Kau Yang Memintaku Pergi

Kau Yang Memintaku Pergi
Kenyataan


__ADS_3

Cristin yang sejak tadi melihat pertunjukan melalui cctv menjadi geram karena sang papa ditertawakan.


"Kurang ajar, siapa sih yang ngajarin mereka untuk tidak sopan begitu sama tamu?" geram Cristin.


Tiba-tiba masuklah tiga orang tanpa mengetok pintu terlebih dahulu.


Papa Alex tanpa suara melangkah lebar ke arah Cristin dan memeluk gadis itu yang bahkan belum berdiri dari kursi kebesarannya.


"Sayang, maafin papa yang baru menyadari kehadiran kamu" ucap papa Alex yang tidak malu menangis didepan orang-orang yang selama ini segan dengannya.


"Maksud papa?" ucap Cristin tidak mengerti dengan ucapan papa angkatnya itu.


"Anak papa, maaf sudah menelantarkan kamu selama ini," ucapnya lagi yang semakin membuatnya bingung.


"Pah, papa tidak kenapa-kenapa kan?" ucap Cristin sambil perlahan berdiri dari duduk, papa mulai melonggarkan pelukannya pada sang anak gadisnya dan menghapus air matanya.


"Papa kenapa?" tanya Cristin sambil menuntun sang papa menuju ke sofa yang ada di ruangan itu.


"Ternyata kamu adalah puteri kecil papa yang hilang saat tragedi itu" ucap papa dengan mata berkaca-kaca.


Cristin bengong mendengar pengakuan sang papa tapi ia tidak yakin, matanya beralih ke sebuah map coklat yang ada di balik saku jaket kulit papanya yang tidak dikancing.


Papa yang melihat arah pandang puterinya sadar dan mengeluarkan map tersebut dan langsung diberikan kepada Cristin.


Gadis itu menatap sang papa seolah bertanya apa ini.


Papa hanya menggangguk sebagai persetujuan agar boleh dibuka.


Cristin kaget sampai berdiri dari duduknya ketika melihat namanya juga tertera di sana sebagai pemilik sampel tes DNA.


"Kapan papa melakukan ini? apakah ini fakta?" tanya Cristin beruntun.


"Benar sayang. Awalnya papa merasa ada sesuatu yang mengganjal hati papa saat menemukan kamu mau dilecehkan, seiring berjalannya waktu perasaan itu semakin kuat hingga beberapa waktu lalu saudara kamu berkata bahwa kamu hanya anak pungut dan hati papa memaksa untuk melakukan tes. Setelah kamu tidur beberapa malam yang lalu, papa diam-diam masuk ke kamar untuk mengambil sehelai rambutmu dan ternyata tes membuktikan bahwa kita adalah anak papa" jelas papa dengan senyum bercampur air mata.


"Realy pah" ucap Cristin memastikan.


"Realy sayang" jawab papa tegas.


Tanpa menunggu lama Cristin sudah menghambur dalam pelukan pria paruh baya yang bahkan sudah dia anggap papa selama ini.


Gadis itu bahkan sudah seaugukan hingga mengeluarkan suara tangisnya.


Intan yang sejak tadi menyaksikan drama ini dengan mata berkaca-kaca tersadar akan seauatu yang mengganggu pikirannya.

__ADS_1


"Hah? jadi kamu anak papa? berarti?" ucapnya menggantung.


Aria, papa dan Cristin kaget dengan suara lengking Intan.


"Berarti apa Tan?" ucap Cristin dengan wajah syoknya.


"Bukannya papa pernah bilang kalau anak papa kembar? berarti gadis malam itu?" ucap Intan kembali menggantung membiat Aria dan papa menahan napas, sedangkan Cristin yang sudah tahu arah pembicaraan saudara angkatnya itu langsung memandang ke arah sang papa.


"Pah, benar aku ada kembaran?" tanya Cristin memastikan.


"Iya sayang tapi sudah meninggal sama mama" ucap papa lesu.


"Papa yakin itu mayatnya?" tanya Cristin lagi.


"Mungkin karena tubuhnya hancur karena dibakar" ucap papa mulai ragu.


"Lalu siapa gadis yang sangat mirip denganku yang aku tolong waktu di resepsi anak tuan Pantibrata?" ucap Cristin ikut bingung.


