Kamu Bukan Figuran

Kamu Bukan Figuran
Ch 60 - Kencan Kita


__ADS_3

"Buka wajahmu sayang. Katanya mau jalan-jalan?"


"Tidak mau."


"Katanya mau ke mall? Lihatlah. Kita sedang berada di mall sekarang."


"Tapi aku tidak ingin pergi seperti ini Mas. Kalau tahu seperti ini, mending nggak usah jalan-jalan saja." ratap Khansa sembari tetap menutup wajahnya dengan kedua tangan. Alex tersenyum simpul. Dia mengecupi puncak kepala istrinya.


"Buka wajahmu. Kalau nggak, aku cium."


"Tidak mau."


"Khansa? Aku hitung sampai tiga. Satu, dua, ti..."


"Iya, iya, aku buka. Nih wajahku. Puas lihatnya?!"


"Cup, cup, cup..."


"Mas!!" Alex berhasil mencuri beberapa kecupan.


"Hahahaha. Yuk jalan-jalan." ucapnya dengan tertawa lebar. Ingin rasanya Khansa mencubiti pria itu.


Mereka memasuki mall yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Khansa meminta masker, namun Alex tidak mengijinkannya. Pada akhirnya Khansa harus menahan malu melihat tatapan orang-orang yang selalu tertuju padanya.


"Mau kemana kita Nyonya?"


"Ke toko perlengkapan bayi Mas,"


"Jadi jalan-jalanmu untuk belanja perlengkapan bayi yank?"


"Iya Mas. Nyicil dikit-dikit. Kemarin kan nggak sempet kemana-mana. Mas sibuk, sementara aku nggak diijinin buat kemana-mana. Jadi belum sempat beli apa-apa..." Alex terdiam. Hatinya kembali nyeri. Betapa banyak kesalahan yang telah dilakukannya terhadap istrinya. Sepertinya permintaan maaf sembari menciumi kaki istrinya pun tidak akan pernah cukup untuk menebus semua kesalahannya.


Alex berjongkok dan menatap Khansa. Dia mengambil kedua tangan wanita itu dan mengecupinya.


"Mas, ngapain? Malu dilihat orang..."


"Maaf ya..."


"Nggak ada yang perlu dimaafin. Ayo berdiri. Dorong aku. Atau aku berdiri sendiri nih,"

__ADS_1


"Iya sayang," Alex mengecup kening wanita itu sekilas sebelum kembali mendorong kurso roda itu.


Seperti permintaan Khansa, mereka pergi ke toko yang menjual perlengkapan bayi. Niatnya hanya membeli beberapa barang, tapi seperti biasa Alex kembali berulah. Pria itu tidak sabar melihat istrinya yang tengah menimbang-nimbang barang yang harus dibeli dan yang tidak.


"Mbak, yang ini satu deret dibungkus semua. Yang itu, itu dan yang di sana itu juga bungkus." Alex menunjuk deretan perlengkapan baby born yang terdiri dari berbagai macam barang itu. "Hah, bungkus semuanya Mbak. Semuanya!!" Alex menyerahkan black card pada penjaga toko yang tampak ternganga melihatnya.


"Mas, apa-apaan sih!" Khansa mencubiti lengan Alex.


"Terlalu lama milih-milihnya sayang. Mending di bungkus semua."


"Tapi tidak semua barang kita perlukan Mas. Bayi kita kan cowok, di sini banyak perlengkapan buat baby girl..."


"Ya apa salahnya? Buat adik-adiknya Alkha kan bisa," Alex kembali berbalik pada penjaga toko, "Bungkus semuanya. Semua!!"


"Eh, eh ba-baik Pak. Sa-saya hubungi bos saya dulu Pak..."


"Mbak, jangan dibungkus semua. Suami saya ini agak-agak," Khansa membuat gerakan dengan tangannya yang seolah-olah menyatakan bahwa Alex itu stres. Hal itu mampu membuat penjaga toko tersenyum tertahan.


"Sayang, jangan membicarakanku." ancam Alex. "Apa yang ditunggu?! Bungkus semuanya. Aku tidak mau barang yang di display ini. Berikan barang yang masih baru dan belum tersentuh tangan manusia manapun. Anakku harus mendapat semua yang terbaik."


Khansa tidak mau mendengar ocehan suaminya. Dia sibuk berbicara dengan penjaga toko. Akhirnya Khansa menyuruh penjaga toko untuk membungkus barang-barang yang dibutuhkan. Satu produk untuk setiap jenis barang, disesuaikan dengan kebutuhan.


Alex menatap puas ketika penjaga toko menggesek kartu miliknya, sementara Khansa cemberut melihat kelakuan suaminya.


Mungkin benar kata orang, uang hampir bisa membeli semuanya. Hal itu terlihat di depan matanya. Begitu tahu Alex membeli hampir semua isi toko, pemilik toko langsung datang dan memuja-muja Alex. Memperlakukan Alex layaknya seorang raja, dan tentu saja Khansa ratunya.


