Kau Yang Memintaku Pergi

Kau Yang Memintaku Pergi
Salah Orang?


__ADS_3

Sementara diputar-putar oleh resepsionis tiba-tiba munculah pria yang ada dalam cerita mereka.


"Nona Cristin dan nona Intan" ucap pria itu


"Betul sekali, kau siapa?" tanya Intan sinis


"Aku Aria nona, ayo kita masuk saja ke dalam" ucap pria itu sekali lagi.


"Oh rupanya kamu, bikin buang waktu saja untung ganteng" gerutu Intan sementara Cristi sudah melangkah pergi dengan pria itu berjalan sejajar.


"Tunggu bagianmu" ucap Intan sebelum pergi membuat beberapa resepsionis itu ketakutan.


Setelah itu iapun berlari mengekori kedua orang itu.


Cristin yang kebanyakan diam seperti biasa dan itu menambah aura monsternya bagi siapapun yang melihatnya.


Papa Alex merasa Cristin dan Intan adalah pasangan yang cocok karena yang satunya menakutkan dan yang satunya pelawak. Dan yang sebenarnya keduanya bisa melucu dan keduanya juga bisa seperti serigala betina yang haus darah.


Tapi jika tampil di depan publik maka maka sikap keduanya sangat bertolak belakang.


Mereka melangkah memasuki lift khusus yang membawa mereka ke lantai paling atas yakni terdapat ruang presdir di sana.


"Mari nona" ucap pria itu mengajak mereka masuk ke ruang kebesaran yang ada di sana.


Mereka akhirnya melangkah masuk. Ternyata ruang itu sangat indah dan besar melebihi ruang kerja papa Rahadi dulu.


Pantas papa Alex dinobatkan sebagai orang terkaya. Perusahaan dan mansion utama saja seperti istana di negeri dongeng. Dan aku princessnya yang dibawa masuk ke dalamnya. Batin Cristin


Mereka memilih duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Siapa namamu?" tanya Cristin pada pria itu karena memang dia belum mengetahui nama pria yang ada di depannya. Sedangkan Intan tengah melakukan survei pada ruangan besar itu.


"Aku Aria nona." ucap pria itu.


"Baik pak Aria, kita akan bekerja sama. Kamu tetap keja di sini sebagai asistenku dan Intan sebagai sekretarisku" ucap Cristin tenang.


"Baik nona" ucap Aria dengan senyum lembutnya


"Sudah selesai meetingnya?" tanya Intan yang baru selesai dan bergabung dengan kedua orang itu.


"Meeting kepalamu" ucap Cristin culas. Aria yang melihat mereka hanya tersenyum simpul.


"Eh kakak ganteng, kita kan belum kenalan. Namaku Intan" ucap Nina sambil menyodorkan tangan untuk berjabatan


"Aria" ucap pria itu singkat sambil menerima jabatan tanga gadis rese itu.

__ADS_1


"Nama yang bagus, cocok sama orangnya" ucap Intan cengengesan.


"Alahhh Lebai lu, kalaupun Aria mau pasti dia ingin jatuh cinta sama cewek normal bukan cewek rese kaya lu" ucap Cristin sambil memukul tangan Intan agar melepas jabatan tangannya.


"Itu bukan rese tapi unik dan orang kaya aku, sangat langkah" ucap Intan sambil membesarkan biji matanya


"Lu kaya binatang langkah saja yang hampir punah" ucap Cristin melangkah pergi melihat seisi ruangan itu.


Aria yang melihat interaksi dua gadis itu merasa senang, ternyata mereka tidak seseram dan semenakutkan saat datang tadi.


******


"Raka, hari ini kamu ganti ayah ke kantor" ucap ayah tuan Patibrata


"Iya ayah" ucap Raka


Ia juga malas jika hanya diam di rumah jadi lebih baik.


Raka bersiap untuk datang ke kantor ayahnya, karena ayahnya sibuk dengan adiknya yang sudah H2 pernikahan.


Anak muda itu melangkah keluar dengan wajah ceriahnya dan tidak lupa mobil mewah keluaran terbaru yang dikendarainya membuatnya semakin terlihat luar biasa.


