Kau Yang Memintaku Pergi

Kau Yang Memintaku Pergi
Kematian Bela


__ADS_3

Di rumah sakit, Arya, Ika dan papa Alex tengah tegang karena keadaan Bela yang tiba-tiba drop. Tak lupa juga orang tua angkat Bela di kampung bersama teman kecilnya yang harap-harap cemas.


Di dalam ruangan sana, para dokter tengah berjuang menyelamatkan nyawa wanita beranak satu itu. Ika yang saat ini menggendong adik kecilnya sesekali menatap wajah tenang itu yang tengah tertidur tanpa tahu apa yang dialami oleh wanita yang melahirkannya itu.


Anak pintar. Kelak kamu akan menjadi orang yang luar biasa. Sehat selalu ya sayang? kaka akan merawatmu dengan penuh cinta.


Saat Bela kembali drop tadi, Ike merasa dunianya runtuh karena apa yang dia lihat adalah sesuatu bb yang mustahil kecuali kuasa Tuhan. Saat ini, gadis itu hanya berharap ada keajaiban yang terjadi. Apalagi melihat sang papa yang sangat berantakan membuatnya sungguh sedih.


"Kenapa, apa yang terjadi?" tanya Ike dengan wajah paniknya karena melihat semua orang yang tegang di luar sana.


"Bela drop" jawab Ika sambil menimang bayi kecil itu.


"Lalu bagaimana?" tanya Ike walaupun ia tahu kalau wanita itu tengah ditangani oleh para dokter.


"Kamu yang kuat ya? semoga dia bisa melewati ini semua" gumam Ike tepat di telinga Intan sambil merangkul gadis itu penuh sayang. Sedangkan Intan jangan ditanya, bibirnya bahkan sudah memucat dan seluruh tubuhnua terasa lemas dan dingin, hal itu bisa dirasakan oleh Ike yang tengah memeluknya.


Ada apa dengan Intan, kenapa terlihat dia seperti orang yang lebih terpukul di sini? apakah Ike tahu soal ini atau sesuatu telah terjadi? Batin Ika sambil menataonkedua gadis yang tidak menyadarinya.


Pintu terbuka, Seorang perawat keluar mencari seseorang yang dicari oleh pasien.


"Apakah ada yang bernama nona Cristin? pasien ingin bertemu dengannya" ucap Perawat itu.


Deg


Jantung Ike mendadak lebih cepat dari biasanya. Gadis itu menguatkan hati dan melangkah masuk.


Dokter dan para perawat pun keluar untuk memberi ruang kepada keluarga.


"Hai" ucap Ike berusaha tegar di depan wanita yang sudah melahirkan adik mereka.


"Ha ha i" jawabnya terbata-bata.


"Mamaaf ya? selama ini pertemuan kita tidak ada yang indah. aku minta maaf atas semua kesalahan ku selama ini. Tolong jaga puteraku, sayangi dia. Cerita kan pada nya jika dia punya ibu yang sangat menyayanginya" ucapnya dengan lancar walaupun nafasnya terasa berat.


"Kamu ngomong apa sih? aku tidak tahu merawat bayi. Bukannya kamu ibunya? lalu kamu mau lepas tanggung jawab kepada siapa?" ucap Ike marah namun sebenarnya ia tengah menahan rasa sesak di dadanya.


"Aku tidak punya banyak waktu lagi, aku titip dia karena aku akan menyusul orang tuaku" ucap Bela lagi.


"Lalu bagaimana dengan adik kesayanganmu?" ucap Ike tegas.


Deg


"A adik? dari mana kau tahu aku punya adik? siapa kau? dimana kau menyembunyikan adikku?" tanya Bela berusaha kuat dan melampiaskan emosinya.


"Aku tidak menyembunyikannya. Dia bahkan tengah menangis melihat nasib malang sng kaka yang kalah sama sakitnya" ucap Ike mengejek dengan penuh luka.

__ADS_1


"Ijinkan aku bertemu dengannya untuk terakhir kali aku ingin menitipkan puteraku kepadanya" ucap Bela.


Ike yang melihat kesadaran Bela semakin semakin menurun pun memanggil Intan.


"Tan, dia butuh kamu. Bawa juga puteranya" ucap Ike yang sepertinya melihat maut semakin dekat dan ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk mempertemukan orang-orang tercinta wanita itu.


Intan langsung mengambil alih bayi itu dan membawanya masuk. Semua sempat bertanya-tanya namun Ike memberi kode agar mereka tidak bertanya dan dia akan menjelaskan semuanya nanti.


"Ini, aku sudah membawanya datang dan juga puterakmu sekaligus" ucap Ike.


"Ka... Ka Ana?" ucap Intan dengan suara bergetar menahan sesak sekaligus air matanya.


"Intan, adik ka Ana? kamu tumbuh dengan baik sayang" ucap Bela yang sudah meneteskan air mata sedangkan bayinya sudah diambil alih oleh Ike yang berdiri di samping mereka.


Bela berusaha mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah sang adik. Intan membantu menopang tangan kurus nan lemah itu dan menempelkan nya di pipi bagian kirinya. Intan juga mengusap pucuk rambut sang kaka dengan tangan sebelahnya penuh sayang.


"Iya, Tuhan sangat baik mempertemukan aku dengan orang yang sangat sayang kepadaku. Aku pikir hidup kaka sangat baik seperti aku" ucap Intan yang ikut menangis tanpa suara.