Mereka berjanji akan mengirim barang-barang itu tepat waktu. Setelah menyelesaikan transaksi, Alex mendorong kursi roda Khansa keluar dari toko.


"Kamu senang dipuja ya Mas? Merasa senang kalau orang lain berada di bawahmu dan memujamu?"


"Sayang, kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Alex dengan terkejut.


"Itu tadi. Kamu senang menarik perhatian..."


"Sayang, itu kulakukan bukan untuk menarik perhatian. Aku hanya membeli yang terbaik untuk anak kita,"


"Tapi nggak usah sampai seluruh isi toko juga Mas. Bagaimana kalau tidak terpakai? Kan mubazir. Aku tahu kamu banyak uangnya Mas, tapi jangan berlebihan seperti itu juga. Pergunakan sebagaimana mestinya, sesuai dengan kebutuhan, bla...bla...bla..." Khansa berceramah, Alex hanya mendengarkan,mengiya-ngiyakan meskipun bila disuruh mengembalikan semua barang-barang itu dia tidak akan mau melakukannya.


"Iya aku mengerti sayang. Lain kali tidak akan kuulangi," ucap Alex pura-pura menyesal. "Sekarang mau kemana kita? Tidak mungkin pulang kan?" Alex berusaha mengalihkan perhatian.

__ADS_1


Khansa memang tidak ingin pulang. Dia masih ingin jalan-jalan. Selama ini dia tidak memiliki pengalaman berpacaran. Ingin rasanya ia menikmati masa-masa itu dengan suaminya.


"Emm, biasanya kalau orang pacaran ke mall itu ngapain ya Mas?" tanyanya polos, membuat Alex kembali tertawa terpingkal-pingkal. Dengan gemas pria itu mencubiti pipi dan hidung Khansa.


"Sayangnya kita berada di tempat umum. Kalau di rumah, sudah habis kumakan kamu yank, pfftttt..."


"Serius dong Mas..." Khansa kembali mencubiti lengan Alex.


Pada akhirnya mereka memutuskan untuk menonton film di bioskop. Alex meletakkan kursi roda di pojok ruangan kemudian menggendong Khansa sampai ke kursinya. Mereka menonton film komedi romantis.


Khansa mengalungkan tangannya di lengan Alex dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Sementara Alex tak henti-hentinya mengecupi kening Khansa.


"Mas, tahu nggak?"


"Hem? Tahu apa?"


"Menonton film bersamamu seperti ini merupakan salah satu impianku..."


"Benarkah?" suara Alex tercekat.


"Iya. Aku sudah membayangkannya sedari SMA. Tidak kusangka hal-hal yang kuimpikan satu persatu bisa menjadi nyata. Terima kasih karena sudah membalas perasaanku Mas..." Khansa meraih wajah Alex. Mata mereka saling bertatapan, terlihat kristal-kristal airmata di sudut mata mereka.


Alex mencium tangan Khansa, mengecupnya lambat-lambat dan meletakannya di pipinya. "Ini juga impianku sayang. Gadis yang kupikir membenciku ternyata juga mencintaiku. Sampai saat ini pun aku masih tidak percaya hal itu. Terima kasih sayang karena sudah menyisipkanku di hatimu. Terima kasih karena sudah memberikan hatimu untukmu. Aku berjanji akan menjaga dan tidak menyakitinya. Jaga hatiku juga ya sayang," Alex meraih tangan Khansa satunya dan menempatkan di dadanya, seolah-olah menyatakan bahwa isi di dalam dada itu telah kosong, karena sudah diberikan pada Khansa seutuhnya.


"Apa impianmu yang lain sayang? Aku berjanji akan memberikan semuanya untukmu." Alex menatap Khansa lekat-lekat, tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Impianku, hanya satu yaitu kamu Mas... Menikah denganmu, memiliki anak-anakmu, merawat anak-anak kita dan menua bersamamu..." Khansa berkata lirih. Alex tak kuasa menahan rasa harunya.


"Itu impianku juga." ucapnya dan langsung mengecup bibir istrinya itu dengan lembut dan mesra. Mereka saling berkecupan, mengecup airmata yang mengalir membasahi pipi, menikmati moment-moment mesra itu hingga akhirnya kemesraan mereka berakhir ketika lampu sorot itu menyorot mereka, membuat keberadaan dan tingkah laku mereka dilihat orang lain.


"Woi, kalau mau mesum-mesuman cari kamar saja. Jangan di sini!" ucap beberapa orang. Khansa menyembunyikan wajahnya di dada Alex terlalu malu untuk melihat sekitarnya.


"Kami suami istri!! Kami bebas melakukan apapun dan dimanapun!!" tandas Alex gusar, tidak mau kalah maupun merasa bersalah.


"Tapi nggak di tempat umum juga kali!!" jawab mereka hampir bersamaan, membuat Khansa semakin malu dibuatnya.


***


Happy Reading 😚

__ADS_1


__ADS_2