
Aria sudah memasang orang untuk mematai kapan Aneth pulang kantor agar dapat memberi info kepada tuan Alex dan Cristin.
Saat tiba jam pulang kantor, anak buah Aria memberi tahukan kepadanya bahwa gadis itu sudah akan pulang kantor sehingga Aria mengatakannya kepada Cristin dan papanya.
Seperti biasa Aneth duduk di halte menunggu bus umum untuk pulang ke kosannya.
"Hai, jumpa lagi" ucap Cristin yang baru turun dari mobil dengan pakaian santai dan sederhana, hal itu dia lakukan agar gadis yang mirip dengannya itu tidak minder.
"Hai juga nona," ucap Aneth kaku.
"Akh jangan panggil aku nona, panggil saja Cristin" ucap Cristin sambil memberi tangannya untuk berkenalan.
"Aneth no.. eh Cristin" ucap Aneth.
"An, yuk kakak antar" ucap seorang pria yang sekilas menurunkan kaca mobil sambil berseru kepada Aneth.
"Tidak bisa, aku yang lebih dahulu tiba dan masih ingin ngobrol sama dia" ucap Cristin tanpa melihat siapa orangnya.
"Hei ini sudah malam dan Aneth harus pulang ke rumah" seru pria itu lagi.
"Huh, jika aku sudah mengatakan ingin ngobrol itu artinya aku yang bertanggung jawab padanya" ucap Cristin penuh penekanan. Raka yang baru turun dari mobil sedikit tersentak karena gadis yang duduk bersama orang yang disebut adik itu adalah kawan duelnya tempo hari.
Cristin memang sangat beda, memekai pakain sederhana dan membiarkan rambutnya terurai terlihat sangat beda dengan keadaannya selama ini.
"Bagaimana An?" tanya Raka ke arah Aneth.
"Aku masih ngobrol sama Cristin ka" ucap Raka.
"Oh nama kamu Cristin?" ucap Raka membuat gadis itu menarik napasnya cukup dalam sedangkan di dalam mobil, papa Alex sudah mengepalkan tangannya tapi ia tidak mau meninggalkan kenangan yang buruk di saat pertemuan dengan Aneth.
"Baiklah, jika dia tidak mengantarmu pulang telepon kakak ya" ucap Raka sebelum melangkah masuk lagi ke mobilnya.
"Yuk kita bicara di tempat yang lebih aman" ucap Cristin membuat Aneth mengangguk pasrah tapi penuh wanti-wanti.
Cristin menuntun Aneth masuk ke mobil dan setelah gadis itu duduk dengan Intan di belakang, ia kembali ke depan dan duduk di samping papanya.
Mobil yang dikendalikan oleh papa Alex membawa mereka ke sebuah restoran yang cukup mewah dan memilih ruang vip agar privasi mereka lebih terjaga.
__ADS_1
Aneth semakin gugup saat diajak ke tempat mewah yang baru kali ini dia kunjungi.
"Ayo masuk," ajak Cristin yang mereka semua sudah sama-sama turun.
Papa Alex memilih diam dan melangkah lebih dahulu. Pria itu sudah menahan diri sejak tadi untuk memeluk gadis yang memang sangat mirip dengan puterinya yang satu.
Setibanya mereka di sana dan menempati tempat yang mewah dan luas itu, datanglah para pelayan membawa makanan yang sudah dipesan sebelumnya oleh Cristin.
Orang-orang itu akhirnya makan dalam diam.
"Makanlah nak, jangan malu" ucap papa Alex.
Sedangkan Intan jangan di tanya, jika sudah disuguhkan dengan makanan enak maka dunia sekitar dilupakan, bahkan sendokpun tidak dikenalnya karena gadis ini terbiasa makan dengan menggunakan tangannya saja.
Setelah mengisi perut mereka, Cristin mulai membuka suara.
"Maaf ya, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Cristin pada Aneth.
"Boleh, mau tanya apa?" tanya balik Aneth.
"Maaf. Apa kamu tinggal bersama orang tuamu?" tanya Ctistin.
"Apakah mereka orang tua kandungmu?" tanya Cristin.
Deg
Gadis itu mendadak tegang dan raut wajahnya langsung berubah.
