
Memperhatikan segala tingkah laku Khansa dari kejauhan. Dan kedatangannya ke rumah Khansa di malam sebelum keberangkatannya ke Jakarta. Khansa begitu terkejut menyadari fakta baru yang diketahuinya. Khansa juga menceritakan bagaimana dia mengejar Alex waktu itu ke bandara. Mereka menyesali hal-hal yang telah lalu yang tak diketahui satu sama lain.
"Jadi yang mengatur reuni itu kamu Mas?" tanya Khansa sembari berlinangan airmata.
"Iya. Aku takut kamu menerima lamaran dari si br😒ngsek itu. Eh, maksudku si Andre. Meskipun tidak percaya diri, aku memberanikan diri untuk menemuimu. Semakin melihatmu, membuatku semakin tidak memiliki kepercayaan diri. Akhirnya aku memilih minum, agar rasa percaya diriku bangkit,"
"Apa kamu juga merencanakan malam itu Mas?"
"Tidak sayang, aku tidak pernah merencanakannya. Dino memang menyarankan untuk mengikatmu dengan melakukan hal seperti itu, tapi aku tidak berniat melakukannya. Malam itu aku terbuai dengan perasaan. Aku hanya ingin memilikimu, tidak rela kamu dimiliki yang lain..."
"Lalu mengapa kamu menyebut nama Diana Mas? Apakah kamu masih memiliki perasaan terhadapnya?"
"Hah? Kapan aku melakukannya?" Alex menatap Khansa dengan bingung.
"Selepas malam itu, kamu ketiduran Mas. Tiba-tiba kamu menyebut nama Diana. Karena hal itu aku memilih untuk pergi malam itu. Aku merasa kamu masih mencintai Diana..."
"Ya Tuhan, pikiran darimana itu sayang?! Sumpah demi apapun, aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa. Bahkan saat pacaran pun aku ragu perasaan itu pernah ada,"
"Tapi kamu menangis waktu putus dengan dia Mas. Kamu berubah. Aku pikir perubahan itu pasti ada hubungannya dengan putusnya kalian..."
"Sayang, aku menangis bukan karena putus dengan Diana. Aku menangis karena sedih, dua orang terdekatku mengkhianatiku. Sementara aku tidak bisa membuka aib mereka di depanmu. Itu terlalu memalukan untuk diceritakan. Mungkin sikapku ini yang menimbulkan kesalahpahaman?"
"Ya, aku pikir kamu mencintai Diana Mas. Aku ingin kamu menjadi Alex yang dulu. Untuk itu aku menemui Diana, memohon padanya untuk tidak meninggalkanmu..."
"Ya Tuhan sayang... Ternyata perasaanmu sebesar itu. Maafkan aku telah membuatmu salah paham sayang. Andaikan waktu itu aku menceritakan yang sebenarnya, mungkin kesalahpahaman ini tidak akan berlanjut seperti ini. Kita tidak akan membutuhkan waktu lama untuk bersatu seperti ini."
"Iya Mas..." Khansa masuk ke dalam pelukan Alex yang mengecupi keningnya dengan sayang. "Lalu mengapa waktu itu kamu menyebut-nyebut nama Diana di tidurmu Mas? Bahkan dalam tidur pun kamu masih mengingatnya Mas..." Khansa cemberut. Alex terkekeh melihat istrinya yang sedang cemburu.
__ADS_1
"Istriku kalau cemburu makin cantik aja. Gemes!" Alex membombardir Khansa dengan kecupannya. Khansa menahan mulut Alex, menyuruh pria itu untuk menjawab pertanyaannya. "Iya, iya aku jawab. Dan, jawabannya aku sungguh tidak tahu sayang. Serius aku menyebut nama Diana?"
"Iya Mas. 'Di, Diana, jangan lakukan itu, Diana', kira-kira seperti itu Mas..."
"Ya ampun, kamu mengingatnya dengan detail sayang. Sebegitu cemburunya dengan Diana? Tenang saja sayang, hati dan tubuhku milikmu. Apalagi si junior ini, 1000% milikmu!" Alex mengambil tangan Khansa dan menyentuhkan pada tubuhnya yang menegang. Khansa langsung memukul-mukul dada Alex dengan gemas.
Alex menceritakan mimpinya saat itu, yang kuat menjadi dugaan mengapa malam itu dia memanggil-manggil nama Diana. Meskipun sangat tidak masuk akal, namun Khansa memutuskan untuk mempercayainya, karena dia melihat bukti otentik betapa Alex mencintainya, yaitu berupa foto-foto yang diambil Alex ketika dirinya masih remaja sampai dewasa.
