
Hari ini papa Alex sudah tidak sabar ingin mengetahui hasil tesnya yang kemarin dilakukannya.
"Dokter sialan, kenapa belum telepon juga sih? katanya pagi ini dia akan menghubungiku tapi kenapa belum juga?" gumam papa Alex yang kini mondar mandir di dalam kamarnya sambil terus menatap layar ponselnya.
Bagaimana mau telepon? sekarang saja belum jam 6 pagi? tapi rasa penasaran mengalahkan ego papa Alex.
Pria itu sudah rapi sejak tadi jam 5 subuh.
Dan saat ini dia tengah gelisah di kamar.
ia akhirnya melangkah keluar dari kamar dengan pakaian rapi walaupun tidak formal.
"Tuan, apa mau dibuatkan minum?" tanya pelayan yang tengah menyusun sarapan di atas meja.
"Kopi hitam saja bi" ucap papa Alex.
"Baik tuan" jawab sang ART.
Beberapa saat kemudian sang ART sudah membawa segelas kopi hitam dan meletakan di atas meja makan tepat di depan tuannya.
"Eh papa sudah rapi aja, mau kemana papa?" tanya Intan sambil mencium punggung tangan papa.
"Pagi papa" ucap Cristin singkat sambil mencium punggung tangan papa juga kemudian duduk di tempat duduknya untuk menikmati sarapan pagi.
"Pagi sayang. Papa hari ini ada urusan diluar rumah makanya papa rapi hari ini" ucap papa Alex.
Mereka memulai sarapan pagi mereka dengan tenang dan seperti biasa mereka hanya bertiga kecuali jika ada Aria atau anak kepercayaan papa Alex yang lainnya.
Setelah selesai sarapan, Cristin dan Intan kembali berpamit menuju ke kantor sedangkan papa Alex masih duduk santai di ruang makan sambil terus menatap ponselnya yang sejak tadi tidak ada panggilan masuk.
Pria itu akhirnya keluar dan pergi begitu saja tanpa menunggu harus mendapat telepon. Dengan semangat dan rasa gelisah yang terus menderanya sehingga ia tidak sabaran lagi jika hanya berdiam diri di rumah.
Tibalah pria itu di parkiran rumah sakit dan dengan santai ia melangkah keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam sana.
"Selamat pagi tuan, ingin bertemu dengan siapa" ucap salah seorang resepsionis.
"Ada dokter Farhan?" tanya tuan Alex.
Sang resepsionis langsung mengangkan telepon rumah sakit dan menghubungi seseorang dan kembali menutupnya
__ADS_1
"Ada tuan. Beliau sedang ada di ruangannya" ucap Resepsionis tadi.
"Terima kasih" ucapnya langsung pergi begitu saja.
Sepanjang ia berada di dalam lif, perasaannya tidak tenang. Harapan akan kenyataan dan hasillah yang akan menentukan semuanya.
Semoga semua sesuai harapan. Batinnya sambil kembali melangkah keluar dari dalam lift menuju ruang yang ia tujui.
Tok tok tok
Papa Alex mengetuk pintu ruang dokter Farhan saat tiba di lantai tersebut.
"Masuk" ucap suara dari dalam.
Masuklah seorang pria paruh baya tapi masih sangat tampan yang berpakaian santai.
"Selamat pagi dokter" ucapnya.
"Selamt pagi tuan. Mari silahkan duduk," ucap sanh dokter salah tingkah.
"Aku baru saja akan menelepon saat jam 8 nanti, bersyukur tuan sudah lebih dahulu tiba." ucap dokter Farhan sambil menyodorkan sebuah map coklat seperti amplop kepada tuan Alex.
Dengan jantung yang semakin berdebar kencang, pria itu membuka map tersebut. perlahan-lahan ia mengeluarkan selembar kertas yang sangat ia inginkan untuk membaca hasilnya.
Tak terasa pria itu meneteskan air matanya di depan sang dokter. Air mata yang hanya pernah diteteskan pada sang isteri dan kedua anaknya kini kembali menetes. 98,9% apakah ini nyata?
