
Dari ratusan tamu yang hadir, Alex menatap sosok-sosok yang menonjol. Senyum di bibirnya merekah ketika mengenali sosok-sosok itu. Alex menggandeng tangan Khansa, mengajaknya untuk mendekati tamunya.
"Ayo sayang. Aku akan mengenalkanmu pada relasiku. Mungkin saja kamu bisa akrab dengan istri-istri mereka," Khansa mengikuti kemana Alex melangkah. Ada rasa bahagia di hatinya. Kini ia tidak lagi disembunyikan. Ia dikenalkan pada semua orang. Istri mana yang tak bahagia diperlakukan seperti itu?
"Tuan Zico, suatu kehormatan Anda bisa menghadiri pesta kecil kami," Alex mendekati pria tinggi besar dan gagah yang tengah direpotkan oleh anak-anaknya. Pria itu berwajah tampan dan blasteran. Alex menjabat tangannya yang diakhiri dengan tepukan di bahu.
"Selamat Tuan Yohan, akhirnya Anda menikah juga. Dan wanita beruntung ini pasti istri Anda?" Zico membungkukkan badannya dengan sopan pada Khansa. Alex segera merengkuh tubuh Khansa.
"Ya, perkenalkan, dia istri saya, Khansa. Saya ingin mengkoreksi kata-kata Anda Tuan Zico. Bukan dia yang beruntung menikah dengan saya, namun saya yang beruntung menikahinya," Alex menatap Khansa dengan mesra.
"Daddy!! Gendong!!" Zoey menarik-narik ujung jas Zico. Tangan Zico yang tengah menggendong Zelin akhirnya merengkuh tubuh pria cilik itu.
"Zoey kan sudah besar. Kenapa harus gendong terus Nak?" Nisha yang tengah menggendong Zack berusaha membujuk Zoey, tapi pria kecil itu bersikeras untuk digendong ayahnya.
"Ini istri saya, Nisha." Nisha mengulurkan tangannya yang bebas pada Khansa yang menerimanya dengan sukacita.
"Saya Khansa Mbak..."
"Saya Nisha, semoga kita bisa akrab..."
"Punya putra berapa Mbak?" tanya Khansa yang dilanjutkan dengan percakapan-percakapan lainnya. Dalam waktu sebentar kedua wanita itu sudah tampak sangat akrab. Khansa begitu takjub mengetahui Nisha memiliki tiga anak, sementara dua yang lainnya kembar. Khansa menginginkan anak kembar juga, namun karena tidak ada gen kembar dalam keluarganya maupun keluarga Alex, sepertinya dia harus mengubur keinginan itu.
Alex bercakap-cakap dengan Zico. Sesekali mereka membahas tren bisnis. Sementara Nisha dan Khansa sudah sangat akrab. Ketika mereka sedang bercakap-cakap seperti itu, datang pasangan lain yang tak kalah mempesonanya.
__ADS_1
"Tuan Yohan, maaf telat." Daniel datang dengan tergopoh-gopoh. Satu tangannya menggendong Ziel, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Alma yang tengah hamil besar. Dia segera mendekat dan memeluk Alex. Memberi tepukan persahabatan dan memberinya selamat.
"Maaf telat. Tadi sebenarnya kami datang bersama-sama. Tapi ada insiden besar." Daniel berkata dengan dramatis, membuat orang-orang yang berada di sana ingin tahu insiden apa yang terjadi.
"Apa ada masalah?" tanya Alex.
"Si boy membuat masalah. Dia buang air besar. Kami membereskannya terlebih dulu sebelum kemari." Daniel menunjuk Ziel yang tak merasa bersalah. Batita itu tampak asyik menyedot susunya dengan rakus.
"Nyonya cantik ini pasti istri Anda?" Daniel mengalihkan perhatiannya pada Khansa. Alex mengenalkan Khansa pada semuanya.
Dalam waktu sekejab ketiga wanita itu sudah mulai akrab. Khansa, Alma dan Nisha. Mereka membahas permasalahan anak-anak mereka. Khansa menyimak setiap perkataan seniornya. Bagaimanapun keduanya lebih pengalaman mengurus anak di banding dirinya.
Khansa sedang asyik bercakap-cakap dengan Alma maupun Nisha ketika merasakan tepukan halus di bahunya.
Kalau ia bekerja di bank swasta tapi tidak dengan Mutia. Wanita itu bekerja di bank pemerintah. Pada saat itu mereka bertemu di Bank Indonesia ketika bank terbesar se-Indonesia itu mengadakan event perbankan. Kemudian mereka menjalin hubungan yang akrab sebelum akhirnya Mutia memutuskan untuk resign dan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, sama seperti yang dilakukannya sekarang.
