaiku?" tanya Alex sendu. Rasanya dia masih tidak menyangka Khansa memiliki perasaan yang sama untuknya.


"Sejak kamu memasuki kelasku waktu itu..."


"Kapan?"


"Waktu kelas rintisan dibubarkan. Kamu beserta lima teman yang lain," Khansa menjawab lirih. Pipinya bersemu merah, dia masih malu untuk mengakui semuanya.


"Serius?!" Alex bertanya tak percaya.


"Iya. Bagiku, kamu pria paling tampan yang pernah kutemui dalam hidupku..."

__ADS_1


"Sayang, serius?!!" Alex semakin tidak mempercayai pendengarannya.


"Iya Mas... Aku sudah menyukaimu jauh sebelum kamu menyadarinya... Tapi aku sadar diri. Aku hanyalah makhluk transparan di sekolah itu. Tidak ada yang menganggapku. Bagaimana mungkin seorang yang tak terlihat sepertiku berani-beraninya memiliki perasaan terhadap seorang Yohan Alexander, idola seluruh sekolah,"


"Sayang..."


"Bagiku, kamu adalah pria 99% ku Mas. Kamu mendekati sempurna. Tidak ada pria lain yang sebanding denganmu. Bisa kamu bayangkan bagaimana perasaanku ketika pria 99% ku mau berteman denganku? Bahkan menganggapku sahabatnya? Aku bahagia sekali Mas..." suara Khansa mulai serak, matanya kembali berkaca-kaca. Dia membelai wajah Alex dengan lembut.


"Bagaimana mungkin pria sempurna ini menyadari keberadaanku? Seorang anak piatu, miskin, tidak pintar dan tidak cantik ini, sementara yang lain memilih mengabaikanku. Bagaimana mungkin?"


"Sshhh, sayang... Hanya orang-orang bodoh yang tidak bisa melihat kelebihanmu. Bagaimana mungkin gadis cantik, mandiri, tidak manja, tidak pernah mengeluh terhadap nasib, pejuang keras, dewasa melebihi umurnya dan sangat bertanggung jawab ini tidak terlihat? Mereka buta mata dan hatinya sayang. Bagiku, keberadaanmu lebih bersinar dibandingkan yang lainnya." Alex mengecup kening Khansa, yang dilanjutkan dengan kecupan-kecupan kecil di bibir mereka.


"Mas..."


"Ya sayang?"


"Kamu beneran menguntitku?"


"Kenapa?"


"Karena aku menyukaimu,"


"Sejak kapan?"


"Mungkin sejak aku menatap mata polos itu."


"Hah? Maksudnya?"


"Ada gadis lugu. Yang gugup waktu aku meminjam tipe-X. Sejak saat itu, aku tidak pernah melupakan mata itu,"


"Lho?? Kok bisa Mas? Kenapa memangnya dengan mataku? Ada yang salah?" Khansa menatap Alex penuh tanda tanya. Sangat terkejut dengan ucapan Alex.


"Mata itu mengingatkanku pada kucing polos yang minta dikasihani dan dilindungi. Tiba-tiba saja aku ingin melindunginya,"

__ADS_1


"Isshh, jadi Mas menyamakan aku dengan kucing?" Khansa memonyongkan bibirnya. Suatu kesalahan dia melakukannya, karena dengan cepat Alex langsung menyergapnya. Mel😘mat habis bibir itu. Mereka saling berciuman dalam waktu yang cukup lama hingga keduanya kehabisan napas.


"Fiuh, tahan, tahan. Aku harus menahan diri." Alex berusaha mengambil napas dalam-dalam. Menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menghilangkan gejolak yang datang melanda.


"Berapa lama aku harus puasa?" tanyanya dengan napas yang masih tersengal-sengal. Khansa terkikik melihat suaminya yang nampak menderita.


"Tidak lama kok Mas. Hanya beberapa bulan saja..."


"A-apa?!!"


"Hihihi, biasa aja deh Mas. Nunggu Alkha lahir, sampai masa nifas selesai. Sabar ya..." Khansa mengecupi pipi Alex yang nampak frustasi. "Lanjutkan ceritanya Mas..."


"Cerita apa?"


"Cerita tadi. Kamu menyamakanku dengan kucing Mas. Sejak kapan Mas menyadari perasaan itu? Ingat Mas, setelah meminjam tipe X itu statusmu masih pacaran dengan Diana. Aku bahkan melihat kalian berciuman. Bibir ini juga mencium Briana. Berapa banyak yang dicium bibir ini? Aku wanita ke berapa Mas?" Khansa menatap Alex dengan memberengut, mengingat masa-masa Alex berpacaran dengan Diana dan bergonta-ganti pacar setelah putus dari wanita itu.


Alex langsung meraih Khansa dalam pelukan, "Hei sayangku, jangan ngambek dong. Mungkin bibirku memang sudah tidak perjaka lagi, tapi Alex junior selalu perjaka sayang. Kamu yang mengambil keperjakaanku. Kamu mengambil kesucianku..."


"Ishhh, mana ada kesucian buat laki-laki Mas. Lagian kalaupun sudah pernah begituan, nggak akan pernah keliahatan. Beda dengan perempuan. Apalagi waktu malam itu, Mas kelihatan pengalaman sekali. Tidak kelihatan gugup. Sepertinya sangat tahu apa yang harus dilakukan." Khansa mencibirkan mulutnya, tampak tidak percaya dengan ucapan suaminya.


"Sayang, aku seperti itu karena sudah belajar sebelumnya..."


"Tuh kan!! Apa kubilang!! Sana jauh-jauh!! Nggak usah dekat-dekat!!"


"Hei, jangan marah-marah dulu. Aku belajar dari film-film. Kemudian aku membayangkan melakukannya denganmu sayang. Kamu objek fantasiku selama ini. Keperjakaanku hilang bukan karena perempuan lain, tapi karena tanganku," Alex berakting sedih. Entah Khansa harus marah atau tertawa melihat kelakuan suaminya.


Kemudian mereka saling menceritakan perasaan masing-masing. Alex menceritakan dari awal perasaan itu ada. Kesedihan dan hancurnya perasaannya dengan perkataan Khansa. Rasa sakit yang membuatnya sadar bahwa hatinya sudah bukan miliknya lagi, namun milik Khansa Aulia.


Ketidakpercayaan dirinya untuk kembali mendekati Khansa. Hingga yang bisa dilakukannya hanyalah menjadi penguntit selama belasan tahun.


***


Lanjut \=> 😁

__ADS_1


__ADS_2