
Sial. Pria ini benar-benar buat aku habis kesabaran. Batin Ike.
Intan mencium gelagat yang aneh dari Raka akhirnya memilih membantu pria itu melancarkan aksinya.
"Ayo ka Ike, iyain aja.. biar lebih cepat move on!" ucap Intan santai dari tempat duduknya.
Raka merasa di atas awan. Namun pria itu sedikit heran kenapa gadis itu memanggil Ike dengan sebutan kaka.
"Dia adikmu?" tanya Raka.
"Iya ka aku si bontot" ucap Intan cepat.
"Nama kamu siapa de?" tanya Raka.
Dengan Percaya Diri Intan bangun dan memperkenalkan diri.
"Aku Intan, kaka?" ucap Intan sekaligus bertanya.
"Aku Raka. Senang berkenalan denganmu" ucap Raka pada Intan keduanya melepaskan jabatan tangan mereka.
Ike memutar bola matanya malas, gadis itu hendak melangkah ke arah kursi kebesarannya namun dengan cepat Raka mencegatnya. Pria itu menggenggam erat tangan Ike dan membawanya keluar.
Sepanjang jalan di koridor, semua mata tertuju ke arah mereka dan tidak bisa dielakan. Keduanya memang sangat serasi. Yang satu tampan dan yang satu cantik. Ike yang tadinya memberontak mendadak anteng dan menurut karena banyak mata yang melihat. Ditambah lagi dengan Raka yang mengancam akan menggendongnya.
"Anak pintar. Kalau tenang begini kan bagus." ucap pria itu sambil mengusap kepala Ike.
Deg
Sentuhan yang membuatnya mabuk. Tapi dengan cepat ia menepiskan tangan Raka.
"Ayo masuk." lanjut Raka saat sudah membuka pintu penumpang yang ada di samping pengemudi. Dengan menurut seperti binatang piaraan, Ike pun masuk ke dalam mobil. Raka sampai tersenyum melihat tingkah Ike yang berubah-ubah itu yang menurutnya sangat menggemaskan.
Keduanya akhirnya meninggalkan perusahaan BBG, yang sebenarnya masih 1 jam lagi untuk makan siang namun Raka memilih membawa Ike pergi sebelumnya.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dari sana, tibalah mereka di sebuah tempat makan yang biasanya didatangi orang-orang kantor saat makan siang. Namun karena belum jam makan siang, sehingga masih agak sepi walaupun tidak sepi amat.
Raka memarkirkan mobil di termpat parkir tapi ia tidak langsung mengaktifkan tombol agar pintu bisa terbuka. Keduanya terdiam beberapa saat hingga akhirnya Raka bersuara.
"Mmm apa perasaan kamu sekarang?" tanya Raka. Ike tidak menjawab, ia hanya memasang wajah dinginnya dan cuek saja.
"Aku tahu kamu gadis yang baik dan periang." ucap Raka berhenti sejenak dan menatap ke arah Ike bertepatan dengan gadis itu menatapnya juga, tapi dengan tatapan yang berbeda. Jika Raka menatapnya dengan tatapan lembut dan tulus, maka tidak dengan Ike yang menatap pria itu dengan tajam dan dingin.
"Keadaan bisa membuat seseorang yang dulunya jahat menjadi baik, yang lembut menjadi kasar atau periang menjadi diam dan dingin" Lanjutnya.
"Aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang sudah kamu lewati hingga kamu seperti ini. Tapi jujur, sejak pertarungan kita di acara nikahan adikku itu, kata-katamu sangat mengganggu pikiranku hingga hari ini. Aku ingin tahu tapi aku sadar, aku bukan orang yang pantas tahu setiap masalahmu. Tapi jika kamu ingin berbagi maka anggaplah aku sebagai orang terdekatmu yang bisa berbagi kesedihanmu" ucap Raka dengan bijak.
Mata Ike tidak berkedip menatap pria yang ada di depannya itu, tapi bagaimanapun mereka baru kali ini mengobrol sedikit lama dan pergi berdua.
"Tidak perlu kamu tahu soal kehidupan orang lain." ucap Ike tegas.
"Iya mungkin untuk kali ini, tapi mungkin juga untuk ke depannya aku harap kamu bisa berbagi" ucap Raka lembut.