"Mbak Tia, apa kabar?" Khansa langsung memeluk Mutia yang membalas pelukannya dengan satu tangan karena tangan lainnya sedang menggendong Eijaz, putra kembarnya.
"Baik banget. Selamat ya atas pernikahanmu. Aku ikut bahagia sayang."
"Iya Mbak, terima kasih banyak karena sudah jauh-jauh mau datang kemari Mbak. Ini putramu Mbak?" Khansa mencium kening Eijaz yang tertidur nyenyak.
"Iya, ini anak ketigaku. Itu yang dua sama Papanya." Tia menunjuk Rizal yang tengah direpotkan oleh kelakuan Ezha, sementara Elisa berada di lengan kirinya.
__ADS_1
"Lho, kembar juga? Kenapa banyak yang kembar ya? Mbak Nisha anaknya kembar, Alma sedang hamil bayi kembar, dan Mbak Tia juga punya anak kembar. Kenapa gampang punya anak kembar ya?" Khansa bertanya-tanya dengan bingung.
[Author : Aku jawab pertanyaanmu Khansa, itu karena aku tidak kreatif, sama seperti suamimu itu. Hampir di setiap novel anak pertama laki-laki, dan anak kedua kembar, ckckckck 🤦♀️]
Tak disangka Rizal mengenal Daniel. Rupanya keduanya pernah menjalin hubungan bisnis mengenai pembangunan mega proyek untuk gedung-gedung perusahaan Daniel yang baru. Dari situ Daniel mulai mengenalkan Rizal kepada Alex maupun Zico.
Empat pria itu membentuk kelompok sendiri dengan anak-anak yang mengelilingi mereka. Yang mereka bicarakan hanyalah tren bisnis. Terkadang mereka juga membicarakan kenakalan dan tingkah lucu anak-anak mereka.
Sementara empat ibu-ibu juga membentuk kelompok sendiri. Mereka saling mencurahkan perasaan. Banyak yang mereka bicarakan. Awalnya mereka membicarakan masalah anak, namun kemudian berlanjut dengan tingkah mesum suami-suami mereka. Tanpa malu-malu mereka membicarakan semuanya, sementara wajah Khansa sudah memerah.
Entah mengapa ia masih malu membicarakan hal seperti ini di depan umum. Khansa mulai menceritakan bayinya yang baru lahir. Semua nampak terkejut. Mereka tidak menyangka Khansa menikah dalam kondisi sudah memiliki bayi melihat betapa langsingnya tubuh wanita itu.
Dengan malu-malu Khansa menceritakan kisahnya, bahwa ia hamil sebelum menikah. Nisha langsung memeluknya dengan erat. Ya, nasib mereka hampir sama. Bedanya, Khansa melakukannya atas dasar cinta, sementara Nisha karena dipaksa. Tapi untunglah semua berakhir dengan bahagia.
Tak berapa lama kemudian, Mama datang mendekat sembari menggendong baby Alkha. Rupanya bayi kecil itu tengah kelaparan. Wajahnya mengerut kesal. Sementara dari bibirnya keluar jeritan.
"Uhhh, anak ganteng Mama lapar ya. Ayo kita minum sayang..." Khansa meraih baby Alkha dan ijin pamit pada teman-teman barunya.
Sejak acara dimulai bayi itu di gendong oleh Mama dan Ibu. Terkadang Winda maupun Fian juga ikut menggendongnya. Winda sekarang sudah tidak bekerja di bank, melainkan ikut perusahaan Alex. Pria itu menugaskannya untuk menjaga Khansa dan bayi mereka layaknya seorang bodyguard. Meskipun pekerjaan itu tidak sesuai dengan pekerjaan sebelumnya, namun karena Winda merasa nyaman, pada akhirnya dia menerima tawaran Alex itu.
Ketika baby Alkha di gendong Mama, beliau akan membawanya kemana-mana dengan bangga. Memamerkan kepada semua orang bahwa mereka sekarang sudah memiliki dua cucu. Tidak ada yang berani bertanya mengapa dua orang cucu telah hadir terlebih dulu sebelum pernikahan. Namun karena Mama begitu mengetahui cara pikir orang-orang, Mama menjelaskan bahwa sebelumnya telah terjadi pernikahan antara Alex dan Khansa maupun Aaron Diana. Dikarenakan kondisi Aaron yang koma menyebabkan acara resepsi itu diundur sampai saat ini. Semua orang menerima alasan.
***
__ADS_1
Next 👉😁