
Alex membiarkan Khansa menangis sepuas hati. Pria itu sudah terbiasa dengan emosi istrinya yang naik turun. Sebenarnya ia suka melihat Khansa yang seperti ini. Wanita itu menjadi lebih terbuka untuk mengekspresikan perasaannya.
"Jangan sentuh aku!!" Khansa tiba-tiba mendorong tubuh Alex dengan kuat. Membuat pria itu terdorong jatuh ke belakang.
"Sayang, kenapa tiba-tiba..."
"Jangan sentuh aku dengan tangan itu!! Jangan cium aku dengan bibir itu!! Jangan peluk aku dengan tubuh itu!!" Khansa kembali menangis sembari merangkul tubuhnya sendiri, seperti minta dikasihani. Yakinlah, ketika hormonnya kembali normal, wanita itu pasti akan malu mengingat kejadian ini.
Alex segera bangkit dan kembali mendekati istrinya.
"Jangan dekat-dekat!! Aku benci kamu Mas!! Aku benci!!" Khansa melempar bantal ke arah Alex yang berhasil dihindari pria itu. Alex kembali memeluk Khansa meskipun wanita itu meronta dalam pelukannya. Pria itu membiarkan tubuhnya dipukuli, karena ia sudah terbiasa dengan itu semua.
Lambat laun tangisan Khansa mulai berubah menjadi isakan, pukulan mulai melemah. Alex mengkusuk-kusuk kepalanya dan mencium keningnya.
"Ssshhhhh, kenapa? Hem? Kesal karena aku ketemu Briana?"
"Pikir sendiri!!"
"Kenapa sih yank? Nggak biasanya kamu seperti ini? Ceritakan padaku. Ada apa?"
"Aku bilang pikir sendiri!!"
"Jadi mirip Shasha kalau ngambek begini," Alex mencubit kedua pipi Khansa yang langsung ditepis dengan berang oleh wanita itu.
"Kenapa jadi makin imut sih kalau ngambek? Cup, cup, cup..."
"Jangan cium-cium pakai bibir kotormu itu!!"
"Hah? Bibirku kotor? Seriusan? Ada bekas makanan ya?"
"Hissshhh!!!" Khansa meraup bibir Alex dengan tangannya dan menariknya.
"Uuhhhmmmppp!!"
"Sudah berapa banyak wanita yang dicium oleh bibir ini?! Sudah berapa banyak tubuh yang disentuh oleh tangan ini? Sudah..." suara Khansa hilang, digantikan oleh tangisan. Alex semakin bingung dibuatnya.
Khansa memang sering marah dan kesal bila melihat ada wanita lain yang dekat dengannya, namun baru kali ini istrinya bereaksi seperti ini. Ada apa ini?
"Gi-gimana rasanya ketemu sama mantan? Pas-pasti seneng ya..."
"Hah?"
"Pas-pasti ingin mengulang lagi..."
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih yank? Aku nggak ngerti. Mantan?? Siapa mantanku?"
"Pura-pura saja terus Mas! Dasar playboy!!"
"Sayang, aku benar-benar nggak ngerti. Sini, jangan marah-marah terus. Siapa mantanku, hem?"
"Mantanmu terlalu banyak sampai lupa ya? Benar-benar playboy kamu Mas..."
"Sayang, aku benar-benar nggak ngerti. Kamu marah-marah kayak gini gara-gara aku ketemu dengan Briana. Ada apa dengan dia..."
"Dia kan mantanmu Mas!! Kamu pikir aku nggak tahu?! Aku melihat kalian berciuman di belakang sekolah. Di sekolah saja kalian seperti itu, bagaimana kalau di luar??!"
"Hah?" Alex menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung. Dia berusaha mencerna perkataan istrinya, namun otaknya tak sampai.
"Kapan aku berciuman? Kenapa wanita itu jadi mantanku?" ucapnya bingung. Khansa menatap suaminya dengan gemas. Dari tatapan matanya, ia seperti ingin mencekik suaminya.
"Tidur di luar!! Aku nggak mau tidur dengan pembohong!!" Khansa mendorong tubuh Alex sampai akhirnya tubuh pria itu terdorong keluar dari kamar. Khansa mengunci kamar dari dalam, menyisakan Alex yang masih termangu menatap pintu kamar yang terkunci dari dalam.
***
Malam itu Alex memutuskan untuk tidur di kamar Alkha dan Alesha. Dia tidak bisa memejamkan mata, berusaha memahami emosi istrinya. Karena tidak kunjung mendapat pencerahan, akhirnya ia mulai menghubungi teman-teman mesumnya.
Alex : Ada yang belum tidur?
Daniel : Yes Bro? Whatsapp?? Baru selesai satu ronde.
Rizal : Kebangun. Anak minta susu. Ada apa?
Zico : Kami siap mendengarkan. Kali ini, apalagi?
