Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 49 - Kamu Perlu Tahu


__ADS_3

"Tapi sebelum memutuskan untuk berpisah, ada baiknya kamu mendengar cerita dari sisinya sayang. Mama tidak membelanya, karena Mama tahu betapa bodoh dan tidak pekanya anak itu. Mama juga tidak tahu pokok permasalahan kalian apa. Tapi pikirkanlah baik-baik masalah ini. Pikirkan dari segala sisi. Setelah kamu yakin, putuskan itu tanpa penyesalan. Apapun keputusanmu, Mama akan mendukungmu. Kamu akan selalu menjadi putriku dan si kecil ini akan selalu menjadi cucuku," Mama merangkum wajah Khansa dengan kedua tangannya, menatap wajah menantunya itu lekat-lekat, memberi pengertian untuk tidak membuat keputusan terlalu cepat.


"Sekarang beristirahatlah. Dokter menyuruhmu untuk banyak-banyak beristirahat. Kami akan menunggu di luar. Bila perlu apa-apa segera panggil kami," Mama mengecup kening Khansa dengan lembut, dan meninggalkan Khansa sendirian di kamar itu.


***


"Hoek... Hoeeek... Hooeeek..." seperti biasa, Alex menumpahkan isi perutnya.


"Dasar bodoh!! Sudah mau jadi seorang ayah pun kamu masih tetap bodoh!! Kenapa traumamu ini nggak hilang-hilang sih Nguk?!" Dino menepuk-nepuk punggung Alex, berusaha membantu pria itu untuk mengeluarkan isi perutnya.


"Aku pikir dengan melihatmu menikah dengan Khansa, itu akan menjadi awal mula kebahagiaanmu. Kenapa malah menjadi seperti ini? Kenapa kamu masih tidak bahagia Nguk? Aku sedih melihatmu seperti ini," Alex mengabaikan kata-kata Dino, dia masih saja terus memuntahkan isi perutnya. Ketika tubuhnya mulai lemas, Dino segera memapahnya dan membaringkannya di ranjang. Pada akhirnya tubuhnya juga diinfus karena kekurangan cairan.


Alex berbaring menyamping, berusaha menyembunyikan wajahnya dari dunia luar. Kemudian tubuhnya kembali gemetar. Dino tahu, bahwa sahabatnya itu kembali menangis.


Dino menghela napas dalam-dalam. Dari beberapa belas tahun yang lalu, sampai sekarang permasalahan sahabatnya itu selalu sama, Khansa, Khansa dan Khansa. Alex bisa kuat karena Khansa, namun juga bisa tumbang karena wanita itu. Pengaruh Khansa terhadapnya begitu kuat. Dan itu tidak berubah sampai sekarang.


Mungkin sudah saatnya Khansa mengetahui semuanya?


***


Khansa sedang berbaring menyamping. Banyak pikiran berkelebat di kepalanya. Banyak hal yang terjadi hari ini. Dari pengakuan Diana dan statusnya, pengakuan cinta Alex serta pertemuan dengan keluarga besarnya. Semua hal menjadi bercampur aduk. Membuat pikirannya mengambang kesana-kemari.

__ADS_1


Khansa akui, pertahanannya agak sedikit goyah mendengar pernyataan cinta Alex. Hati wanita mana yang tidak bahagia, bila pria yang dicintai selama separuh usia juga menyatakan cinta? Itu benar-benar melambungkan hati kecilnya.


Namun ingatan tentang hal-hal menyakitkan kembali menggelayuti hatinya, terutama bila menyangkut Alkha. Rasanya hatinya tidak akan pernah memaafkan Alex, seperti apapun laki-laki itu akan merubah diri.


KLEK (suara pintu dibuka)


Khansa berpura-pura memejamkan mata. Dia tidak tahu tamunya siapa, dia hanya bersikap spontanitas. Dia tidak ingin menemui siapapun saat ini.


"Khansa, apa kamu sudah tidur?" Oh, rupanya Diana yang datang. Khansa semakin memejamkan matanya, berharap dengan melakukan hal itu dia akan terlihat telah tertidur. Dia benar-benar tidak ingin bertemu Diana. Dia hanya ingin sendiri.


"Sepertinya dia sudah tidur, ayo kita keluar." terdengar suara laki-laki.


"Tidak mau. Aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk meminta maaf padanya ketika dia sudah bangun. Biarkan saja seperti ini,"


"Ya,"


"Kalau itu lebih menenangkanmu, aku mendukungmu sayang," hening beberapa saat, sebelum suara Diana kembali terdengar.


