
"Dia akan kuberi nama ..."
"Stop!!" Khansa mengangkat tangan. Membuat Alex menghentikan ucapannya.
"Kenapa Yang?"
"Bagaimana kalau urusan nama kita pikirkan bersama? Alkha dan Alesha 'kan kamu yang kasih nama Mas, bagaimana kalau putri ketiga kita ini aku saja yang kasih nama?"
"Memang kenapa sih Yang? Ada yang salah dengan pemberian namaku?"
"Ng-nggak ada Mas ...."
"Bapak, mohon maaf untuk bayinya saya bawa dulu. Silakan keluar, karena istri Bapak juga butuh istirahat," ucap salah satu perawat sembari mengulurkan tangan, meminta bayi mungil untuk diserahkan.
Alex terlihat tak puas. Namun ia sudah pernah mengalami prosedural seperti ini berkali-kali, sehingga ia tak bisa membantah lagi.
"Aku keluar dulu sayang. Met istirahat ya. Makasih sayang, kamu selalu memberi kebahagian berlebih kepadaku," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Alex meraih tangan Khansa dan mengecupinya.
"Iya Mas, sama-sama ...."
"I love you ...."
"Love you too," jawab Khansa dengan malu-malu. Mereka tengah berada di kamar bersalin, tentu saja mereka tidak hanya berdua.
"Sana keluar dulu ...."
"Beri aku satu kecupan."
"Apa sih Mas. Malu .... Nanti di rumah saja."
"Kutagih janjimu." Alex mencuri satu kecupan sebelum akhirnya keluar ruangan.
"Pak Yohan dari tahun ke tahun romantisnya nggak berkurang ya Bu. Jadi iri. Kapan ya punya suami kayak beliau," ucap salah satu perawat sembari membantu Khansa membersihkan diri.
"Iya, Bu Khansa selalu bikin iri. Aku saja yang baru punya satu putri sikap suami sudah ogah-ogahan, tapi Pak Yohan berbeda. Beliau selalu romantis," sambut perawat yang lain.
Khansa hanya tersenyum kecil.
Memang benar ucapan perawat itu. Alex tidak berubah. Malah Khansa pikir, rasa sayang dan cinta pria itu semakin bertambah. Ia benar-benar sangat bersyukur mendapati Alex sebagai suaminya. Rasa syukur yang akan selalu dirasakannya setiap kali melihat wajah itu membayangi pelupuk mata.
***
Suasana kediaman Alex dan Khansa terlihat ramai. Keluarga besar, sahabat dekat dan para orang kepercayaan terlihat berkumpul. Mereka tengah menghadiri acara aqiqahan putri ketiga pasangan tersebut.
"Congrats Bro." Daniel datang dan langsung memeluk Alex. Dia didampingi Alma dan ke empat anak mereka.
"Awesome. At last you got third children now. Amazing!!" Daniel menepuk-nepuk bahu Alex, terlihat sangat bangga. Alex hanya terkekeh, dari wajahnya nampak kesombongan yang luar biasa.
"Ada rencana untuk nambah lagi?" tanya Daniel sembari mengerlingkan mata. Di pelukannya nampak Mikhaela, putri ke empatnya yang tengah tertidur.
"Kalau diijinkan." Alex menoleh pada Khansa dan mendapat balasan berupa tatapan mematikan. "Ehem. Sepertinya tiga saja sudah cukup," ucapnya sembari berdehem. "Ayo masuk."
Malam itu mereka membentuk koloni sendiri-sendiri. Para bapak-bapak yang terdiri dari Alex, Daniel, Zico, Rizal dan Aaron berkumpul di dekat kolam renang. Sementara para ibu-ibu yang terdiri dari Khansa, Alma, Nisha, Mutia dan Diana memilih ruang tengah sebagai ajang temu kangen mereka.
__ADS_1
Hiruk pikuk suara anak-anak bermain dan berlarian memenuhi ruangan. Ziel memamerkan smart watch yang bisa memunculkan hologram game online pada Ezha dan Zach yang terlihat sangat antusias menanggapinya.
Axel dan Eijaz tengah berlarian sembari mengejar kucing. Zeline mengambil satu set make up milik Nisha dan menggunakannya untuk mendandani Queen dan Arana. Alesha membuntuti Zoey yang tengah asyik dengan dunianya sendiri. Sementara Alkha terlihat sangat tenang. Dia berdiri di samping baby box yang berisi adik mungilnya. Dari matanya terpancar rasa takjub yang begitu nyata.
"Kata mama dia adik bayi. Kenapa dia sangat kecil?" Sebuah tangan mungil mengelus pipi gembul yang tengah tertidur pulas.
"Jangan pegang." Alkha menarik tangan itu dengan lembut. "Dia masih bayi. Hati-hati kalau mau pegang," ucapnya menambahi.
"Dia siapa?" bisik suara cadel milik putri ketiga pasangan Mutia dan Rizal, Elisa.
"Adikku."
"Kenapa kecil? Apa dia sakit?"
"Memang kecil, karena baru lahir. Dulu kamu juga sekecil ini. Waktu di perut juga lebih kecil lagi." Alkha lagi-lagi bersikap sok dewasa.
"Oh ya? Tapi, kenapa dia jelek?" Elisa menatap bayi mungil di depannya dengan tatapan penuh kasihan.
Alkha terlihat menahan kesal. Dia menatap Elisa dengan tajam. Namun begitu mengingat dia juga memiliki adik perempuan, perasaan kesal itu bisa ditahannya.
"Dia sangat cantik," tegas Alkha penuh pendirian.
