
Khansa mengkusuk-kusuk perutnya yang gatal. Rasanya ia ingin menggaruk keseluruhan perutnya untuk mengatasi rasa gatal itu.
"Gatal lagi?"
"Iya..."
"Jangan digaruk. Tunggu aku ambilkan salepnya dulu."
"Kompres dengan air es aja Mas..."
"Yakin nggak mau pake salep?"
"Iya. Enakan dikompres pake air es..."
"Oke, tunggu ya." Alex berjalan ke dapur dan mulai mengambil ice pack di kulkas. Kemudian dia kembali ke ruang keluarga dengan ice pack di tangannya.
Alex langsung duduk bersimpuh di depan Khansa dan menyingkap baju istrinya. Perut buncit nan mulus langsung terpampang di depannya. Alex mengecup perut itu dengan sayang.
"Jangan rewel ya anak Papa," ujarnya seraya meletakkan ice pack itu di perut istrinya dan menggulir-gulirkannya dengan lembut.
"Hahhhh..." hembusan napas lega terdengar di sela-sela mulut Khansa.
"Enak?"
"Iya. Gatalnya jadi berkurang Mas..."
"Kenapa kehamilan yang ini jadi sering gatal? Dulu waktu Alkha dan Alesha tidak seperti ini."
"Kehamilan tiap anak berbeda-beda Mas. Pindah ke sisi ini Mas..." Alex mematuhi istrinya. Sesekali ia menciumi perut Khansa sembari mengucapkan kata-kata rayuan untuk anaknya agar tidak rewel.
Khansa mengelus-ngelus kepala Alex. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Tatapan matanya sarat akan cinta. Dia meraih kepala Alex dan ikut mengecup puncak kepalanya.
"Mas, ingat nggak?"
"Ingat apa?"
"Dulu waktu jam olahraga aku pernah pingsan karena datang bulan. Kamu juga mengompres perutku seperti ini Mas. Bedanya dulu pakai air hangat..."
"Kok kamu tahu?" Alex menatap Khansa dengan terkejut. Matanya tampak bertanya-tanya dan penasaran.
"Hmmphh... Waktu itu sebenarnya aku sudah bangun Mas. Namun karena terlalu malu dan terkejut aku tetap pura-pura tidur. Kenapa kamu baik banget sih sama aku Mas? Aku benar-benar heran deh. Tidak ada yang baik dariku yang bisa dilihat. Aku tidak cantik, tidak pintar, tidak kaya..."
Cup
Alex langsung membungkam bibir Khansa. Menghentikan omong kosong yang acap kali terlontar dari mulut istrinya. Khansa langsung terdiam. Dia mendorong tubuh Alex perlahan dan menengok ke belakang suaminya.
Tidak jauh dari mereka terlihat Alesha dan Alkha sedang bermain. Untunglah dua bocah itu tidak melihat kelakuan ayahnya.
"Jangan cium-cium di depan anak-anak Mas..."
"Kenapa? Bukankah melihat orangtua mesra juga bagus untuk psikologi anak?"
__ADS_1
"Ya, tapi beberapa kali anak-anak pernah melihat kita melakukan hal-hal yang lebih dari ini..."
"Menurutku tidak apa-apa. Sikap kita akan mengajari mereka tentang cinta dan kasih sayang,"
"Tapi ada batasannya Mas. Ciuman di bibir sudah termasuk melewati batas. Yang disarankan oleh psikolog itu pelukan, ciuman di pipi atau kening..."
"Cup, cup, cup," Alex membombardir kening dan pipi Khansa dengan kecupan-kecupannya, "Seperti ini?" tanyanya tanpa melepas kecupannya di pipi Khansa.
"Papa, Mama!!" Alesha dan Alkha berteriak bersamaan dan berlari ke arah mereka. Memeluk tubuh keduanya dengan erat dan meminta ciuman juga.
Khansa maupun Alex menciumi keduanya. Mereka bercanda-canda. Sesekali Alex menggelitik perut Alesha hingga anak itu terkikik-kikik tak berkesudahan.
***
"Ada makanan yang ingin dimakan?"
"Aku pengen kiwi Mas,"
"Hanya itu?"
"Iya, sementara itu aja. Beli di depan aja Mas. Jangan jauh-jauh..."
"Oke. Ada lagi?"
"Nggak ada. Nanti aku chat kalau ada yang pengen dimakan lagi. Perginya jangan lama-lama..."
"Manjanya, ya sudah kalau begitu aku berangkat dulu, cup..." Alex mengecup kening Khansa.
"Ikut Ma!!"
"Papa hanya keluar sebentar. Princess di rumah saja. Jagain Mama,"
"Nggak!! Adek mau ikut!!" Alesha bergelayut di kaki Alex yang menatap Khansa dengan tatapan memelas.
"Ajak aja sih Mas. Nanti anaknya nangis lho..." Khansa tersenyum kecil tanpa melihat Alex.
