
Sejak kejadian Cristin berduel dengan putera sulung tuan Patibrata, semakin banyak orang yang mengaguminya apalagi para bawahannya dikantor yang sangat mengidolakannya.
Raka semakin penasaran dengan Cristin setelah kejadian malam itu, di satu sisi ia masih berpikir bahwa Cristin adalah seorang gadis yang menyebabkan Aneth pergi dengan menangis tapi di sisi lain ia melihat bahwa dari pancaran mata gadis itu ada sebuah pancaran kesedihan yang entah apa itu.
"Felix, tolong kamu cari tahu kenapa Aneth malam itu pergi dari tempat acara dalam keadaan menangis." ucap Raka kepada asistennya
"Hah?? Aneth menangis?" tanya Felix heran karena malam itu memang dia tidak ada di sana saat gadis itu pulang.
"Kenapa tidak ke kantor saja untuk bertanya secara langsung kepada Aneth??" lanjut Felix.
"Iya betul betul, kadang juga otakmu itu berfungsi" ucap Raka sambil bangun dari duduknya untuk mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Saat ini Alfa sedang berada di apartemen Felix.
"Dasar sahabat laknat, bukannya bersyukur punya asisten yang baik hati malah dikatain" ucap Felix sambil melempar sahabat sekaligus tuannya itu dengan bantal sofa.
"Kapan kita balik ke luar negeri?" tanya Felix karena memang mereka hanya datang untuk menghadiri resepsi nikahan adiknya.
"Aku harus mengetahui kebenarannya baru aku pulang" jawab pria itu enteng.
"Halo ayah, hari ini biar Raka saja yang masuk kantor" ucap Raka dari seberang telepon.
"Baiklah kebetulan ayah juga lagi cape nih" jelas ayah
"Iya istirahat saja di rumah" ucap Raka sambil mematikan sambungan telepon dengan sang ayah.
Raka dan asistennya akhirnya berangkat ke kantor ayah dari apartemen, keduanya yang penasaran dengan dua gadis yang sama dan dengan misteri kehidupan yang membingungkan ini akhirnya harus mencari tahu untuk menghilangkan rasa penasarannya.
******
"Ikut ke ruang CEO sekarang." Ucap Raka saat tiba di meja resepsioni sambil menatap ke arah Aneth.
"Aku?" tanya gadis itu sambil menunjukan dirinya sendiri.
"Iya kamu" jawab Raka sambil terus melangkah dan diikuti oleh Felix.
Mau tidak mau Anet akhirnya pamit kepada dua orang temannya dan melangkah mengikuti putera sang bos dan asistennya itu. Gadis itu melangkah dengan pikirannya yang berlari kesana kemari atas dirinya yang dipanggil oleh seorang putera dari pemimpin perusahaan tersebut.
__ADS_1
Ia mencoba untuk mengingat-ingat apa kesalahan yang dilakukan akhir-akhir ibi namun sama sekali ia tidak menemukannya.
Setibanya di ruang CEO, ruangan itu tidak tertutup karena kedua pria yang baru saja tiba itu sengaja membuka pintu itu lebar agar gadis itu tidak perlu mengetoknya lagi.
"Permisi tuan," ucap Aneth terlebih dahulu sebelum melangkah masuk. Setekah masuk pintu dengan sendirinya tertutup karena remot yang di tekan oleh sang asisten.
"Silahkan duduk dulu" ucap Raka sambil menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya itu.
"Iya tuan" jawab Aneth pelan sambil duduk agak jauh dari tempat yang Raka tepuk tadi.
"Aku harap kamu jawab dengan jujur dan jangan tutup-tutupi apapun dariku" ucap Raka tegas.
"Ba baik tuan" jawabnya takut karena tidak tahu masalah apa yang akan disidangkan oleh dua orang pria ini.
"Apa yang membuatmu pergi dari acara adikku dengan kondisi yang berantakan?" tanya Raka memulai pertanyaannya satu-per satu.
"A aku dibuly" ucapnya jujur.
"Hah? jadi betul dugaanku. Apakah kamu saudara sehingga dia membulymu?" tanya Raka yang mulai emosi.
