Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 66 - Alkha Putra Yohan


__ADS_3

"Selamat ya Ibu Khansa dan Pak Alex. Putra kecil kalian telah lahir." Dokter Afifah mengangkat Alkha, sementara bidan yang membantu persalinan memotong tali pusatnya.


"Sa-sayang..." tangis Alex pecah. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Sedari awal dia sudah tegang, panik dan khawatir luar biasa. Pikiran-pikiran buruk selalu melintas di kepalanya. Melihat Khansa kesakitan membuat hatinya sangat terluka. Ingin rasanya ia mengganti rasa sakit itu dengan tubuhnya, tapi apalah daya ia tidak bisa melakukannya.


Yang bisa dilakukannya hanyalah memeluk, mensupport dan menjadi kekuatan bagi Khansa sembari menahan airmata frustasi membanjiri wajahnya.


Rasa lega luar biasa menghantamnya ketika bayi kecil yang telah istrinya perjuangkan lahir ke dunia. Alex tak bisa menahan kucuran airmatanya. Dia memeluk Khansa dan menciumi wajah istrinya. Dia absen setiap bagian wajah istrinya, dari kening, kelopak mata, pipi, dan bibir tak luput dari sapuan ciumannya.


Alex hanya fokus pada keselamatan istrinya. Kelegaan luar biasa dirasakannya tatkala melihat istrinya melahirkan dengan selamat. Buliran airmata yang jatuh berderai menunjukkan rasa suka cita dan wujud rasa syukurnya, "Sayang... Sayang..." hanya kata itu yang terucap dari bibir Alex.


Khansa terlalu lelah untuk membalas perlakuan suaminya, namun di wajah letihnya terselip kebahagiaan. Tatapan mata Khansa tak bisa dialihkan dari makhluk kecil yang masih berada di gendongan perawat itu. Ia tak sabar untuk memeluk buah hatinya itu.


"Sayang, aku berjanji tidak akan membuatmu merasakan sakit seperti ini lagi... Aku berjanji tidak akan membuatmu hamil lagi... Maafkan aku sayang... Gara-gara aku, kamu menjadi seperti ini... Maafkan aku..." Alex masih tetap mengecupi pipi dan kening Khansa. Pria itu mengatakan banyak hal yang menurut Khansa sangat mengganggu konsentrasinya untuk melihat si bayi.


"Dokter... Aku ingin melihatnya..." bisik Khansa lemah.


"Sebentar Ibu Khansa, masih kami bersihkan dulu. Pak Alex, saya tahu Anda sangat terharu, tapi jadilah berguna. Bantu istri Anda duduk."


"Ah ya..." Alex gelagapan. Semua emosinya seolah-olah menguap mendengar nada tegas dokter Afifah. Dengan segera dia langsung membantu Khansa duduk dan memeluk tubuh istrinya dari belakang, menjadikan tubuhnya sebagai sandaran.


Kecupan-kecupan hangat dan permintaan maaf tak henti-hentinya keluar dari mulutnya. Wajahnya berantakan karena airmata yang tak berhenti mengalir.


"Nah ini dia, si kecil sudah bersih. Uhh, tampan sekali dia, mirip papanya," perawat membawa bungkusan kecil itu dan menyerahkannya pada Khansa yang menerimanya dengan sukacita.


Perasaan Khansa campur aduk. Airmata begitu deras mengalir di pipi begitu menatap wajah kecil itu. Dia telesuri bagian wajahnya yang terpahat begitu sempurna. Dia periksa dengan detail jari jemari tangan dan kakinya untuk memeriksa adanya ketidaksempurnaan, namun bayi itu terlahir dengan sangat sempurna.



"Selamat datang anakku... Sudah lama kami menunggumu..." tangis Khansa kembali pecah. Dia kecupi kening bayinya dengan lembut, "Anak kita Mas... Adzani dia..." bisik Khansa lirih pada Alex yang duduk di belakangnya. Khansa tidak mendengar adanya jawaban, dia melirik suaminya.


Alex tertegun. Matanya tak bisa lepas dari mahluk kecil itu. Tersirat rasa haru, kebahagiaan dan penuh cinta dalam setiap tatapan matanya. "Dia luar biasa..." bisiknya.

__ADS_1


"Iya, dia memang luar biasa... Adzani dia Mas..." Khansa mengubah posisi hingga kepala si kecil berada tepat di hadapan Alex.


Dengan tangan gemetar Alex mengelus puncak kepala bayinya dan mengecupnya. Suaranya gemetar ketika dia mulai melantunkan adzan di telinga kanan anaknya dan qamat di telinga kirinya. Kemudian dia mulai membaca surah Al Qadar dan Al Ikhlas. Selesai melakukannya, dia mencium kening bayinya dengan lembut. Yang dilanjutkan dengan mencium kening Khansa.