Mereka melakukan panggilan grup. Alex menceritakan tingkah aneh istrinya dari awal sampai akhir. Curhatannya itu ditutup dengan gelak tawa teman-temannya.
"Berapa banyak mantanmu? Sampai kau tak ingat satu persatu?" tanya Zico.
"Hanya satu. Sekarang sudah menjadi istri kakakku..."
"Coba ingat-ingat lagi yang lain. Kalau mendengar dari ceritamu, istrimu pernah memergoki kalian sedang bercumbu. Tidak mungkin hanya satu," Rizal menambahkan.
"Aku berani bersumpah. Mantanku hanya satu dan Khansa tahu hal itu. Tapi masalahnya tadi aku bertemu dengan wanita berbeda yang bahkan namanya saja tidak bisa kuingat bila dia tidak memberitahukannya..."
"Bro, aku curiga kau melakukan hal-hal nakal ketika mabuk, pfffttt!!" terdengar nada menjengkelkan Daniel.
"Aku bersumpah hanya melakukannya dengan istriku!!" semuanya terbahak-bahak mendengar nada suara Alex. Mereka semua tahu, bahwa diantara yang lain, hanya Rizal dan Alex yang hanya memiliki pengalaman dengan satu wanita, dan itu adalah istri mereka.
__ADS_1
Lama mereka melakukan panggilan grup. Berusaha menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi Alex. Masalah sepele, namun begitu berat untuk dijalani para suami. Bagaimana tidak? Bagi mereka, murkanya seorang istri seperti kematian. Rumah tangga menjadi seperti neraka. Tidak ada senyum manis yang menyambut di pagi hari. Tidak ada tubuh lembut yang bisa dipeluk sesuka hati. Tidak ada canda dan tawa yang bisa menyejukkan hati.
Untuk itu, para suami itu memiliki prinsip. Kebahagiaan istri mereka adalah yang paling utama. Mereka akan melakukan apapun untuk menyenangkan hati istri-istrinya. Karena kebahagiaan istri akan menjadi kebahagiaan mereka juga.
"Begini saja. Kamu bersikeras tidak pernah mengingat punya mantan. Sementara istrimu bersikeras pernah melihatmu berciuman. Bila pokok permasalahan kalian ada pada wanita itu, pertemukan saja mereka dan selesaikan masalah kalian." ucap Zico memberi saran.
Meskipun saran Zico terdengar tidak masuk akal, namun hal itu disetujui semua orang. Alex tidak memiliki pilihan lain selain menerima saran tak masuk akal itu.
***
Khansa terbangun dengan perasaan yang masih tidak enak. Semalaman ia tidak bisa tidur. Perasaan bersalah menyelimutinya. Khansa merasa kasihan terhadap Alex. Pria itu telah menjadi korban kelabilan hormonnya.
Pagi itu Khansa berniat untuk meminta maaf pada suaminya dan melupakan masalah tidak penting itu.
Tok... Tok... Tok...
"Sayang, sudah bangun?" terdengar suara Alex dari balik pintu. Mendengar suara itu membuat rasa cinta dihatinya kembali membuncah. Khansa berjalan cepat dan membuka pintu kamar dengan segera. Dilihatnya suaminya itu tengah berdiri di depannya dengan rambut basah. Memakai celana casual dan kaos berwarna hitam. Tangannya memegang nampan yang berisi sarapan. Raut wajahnya terlihat tidak yakin.
Pandangan Khansa kabur oleh airmata. Perasaan bersalah menghunjam dadanya. Tanpa aba-aba wanita itu langsung menghambur ke pelukan suaminya.
BRUUUKK
"Whoaaa..." Alex berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Satu tangannya merengkuh tubuh istrinya, sementara tangan yang lain tetap memegang nampan berisi sarapan.
"Maaf, maafin aku Mas... Maaf..." Khansa kembali terisak-isak. Alex mengelus-ngelus kepala istrinya sembari tersenyum samar. Bibirnya tak henti-hentinya mengecupi puncak kepala Khansa. Setelah isakan istrinya mereda, Alex mulai menyuapinya.
"Anak-anak sudah bangun?" tanya Khansa disela-sela kunyahannya.
"Belum."
"Maaf ya Mas..."
"Nggak apa-apa sayang. Aku juga minta maaf bila ada sikapku yang tak kuingat yang menyakitimu,"
"Nggak Mas. Aku aja yang berlebihan. Itu kejadian sudah sangat lama. Seharusnya aku tidak perlu mengingatnya. Maaf ya..." Khansa mengelus pipi Alex dan mengecupinya.
Mereka mulai bercanda-canda mesra. Ketika tengah asyik bercanda, telepon di kamar berbunyi. Rupanya tamu yang ditunggu sudah datang.
"Sayang, ada yang ingin bertemu denganmu. Setelah mandi, turun ke bawah ya," ucap Alex seraya mengecup puncak kepala Khansa dan mulai turun ke lantai bawah.
***
Happy Reading 😉
__ADS_1