Aku tahu itu hanya sebuah benteng yang kamu bangun untuk melindungi hatimu dari rasa traumamu entah apapun itu. Batin Raka
"Oke kita turun, sudah mulai ramai" ucap Raka sambil membuka pintu dan keluar, ia cepat-cepat berlari ke arah samping untuk membuka pintu kepada Ike saat gadis itu masih sibuk membuka sabuk pengamannya.
Ike turun dan keduanya melangkah masuk ke dalam restoran tersebut. Bertepatan dengan itu, entah kesialan sedang memihak pada Ike, gadis itu terpaksa harus bertemu dengan cinta masa lalunya. Siapa lagi kalau bukan Rangga dan Alindi yang juga tengah masuk beriringan dengan mereka ke dalam Restoran tersebut.
"Cristin?" ucap Rangga bahagia karena sekian lama ia akhirnya bertemu dengan gadis pujaannya.
Cristin menegang di tempat, tubuh gadis itu seolah membeku dan hampir tidak bisa melangkah lagi, namun Raka yang peka dengan suasana itu langsung menggenggam tangan Ike sehingga gadis itu kembali ke alam sadarnya.
Cristin dapat melihat, Alindi yang begitu manja dan terus bergelayut di lengan Rangga.
"Sayang, apa kamu mengenal tuan Rangga dan nyonya Alindi?" tanya Raka mulai melancarkan aksinya untuk melindungi gadis itu, entah filingnya benar atau tidak tapi ternyata senjatanya itu diterima dengan baik oleh Ike.
"Iya aku mengenal mereka sayang. Hanya aku kaget karena setelah sekian lama aku akhirnya bertemu dengan mereka lagi" ucap Ike sesantai mungkin karena genggaman tangan Raka seperti kekuatan super yang mengalir ke dalam tubuhnya sehingga menghancurkan semua ketegangan tadi.
__ADS_1
Deg
Jantung Rangga hampir stop mendengar kata sayang yang keluar daru mulut gadis itu.
"Apa kabar ka Alindi, ka Rangga" tanya Ike dengan senyum termanisnya walaupun hatinya masih terluka.
Rangga yang mendengar panggilan ka Rangga dari bibir gadis kecilnya seperti dulu menjadi tersentuh namun wajahnya sudah memerah sejak tadi saat ia menyaksikan kedua tangan itu saling menggenggam dan panggilan sayang yang mereka pakai, beda dengannya yang dulu mengharapkan panggilan itu tapi Cristin tetap keras kepala memanggilnya kaka.
"Eh, Cristin kami baik. Maaf ya saat menikah 3 tahun lalu kami tidak mengundangmu karena tidak tahu di mana keberadaanmu" ucap Alindi memanasi Ike.
Rangga semakin emosi namun ia menahannya.
"Oh ya? aku melanjutkan S3 di luar negeri sekaligus memegang perusahaan papaku di sana. Selamat ya? aku doakan supaya tetap langgeng dan diberi keturunan yang banyak" ucap Ike tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah Alindi yang berubah saat ia menyebut kata keturunan.
"Doakan kami juga untuk cepat menyusul kalian tuan Rangga" ucap Raka membuat ketiga orang itu kaget, dan Ike langsung menunduk malu.
Deg
Utuk kedua kalinya, Rangga tercekat dengan ucapan itu.
"Ya sudah kita masuk dulu sayang, aku sudah lapar" ucap Ike manja.
"Iya sayang. Ayo tuan Rangga, nyonya Alindi" ucap Raka sambil merangkul pundak Ike dan masuk ke dalam.
Raka betul-betul memanfaatkan kesempatan itu walaupun ia tahu bahwa dirinya hanya dijadikan alat untuk balas dendam gadis itu.
Keempat orang itu akhirnya terpisah tempat duduk yang tidak begitu jauh dan hanya terhalang satu meja saja.
Sial, gadis itu memang selalu dapat yang baik. Aku tidak terima, setelah ia menguras habis harta orang tuaku lalu ia pikir akan bebas? Batin Alindi.
Apa kamu sudah melupakan cinta kita sayang? Aku bahkan tidak pernah menyentuh kakakmu karena aku mengharapkan suatu saat kita bisa bersama kembali. Batin Rangga
BERSAMBUNG
__ADS_1