
"Sayang, tolong bangun. Aku belum menebus semua kesalahan ku, jangan tinggalkan aku seperti ini" tangisnya pecah. Pria itu rapuh ditinggalkan dia wanita sekaligus yang sama-sama sudah memberi keturunan untuknya.
Papa Alex benar-benar hancur. Kematian sang isteri membuatnya menjadi orang yang disegani dan ditakuti, ternyata kekerasan itu membuatnya harus kembali kehilangan isteri mudanya yang usianya jauh dibawah dia.
Wanita yang sama sekali ia cintai yang ternyata sudah melahirkan seorang putera untuknya. Pria itu benar-benar menyesali semuanya yang sudah dia lakukan untuk mantan isteri kecilnya.
Mendengar suara tangisan papa Alex dari luar, semuanya terkejut jika itu adalah kenyataannya. Ibu Rt ikut merasa terpukul setelah tahu keadaan wanita hamil yang selama ini ada dalam bagian hidup mereka telah tiada. Nana teman kecilnya menangis merasa kehilangan karena Bela adalah kakak terbaiknya yang selalu menemaninya pergi dan pulang sekolah.
Ike keluar dengan matanya memerah, gadis itupun tak kuasa berasal di dalam melihat sang papa menangis dengan sangat pilunnya.
"De... " panggil Ika dengan suara bergetar dan matanya berkaca-kaca. Ike melihat ke arah sang kaka yang tengah menggendong bayi kecil yang begitu anteng dalam tidurnya.
"Sayang, kenapa kamu tidurnya pulas bangat sih? kamu sudah menjadi anak piatu sejak masih bayi. Nasib kita sama ya de?" ucap Ike dengan tangis tertahannya sambil mengusap pipi adik kecilnya.
Beberapa petugas rumah sakit datang ke ruangan Bela karena akan segera membawa jasadnya ke ruang jenazah.
Tangisan pilu semakin mewarnai ruangan itu membuat siapapun yang ada di sana ikut meneteskan air mata.
Jasad Bela telah di bawa pergi, papa Alex keluar dengan kondisi berantakan mendapati anak-anak dan yang lainnya ada di sana kecuali Intan yang sudah dibawa ke ruang rawat untuk mendapatkan penanganan.
"Mana Intan nak?" tanya papa Alex dengan suara bergetar kepada kedua anak kembarnya.
"Dia dibawa ke ruang rawat. Setelah mengetahui Bela meninggal, ia langsung pingsan." jelas Ika.
Mata papa Alex beralih ke puteranya yaang masih tertidur di pelukan sang kakak sulungnya.
Maaf sayang, papa sudah membuat kamu menderita dan berakhir kita harus kehilangan mama untuk selamanya. Kasihan nasibmu nak, Lagi-lagi papa gagal memberi keluarga utuh kepadamu seperti kedua kakakmu. batin papa Alex begitu rapuh sehingga air matanya kembali menetes dengan derasnya.
Jenazah Bela telah dibawa pulang ke mansion keluarga Kanigara dan penjagaan benar-benar ketat serta kematian Bela dijaga agar tidak terdengar keluar dari keluarga itu. Hal itu dilakukan karena sesuai pesan Bela kalau masih ada musuh tersisa yang mengincar adiknya Intan.
Papa Alex penasaran dengan semua itu namun ia bersabar untuk memakamkan jasad isterinya terlebih dahulu.
__ADS_1
Mobil beriringan menuju ke mansion keluarga tersebut. Hanya ada keluarga Kanigara dan keluarga besar anak buah serta isteri dan anak-anak mereka saja.
Bela juga mendapat tempat istimewa sehingga ia dimakamkan di rumah kaca bersama mendiang isteri pertama papa Alex.
Keluarga yang dirundung duka itu sangat merasa terpukul dengan kenyataan yang dialami keluarga mereka dan juga kehilangan Bela.
Setelah pemakaman dan orang-orang mulai pergi meninggalkan mansion itu kecuali keluarga mereka yang tertinggal bersama ibu Rt dan puterinya.
Papa Alex mengajak semua anak-anak untuk malam bersama di meja makan. Semua berkumpul dengan wajah yang cukup sedih apalagi Intan, ibu Rt dan juga Nana teman kecil Bela.
Mereka menyelesaikan makan malam dengan tanpa bersuara apalagi Intan yang hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa menyentuh.
papa Alex kembali mengajak mereka ke ruang tengah karena ia ingin berbicara dengan mereka semua dari hati ke hati.