"Bukannya malam itu kamu dibuly oleh gadis yang sangat mirip denganmu?" ucap Raka.
"Ti tidak tuan justru dia yang menyelamatkanku dari orang-orag yang membulyku" jelas Aneth membuat Raka tercekat.
"Maksud kamu, gadis yang mirip denganmu yang telah menolongmu? itu artinya dia tidak bersalah?" ucap Raka mulai frustrasi karena dia sudah salah menilai gadis itu.
"Apa kamu bersaudara? kembar mungkin?" tanya Raka lagi.
"Mungkin ya dan mungkin juga tidak" ucap Aneth yang tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya
"Maksud kamu?" taya Raka
"Mmmm sebelum ibuku meninggal, ia sempat berpesan bahwa setelah ia tiada aku harus mencari orang tua kandungku, itu artinya ibu yang merawat dan membesarkanku bukan ibu kandungku." jelas Aneth membuat Raka terperanjat kaget bukan karena dia masalah orang tua kandungnya tapi masalah ibunya yang telah meninggal.
"Jadi selama ini kamu tinggal sama siapa?" tanya Raka penuh haru.
"Aku sendiri" ucap Aneth.
__ADS_1
"Apa kamu sudah ada titik terang tentang orang tua kandungmu?" Tanya Raka lagi.
"Aku tidak tahu mau cari dengan cara apa karena tidak ada satu peniggalanpun yang menjadi petunjuk untuk mencari mereka." jawab Aneth.
"Memangnya kamu tidak diberi tahu oleh ibu angkat kamu di mana dia menemukanmu?" ucap Raka.
"Ibu hanya bercerita bahwa dia menemukanku di pinggir semak dekat dengan jembatan, saat itu ibu berjalan ke pasar untuk berbelanja bahan makanan tapi ia malah menemukanku yang sedang menangis hanya dengan tertutup sepotong kain" jelas Aneth.
"Apakah kamu punya pikiran bahwa kamu dibuang oleh orang tua kandungmu?" tanya Raka lagi.
"Sama sekali tidak karena mungkin saja ada sebuah musibah yang membuatku terdampar di sana" ucapnya yang tidak mau berpikir negatif tentang keluarga kandungnya.
"Sebaiknya kamu bertemu lagi dengan gadis yang mirip denganmu untuk bertanya jangan sampai dia adalah saudara kembarmu" ucap Felix yang sejak tadi hanya diam saja menyimak semua pembicaraan mereka.
"Aku tidak punya keberanian untuk itu. Aku takut nanti aku tidak di akui, biarlah semua tetap seperti ini" jawab Aneth dengan wajah sayunya.
"Oke kamu boleh kembali untuk bekerja" ucap Raka dan gadis itupun pamit kembali ke tempat kerjanya.
______
"Kenapa kamu tidak bertanya siapa yang membulynya?" tanya Felix tidak puas karena ia ingin tahu siapa manusia yang sudah membuly gadis itu. Bagaimanapun mereka pernah bertemu dulu dan mereka sudah menganggap gadis ini seperti adik mereka.
"Satu-satu felix, kamu jangan gegabah. Yang pertama kita harus membantunya mencari tahu orang tua kandungnya dan yang paling utama adalah kita harus bertemu dengan gadis rese itu." ucap Raka panjang lebar.
"Apa kamu belum kapok dihajarnya sehingga masih ingin bertemu dengannya?" ucap Felix sambil terkekeh.
"Kamu mau gajimu bulan ini utuh atau dipotong" tanya Raka dengan sorot mata tajamnya.
"Maaf tuan aku juga harus menabung agar cepat menikah biar tidak dibilang perjaka tua" ucap Felix sambil beranjak bangun taku Raka menghajarnya karena dikira itu adalah sindiran.
"Memangnya ada yang suka dengan pria macam kamu?" ucap Raka dengan nada mencibir.
"Ada, banyak malah yang antri tapi cuma satu yang ada di hatiku" jawab Felix penuh percaya diri.
Perbincangan mereka akhirnya berakhir dan mereka berencana untuk membantu Aneth mencari tahu keberadaan orang tua kandungnya tanpa memberitahukan Aneth terlebih dahulu.
*BERSAMBUNG*
__ADS_1