Sebenarnya dia melakukan hal ini ada tujuannya. Dia sengaja menyuruh Alesha untuk mengikuti papanya kemana-mana untuk memantau laki-laki itu di luaran sana. Suaminya itu terlalu tampan. Kalau dibiarkan keluar sendiri takut ada wanita lain yang menggoda. Bila Alesha selalu menempel pada papanya, setidaknya hal itu akan mengurangi godaan-godaan itu.
"Ya sudah," Alex menggendong Alesha dan mulai berbalik, "Aku pergi dulu."
"Tunggu Mas!"
"Ya?"
"Mas mau pergi pakai baju itu?"
"Iya, emang ada yang salah?"
"Salah. Ganti celana kolormu Mas."
"Aku hanya pergi ke depan sayang,"
__ADS_1
"Iya, tapi nggak pakai celana kolor juga. *Itu* mu jadi keliatan menonjol Mas. Kesenangan nanti yang lihat. Ingat waktu lahirnya Alkha sama Alesha? Kamu jadi pembicaraan perawat dan bidan-bidan di sana." Khansa mulai mengomel sembari berjalan ke arah kamar. Alex mengikuti di belakangnya sembari tersenyum lucu. Dia merasakan kecemburuan istrinya.
"Memang apa yang dibicarakan?"
"Nggak tahulah. Kesel kalau ingat."
"Kenapa? Nggak rela dilihat orang lain?"
"Mana mungkin rela!! Emang Mas rela kalau aku juga dilihat-lihat orang?"
"Nggak!!"
"Sama kalau gitu. Cepat ganti celanamu. Sini Adek sama Mama dulu," Alex menyerahkan Alesha pada Khansa dan mulai berganti dengan celana panjang.
Beberapa menit kemudian pria itu dan putri kecilnya keluar rumah menggunakan sepeda motor. Mereka pergi ke mini market yang masih ada dilingkup perumahan, sementara Khansa dan Alkha tetap berada di rumah.
Khansa mendekati Alkha yang tengah asyik memegang tablet papanya. Dia duduk di sebelah bocah itu dan mencium puncak kepalanya.
"Kakak lagi apa?"
"Ini Ma. Tadi Papa nyuruh Kakak ngerjain ini..." Alkha menyerahkan tablet itu di tangan ibunya.
Khansa melihat apa yang dikerjakan anaknya. Dan lagi-lagi dia harus tercengang. Bagaimana tidak? Di usianya yang baru menginjak lima tahun, dimana anak seusianya baru belajar membaca dan menulis, namun Alkha justru sedang mengerjakan soal fisika dasar yang setingkat dengan pelajaran kelas 7 ( SMP kelas 1).
Khansa mengambil tablet itu dan mulai melihat satu persatu materi yang ada di sana. Alex membuat modul sederhana dan bergambar mengenai materi magnet, pembiasan cahaya, energi, listrik, pemuaian zat, suhu kalori, gaya, tata surya dan lain-lain.
"Kata Papa kalau Kakak bisa jawab semuanya, Papa mau ajak Kakak ke kantor Papa lagi..."
"Kakak bisa jawab?"
"Bisa dong Ma. Itu Kakak sudah jawab semua."
Khansa memeriksa pekerjaan anaknya, dan benar saja semua jawaban Alkha benar. Khansa memeluk Alkha dan mengecupi puncak kepalanya. Tak disangka putra sulungnya itu mewarisi kepintaran ayahnya.
Sedari kecil bibit-bibit kecerdasan itu sudah mulai terlihat. Alkha lebih cepat dalam menyerap semua hal dibanding anak seusianya. Misalnya saja dalam menyerap kosa kata. Pada umur satu tahun, Alkha sudah bisa mengucapkan beberapa kata dengan sempurna.
Alex sadar dengan potensi anaknya, sehingga pria itu mulai mengasahnya sejak bayi. Alex mengajarkan hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan penerapan ilmu fisika dan matematika. Alkha sangat tertarik dengan semuanya. Puncaknya adalah ketika Alex mengajak Alkha mengunjungi laboratorium perusahaan. Bocah kecil itu sangat antusias dan takjub melihat semua peralatan canggih yang ada di sana. Bahkan Alkha menangis ketika Alex membawanya pulang.
"Kakak anak siapa sih? Kok pinter banget? Cup, cup, cup..." Khansa mengecupi puncak kepala anaknya.
"Kakak anak Mama Papa..."
"Oh ya? Kenapa Mama bisa melahirkan anak sepintar ini ya? Sini Mama cium lagi, cup, cup, cup..." Alkha tertawa sembari membalas kecupan-kecupan ibunya. Kemudian Alkha merangkum wajah Khansa dengan kedua tangan kecilnya.
"Mama... Kakak sayaaaaaanggg sama Mama, cup...cup..." pernyataan itu diakhiri dengan kecupan di hidung Khansa. Setiap anaknya melakukan hal itu, Khansa tak bisa menguasai diri, airmata selalu bergulir dari wajah cantiknya.
"Mama juga sayang banget sama Kakak. Mama sayang Adek dan Papa juga. Mama sayang kalian semua..."
***
Happy Reading 😚
__ADS_1