
Malam ini dua gadis kesayangan papa Alex telah bersiap untuk menghadiri acara pernikahan dari puteri bungsu keluarga patibrata.
Cristin yang jarang datang ke acara-acara resmi itu sedikit kaku tapi setelah dia hidup di luar negeri beberapa tahun lalu ia sempat bergabung di acara resmi tersebut sekitar dua atau tiga kali.
"Wah anak-anak papa sudah pada cantik, sepertinya malam ini ada yang pulang bawa berita bagus" kelakar papa Alex
"Berita bagus apa pa?" tanya Intan seperti orang bodoh karena memang oacaran saja dia belum pernah.
"Bawa calon suami" jawab Cristin dengan wajah dinginnya
"Hah, ya semogalah Tin, secara kita dua belum laku padahal cantik begini" ucap Intan yang awalnya kaget tapi akhirnya terbawa juga dalam suasana.
Cristin melihat sinis ke arah saudaranya sedangkan papa hanya terkekeh melihat interaksi dua puterinya yang satu kocak dan yang satu dingin.
"Oke, papa yang antar ke sana tapi tidak masuk ke dalam" ucap papa sambil mengambil jaket kulitnya yang tergeltak di atas sofa ruang tengah.
Dua gadis yang sudah cantik dengan gaun persta mereka akhirnya hanya mengikuti sang papa dari belakang menuju ke parkiran.
Ketiga insan yang tidak sedarah itu akhirnya melaju pergi dengan mobil kesayangan papa Alex meninggalkan mansion Kanigara.
Papa Alex membawa dua puterinya sampai di depan hotel tempat acara dan setelah memastikan keduanya masuk, iapun memutar haluan mobilnya dan meninggalkan hotel tempat acara itu.
"Jaga mereka dari kejauhan dan jangan sampai ada yang tahu." ucap papa Alex melalui sambungan telepon
"Baik tuan" balas seorang pria yang juga berpakaian rapi dan yang sudah stay di dalam tempat acara sambil menatap ke arah dua gadis yang baru saja masuk.
Dari kejauhan ia dapat menjaga dua berlian bosnya yang sudah bergabung bersama undangan lainnya.
Acarapun dimulai. Intan yang sangat antusias mengikuti jalannya acara sampai tak melihat ke arah sampingnya di mana saudaranya yang satu itu sudah tidak betah lagi ada di tempat itu namun berusaha untuk tetap tenang.
__ADS_1
"Tin, acaranya meriah sekali, Aku juga mau jika nanti aku menikah dan papa mau buat acaranya semeriah ini" ucap Intan sambil berhayal
"Kerja dulu yang benar baru pikir ada suami" ucap Cristin sambil memutar bola matanya malas.
"Tan, aku ke toilet dulu ya?" ucap Cristin
"Akhhh kamu mah, orang acaranya hampir puncak baru kamu mau ke toilet" ucap Intan yang tidak mau melewatkan acara tangkap bunga, siapa tahu ia yang mendapatnya.
"Sudah kamu lanjut saja biar aku sendiri, toiletnya juga tidak jauh dari sini kok" ucap Cristin sambil sambil mencari jalan untuk keluar dari banyak orang tesebut.
Gadi itu melangkah dengan pasti menuju ke toilet untuk membuang hajatnya, setibanya di toilet ia dapat melihat beberapa gadis tengah membuli salah seorang gadis yang berpakaian sederhana itu.
Tanpa peduli Cristin melangkah masuk ke dalam salah satu kamar mandi untuk melakukan ritualnya.
"Hei gadis miskin, kanapa kamu berani sakali untuk datang ke acara ini" ucap salah seorang gadis yang rambutnya dibuat kriwil, dia adalah ketua geng mereka.
"Iya, lihat tuh gaunnya. Pilih di sampah mana tu?" ucap salah seorang temannya
"Oh jadi dia simpanannya anak bos kita ya? heh ingat ya Raka itu milikku, papaku menempatkanku bekerja di sini untuk lebih dekat dengannya, ingat itu" ucap sang ketua mereka. ya dia adalah Mira anak dari salah seorang berpengaruh di kota itu tapi memilih untuk bekerja di kantor keluarga Patibrata karena dia yang sejak dulu mengincar putera sulung dari keluarga itu.
