
"Apa maksudmu?" tanya papa Alex.
"Iya, demi bertahan hidup dan mencari biaya untuk melahirkan, nak Bela harus bangun subuh untuk membuat kue lalu menjualnya di sekolah puteriku yang jaraknya hampir 2km dengan berjalan kaki. Wanita hamil yang seharusnya banyak beristirahat tapi harus bekerja demi menjamin hidupnya sendiri" ucap pria itu berapi-api.
"Maaf," lirih papa Alex yang sangaterasa bersalah.
"Apakah aku bisa menjemput puteraku? ia juga harus mendapat perawatan yang cukup" ucap papa Alex menurunkan sedikit egonya.
"Baiklah tapi jika kamu menyakitinya lagi, aku akan membuat perhitungan denganmu tanpa peduli aku orang miskin." ucap pria itu tegas dan di angguki oleh papa Alex.
📞Halo pa
📞Halo sayang, aku sudah menemukan Bela.
📞Di mana pa?
📞Di rumah sakit keluarga kita, Bakti Husada. kasih tahu Aria untuk menjemput adikmu di kampung. Dia tidak dibawa karena saat ini Bela dalam keadaan koma
📞Baik pa.
Sambungan telepon antara papa Alex dan puteri sulungnya berakhir. Dengan cepat Ika menuju ke ruangan sang adik untuk menyampaikan berita ini.
"De, kaka pergi sebentar sama Aria ya?" ijin Ika kepada Ike.
"Mau ngapain ka?" tanya Ike.
"Papa sudah menemukan isterinya yang dalam keadaan koma. Dan bayi yang dilahirkan saat ini ditinggalkan di kampung tempat ia tinggal selama ini, jadi aku akan menjemputnya" jelas Ika.
"Iya ka, di mana Bela di rawat?" tanya Ike.
"Bakti Husada" jawab Ika yang langsung menuju ke ruangan Aria untuk mengajaknya pergi.
"Ka Ike, aku ikut ya?" ucap Intan.
"Baiklah" jawab gadis itu.
setelah kepergian Ika dan Aria, Ike dan Intan pun menyusul ke rumah sakit saat jam makan siang.
"Ka Ike, apa kamu sudah berdamai dengan masa lalumu?" tanya Intan kepada Ike.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya balik Ike kepada sng adik.
"Secara wanita itu isteri papa dan dia juga wanita yang merusak rumah tanggamu berasama mantan suamimu itu" ucap Intan.
"Menurutmu, siapa yang lebih menderita dengan takdir hidupnya?" tanya Ike.
"Dia, tapi kami juga" jawab Intan.
"Aku butuh satu jawaban yang pasti" ulang Ike lagi.
"Tentu dialah ka" ucap Intan
"Jika demikian maka Aku akan berdamai dengan masa laluku apalagi dia akan menjadi bagian dalam keluarga kita." ucap Ike santai. Senang mengetahui Bela hamil anak papanya, gadis itu melepas semua dendam masa lalunya karena merasa bahwa iya masih lebih beruntung dari pada nasib Bela.
.
.
"Papa... bagaimana keadaannya? kenapa sampai begini?" tanya Ike yang baru masuk bersama Intan.
"Ini semua salah papa nak," ucapa papa Alex sedih karena keegoisannya, Bela ada dalam situasi seperti ini.
"Apakah ka Ika sudah pergi?" tanya Ike yang sudah tidak bertemu dengan kembarannya.
"Apa adikku perempuan?" tanya Ike.
"Dia Laki-laki" jawab papa Alex.
"Ahhh akhirnya keinginanku untuk memiliki saudara laki-laki tercapai juga" ucap Ike dengan senyum bahagianya yang terpancar diwajah cantiknya.
Papa Alex yang melihat kebahagiaan puterinya ikut bahagia namun ada sesuatu yang membuatnya sedih karena wanita berusia 30-an tahun yang ia nikahi itu belum sadarkan diri.
Di tengah kebahagian Ike dan sang papa, ada seorang gadis yang terdiam sejak masuk ke dalam ruang rawat ini, entah apa yang ada dalam pikirannya, namun kekocakannya mendadak hilang sejak tadi.
