Kau Yang Memintaku Pergi

Kau Yang Memintaku Pergi
Sahabat Kecil


__ADS_3

Hari ini Raka kembali muncul di kantor BBG, bukan untuk menjemput Ika melainkan untuk mengajak Ike makan siang lagi.


"Selamat siang nona" ucap Raka yang baru saja masuk ke ruang CEO ketika pintunya terbuka.


Ike terkejut melihat pria nyebelin yang ada di depan matanya.


"Maaf aku lagi banyak kerjaan jadi aku harap keluar dari ruangan ini" ucap Ike tegas.


"Apa begini caranya menerima tamu?" tanya Raka sambil memainkan kedua alis matanya.


"Aku tidak merasa ada tamu," ucapnya cuek


"Maaf nak, papa sudah menceraikannya pagi tadi. Ia sudah menandatangani surat cerai dan sudah pergi dari apartemen" ucap Papa membuat Ike melonjak.


"Apa????" teriak Ike membuat semua orang kaget.


"Ka Ike, kamu kenapa sih? buat orang jantungan saja." gerutu Intan karena ikut terkejut dengan suara Ike yang sangat tajam itu.


"Pah, tolong bilang kalau itu bohong" ucap Ike berusaha untuk tidak percaya. Bagaimana nasib janin yang secara tidak langsung sudah jadi adiknya.


"Papa serius nak, papa serius sudah menceraikannya hari ini" ucap Papa Alex meyakinkan.


"Papa jahat" teriak Ike membuat papa kembali terkejut.


"Apa maksud kamu nak, papa lakukan ini demi kamu" ucap papa Alex yang mulai terbawa emosi karena merasa dibentak oleh puterinya sendiri.


Suasana menjadi tegang kala anak yang keras kepala itu berdebat dengan sang papa.


"Iya demi sakit hatiku dimasa lalu karena yang papa nikahi adalah wanita yang dulu merusak rumah tanggaku" ucap Ike masih dengan nada tinggi.


"Dari mana kamu tahu?" tanya papa heran.


"Sebelum ke kantor pagi tadi, aku mampir terlebih dahulu di apartemen papa untuk mencari tahu apa yang papa sembunyikan selama ini, dan aku sudah mengetahui semua itu" ucapnya ngos-ngosan karena emosi yang tak terkendali.


"Papa minta maaf karena kembali membuka masa lalu kamu yang menyakitkan" ucap papa melemah.

__ADS_1


"Sakitku tidak sesakit yang dia rasakan pah, tapi sakitnya akan terbawa selama hidupnya. Papa tahu? hidupnya yang tanpa orang tua dan akan menjadi orang tua tunggal pula untuk bayi yang di dalam kandungnya. Sebenci apapun aku sama dia tapi tidak mungkin aku akan membenci calon adikku" ucap Ike dengan menangis tersedu-sedu.


"Maksud kamu?" Tanya papa dengan wajah pucatnya.


"Yang aku tahu dia orang yang paling menjaga penampilan jadi mustahil jika dia mulai menyukai baju kebesaran. Bahkan aku sempat lihat dengan mata sendiri saat baju kebesaran itu ditiup angin lalu melekat diperutnya yang sudah tidak langsing lagi.


Deg


Papa Alex tercekat. Banyak perubahan dalam diri Bela akhir-akhir ini tapi ia tidak menyadarinya.


"Sebenarnya aku ingin membicarakan hal itu malam ini tapi ternyata aku sudah terlambat. Aku gagal, mungkin itu jawaban dari kata-katanya pagi tadi jika ia akan mengakhiri semuanya" ucap Ike masih dengan suara bergetar.


Pria paruh baya itu berlari keluar menuju mobilnya dan pergi dengan kecepatan tinggi, tujuannya hanya satu yakni apartemen untuk mencari petunjuk yang lebih jelas.


Setibanya di sana ia masuk ke kamar wanita yang sudah berstatus mantan isterinya beberapa waktu jam yang lalu.


Ia membuka setiap laci yang ada di sana, dan benda pertama yang dia temukan adalah satu set perhiasan yang dibeli saat pernikahan mereka, ponsel dan jug jam tangan. Papa Alex terus mengobrak abrik isi laci yang lainnya.


Sesuatu yang menyesakkan dada ketika melihat benda itu. Beberapa alat tes kehamilan yang masih dalam bungkusan dan juga ada dua yang sudah terpakai dan hasilnya memang positif.