"Khansa, aku tahu kamu belum memaafkanku. Ijinkan aku menceritakan semuanya. Setelah ini, kami berdua akan pergi dari hidup kalian. Kami tidak akan mengganggu kalian lagi..." Dan Diana mulai menceritakan semuanya. Dari awal dia pacaran dengan Alex. Sikap Alex yang dingin terhadapnya namun selalu hangat terhadap Khansa. Sikap acuh tak acuh terhadap pacarnya sendiri, namun perhatian terhadap wanita yang dianggapnya teman. Sikap Alex yang seperti itu membuatnya haus akan perhatian, hingga pada akhirnya perhatian itu dia dapatkan dari seorang Aaron, kakak dari pacarnya sendiri.


Diana menceritakan perselingkuhannya dengan Aaron. Bagaimana Alex menangkap basah mereka sedang bersama dan menghajar Aaron habis-habisan. Hubungan persaudaraan itu mulai meregang. Dan ketika Aaron juga menolaknya, Diana merasa menjadi perempuan tak berharga dan tak bahagia. Untuk itu dia tidak mengijinkan orang lain untuk bahagia.

__ADS_1


Segala tingkah lakunya dipenuhi dengan kedengkian. Dia tidak rela ada wanita yang levelnya dibawahnya bahagia, sementara dirinya tidak bahagia. Untuk itulah dia melakukan hal-hal licik seperti itu.


Diana bercerita sembari terisak, "Aku tidak memintamu untuk memaafkanku, tapi kamu perlu tahu hal ini Khansa. Alex menyukaimu sejak SMA. Aku merasakan hal itu. Aku pikir rasa suka itu akan hilang. Namun ternyata tidak seperti itu. Dia terus dan terus menyukaimu sampai perasaan itu berubah menjadi cinta. Dia sangat tulus padamu. Tolong terimalah dia kembali. Jangan meminta berpisah, karena dia benar-benar akan hancur..." hening beberapa saat, "Itu saja yang ingin kusampaikan. Aku harap kamu akan memikirkan keputusanmu baik-baik. Aku tidak ingin ada penyesalan di kemudian hari. Ayo Kak, aku sudah selesai..."


"Sebentar sayang, aku juga ingin mengatakan sesuatu pada adik iparku," Rupanya suara pria yang bersama Diana adalah kakaknya Alex yaitu Aaron. Khansa semakin memejamkan matanya. Tubuhnya menjadi lebih kaku dari sebelumnya.


"Hai Khansa, em adik ipar? Bagaimana enaknya aku memanggilmu? Khansa apa adik? Hem..."


"Panggilan yang menurutmu nyaman saja Kak," suara Diana menginterupsi.


"Oh ya baiklah, aku panggil Khansa saja kalau begitu. Hai Khansa, perkenalkan namaku Yuan Aaron Seanan. Hah, sebenarnya tidak penting juga ya kamu tahu nama panjangku, yah pokoknya aku adalah kakaknya Alex. Kami hanya dua bersaudara. Dia lebih muda tiga tahun dariku,"


"Di sini aku ingin meminta maaf. Karena kelakuanku, sikap Alex jadi seperti itu. Dulu dia seorang pemuda yang cerdas, percaya diri, ceria dan ramah. Seperti remaja pada umumnya. Namun karena kesalahan yang kubuat, dia menjadi pribadi yang lebih tertutup. Terlebih setelah dia melihat perselingkuhan kami,"


"Dia tidak lagi menjadi Alex yang kukenal. Dia lebih banyak berdiam diri. Berkutat dengan buku-buku tanpa mau tahu dengan lingkungan sekitar. Selama tahun-tahun yang panjang, tidak sekalipun kulihat dia dekat dengan wanita. Aku pikir dia bersikap seperti itu pasti karena trauma yang kusebabkan. Aku merasa sangat bersalah. Aku telah merebut pacarnya. Perasaan itu membuatku tidak bisa menerima Diana seutuhnya. Bila dengan membuat dia kembali dengan Diana akan membuatnya lebih bahagia, aku rela melakukannya,"


"Pikiran seperti itu memenuhi kepalaku. Aku berpikir bagaimana caranya agar membuat mereka kembali bersama dan membuat adikku kembali bahagia? Hingga akhirnya kesempatan itu datang padaku tanpa diduga-duga. Aku mengalami kecelakaan parah yang membuatku koma,"


"Pada saat itu aku menyesal, mengapa aku tidak mati saja? Dengan begitu adik dan kekasihku akan kembali bersama dan mereka akan bahagia. Aku tidak memiliki keinginan untuk hidup. Tapi kabar yang tak terduga datang, Diana ternyata tengah hamil anakku. Perasaanku sangat bahagia, aku seketika ingin melanjutkan hidup,"


"Tapi perasaan itu hilang seketika begitu aku mengingat adikku. Bagaimana aku bisa bahagia bila adikku tidak bahagia? Keinginanku untuk hidup pun kembali sirna,"

__ADS_1


***


Happy Reading 😁


__ADS_2