Setibanya di kantor, ia keluar dari mobil dan membuat banyak gadis yang gigit jari karena ketampanan seorang Raka seolah menghipnotis mereka.


"Maaf, tuan mau bertemu sama siapa?" ucap salah seorang resepsionis kepada Alfa yang baru saja akan melangkah masuk tanpa melapor.


"Tapi ini aturannya tuan. Dan sepertinya tuan orang yang baru kali ini datang ke sini" ucap gadis itu


"Jangan buat masa kerjamu berakhir hari ini di sini" ucap Raka tegas


"Maaf tuan" ucap gadis itu mulai menunduk.


Pria itu melangkah masuk dengan angkuhnya menuju ke ruang kebesaran ayahnya.


"Apa benar dia adalah puteri om Alex? bukannya isteri dan anaknya sudah masti waktu kejadian itu? tapi mungkin benar karena watak gadis itu sangat mirip dengan papanya" ucap Raka mengenang kembali pertemuannya dengan gadis di bandara kemarin.


"Halo bro, bagaimana? aku belum mendapat informasi lebih lanjut" ucap Felix saat teleponnya dengan Raka tersambung.


"Aku mau kamu datang ke kantor ayah sekarang" ucap Raka dan langsung mematikan sambungan telepon.


Pria itu kembali mengoreksi berkas-berkas di atas meja kebesaran papanya. Ia tidak menandatangani karena memang di situ atas nama ayahnya.


Felix baru datang saat jam makan siang.


"Kemana saja kamu? sehingga baru tiba" ucap Raka menatap tajam asistennya

__ADS_1


"Biarkan aku merasakan sedikit kebebasan kenapa sih?" ucap Felix memelas.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Felix yang telah duduk di sofa ruangan itu.


"Apa kamu tahu soal keluarga om Alex?" tanya Raka


"Om Alex? yang kemarin bersama dua gadis itu maksud kamu?" ucap Felix memastikan.


"Iya" jawab Raka singkat.


"Setahu aku, dia seorang duda yang di tinggal isteri dan anaknya dua puluhan tahun yang lalu karena musibah itu" ucap Felix yang memang hanya tahu soal itu dan itupun ia dapat cerita dari orang-orang dan saat kejadian itu memang tranding topik jadi video dan beritanya masih ada hingga sekarang.


"Apa kamu tahu pekerjaannya atau kantornya?" tanya Raka


"Bukannya saat itu dia juga mengalami kebangkrutan?" ucap Felix.


"Iya. Aku merasa ada yang tidak beres akan hubungannya dengan kedua gadis kemarin" ucap Raka


"Jangan bilang kamu cemburu" ucap Felix mengejek.


"Memangnya siapa dia makanya aku cemburu? aku hanya penasaran dengan keluaga om Alex" ucap Raka mengalihkan.


"Aku akan mencari tahu ini nanti" ucap Felix


"Kita cari makan di luar saja" ajak Felix sekali lagi pada tuan sekaligus sahabatnya itu.


"Baiklah" ucap Raka sambil bangun dari kursi kebesaran ayahnya.


Kedua pria itu melangkah meluar dari ruangan itu menuju ke lift khusus. Saat tiba di lobi kantor, mata Felix menangkap sosok seorang gadis yang tidak asing baginya. Pria itu melangkah menuju tempat resepsionis dan meneliti wajah gadis itu membuat gadis itu salah tingkah.


"Apa aku salah orang?" tanya Felix pada salah seorang gadis yang bertugas sebagai resepsionis itu.


"Apa maksud tuan?" tanya gadis itu.


"Apa betul kamu Aneth?" ucap Felix


Deg


Jantung gadis itu berdetak lebih kencang.


"Maaf kamu salah orang" ucap gadis itu sinis.


"Jika kamu bukan Aneth maka tatap mataku" ucap Felix sambil menatap netra mata gadis itu membuat gadis itu tanpa sadar meneteskan air mata.


Deg

__ADS_1


Giliran Felix dan Raka yang tersentak.


*Bersambung*


__ADS_2