
Felix yang mendapat perintah dari sang bos sekalian sahabatnya itu kembali keluar dari ruang CEO dan pergi meninggalkan kantor itu. Kali ini ia sendiri yang akan mencari tahu tanpa bantuan anak buahnya.
Felix hanya ingin memastikan sesuatu karena ia juga mencurigai jika Raka sedang mengincar salah satu dari keduanya.
Felix mendatangi kosnya Aneth, ternyata gadis itu sudah tidak tinggal lagi di sana. Felix mencari tahu tentang Aneth di tetangga kos namun tidak seorangpun yang mengetahuinya, hanya terakhir kali gadis itu kembali ke kos dengan seorang pria namun tidak lama mereka pergi lagi, itulah informasi yang di dapat Felix dari tetangga kos.
*****
Cristin dan Intan yang baru pulang dari kantor merasa heran karena suasana rumah yang berubah, meja makan yang penuh dengan banyak sekali hidangan istimewa seperti akan ada acara malam ini, namun tidak ada seorangpun yang ada di sana karena suasana sepi termasuk semua ART yang seolah tidak nongol di sana.
"Papa.... papa..." teriak Cristin dengan suara yang menggema di ruangan itu.
"Hei anak gadis papa kenapa teriak-teriak?" ucap papa yang baru turun menuruni tangga, sepertinya baru keluar dari kamarnya.
"Aku pikir papa lagi keluar" jawabnya.
"Sudah, sekarang anak-anak papa bersih-bersih supaya kita makan malam bersama" ucap papa Alex.
"Emang ada acara apa si pah, kaya istimewa sekali malam ini?" tanya Cristin
"Iya sayang sangat istimewa malam ini sehingga papa ingin merayakannya" balas papa sambil melangkah ke ruang keluarga untuk menunggu puteri-puterinya.
Kedua gadis itu melangkah ke arah kamar masing-masing, dan yang membuat tanda tanya bagi keduanya adalah kamar kosong di samping mereka yang lampunya terang padahal selama ini tidak ada penghuninya.
Keduanya saling pandang namun pada akhirnya masing-masing masuk ke kamarnya.
Setelah setengah jam kemuadian keduanya keluar dan mrndapati papa Alex tengah duduk bersama Robi, Aria dan Aneth.
"Selamat malam semua" ucap Intan dengan gaya genitnya sehingga dapat tatapan mengerikan dari Cristin.
"Sudah sudah, kita makan dulu" seru papa Alex sambil berdiri dan melangkah menuju ruang makan dan diikuti semua orang. Aneth yang masih canggung, berjaln paling kemudian.
Semua mengambil tempat duduk masing-masing kecuali Aneth yang ragu mau duduk di bagian mana.
"An, duduk sini" ucap Intan sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya karena ia tidak akan berani duduk dekat dengan Cristin jadi tempat kosong di tengah-tengah mereka menjadi tempat Aneth.
__ADS_1
Aneth melangkah ke arah kursi kosong itu dan mendudukkan bokongnya. Cristin dan yang lainnya memang tahu bahwa papa dan Aneth tengah melakukan tes DNA namun belum seorangpun dari mereka yang tahu jika hasilnya sudah keluar hari ini.
Setelah semuanya mengambil makan di piring masing-masing, papa Alex akhirnya bersuara.
"Malam ini papa sangat bersyukur karena anak-anak papa semua sudah berkumpul di sini. Yang pertama papa mau kasih tahu kalau hari ini hasil tes DNA antar papa dan Aneth sudah keluar dan hasilnya positif yang artinya Aneth juga anak kandung papa, saudara kembar Cristin." ucap papa dengan tersenyum namun matanya ikut berkaca-kaca.
Cristin yang mendengar bahwa Aneth saudaranya langsung histeris dan bangun dari duduknya untuk memeluk saudara identiknya itu.
Kedua gadis sama usia itu saling berpelukan dan terisak membuat yang lain ikut sedih.