"Pagi itu aku sangat kesal. Aku kesal karena tidak melihatmu di sampingku. Kupikir aku bisa melihatmu di kantor, namun aku juga tidak melihatmu. Moodku langsung berubah menjadi lebih buruk lagi," Alex mengenang hal-hal yang membuatnya kesal sekaligus sedih.
"Waktu itu aku memutuskan untuk tidak ke kantor Mas. Aku sedih karena merasa kamu membuangku..."
"Sayang, aku tidak pernah membuangmu. Aku mencarimu ke kantormu, tapi kamu tidak ada."
"Mas, kata Dino kamu benaran masuk ke perusahaanku karena aku?"
"Kok bisa? Tapi aku merasa aneh juga sih. Dulu kamu kan pernah cerita Mas, kalau keluarga ingin kamu menjadi dokter, sementara kamu ingin jadi seorang pakar nano. Aku heran waktu tahu kamu menjadi GH di kantorku Mas. Kupikir, apa mungkin cita-citamu telah berubah?"
"Tidak sayang, cita-citaku tidak pernah berubah. Aku tetap menggeluti bidang itu."
"Hah, serius? Kok bisa?"
"Iya. Selepas lulus S1, aku langsung melanjutkan studyku di Jerman. Ambil S2 dan S3 di sana di bidang nano. Pulang ke Indonesia, aku kembali ke kampusku sembari membuka perusahaan sendiri. Sekarang perusahaan itu sudah dipegang oleh beberapa orang kepercayaan."
"Serius Mas? Lalu mengapa kamu menjadi GH ku Mas?"
"Sudah kubilang, itu karena aku melihat dia melamarmu."
__ADS_1
"Maksudku kok bisa mendapat jabatan itu? Aku kerja enam tahun hanya menjadi RMF. Kenapa Mas dengan mudah mendapat posisi itu?" Khansa menatap suaminya dengan takjub. Entah kelicikan apa yang telah dilakukan seorang Yohan untuk mendapatkan posisinya.
"Aku menggunakan jalur nepotisme. Aku dekati direksimu dan memintanya untuk memberiku jabatan itu." Alex berkata dengan penuh percaya diri. Ingin rasanya Khansa menarik rambutnya untuk menghapus senyum itu dari wajahnya.
"Tujuannya apa menjadi atasanku? Untungnya apa?"
"Agar aku bisa mengawasi dan berkuasa terhadap kalian. Kalau kalian ada apa-apa, aku bisa memisahkan kalian dengan memutasi salah satunya."
"Ya ampun, jahat banget kamu Mas. Kenapa orang jahat seperti ini bisa sukses?" Khansa mencubit pipi Alex dengan gemas.
"Aku mungkin sukses untuk hal itu sayang. Tapi kesuksesan itu tidak ada gunanya tanpa kamu di sampingku,"
"Halah, gombal. Kalau benar seperti itu, mengapa setelah malam itu tidak langsung menghubungiku? Aku baru tahu kalau kamu punya kakak dan kakakmu kecelakaan Mas, tapi maksudku, mengapa tidak ada waktu sedikitpun untuk menghubungiku?"
"Sayang, sayang... Maafkan aku. Itu sepenuhnya salahku. Aku tahu nomor HPmu. Tapi dibanding menghubungimu via HP, aku ingin menemuimu secara langsung. Aku tidak menyangka hal itu akan memakan waktu berbulan-bulan lamanya. Maafkan aku sayang, itu benar-benar salahku. Mungkin benar kata Mama, aku benar-benar tidak peka..."
"Ya, kamu memang tidak peka Mas. Ingat Mas, bukan kamu saja yang ingin tahu kabarku. Aku juga ingin tahu kabarmu. Karena memikirkanmu, aku hampir kehilangan Alkha..."
"Ampun sayang, itu semua salahku. Aku janji akan berubah. Aku akan memberimu kabar setiap detik sayang. Katakan lagi apa salahku? Aku berjanji akan memperbaiki semuanya." ratap Alex menghiba. Pembahasan mengenai Alkha selalu menjadi hal yang sensitif. Alex sangat takut menyinggung istrinya.
Malam itu mereka habiskan dengan saling mengeluarkan uneg-uneg masing-masing, terutama uneg-uneg Khansa. Alex mendengarkan dengan patuh. Berjanji dalam hati untuk intropeksi diri dan tidak melakukan hal-hal yang menyakiti istrinya kembali.
***
Happy Reading 😚
NB : Diusakan setiap part isinya hal-hal mengganjal yang belum terselesaikan. Mungkin ada part-part yang aku lupa, bisa ditulis di komen ya 😚 Terima kasih atas dukungannya. Kechup tayank buat semuanyah 😚🤗
__ADS_1