Kau Yang Memintaku Pergi

Kau Yang Memintaku Pergi
Merasa Ditikung


__ADS_3

Ike dan Aria hendak keluar karena siang ini mereka akan makan siang sekaligus meeting dengan sebuah perusahaan asing yang ingin membangun kerja sama.


Ike terkejut saat melihat kembarannya yang baru saja masuk ke sebuah mobil yang sangat ia kenal. Mendadak mood gadis itu hancur, namun ia berusaha tenang karena ia menyadari bahwa antara dirinya dengan orang yang menjemput kembarannya itu tidak ada hubungan yang spesial.


Mungkin takdir hidupku memang seperti ini. Siapa aku? Ka Ika sudah mengenalnya sejak dulu dan tentu saja pria itu lebih tertarik padanya. Batin Ike menjerit.


Sepanjang perjalanannya menuju Restoran tempat mereka meeting, Ike sama sekali tidak bersuara, saat ia akan membuka hatinya melabuhkan hati itu kepada orang yang dia anggap baik, namun kenyataan pahit kembali menghantuinya saat orang yang dia harapkan lebih memilih wanita lain dan itu adalah kembarannya sendiri.


Bayang-bayang Rangga dan Alindy kembali berputar di otaknya. Dan sakit yang sama pun kembali menghantuinya.


Sabar Ike, jangan cepat percaya kepada semua orang, cukup percaya pada dirimu sendiri. Ike kembali membatin.


Aria dan Ike akhirnya tiba di sebuah Restoran yang sudah dipesan, mereka melangkah masuk dengan santai namun Ike harus kembali menahan sakit saat melihat pemandangan yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.


Sepasang pria dan wanita tengah menikmati makan siang dengan aura suka cita yang tidak hilang dari kedua orang itu. Mendapat tempat yang sedikit ke pojokan dan menikmati pemanangan membuat keduanya berbincang sambil terawa entah apa yang mereka bicarakan.


Tanpa mereka sadar ada hati yang terluka menyaksikan keakraban dan keharmonisan mereka.


Ike tidak begitu fokus dengan jalannya meeting bahkan makan yang mereka pesan hanya disentuh beberapa sendok saja.


"Apa nona sakit?" tanya seorang pria paruh baya yang akan bekerja sama dengan perusahaan BBG.


"Ahh tidak tuan, aku hanya kurang enak badan." jawab Ike berbohong.


"Oke baiklah kalau begitu meeting kita sampai di sini dulu. Kita akan membicarakan lagi dilain waktu jika ada kesempatan." ucap pria itu.


Saat Ike tengah asyik berbicara dengan pria itu, ternyata kedua orang tadi sudah pergi meninggakan tempat itu.


"Baiklah, kalau begitu kami kembali ke kantor." ucap Ike sambil berdiri dan berjabatan tangan dengan pria itu.


Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan tempat itu. Setibanya di parkiran kantor ternyata mobil yang tadi menjemput Ika baru keluar, mungkin baru mengantarkan kembarannya itu.


Ike kembali masuk ke ruangannya dan melakukan pekerjaannya dengan tenang walaupun tidak dengan hatinya.


Intan yang hari ini menemani Robi turun lokasi pembangunan membuat Ike benar-benar sendiri di ruang itu.


Ia terus bekerja hingga jam pulang kantor tiba.


Tok tok tok

__ADS_1


"Masuk" ucap Ike dari dalam. Dan kembarannya langsung masuk.


"De sudah jam pulang" ajak Ika pada adiknya karena semua karyawan sudah pulang.


"Ka Ika duluan aja, aku masih menyelesaikan pekrjaanku masih sedikit." elaknya.


"Ya udah kaka tunggu saja" putus Ika.


"Akhh kaka pulang lebih dulu saja" paksa Ike pada kembarannya.


"Sudah kamu kerja cepat, aku akan menunggumu sampai selesai." ucap Ika tegas dan tidak mau dibantah.


Ike mengalah, walaupun kembarannya itu jarang marah dan tidak banyak bicara namun jika dia sudah bertitah maka tidak bisa dibantah. Dalam hati kecil, Ike kecewa dengan saudaranya itu karena jelas-jelas ia sudah tahu bahwa beberapa hari lalu Raka menghabiskan waktu dengannya tapi ia masih terima ajakan Raka.