Elisa menatap Alkha lekat-lekat. Beberapa kali mata bulat itu mengalihkan pandang. Menatap Alkha dan bayi mungil secara bergantian.
"Apa kamu suka adik bayi cantik?" tanya gadis kecil itu dengan polosnya.
"Ya, suka."
"Nggak mau!!" Alkha menjawab dengan ketus. Ia mengacuhkan Elisa dan sibuk mengecupi kening adiknya.
"Kenapa?" tanya Elisa dengan mata berkaca-kaca.
"Kata mama, aku boleh menikah kalau sudah ketemu orang yang ku sayang. Aku nggak sayang kamu. Aku nggak bisa menikah sama kamu!"
"Tapi Lili mau!! Lili mau nikah sama Al!! Lili sayang Al!! Sama seperti Lili sayang Kak Ezha dan Eijaz!!"
"Aku nggak mau."
"Lili mau!!!"
"Nggak!!"
"Mau kok!! Huaaaaaaa ...." Elisa menangis meraung. Dia berlari ke arah Rizal dan menghamburkan tubuh dipelukan ayahnya. Gadis kecil itu pun mulai mengadu. Mengeluarkan segala keluh kesah di hati. Rizal menenangkan sembari menepuk-nepuk punggung mungil itu. Seolah-olah mengerti apa yang dirasakan oleh gadis kecilnya.
"Kak, kenapa dek Lili nangis?" Khansa menghampiri Alkha yang masih sibuk menciumi tangan adiknya.
"Bukan salah Kakak, Ma ...."
"Mama nggak tanya siapa yang salah. Mama tanya, kenapa dek Lili nangis? Habis Kakak apain?"
"Nggak diapa-apain. Dia nangis gara-gara Kakak nggak mau nikah sama dia. Kakak nggak suka sama dia. Dia juga bilang adik jelek."
Khansa menghela napas sembari membungkukan tubuh. Ia membelai rambut hitam Alkha dan berkata, "Mama tidak pernah mengajari Kakak untuk bersikap kasar. Kakak harus memperlakukan semua orang dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang. Terlebih pada wanita. Kakak harus bersikap lembut dan penuh perhatian. Kakak yang membuat dek Lili menangis. Kakak pula yang harus menghiburnya. Ayo hibur dek Lili."
__ADS_1
"Tapi Kakak nggak mau nikah sama dia Ma. Kata Mama, Kakak hanya boleh menikah sama orang yang Kakak sayang. Kakak nggak suka dia ...."
"Itu bukan sikap seorang gentleman. Papa juga pasti akan kecewa melihat Kakak seperti ini. Seperti apapun perasaan Kakak tetap harus menunjukkan rasa hormat dan sayang. Ayo minta maaf dulu." Setelah beberapa kali dibujuk, pada akhirnya Alkha mau menuruti ucapan ibunya. Khansa meraih tangan Alkha, menuntun bocah itu ke tempat Elisa berada.
***
"Jangan nangis lagi. Nih!" Alkha menjulurkan segelas minuman pada Elisa yang tengah berada di pangkuan Rizal.
Pada awalnya Elisa menelungkupkan wajah di dada Rizal, tapi begitu mendengar suara Alkha, dia langsung mendongakkan kepala sedikit, untuk melihat apa yang Alkha bawa.
"Itu apa?" tanyanya sembari menunjuk cairan berwarna oren kemerahan.
"Jus tomat. Sangat bagus untuk mata."
"Kenapa bagus untuk mata?" Elisa mulai tertarik. Dia turun dari pangkuan ayahnya dan mulai mendekati Alkha.
"Karena mengandung vitamin A ...."
"Apa itu vitamin A?" Elisa bertanya sembari mengambil jus tomat di tangan Alkha dan menatap cairan itu dengan penuh takjub.
"Vitamin itu ... nanti aku cari tahu deh. Diminum dulu."
Elisa menuruti perintah Alkha. Sedikit demi sedikit dia menyesap cairan itu. Kernyitan di dahinya mulai tampak. Dari ekspresi yang terlihat, menunjukkan ketidaksukaan.
"Uhhh, nggak enak!" ucapnya sembari menyerahkan jus itu.
"Enak kok. Shasha suka." Alkha mencicipi minuman itu dan mulai menikmatinya.
"Kenapa Al suka jus tapi tidak suka Lili?"
"Aku bukan tidak suka kamu. Aku tidak suka anak cengeng."
"Berarti kalau Lili tidak cengeng, Al akan suka Lili? Al akan menikah dengan Lili? Begitu?" Mata Lili nampak berbinar-binar. Seolah-olah menemukan kesempatan untuk lebih dekat dengan anak laki-laki itu.
"Hem."
"Apalagi yang Al suka?"
"Aku suka anak pintar. Suka belajar dan patuh pada orang tua."
"Baik!! Lili tidak akan cengeng lagi. Lili akan belajar biar pintar dan patuh sama mama papa. Nanti kalau Lili sudah pintar, Al nikah sama Lili ya?!"
"Hem."
"Janji!" Lili mengambil tangan Alkha dan menautkan jemari kelingking mereka.
Sebenarnya Alkha tidak berminat pada gadis kecil di depannya itu. Baginya, semua gadis - kecuali mama dan kedua adik perempuannya, adalah merepotkan. Dan Alkha yakin, gadis di depannya ini pun demikian. Namun ia tidak ingin melihat drama air mata lagi. Untuk itu, ia pun mengiyakan janji itu.
***
Happy Reading 🥰
Jangan lupa baca novel terbaruku ya, judulnya Secretly Loving You hanya di noveltoon 🥰
__ADS_1