"Maaf sejak kemarin aku cukup terpukul sehingga tidak menyambut kedatangan kalian. Aku suaminya Bela, maaf membuat Bela banyak menderita sehingga bisa ada bersama kalian di desa" ucap Papa Alex yang kembali meneteskan air matanya karena tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa tuan. Panggil saja aku Sinta, aku adalah isteri pak Rt yang kemarin membawa Nak Bela ke sini untuk mendapatkan penanganan. Aku sudah menganggap Bela seperti anakku sendiri dan menjadikan dia sebagai kakanya Nana" ucap Bu Sinta menjeda ucapannya.
Papa Alex semakin merasa bersalah melihat Puteri angkatnya yang sudah beberapa tahun tinggal bersamanya.
"Maafkan papa. Papa sudah membuat kamu juga harus merasakan semua ini. Maafkan papa" ucap papa Alex yang sudah berpindah tempat ke samping Intan dan merangkulnya dengan erat untuk mengurangi rasa dukanya padahal ia juga sangat rapuh namun ia tahu, gadis kecil itu sangat sangat menderita batinnya.
Inta yang mendapat pelukan dari sang papa langsung melepas tangisnya dengan pilu.
"Pa, Intan tidak sanggup.. Intan ingin bertemu dan hidup bahagia sama ka Ana tapi kenapa semua jadi begini?" ucap gadis itu dalam tangisnya hingga sesugukkan.
"Maaf sayang, maafkan papa." ucap papa Alex dengan suara yang ikut bergetar sambil semakin kuat merangkul tubuh gadis kecil itu.
Sepasang anak papa yang tidak secara itu menangisi nasib mereka Masing-masing karena ditinggalkan oleh orang yang sama.
Sejak kematian Bela hingga sekarang, bayi kecil yang ditinggal ibunya itu sama sekali tidak rewel bahkan saat ini ia tengah menikmati tidurnya di dalam box bayi yang memiliki roda sehingga di bawa ke mana saja saat mereka bersantai di rumah mewah itu.
__ADS_1
Saat sedang menikmati harus biru mereka, tiba-tiba tangis bayi kecil itu pecah dalam boxnya.
Semua terkejut dan langsung mengelilingi box itu sehingga bayi itu bingung untuk menerima ukuran tangan dari siapa karena semua menyodorkan tangan untuk menggendongnya.
Intan mengambil alih untuk menggendong bayi kecil itu seketika tangisnya berhenti.
"Oh sayang, aus ya? atau udah pipis ya?" ucapnya menimang-nimang bayi kecil itu.
Ika dengan cepat langsung mengambil botol minum bayi itu dan membantu bayi itu untuk minum sedangkan Ike mengusap-usap kepalanya sehingga bayi itu tenang.
Sayang, walaupun kamu harus tumbuh tanpa seorang ibu, namun kamu hidup ditengah-tengah tiga gadis yang hebat. Tetap sehat ya sayang? papa akan melakukan apapun asalkan kamu bahagia bersama kakak-kakakmu. Batin Papa Alex sambil menatap ketiga anak gadisnya yang cukup kompak dalam menenangkan adik kecil mereka.
"Tuan, si dede bayi belum memiliki nama karena nak Bela langsung tidak sadarkan diri setelah hanya beberapa saat saja bertemu puteranya" ucap bu Santi memberitahukan.
Semua berbalik dan menatap bu Santi.
"Iya bu Santi, saya akan memberi nama kepada puteraku. Terima kasih ya? keluarga kalian telah membantu banyak hal untuk Bela dan puteraku" ucap Papa Alex yang masih sedih.
"Siapa nama ade pa?" tanya Ike.
"Aarav Chan Kanigara" ucap papa Alex.
"panggilnya?" tanya Ike lagi
"Aarav" ucap papa Alex lagi.
"Halo banyak Aarav, mama Bela pasti senang karena kamu sudah memiliki nama sendiri. Sehat selalu ya sayang? Papa, ka Ika, ka Ike, ka Intan, oma Santi, kaka Nana sayang bangat sama baby Aarav" ucap Ike sambil menoel-noel pipi kembung bayi kecil yang walaupun matanya sudah terpejam tapi bibir mungilnya masih aktif menghisap minumannya.
"Terimakasihh kaka Ike. Baby Aarav juga sayang kalian semua" jawab Ika menurut suara anak kecil membuat semua sedikit terhibur dan melupakan suka mereka sejenak.
Bersambung
__ADS_1