
Saatnya pulang kantor namun cristin memilih untuk pulang belakangan walaupun sudah malam. Gadis itu punya banyak trik untuk menangkap seorang penjilat yang berlindung di balik kenyamanan apalagi dibalik orang-orang lemah.
"Tin, pulang yuk? capek nih" rengek Intan
"Kamu itu punya niat kerja tidak sih?" balas Cristin
"Semua orang sudah pulang, memangnya kamu masih mau pacaran sama penghuni kantor ya?" ucap Intan bergelidik ngerih membayangkan jika kantor itu punya penunggunya.
"Kalau tanpan sih kenapa tidak?" ucap Cristin santai membuat Intan semakin ketakutan.
Kedua gadis itu akhirnya keluar dan mendapati sang asisten Arya yang masih setia menunggu keduanya. Mereka bertiga akhirnya sama-sama melangkah pergi menuju parkiran beriringan dan pulang ke mansion utama.
"Pa, kami pulang," Seru Intan yang masih berada di pintu depan rumah. keduanya melangkah masuk dan mendapati papa Alex lagi bersantai di ruang tengah. Keduanya mendekat dan menyalami pria paruh baya itu dengan mecium punggung tangannya.
Seperti biasa sejak pulangnya Cristin dari luar negeri, ia sangat berubah. Tegas, diam, dingin dan keras kepala.
Papa Alex seperti melihat dirinya sendiri dalam diri puteri angkatnya itu.
"Ayo, pergi bertukar karena kita harus segera makan malam" ucap papa Alex memberi perinta kepada dua gadis itu.
"Siap" jawab Intan sambil mengangkat tangan sebatas keningnya untuk memberi hormat kepada papa Alex sementara Cristin hanya mengangguk kepalanya seraya melangkah pergi dan menaiki tangga menuju kamarnya dan diikuti Intan yang memang kamar keduanya bersebelahan.
Pria itu melangkah menuju meja makan dan menunggu kedua puterinya. Setelah membersihkan diri dan berganti kedua gadis itu kembali menuruni tangga dan menuju ke meja makan. Mereka makan dalam diam hingga makanan yang ada di piring mereka selesai.
Setelah menyelesaikan acara makan mereka, Cristin mengutarakan ucapannya yang sejak tadi telah disiapkan untuk meminta pendapat sang papa.
__ADS_1
"Pa,, Keluarga Patibrata mengundang untuk menghadiri acara pernikahan puteri bungsunya" Ucap Cristin sambil membereskan piring makannya.
"Datanglah kalian berdua. Tidak selamanya kita menghindari acara-acara seperti itu." jelas papa yang memang selama ini ia tidak menghadiri acara-acara resmi sejak kedua anak kembarnya dan sang isterinya orban dalam sebuah insiden yang sangat menyakitkan. Bahkan sampai dengan hari ini perusahaannya tidak pernah dikenal siap pemimpin sebenarnya karena pemimpinnya selalu berubah-ubah dan tentu iti adalah anak buahnya semua yang menangani bukan pemimpin yang asli.
"Baik pah, kami akan datang esok malam" ucap Cristin.
Mereka yang sudah menyelesaikan makan malam kembali bergegas menuju kamar tidur masing-masing kecuali papa Alex yang masig belum mengantuk.
*******
Di sinilah papa Alex setelah kedua puterinya masuk kamar untuk tidur.
"Tuan, menurut penyelidikan, tuan Rahadi hanya memiliki seorang anak perempuan yang saat ini telah menikah dengan tuan muda Rangga Maheswara, mantan pacar nona Cristin."ucap salah seorang kepercayaan tuan Alex yang bertugas mencari tahu jati diri Cristin.
"Lalu siapa Cristin?" tanya papa Alex
"Cari tahu lebih jelas, apakah waktu itu dia pergi dari rumah saat sedang hamil atau bagaiman" ucap papa Alex yang semakin penasaran.