Aneth yang sejak tadi melihat tingkat acuh Cristin padanya merasa kurang hati dan berpikir saudara kembarnya itu tidak menerimanya.
"Terima kasih sudah mau menerimaku" ucap Aneth yang kini sudah saling melepas pelukan dengan Cristin.
"Aku yang berterima kasih karena sudah hadir menjadi saudaraku yang sebenarnya." ucap Cristin juga.
"Malam ini juga papa mau merayakan hari ulang tahun kalian berdua yang ke 25 tahun" ucap papa Alex.
"Hah??" kedua gadis itu sama-sama kaget karena selama ini mereka tahu jika ulang tahun mereka bukan tanggal hari ini.
"Jadi hari ini hari ulang tahun kami yang sebenarnya pa?" ucap Cristin.
"Tidak, yang sebenarnya kemarin tapi papa baru merayakan hari ini" jelas papa.
"Papa doakan yang terbaik buat kalian dan berbahagialah mulai sekarang dengan papa dan Intan juga yang lainnya." ucap papa.
"Terima kasih papa, We Love You pah" ucap kedua gadis itu sambil bangkit dari duduk mereka dan sama-sama memeluk sang papa.
Intan yang melihat kebahagiaan kedua orang yang sudah dianggap saudara itu merasa sedih, ia juga berharap berada di posisi itu tapi sayang, kakaknya saja belum ditemukan, entah masih hidup atau sudah mati.
"Sini anak gadis papa," ucap papa Alex sambil merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Intan yang sudah dianggapnya sebagai puterinya juga.
Drama haru biru itu akhirnya selesai dan masing-masing krmbali ke tempat duduk mereka untuk makan malam yang sempat tertunda tadi.
Sambil menikmati makan malam mereka, papa Alex kembali bersuara.
__ADS_1
"Minggu depan papa akan ke Paris untuk meresmikan perusahaan cabang kita di sana, jadi semua kerja di sini papa serahkan untuk kalian berlima. Robi, Aria, tugas kamu menjaga ketiga anak gadis papa oke?" ucap papa Alex tegas.
"Siap tuan" ucap keduanya serentak.
Setelah menyelesaikan makan malam, mereka kembali berpindah ke ruang keluarga.
"Diantara kalian berdua, siapa yang punya tanda lahir di punggung kirinya?" tanya papa Alex.
"Aku pah," jawab Aneth.
"Berarti kamu kakaknya Cristin" ucapnya kemudian.
"Yeee akhirnya aku punya kakak" teriak Cristin membuat semua tertawa, papa Alex yang baru melihat sisi lain dari puteri bungsunya merasa heran karena yang ditunjukkan selama ini adalah sifat dinginnya.
"Yeeee aku juga punya dua kakak" seru Intan menyusul.
Papa Alex tanpa sadar meneteskan air mata. Rumah yang sudah lama sepi dengan suara anak-anak dan isterinya itu kembali terdengar walaupun suasana dan keadaannya sudah berubah.
"Baiklah sekarang istirahat karena sudah larut" ucap papa Alex.
"Malam ini aku mau tidur sama ka Aneth, mau ya?" ucap Cristin memohon sambil menampilkan wajah imutnya.
"Aku juga mau" seru Intan yang ikutan mau tidur bersama.
"Ya sudah kalian bertiga malam ini tidur bersama saja" putus papa membuat tiga gadis itu melangkah pergi menaiki anak tangga menuju kamar mereka, lebih tepatnya kamar Cristin karena malam ini mereka akan tidur di sana.
Malam ini adalah malam bersejarah bagi puteri-puterinya dan juga mendiang isterinya.
Setelah memastikan anak-anaknya masuk untuk beristirahat, papa Alex melangkah ke rumah kaca yang terletak dibelakang mansion.
Pria itu berjongkok tepat di makam sang isteri dan menceritakan semua rasa bahagianya di sana.
******
Maaf upnya lama, author ada kedukaan beruntun, hanya sempat curi waktu buat up di Novel yang satu.π
__ADS_1