"Te-terima kasih sayang... Terima kasih banyak... Maaf... Maafkan aku..." Alex memeluk keduanya. Dia kembali menangis.


Dokter Afifah kemudian menyuruh Khansa untuk segera menyusui bayinya. Hal ini penting untuk menunjang keberhasilan proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Selain untuk memudahkan proses pemberian ASI ke depannya, proses ini akan menjadi moment perkenalan ibu dan bayi yang akan membentuk ikatan batin keduanya.


Khansa menempatkan bayi mungil itu di atas dadanya dan menyodorkan buah dadanya. Dengan instingnya, bayi itu mulai mencari-cari p๐Ÿ˜šting ibunya dan menyesap kuat-kuat.


Khansa sedikit meringis menyadari betapa kuatnya sesapan itu, namun pancaran kebahagiaan tak pernah hilang dari wajahnya. Airmatanya kembali menitik. Tidak menyangka bahwa dia sekarang sudah menjadi seorang ibu.


"Selamat datang Alkha, aku Papamu dan wanita cantik ini Mamamu." Alex meraih tangan mungil bayinya dan menciumnya dengan lembut. Tatapannya beralih pada Khansa, yang sama-sama tengah menatapnya. "Terima kasih banyak sayang... Kamu adalah ibu paling cantik sedunia..." Alex mencium kening Khansa yang menerimanya dengan sukacita. Kemudian perhatian mereka kembali beralih pada bayi mereka.


"Dia tampan sekali. Lihatlah, betapa sempurnanya dia..."


"Dia tampan karena aku papanya."


"Kata siapa? Wajahnya pasti akan lebih sempurna sayang. Betapa beruntungnya dia memiliki ibu secantik dan sebaik dirimu. Ngomong-ngomong sampai kapan dia akan menyusu seperti ini?" Alex mulai menyentil-nyentil pipi gembul merah yang tengah asyik menyesap ASI ibunya, "Woi jagoanku, sampai kapan mau menyusu? Jangan kamu habiskan sendiri. Sisakan untuk Papa. Ingat, sebelum dua benda ini menjadi milikmu, benda ini lebih dulu milik Papa," Alex dengan iseng melepaskan p๐Ÿ˜—ting Khansa dari mulut Alkha yang membuat bayi itu menangis sekencang-kencangnya.


"Jangan iseng dong Mas. Biarkan malaikatku ini menyusu sampai kenyang... Oh ya, nama lengkapnya siapa Mas? Kemarin kita belum membahas masalah ini..."


"Alkha."


"Iya aku tahu namanya Alkha, tapi Alkha siapa?"


"Entahlah, aku belum memikirkannya."


"Ih, kebiasaan kamu Mas. Pikirkan Mas. Kalau tidak aku minta bantuan papa sama ayah untuk mencari nama untuknya lho..."


"Tidak perlu. Aku sudah mendapat nama untuknya." Alex berkata dengan percaya diri, membuat Khansa langsung antusias.

__ADS_1


"Apa namanya Mas?"


"Alkha Putra Yohan."


"Hah?"


"Alkha Putra Yohan."


"Serius?"


"Iya, memang ada yang salah dengan nama itu?" Alex terlihat tidak bercanda. Khansa sudah pasrah, bisa dipastikan anaknya akan bernama itu.


"Ya ampun Mas, lagi-lagi kamu tidak kreatif."


***


Setelah baby Al kenyang, suster menempatkan bayi itu di ruang bayi sementara Khansa tetap berada di kamar itu sampai kondisinya stabil.


Begitu berada di ruang bayi, keluarga besar langsung berbondong-bondong untuk melihat si kecil. Mama paling heboh di antara semuanya. Tangisan dan isakan terharu tak henti-hentinya keluar dari bibirnya. Semua mengucapkan syukur atas berkah besar yang hadir di dalam keluarga mereka.


Mama, Papa Atmadja, Ayah Ahmad, Ibu Ina, Fian, Alex dan Aaron tengah menatap baby Alkha dengan tatapan takjub ketika mereka dikejutkan oleh teriakan Diana.


"Aaakhhhhhh!!!"


"Ada apa?" tanya Aaron dengan khawatir. Dengan sekejab mata dia telah berada di sisi istrinya.


"Se-sepertinya aku akan melahirkan juga..." ucap Diana sembari menunjukkan betisnya yang telah dialiri cairan bening.


"A-APAA?!!"


***

__ADS_1


Next ๐Ÿ‘‰๐Ÿ˜


__ADS_2