Kenapa dia menyembunyikan ini semua dariku? kemana dia membawa anakku?


pria itu semakin frustrasi karena tidak ada petunjuk sama sekali soal Bela.


Aku tidak akan membiarkan kamu membawa anakku dan membuatnya terlantar di luar sana.


.


.


.


Di tempat lain


Bela sudah tiba di salah satu desa yang sangat jauh dari kota, di sana ia mulai hidup baru dengan tinggal di sebuah kontrakan kecil.

__ADS_1


Awalnya Bela tidak diterima di desa itu karena ia datang dalam keadaan hamil. Tapi dengan bermodalkan cincin yang masih melekat di jari manisnya dan juga alasannya yang masuk akal bahwa ia dan suaminya mendapat musibah perampokan sehingga ia terpisah dengan suaminya, karena berhasil melarikan diri saat suaminya berusaha menghalau para perampok. Walaupun ada sedikit keraguan tapi pemimpin wilayah di sana memaklumi hal tersebut.


Kehidupan yang sebelumnya serba ada saat bersama kedua orang tuanya, mendadak hilang satu-satu ketika kematian kedua orang tuanya. Ia berjuang untuk kembali bangkit dengan menjadi model dan semua itu kini kembali hilang dan berakhir di desa yang terpencil ini.


Bela yang dulu tidak mengenal kayu api, kini harus belajar masak di tungku. Hidupnya benar-benar berubah 180°.


"Hai ka, aku anaknya bapak Rt, aku ke sini disuruh bunda membantu kaka" ucap seeorang gadis kecil berusia 11 tahun yang datang ke kontrakan Bela karena baru pulang sekolah.


"Oh iya de. Nama ade siapa?" tanya Bela.


"Namaku Inana ka, panggil aja Nana" jawab gadis kecil itu.


"Kog nama kita mirip ya. Nama kaka, Anabela, bisa panggil ka Ana atau ka Bela" ujar Bela tersenyum bahagia karena baru dua hari ia sudah punya teman walaupun cuma seorang anak kecil.


"Aku panggilnya ka Bela saja ya? biar tidak salah sebut. Nana Ana" ucapnya sembil terkekeh.


"Baiklah, senyamannya kamu saja" ucap Bela.


"Kata bunda kaka orang kaya yang tidak bisa masak kaya kita yang pakai kayu api ya?" tanya Nana polos membuat Bela tersipu malu karena memang ia tidak bisa masak secara manual ala orang kampung. Semalam ia bertahan dengan beberapa camilan yang dia beli sebagai stok di rumah itu. Dan pagi tadi, bundanya Nana yang membawakannya sepiring nasi dan sayur alakadarnya.


"Santai saja ka, aku bisa masak walaupun tidak sejago bunda. Gosong tak apalah yang penting bisakan ka" ucap gadis kecil itu menggoda Bela karena melihat wanita yang dia panggil kaka itu salah tingkah.


Nana seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk menolong Bela ketika dalam bahaya. Seperti yang Nana katakan bahwa ia bisa masak walaupun tidak sehebat bundanya tapi bagi Bela tak apa yang penting dia bisa belajar dari gadis kecil itu. Mulai dari menyalahkan api hingga memasak dengan periuk.


Bela sedikit terhibur dengan tingkah Nana yang super heboh dan berisik itu, bahkan tak tanggung-tanggung ia bertanya soal keadaan di kota karena ia bercita-cita jika besar nanti ia akan merantau ke kota. Tapi dengan tegas Bela memadamkan semangatnya.


"Ka' kota itu bagaimana sih? jika besar nanti aku ingin hidup di sana. Orang yang hidup di kota itu pasti kaya dan punya segalanya kan?" ucap Nana dengan raut penasarannya.


"De, sebaiknya kamu lupakan niatmu untuk hidup di kota. Kota itu neraka yang tak terlihat, dari jauh kamu hanya melihat keindahannya tapi jika kamu sudah ada di sana, kamu hanya merasa hidup penuh penderitaan." jelas Bela pada gadis kecil itu.


"Kok bisa?" tanya Nana penasaran.


"Iya bisa, karena itu kaka memilih hidup di desa seperti sekarang" ucapnya apa adanya. Ia tidak mau bicara lebih banyak soal keadaan kota karena belum saatnya menjelaskan itu untuk anak sekecil Nana.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2