"Mana mau Raka sama gadis murahan seperti dia? yang ada Raka malah jijik" ucap temannya sambil mengangkat pundaknya seperti orang yang benar-benar jijik.
Cristin yang sejak tadi menajamkan kupingnya dari arah dalam kamar mandi itu menjadi geram karena kasta dan kedudukan yang selalu dibawa-bawa. Dia kembali membayangkan bagaimana Rian memperlakukannya dengan sangat tidak adil hanya masalah latar belakang keluarganya yang tidak jelas, dan itu membuat gadis yang sudah naik pitam itu semakin tidak terima.
Dengan santai ia keluar dan menghadap ke arah cermin untuk memperbaiki riasannya dan ekor matanya terus memantau keempat orang gadis itu yang membuat gadis sederhana itu sudah tidak berbentuk karena bentuk rambutnya yang sudah berantakan.
"Apakah itu caranya orang tua kamu yang terpandang itu mengajarkan kamu tata krama?" Cristin mulai bersuara dan kedengaran sangat dingin, matanya kelihatan sangat tajam menatap mereka melalui pantulan cermin yang ada di depannya itu.
"Heh siapa kau, dan apa urusanmu denganku?" ucap ketua geng mereka,
__ADS_1
Aku?" ucap Cristin dengan menunjukan jari telunjuknya ke arah wajahnya sendiri, posisinya juga yang sudah menghadap mereka sambil bersandar di meja yang dekat dengan cermin itu, sambil melipat kedua tangannya di atas dadanya.
"Iya, kau siapa dan apa urusanmu mencampuri kami" ucap gadis yang adalah ketua mereka itu lagi.
"Aku orang yang paling benci dengan pembulyan dan aku orang yang akan menghabisimu jika macam-macam" ucap Cristin yang entah sejak kapan tangan sebelahnya sudah mengapit rahang gadis itu.
"Heh gadis gila, urus saja dirimu" teriak salah satu temannya
"Ini juga menjadi urusanku karena kalian sudah merusak moodku ada di acara ini" jawabnya santai
Tiba-tiba ada sebuah tangan besar yang menarik paksa lengan Cristin yang dipakai untuk menganiaya gadis tadi.
Pria yang baru saja menarik Cristin itu langsung melancarkan aksinya seolah membuka peluang untuk Cristin bisa menghajarnya, dengan gesit Cristin menangkis tinju yang dilayangkan oleh pria tadi membuat keempat orang gadis itu terkejut karena gadis yang sejak tadi mereka bantah bukan orang sembarangan.
Cristin juga melancarkan aksinya dan dengan gerakan kaki dan tangannya yang begitu lincah membuat lawannya itu kewalahan. Cristin menggunakan gaun yang sedikit longgar dibagian bawahnya sehingga dia bisa dengan santai melayani pria itu,
Acara baku hantampun terjadi dan dalam ruangan yang tidak begitu luas itu, belum juga Cristin menumbangkan pria itu, datanglah dua orang bertubuh kekar yang mengeroyoknya, namun dengan senang hati ia melayani mereka, tendangan demi tendangan yang dilayangkan sampai gaunnya terangkan dan menampilkan paha putinya dan short dalamnya namun ia tidak peduli malah ia semakin buas untuk melawan mereka.
Keempat orang gadis itu sudah melarikan diri meninggalkan pertarungan yang tidak seimbang itu hingga ketiga pria itupun melarikan diri dengan keadaan yang sudah bonyok.
Cristin mengatur nafasnya sambil merapikan kembali penampilannya di depan cermin namun matanya kembali menangkap sosok yang dibuly tadi masih terduduk dan wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang sudag tidak beraturan.
Critin mendekatinya dan mengangkatnya untuk berdiri. Gadis itu hanya diam tak bersuara dan hanya suara sesugukan yang terdengar, rupanya ia sedang menangis.
"Hai, kamu sudah aman" ucap Cristin sambil menyentuh dagu lancip gadis itu dan saat dua mata itu saling tatap, keduanya sama-sama terkejut saat itu juga.
Intan yang menunggu saudaranya belum kembali sejak tadi memilih untuk ikut ke kamar mandi dan setibanya di sana ia juga ikut terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya.
Ia tidak mampu berbicara, seolah ia sedang berada di dunia lain.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*