"Kaka baik tapi tidak dengan hati kaka yang rapuh" ucapnya semakin menyayat hati.


"Aku sangat marah setelah aku tahu kalau orang yang menyanyangi ku seperti puterinya sendiri itu yang juga menghancurkan hidupku. Dia telah membuat kakaku seperti ini" ucap Intan semakin tersedu-sedu. Ike memaklumi kalaupun Intan mau memaki-maki sang papa pun akan ia biarkan gadis itu meluapkan emosinya.


"Maksud kamu de?" tanya Bela.


"Pria tidak bertanggung jawab yang menikahi kaka dan menceraikan kaka dan membuang kaka sama keponakanku itu adalah pria yang menolong aku" ucap Intan.


Deg


"Tuan Alex itu... " ucap Bela terpotong.


"Iya, dia papa angkat ku" ucap Intan.


Bela mulai menguap namun tetap berusaha bertahan untuk berbincang dengan adiknya itu.


"Mana puteraku?" ucap Bela dan Ike langsung mendekatkan nya.


"Jadi anak pintar ya sayang? walaupun tidak ada ibu di sampingmu tapi ada aunty dan kaka-kakamu." jelas Bela pada bayi yang tidak mengerti itu.


"Bolehkah aku bicara sama tuan Alex?" ijin Bela dan langsung dibalas dengan anggukan dari Ike.


Ia meminta Intan untuk keluar. Gadis itu bahkan menangis hingga mengeluarkan suara karena tidak ingin berpisah dari kakanya lagi.


"Pa, Bela ingin bicara" ucap Intan membuat papa Alex langsung berdiri dengan kasar sampai kursi itu menimbulkan bunyi. Ia melangkah masuk dengan perasaan bercampur aduk.


"Sayang?" ucap Papa Alex sambil mendudukan bokongnya di kursi samping ranjang. Bela tidak menjawab namun ia memberi senyum tulusnya kepada pria itu. Papa Alex semakin tersayat hatinya atas semua perbuatannya dulu.

__ADS_1


"Terima kasih ya?" ucap Bela membuat papa Alex bingung.


"Kenapa bilang Terimakasih, aku yang seharusnya mengucapkan kalimat itu" ucap papa Alex.


"Aku juga harus minta terimakasih karena sudah menyelamatkan nyawa adik saya" ucap Bela.


"Adik?" tanya papa Alex belum memahami maksud mantan isterinya itu.


"Iya, Intan adalah adik kandung saya yang terpisah beberapa tahun lalu" ucap Bela.


"Hah?" ucap Papa Alex terkejut.


"Iya itulah kebenarannya tapi aku minta tolong, jika kamu sudah tahu kebenarannya, tolong jangan buang dia dan tetap jaga dia karena masih ada orang yang mengincarnya" ucap Bela serius.


"Aku titipkan mereka berdua untukmu" ucapnya dan langsung kejang-kejang kembali.


"Dokter... dokter" teriak Papa Alex dan semua yang stay dari tadi langsung masuk untuk menangani Bela.


"Tuan tolong keluar agar kami bisa leluasa menangani pasien" ucap salah Perawat dan papa Alex keluar dengan wajah yang kembali tegang.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan dua orang dokter keluar beriringan dengan wajah lelah mereka.


"Dokter bagaimana isteri saya?" tanya Papa Alex dengan panik.


"Maaf, beliau tidak dapat kami selamatkan" ucap Dokter to the point.


"Apa? dokter bohongkan?" desak Papa Alex sambil memegang kerah baju sang dokter yang tadi berbicara.


"Itu semua benar tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain tuan." jelaskan dokter yang satunya lagi dengan kalut karena saat ini yang dia hadapi adalah kenalan dari pemilik rumah sakit ini.


Ya, yang dikenal sebagai pemilik rumah sakit adalah Roby, asistennya papa Alex.


"Akhhhh omong kosong" teriaknya membuat puteranya seketika langsung terkejut dan menangis begitu kencang. Papa Alex terkejut dengan suara bayi itu. Ia semakin Frustrasi karena bagaimana dengan anaknya yang masih membutuhkan mamanya.


"Sayang, maafkan papa. Maafkan papa yang tidak berguna ini" ucap papa Alex sambil mengambil alih putranya dan mendekapnya, seketika itu juga suara bayi yang tadinya menangis dengan suara melengking itu seketika mulai menurun secara perlahan-lahan dan kembali tertidur.


Ditengah keterkejutan mereka, Intan bahkan sudah pingsan di tempatnya, Ike bahkan tidak menyadarinya. Beruntung Arya yang lumayan dekat dengannya langsung menahan tubuhnya dan membopongnya ke salah satu ruangan untuk ditangani.


Ada apa denganmu gadis kecil? kenapa kamu yang pingsan saat mendengar berita nyonya Bela tidak terselamatkan? Batin Arya sambil meletkan gadis itu diranjang rumah sakit.


Sedang di depan ruangannya Bela, Papa Alex kembali memberikan puteranya kepada Puteri sulungnya dan melangkah masuk ke dalam ruangan mantan isterinya dengan gontai.


Ternyata Ike sudah sudah lebih dahulu masuk. Wajah Bela yang pucat dan terbaring kaku itu membuat papa Alex langsung histeris.


"Sayang, tolong bangun. Aku belum menebus semua kesalahan ku, jangan tinggalkan aku seperti ini" tangisnya pecah. Pria itu rapuh ditinggalkan dia wanita sekaligus yang sama-sama sudah memberi keturunan untuknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2