"A aaku bahkan baru tahu saat ibuku sudah diujung maut. Selama ini aku pikir mereka adalah orang tua yang melahirkan dan membesarkanku, ternyata tidak! saat malam itu ibu baru jujur setelah ia memintaku untuk mencari orang tua kandungku" jelas Aneth menceritakan jalan hidupnya.
"Jadi kamu juga anak angkat? Apa benar kamu saudara kembarku yang juga hilang" Cristin kaget mendengar pengakuan gadis itu.
"Maksudnya?" ucap Aneth tidak mengerti.
"Kata papa aku punya kembar dan terpisah saat musibah yang mengakibatkan mama meninggal" ucap Cristin.
"Saat itu papa pikir anak-anaknya juga tidak selamat sampai beberapa waktu lalu papa menemukanku yang akan dilecehkan dan menyelamatkanku hingga melakukan tes DNA tanpa sepengetahuanku" jelas Ctistin dengan berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apapun tentang siapa aku karena tidak ada petunjuk sedikitpun untukku bisa mencari keluarga kandungku" ucap Aneth sayu.
"Apakah kamu ingin melakukan tes DNA juga sama papa karena kamu dan Cristin bagai pinang dibelah dua" ucap tuan Alex yang sejak tadi diam. Ia langsung mengklaim gadis itu anaknya.
Aneth melongo melihat seorang pria paruh baya berjaket kulit yang masih sangat kuat dan kelihatan sangat menakutkan karena badannya penuh tato.
"Ini papa nak" ucap tuan Alex yang mengerti arti pandangan gadis itu. Cristin terkekeh karena pasti Aneth akan berpikir kalau papanya seorang preman.
"Papa kalau mau lepas rindu peluk ka Aneth aja, sudah pasti ka Aneth puteri papa" ucap Intan santai.
******
Di sebuah rumah yang mewah, seorang pria paruh baya tengah mengamuk saat tahu bahwa puterinya telah bercerai dengan Rian anak seorang terpandang di negeri ini.
"Dasar anak kurang ajar, aku sudah baik hati menolongnya dan menikahkan dengan pria yang tepat malah diceraikan" ucap tuan Farel geram.
"Ayah yang terlalu memanjakannya makanya ngelunjak" ucap isteri Farel mempersalahkan sang suami.
"Diam kamu, syukur aku mau menikahimu yang tidak berguna itu" bentak tuan Farel.
"Apa ayah? tidak berguna? aku bahkan bertahan hingga saat ini walaupun kamu tidak menghargai perasaanku ayah" ucap isterinya dengan suara yang tidak kalah meninggi.
"Dari segi mana yang kamu bilang aku tidak menghargaimu?" tanya tuan Farel sambil melangkah mendekati sang isteri dengan matanya yang sudah memerah seperti iblis sedangkan isterinya meringsuk mundur hingga tubuhnya menabrak tembok dengan tubuh bergetar.
"Aku sudah menafkahimu lahir batin, apa itu masih kurang?" ucapnya pelan namun penuh penekanan.
"Tapi kenapa ayah memaksaku menggunakan alat kotrasepsi agar tidak mengandung anak ayah, apa sebegitu hinanya aku hingga ayah tidak mau aku melahirkan anak ayah?" ucap sang isteri dengan menangis.
Pria bringas itu bahkan menarik isterinya dan berlaku kasar padanya. Hal seperti itu sudah biasa tuan Farel lakukan pada isterinya, padahal ia sangat mencintai isterinya itu. Tapi entah itu cinta atau apa.
"Maaf sayang. Aku hanya tidak ingin kesalahanku dulu terjadi lagi padamu, aku mencintaimu dan cukup aku dan kamu, tidak ada anak diantara kita" ucapnya melemah sambil merengkuh sang isteri yang masih lemah karena tindakannya tadi di ruang tengah.
"Tapi..."
"Ssttt kamu masih muda, jika semua sudah selesai maka aku akan memberi anak untukmu, aku janji" Farel tidak ingin isterinya berbicara.
Memang pria itu sangat mencintai isteri kecilnya yang beda usia mereka sangat jauh 20 tahun.
__ADS_1
Isterinya sempat cemburu suaminya dengan seorang anak remaja yang dibawa pulang dan dijadikan anak angkat mereka karena usia mereka yang tidak jauh berbeda hingga anak angkat mereka dinikahkan dengan Rian Wijaya.
BERSAMBUNG