"Dokter, aku tidak mimpikan?" ucap Tuan Alex meminta kepastian.
"Benar tuan itu hasil yang sesuai tes laboratorium dan itu sah" jelas sang dokter.
"Terima kasih dokter, terima kasih" hanya itu yang mampu dia ucapkan.
"Aku permisi" ucapnya langsung melangkah keluar, sepanjang perjalanan ia terus mengucap syukur.
"Terima kasih Tuhan, ternyata selama ini aku dan puteriku sungguh dekat, sangat dekat" gumam papa Alex sambil fokus mengemudi.
Saat tiba di parkiran kantornya sendiri, ia melangkah dengan tergesah-gesah tujuannya hanya satu yaitu menuju ruang CEO. Pria itu sudah tidak sabar untuk memeluk puterinya itu.
"Maaf tuan,,"ucap resepsionis dengan sedikit berteriak karena papa Alex yang sudah hampir menjangkau lift khusus tanpa ada laporan pada siapapun. Semua panik berpikir seorang penyusup karena badanya yang penuh tato membuat orang-orang mewanti-wanti.
__ADS_1
Para sekuriti berlari menghadangnya agar tidak masuk ke lift tersebut.
"Maaf tuan, anda ingin bertemu dengan siapa dan sudah membuat janji atau belum" ucap salah seorang sekuriti.
"Hah? aku datang ke perusahaanku sendiri masa harus seribet itu" ucapnya geram.
"Hahaha tuan jangan ngaur, jangan mengaku-ngaku ini perusahaanmu. Dari penampilan saja kamu hanya seorang seorang preman" ucap yang satunya.
Orang-orang mulai menonton mereka sampai semua kursi karyawan di lantai itu kosong karena semua tengah menonton kejadian ini.
"Jadi apa maumu? kau pikir penampilan menjamin seseorang bisa memiliki harta? cuihhh" ucapnya semakin geram.
Tuan Alex tidak ingin membuat kegaduhan di kantornya sendiri. Ia memilih jalan damai, yakni menelepon salah seorang puterinya.
Beberapa saat kemudian, Aria dan Intan keluar dari lift kusus.
Aria langsung membungkukan badannya sebagai tanda memberi hormat.
"Papa? ko papa bisa ke sini?" tanya Intan beruntun sambil memeluk sang papa.
"Memangnya kamu tidak ingin papa ada di sini?" tanya papa sambil terkekeh.
"Hehehe tidak pah, tapi tadikan papa bilang ada urusan" ucap Intan cengengesan.
Gadis itu baru menyadari bahwa ada banyak orang yang menonton mereka di sana.
"Lihat apa kalian, kembali sana kerja! dibayar bukannya kerja malah bengong lagi" hardik Intan dengan sorot mata tajamnya membuat semua bubar.
"Hei kalian, ikut aku ke ruang puteriku" ucap papa Alex tegas membuat dua orang sekuriti dan seorang resepsionis itu ketakutan saat papa Alex menyebut ruang puteriku. Apalagi Aria yang selama ini mereka anggap pemimpin mereka itu sangat hormat padanya.
"Ayo pah, kita ke atas. Ka Cristin lagi serius bangat kerjanya" ucap Intan sambil menggandeng sang papa masuk ke dalam lift diikuti oleh sang asisten.
Ketiga orang yang mendapat panggilan itupun menuju ke lift biasa dan menyusul ke lantai atas di mana letak ruang CEO.
Papa Alex yang biasanya kejam dan tidak memberi ampun pada siapapun mendadak menjadi orang lain di mata Aria yang sudah lama menjadi anak buahnya.
Entah apa yang merasukinya sehingga ketiga orang itu masih bernafas walaupun sudah menghujatnya.
Tidak biasanya orang selamat jika sudah masuk dalam perangkapnya. Jelas-jelas tadi aku tiba masih mendapat sekuriti itu menertawakannya tapi kenapa hari ini tuan mendadak jadi anak baik ya. Batin Aria sambil tersenyum samar.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*