
Semua karena DIA!! Si br*ngsek itu!! Khansa masih mencintainya!! Khansa sama sekali tidak bahagia hidup denganku karena masih mencintainya!! Bahkan tidak sedetikpun!!
Padahal aku pikir Khansa sudah mulai mau menerimaku. Dia tidak pernah menolak sentuhanku. Dia selalu patuh. Tidak pernah membantah apa yang kuminta. Selalu bersikap manis. Tapi ternyata semua sikapnya tidak tulus. Khansa melakukannya dengan terpaksa. Di hatinya masih ada pria itu!! Sementara aku tidak ada di dalamnya.
"Huuuuu... Khansa... Sakit... Sakit... BUUUKKK... BUUUKKK... BUUUUUKK... Ka-kapan kamu akan belajar mencintaiku? Ke-kenapa masih mengingatnya? Ke-kenapa masih mencintainya?"
"Khansa... Hatiku benar-benar sakit... Ke-kenapa susah sekali untuk menerimaku? Ap-apa kelebihannya yang tidak kumiliki? Ak-aku akan memperbaikinya... Aku akan memperbaikinya... Please sayang... Cintai aku... BUUUKKK... BUUUKKK... BUUUUKKK..." Rasa sakit di dada ini tak kunjung hilang. Bagaikan orang bodoh, aku menangis di pinggir jalan. Aku bahkan tidak peduli dengan dunia sekitar. Aku hanya laki-laki lemah yang terlalu fokus dengan rasa sakit hati ini.
Entah berapa lama aku menangis. Aku tidak tahu waktu. Aku tersadar ketika sopir memapahku ke dalam mobil dan memberiku air. Aku menenggak air itu. Aliran rasa dingin memenuhi dadaku yang panas dan sesak. Seolah-olah menyiramkan air dingin di tengah hatiku yang sedang panas membara.
Aku menghirup napas dalam-dalam, menahannya sejenak kemudian menghembuskan. Kulakukan hal itu beberapa kali hingga perasaanku berangsur-angsur membaik.
Aku menenangkan diri dan mulai berpikir dari segala sisi, baik dari sisi Khansa maupun laki-laki itu. Khansa masih mencintai laki-laki itu, begitu pula sebaliknya. Keinginan terbesarku adalah membuat Khansa bahagia, namun aku tidak rela bila kebahagiaan itu diberikan oleh laki-laki lain. Aku yang sangat egois ini tidak bisa melepasnya. Khansa maupun Alkha adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki mereka berdua, tak terkecuali si br*ngsek itu!!
Perasaan egoisku menang. Aku berakhir pada keputusan tidak akan pernah melepaskan Khansa, mau seperti apapun perasaan wanita itu terhadapku, aku akan tetap menjadi orang yang berada di sisinya.
"Langsung ke bandara."
"Baik Pak."
Aku harus menemui pria itu dan menegaskan sikapku. Meskipun perasaan Khansa untuknya, tapi aku tidak akan pernah melepas Khansa pada siapapun. Khansa hanya milikku. Hanya aku yang berhak berada di sisinya. Hanya aku!!
Aku sudah membuat keputusan. Khansa meminta untuk berpisah? Maka jawabanku adalah TIDAK!! Bila aku tidak mampu membujuknya, maka aku akan melibatkan orang lain untuk membujuknya yaitu keluarganya. Sebelum aku menemui keluarganya, aku akan menemui laki-laki itu terlebih dulu, menegaskan keputusanku.
Aku menelepon Winda, "Winda, tolong ambilkan barang-barangku."
"Maaf Pak?"
"Aku akan ke Surabaya. Ambilkan barang-barangku di rumah. Bila dia bertanya, katakan aku ke Singapura. Dia pasti akan mengerti."
"Baik Pak."
__ADS_1
"Aku tunggu di bandara."
"Baik Pak."
***
Menemui Andre, bagi kebanyakan orang mungkin akan dinilai sebagai keputusan yang bodoh dan terlalu tergesa-gesa. Namun tidak denganku. Aku harus menegaskan pada pria itu, bahwa aku tidak akan pernah melepaskan Khansa, seperti apapun perasaan wanita itu terhadapku.
Begitu menginjakkan kaki di kota Surabaya, aku langsung menghubungi pria itu.
"Aku Yohan Alexander. Temui aku di No*ch. Sekarang."
"Maaf?" terdengar suara bingung. Aku terlalu malas untuk menjelaskan. Kututup panggilan itu dan menyuruh sopir untuk pergi ke tempat yang kumaksud.