"Baik tuan" ucap pria itu lagi
Obrolan kedua pria itu berakhir, dan papa Alex kembali ke rumahnya untuk beristirahat. Ya sejak tadi setelah makan malam papa Alex menuju ke markas yang letaknya tidak jauh dari mansion utama dan di sana seperti siang hari karena semua orang berlatih dengan giat walaupun malam hari.
"Apa maksud semua ini? kenapa hidupmu penuh dengan misteri? aku harus mencari tahu hingga aku tahu siapa kamu sebenarnya" ucap papa Alex yang tidak bisa menutup matanya sama sekali.
Dalam hati, papa Alex berharap jika salah satu puterinya yang jasadnya tidak ditemukan itu adalah Cristin karena sejak pertama kali ia menolong gadis itu, seperti ada sesuatu yang mengikatnya dengan gadis kecil itu. Bukan sekedar kesihan namun ia betil-betul merasa bahwa ada ikatan batin antara keduanya.
__ADS_1
Tuan Alex yang lelah berpikir akhirnya tertidur.
*****
"Dimana kamu sekarang? aku bahkan hampir berkeliling dunia tapi sama sekali aku tidak menemukanmu. Apakah ini balasannya karena aku sudah berbuat jahat sama kamu sehingga Tuhan menyembunyikanmu dariku? atau jangan-jangan, akhhhhh" teriak Rian frustrasi karena membayangkan jangan sampai Cristin sudah mati karena waktu itu gadis ini keluar dengan tidak membawa apapun kecuali pakaian di badannya saja. Bahkan uangpun tidak dia bawa. Hal itu membuat pria ini semakin bersalah dan menyumpahi dirinya sendiri.
"Seharusnya kita sudah hidup bahagia dan saling mencintai bahkan mungkin juga kita sudah memiliki anak, tapi ini semua salahku yang bodoh tidak mau mencari tahu, padahal dari keras kepalamu saja semua orang bisa menduga kalau kamu bukan berasal dari sebarangan tapi aku yang bodoh, bodoh bodoh bodoh." ucap Rian yang sampai dengan hari ini belum bisa mendapatkan sebuah petunjuk sekalipun.
Pria itu melangkah keluar menuju balkon dan berdiam di sana. Sambil melihat bintang yang bertaburan di atas langit hatinya kembali teriris mengingat gadis yang tidak pernah dianggapnya, bahkan kenangan saat mereka menikah yang sangat menyakitkan, dia yang adalah seorang pria terpandang menikah denga calon isteri yang memakai sebuah dres murahan.
"Maafkan aku" ucap Rian tanpa sadar air matanya kembali menetes untuk orang yang sama.
"Jika suatu saat kita bertemu, aku ingin memperbaiki semua yang pernah aku lakukan dulu terhadapmu." ucap Rian lagi yang kembali melangkah masuk ke dalam kamar dan berbaring di sana dengan terus memikirkan beban hidup yang dibuatnya sendiri.
******
Di tempat lain
Seorang wanita yang sampai dengan saat ini belum memecahkan teka-teki dari sang ibu yang telah meninggal berapa tahun lalu.
(Nak, jika ibu sudah tiada nanti,, berjuanglah untuk mencari orang tua kandungmu, ibu juga tidak tahu siapa mereka dan di mana mereka karena ibu menemukanmu tanpa ada petunjuk sedikitpun) kalimat itu terus terngiang di telinganya. ternyata wanita yang dia anggap sebagai ibu itu bukan orang tua kandungnya.
Saat ini Aneth tengah duduk merenung nasibnya dalam sebuah kamar kos yang ditempatinya sejak ia bekerja di perusahaan keluarga Patibrata. Niat hati ingin mencari orang tua kandungnya, tapi jangankan petunjuk... sesuap nasi saja harus ia perjuangkan baru bisa ia nikmati.
"Jika kita memang harus terpisah untuk selamanya, aku doakan papa dan mama baik-baik saja. Aku tidak ingin berpikir negatif tetang kalian, karena mungkin kita dipisahkan karena sebuah kejadian buruk" gumam Aneth yang masih terdiam di atas kasur lantainya yang sudah usang.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*