Apa aku harus bahagia ataukah sedih? apa betul aku tidak salah orang? Batin gadis yang sejak tadi hanya terpaku dan diam saja.
"Nak, kenapa diam saja di sana?" tanya papa Alex kepada gadis yang sudah dia anggap puterinya.
"Ahh tidak pa, Intan mau ke toilet sebentar" ucapnya mengalihkan kedua orang itu.
__ADS_1
Intan melangkah masuk ke dalam toilet yang ada di dalam ruang rawat tersebut, ia berdiri di depan cermin besar yang terpajang di sana, dengan nafas yang memburu gadis itu berusaha menyangkal apa yang dia lihat tadi.
"Tidak mungkin aku tidak mengenalmu, baru 10 tahun bahkan waktu itu aku sudah remaja, tidak mungkin aku melupakan wajahmu walaupun kamu dalam keadaan pucat sekalipun. Apa aku harus bahagia? apa aku harus sedih? ataukah aku harus menertawakan nasib hidup yang seperti ini? ekspresi apa lagi yang harus aku tunjukkan?" ucap Intan sambil menatap bayangan lnya di dalam cermin, seolah ia menuntut jawaban dari seseorang yang ada di dalam cermin tersebut.
Gadis itu menguatkan hatinya dan melangkah keluar setelah membasuh wajahnya untuk menetralkan perasaannya.
Intan menuju ke ranjang rumah sakit di mana wanita itu terbaring, ia berdiri dari sebelahnya lebih tepatnya berhadapan dengan papa Alex yang berada di sisi sebelahnya.
Dengan penuh keberanian, Intan menggenggam telapak tangan wanita tidak berdaya itu dan seolah menyalurkan kekuatannya untuk berbagi penderitaan bersama wanita itu.
Ka Ana, bangunlah, aku tidak punya siapa-siapa selain kamu. Sudah cukup kita terpisah selama sepuluh tahun ini, jangan siksa aku dengan situasi seperti ini. Sebenarnya apa yang kamu alami sampai takdir hidupmu seperti ini? bangunlah, ceritakan semuanya kepada adikmu yang sering membuatmu kewalahan saat bersama dulu. Batin Intan diiringi tetesan air mata yang sudah merembes keluar dari kelopak matanya yang sejak tadi tertutup.
Papa Alex dan Ike dibuatnya heran karena melihat tindakan gadis tersebut.
"Tan, kamu kenapa?" tanya Ike yang sudah berada di samping Intan dan memegang pundak gadis kecil yang sering dia sebut adik.
Intan terkejut dan mbuka matanya, tangannya pun terlepas dari genggaman tadi. Intan yang mendapati Ike ada di sampingnya sontak langsung menghambur masuk dalam pelukan itu.
Ia menangis sesugukkan, berusaha untuk menyangkal kenyataan dan berharap semua ini hanya mimpi belaka.
"Kamu kenapa?" tanya Ike sekali lagi. Sedangkan papa Alex merasa tak karuan, ia mulai menangkap gelagat aneh dari puteri angkatnya dan berharap perasaan itu tidak benar.
Intan tidak mampu untuk berucap walaupun hanya sepatah kata saja.
"Tenangkan dirimu dan ceritakan semuanya untuk kaka dan papa, apa yang membebani perasaanmu sehingga kamu begitu rapuh?" ucap Ike sambil mengusap pucuk kepala Intan.
.
.
.
"Om, apakah masih jauh?" tanya Ika kepada bapa RT yang juga ikut serta mereka di dalam mobil tersebut.
"Iya nona, kita bahkan belum menempuh sebagian perjalanan pun" jawab pria itu.
"Hah? berapa jam perjalanan hingga tiba di sana?" tanya Ika yang begitu gelisah.
"Delapan jam dan bisa sembilan jam perjalanan" jawab pria itu lagi.
__ADS_1
"Kenapa jauh sekali?" gumam Ika yang pikirannya mulai tak karuan, itu artinya mereka akan tiba malam dan harus bermalam di sana.
"Iya nona, sangat jauh dan jalannya kurang baik sehingga babbynya tidak bisa untuk kamu bawa beberapa hari lalu" jelas pria itu membuat Ika menganggukan kepalanya mengerti.