"Tin aku yakin itu kembaran kamu. Sama sekali tidak ada bedanya diantara kalian berdua, mungkin mayat yang papa maksud adalah orang lain" putus Intan dengan tegas.


"Dimana dia sekarang?" tanya papa.


"Pah, sebaiknya kita pulang dan bahas ini di rumah" ucap Cristin kembali ke meja kerjanya dan merapikan berkas-berkas lalu mengajak yang lain untuk pulang.


"Baik nona" jawab Aria.


"Mau aku temani?" ledek Intan membiat yang lain tersenyum termasuk Aria.


"Tapi lain kali saja ya?" ucapnya lagi.


Ketiga orang itu melangkah pergi meninggalkan Perusahaan BBG.


*******


Di ruangan sebelah ketiga orang yang tadi menertawakan papa Alex tengah ketakutan.


Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Aria dengan wajah seramnya menatap tajam ke arah kedua laki-laki dan seorang gadis itu.


"Kamu tahu apa kesalahan kamu?" ucap Aria penuh penekanan.


"Iya tuan, kami tahu" ucap mereka serentak.


"Oke, aku tidak akan menghukum kalian tapi aku hanya ingin kamu melakukan seauatu" ucap Aria lagi

__ADS_1


"Apa itu tuan" ucap mereka sedikit lega.


"Jangan sampai ada yang tahu jika pria tadi adalah pemilik perusahaan ini. Katakan kalau dia hanya keluarga jauh dari nona Ctistin dan Intan. Mengerti?" ucapnya tegas.


"Mengerti tuan" jawab mereka.


"Jika sampai ada yang tahu makan keluarga kalian bertiga taruhannya" ancam Aria membuat mereka ketakutan.


"Baik tuan" ucap mereka sambil membungkukkan badan hingga Aria hilang dari balik pintu.


Pria muda itu kembali melakukan tugas yang sudah diberikan oleh nonanya, karena ia tahu bahwa saat ini Cristin sementara bahagia dengan papa yang baru disadari jika itu papa kandungnya.


******


Tiga orang itu akhirnya tiba di mansion utama keluarga Kanigara.


"Selamat datang dirumahmu puteri kecil papa" ucap papa Alex saat turun dari mobil. Cristin yang melihat kebahagiaan papa kembali menghambur dalam pelukan pria yang baru diketahuinya sebagai papa kandungnya sendiri.


"Thanks pah, aku bahagia sekali akhirnya bisa tahu yang sebenarnya." ucap Cristin masih betah dalam pelukan sang papa.


"Puteri papa yang ini kenapa bengong. Sini sayang, kamu juga puteri kesayangan papa" ucap papa sambil merentangkan tangan sebelahnya menyambut puteri angkatnya masuk ke dalam pelukannya.


"Terima papa, sudah menjadi papaku disaat orang tuaku tidak ada lagi" ucap Intan yang sudah menangis dalam pelukan pria yang sangat menyayanginya itu.


Ketiganya larut dalam lesedihan mereka di depan mansion. Untung pagar rumah tinggi jadi tidak ada yang melihat mereka dari arah luar.


"Ayo masuk dulu" ucap papa sambil menuntun ke dua puteri kesayangannya masuk.


"Apa yang tadi kalian bicarakan soal saudara kembarmu itu" tanya papa.


"Seperti yang tadi kami ceritakan pa, aku rasa dia betul-betul kembarannya ka Cristin. Mereka sangat mirip bagai pinang di belah dua, tapi..." ucapnya kembali menggantung.


"Tapi apa?" desak papa pada Intan yang tengah berpikir.


"Sepertinya hidupnya tidak baik-baik saja. Sesuai penampilannya, dia begitu sederhana dam seperti tidak terurus, dia juga sepertinya sering dibuly" ucap Cristin menyambung ucapan saudara angkatnya.


Ucapan Cristin mengundang emosi papa Alex karena mendengar bahwa gadis itu sering dibuly padahal dia belum tahu jika itu puterinya atau bukan.


"Aria sudah menemukan tempat kerjanya. Dia saat ini bekerja di pedusahaan tuan Patibrata.


"Aku harus menjemputnya sekarang" ucap papa yang langsung berdiri.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2