Mau tidak mau Ike menyelesaikan tugasnya dan mereka pun pulang ke rumah.


Sepanjang perjalan tidak ada yang mengeluarkan suara baik itu Arya, Ika dan Ike. Masing-masing diam dengan pikiran masing-masing hingga tiba di rumah.


Ike langsung turun dari mobil dan pergi begitu saja dan langsung masuk ke kamar. Ika heran dengan tingkah saudaranya yang hari ini sangat aneh tapu ia biarkan, mungkin saja dia kelelahan.


Setelah membersihkan diri, Ika dan Intan bersama yang lainnya langsung turun karena sudah jam makan malam. Ike belum juga menampakan dirinya walaupun semua sudah menunggunya di meja makan.


"Baik tuan" jawab Bi sambil melangkah ke kamar Ike untuk memanggilnya.


Tok tok tok


"Non, tuan suruh turun makan. Katanya ada yang mau dibahas." ujar bibi dari balik pintu.


"Iya bi, nanti aku turun" jawab Ike tanpa membuka pintu kamar.


Bibi melangkah turun dan memberitahukan kepada tuannya dan beberapa saat gadus itu juga turun.


"Apa kamu sakit sayang?" tanya papa.


"Tidak pah, aku hanya kurang enak badan saja" jawab Ike.


"Oke baiklah kita makan malam dulu, ada yang papa mau bicarakan sama kalian bertiga." ucap papa.


Keluarga itupun akhirnya makan dengan tenang tanpa suara hingga makanan yang ada di piring mereka ludes.

__ADS_1


Setelah selesai makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga.


"Apa yang mau papa bicarakan?" tanya Intan yang jiwa keponya selalu muncul lebih dahulu.


"Papa akan menceraikan wanita yang papa nikahi berapa bulan lalu" ucap papa serius.


"Hah? kenapa? apa dia tidak sesuai dengan apa yang papa harapkan?" tanya Ike yang sejak tadi diam mendadak bersuara karena terkejut.


"Papa hanya menikahinya karena waktu itu papa dijebak, dan papa hanya memastikan agar dia tidak hamil benih papa. Tapi sejauh ini dia tidak hamil jadi papa akan melepaskannya." jelas papa tentang kronologi ia menikahi isterinya.


"Terserah papa saja, jika itu tidak merugikan papa" ucap Intan santai membuat Ika dan Ike serentak mempelototinya.


"Apa papa yakin akan menceraikannya? papa bahkan belum meperkenalkan kepada kami" jawab Ika bijak.


"Papa tidak mencintanya dan papa juga tidak nyaman dengannya." ucap papa.


"Baiklah kami hanya menuruti apa perasaan papa selama ini, jika tidak ada kecocokan dalam rumah tangga ya tergantung papa saja" ucap Ike. Ia juga pernah gagal dalam rumah tangga karena itu ia menyerahkan kembali putusan ada di tangan papanya.


"Baiklah, papa hanya ingin hidup bahagia dengan anak-anak papa" putus papa Alex mengakhiri obrolan mereka. Berbeda dengan Ike, walaupun ia mendukung papanya menceriakan wanita yang 3ntah siapa itu tapi ia juga tidak tinggal diam, ia akan mencari tahu, karena sebagai seaama perempuan ia tahu perasaan wanita yang dinikahi dengan gampangnya dan diceriakan juga dengan gampangnya.


Masing-masing kembali ke kamar untuk beristirahat termasuk Ike. Dia lupa akan masalahnya siang tadi dan lebih terganggu dengan masalah papanya.


Setelah masuk ke kamar, Ike tidak langsung tidur tapi ia malah menelepon anak buah papanya untuk tahu kepastian seperti apa wanita yang papanya nikahi.


📱Bagaimana nona, apa ada yang bisa aku bantu?


📱Apa kamu tahu soal wanita yang papa nikahi?


📱 Ammm


📱Jawab jujur Roby


📱Nanti nona temui saja dia di apartemen tuan Alex


📱Hah? jadi selama ini papa menyembunyikannya di sana? Oke


Ike langsung memutuskan telepon sepihak.


Dasar. Anak sama papa sama saja. putuskan telepon tanpa bilang-bilang. Batin Roby

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2