Aku memilih private room dan menunggu di sana. Setengah jam kemudian ponselku kembali bergetar.
"Ya?"
"Temui aku di room 203."
"Baik Pak."
Lima menit kemudian, terdengar suara ketukan di ruanganku. "Ya masuk." ucapku.
Pintu terbuka secara perlahan. Kulihat pria itu berdiri di sana. Seperti biasa, dia terlihat tampan. Aku mengutuk diri sendiri. Mengapa Khansa harus mencintai pria yang nyaris sempurna seperti ini? Bila malam itu tidak terjadi dan Khansa tidak mengandung Alkha, mungkin saja saat ini yang menjadi suami Khansa bukan aku, tapi pria itu. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatku marah.
Perasaanku campur aduk melihatnya. Amarah, benci, iri dan juga cemburu menjadi satu. Aku begitu iri dan cemburu. Mengapa Khansa bisa mencintai pria ini tapi tidak bisa mencintaiku? Sebenarnya apa yang dimiliki pria ini yang tak kumiliki?
"Silakan duduk."
"Baik Pak." Andre mendekat dan duduk di depanku dengan sopan. Wajahnya terlihat bingung. Namun aku menangkap setitik rasa tidak suka di wajahnya. Mungkin dia menganggapku sebagai rivalnya? Kalau benar seperti itu, baguslah. Karena aku juga merasakan perasaan yang sama.
__ADS_1
"Jangan terlalu formal. Aku memanggilmu kemari bukan karena urusan pekerjaan. Ini murni urusan pribadi." Kami saling bertatapan. Berusaha menilai dan menimbang pemikiran satu sama lain.
"Kalau boleh tahu, urusan pribadi apa yang menyebabkan Anda memanggil saya? Seingat saya tidak ada urusan pribadi di antara kita."
Aku menatap Andre. Sejenak perasaan ragu datang menghampiri. Bagaimana bila pria itu bersikap nekad dan memaksa mengambil Khansa dari sisiku?
Aku tidak perlu ragu. Bila hal itu terjadi, aku hanya perlu mempertahankan Khansa tetap di sisiku, apapun yang terjadi.
Kutatap wajahnya lekat-lekat. Ingin melihat setiap mimik wajahnya ketika aku mencetuskan kata-kataku.
"Hatinya masih untukmu. Dia masih mencintaimu,"
"Ma-maaf?" wajah Andre terlihat bingung.
"Aku berkata seperti ini bukan berarti aku akan melepasnya untukmu. Aku hanya ingin menegaskan satu hal. Seperti apapun perasaannya saat ini, aku tidak akan pernah melepasnya untuk siapapun. Siapapun!!"
Kami saling bertatapan. Raut wajah bingung dan terkejut tampak menghiasi wajah laki-laki itu.
"Sebentar, saya butuh waktu untuk mencerna pembicaraan ini. Saya sudah berpikir, namun saya tetap tidak mengerti. Apa maksud perkataan Anda? Siapa yang mencintai saya? Saya sungguh tidak mengerti arah pembicaraan kita."
Perkataan Andre membuat emosiku kembali bangkit. Pria ini benar-benar tidak mengerti atau berpura-pura tidak mengerti?! Apa dia hanya ingin melihatku terlihat bodoh?! Apa dia ingin aku menegaskan dengan mulutku sendiri bahwa Khansa masih mencintainya?! Ingin membuatku menjadi pria yang tak berguna?!
"Rupanya kamu tidak akan membuat ini mudah. Akan kuulangi ucapanku. Dengarkan dan camkan baik-baik. Istriku, memang masih mencintaimu!! Tapi kutegaskan padamu!! Seperti apapun perasaannya, aku tidak akan pernah melepasnya pada siapapun. Termasuk kepadamu! Paham?!"
Aku berdiri sembari menggebrak meja. Aku kehilangan kontrol emosiku. Pria itu pasti akan melihatku seperti pria insecure yang begitu ketakutan kehilangan istrinya. Aku memang sangat ketakutan kehilangan Khansa, tapi bukan berarti aku akan dengan mudah menyerahkan Khansa pada siapapun yang mencintainya. Ingin memiliki Khansa? Maka langkahi dulu mayatku!!
Pria itu menatapku dengan tatapan mata terkejut. Mulutnya ternganga, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sentakan mimik wajah geli melintas di wajahnya, kemudian...
"Pffftttt!! Hahahaha!! Hahahaha!!" Pria itu menertawakanku!!
***
__ADS_1
Happy Reading 🤗