
Ketiga orang gadis itu akhirnya tiba di kantor setelah mengantarkan sang papa yang berangkat ke Paris pagi tadi. Setelah turun dari mobil, ketiga gadis itu melangkah masuk ke gedung pencakar langit itu lalu masing-masing menuju ke tempat kerja.
Seperti biasa, watak ketiga gadis itu berbeda-beda, Intan yang lebih kocak dan kekanak-kanakan sedangkan Ika seorang yang berhati lemah lembut dan tersenyum pada semua orang walaupun kadang bisa menjadi serigala jika menyangkut keadilan dan kebenaran. Ike dialah gadis yang paling ditakuti di kantor ini, ketegasan dan sikap tidak main main bahkan senyum yang tidak pernah dia tampilkan baik di kantor maupun di mana saja kecuali di rumah ia akan menjadi si kancil kecil yang manja dan cerewet. Itulah Ike, semua keadaan hidup yang pernah dia lewati membentuknya untuk terpaksa menjadi wanita kuat dan disegani banyak orang. Benteng yang dia bangun cukup kokoh sehingga banyak pria lajang dari kalangan bisnis yang juga takut mendekatinya.
Setibanya diruangannya Ike langsung duduk di kursi kebesarannya dan mulai melakukan pekerjaannya.
"Selamat pagi nona, hari ini ada pertemuan dengan salah satu perusahaan asing dari luar negeri sebentar jam makan siang di restoran x" ucap Aria.
"Aria, apa tugasmu sebenarnya?" tanya Ike tenang.
"Maaf nona" ucap pria itu yang tahu apa kesalahannya yang sudah dia perbuat. Pria itu kembali melototkan matanya ke arah Intan namun yang ditatap hanya malas tahu tanpa dosa.
"Aku bukan menyuruhmu untuk minta maaf, aku bertanya apa tugasmu sebenarnya hah?" ucapnya dengan suara naik satu oktaf membuat Intan ikut terkejut.
"Aku terpaksa melakukannya karena Intan tidak tahu soal ini" ucapnya pada akhirnya.
"Hah? apa?" tanya Intan saat mendengar namanya disebutkan oleh sang asisten atasannya.
"Kamu itu bego atau pura-pura bego? kalau tidak mampu untuk menjadi sekretaris maka aku bisa memindahkanmu ke bagian klining servis" ucap Ike dengan matanya melotot ke arah Intan.
"Heheheh maaf aku belum terbiasa jadi sekretaris jadi aku masih butuh bantuan kak Aria" ucapnya cengengesan.
"Masa orang secantyik akyu ditempatkan jadi klining serviskan nggak lucu tahu?" ucapnya membuat Ike semakin merasa sakit kepala.
"Ini namanya bukan meminta bantuan Intan, tapi melimpahkan pekerjaan kepada Aria dan kamu duduk santai di dalam ruangan ini. mau aku potong uang makanmu hah?" ucap Ike tegas.
"Ya ellahhhh kaka kyu, masa kamu makan lalu adikmu yang cantyik ini cuma melihat," jawabnya membuat Ike bungkam karena malas merespon gadis gila itu, bisa-bisa dia juga ikut gila.
"Kamu boleh keluar Aria" perintah Ike.
__ADS_1
"Permisi nona" jawab Aria sambil melangkah keluar.
Sejak Intan banyak protes karena ia dipisahkan dengan Ike, maka gadis yang berstatus CEO itu memindahkan adiknya itu untuk satu ruangan denganya.
*****
"Maaf tuan, ingin bertemu dengan siapa?" tanya salah seorang resepsionis.
"Aku ingin bertemu dengan pemimpin perusahaan ini, apa beliau ada?" ucapnya sekaligus bertanya.
"Ada tuan, apa sudah membuat janji sebelumnya?" tanya gadis yang adalah resepsionis itu lagi.
"Sudah," setelah berpikir beberapa saat pria itu akhirnya harus berbohong agar bisa bertemu dengan CEO perusahaan ini.
"Baiklah tuan, silahkan ke lantai paling atas di sana ruangan nona" ucap gadis itu lagi.
Pria itu melangkah memasuki lift menuju lantai yang dia tuju. Setbanya di lantai tersebut, pria itu melihat-lihat dan matanya menangkap sebuah pintu yang paling lain dari model pintu yang lainnya dan dibagian atasnya tertulis R. PRESDIR dia akhirnya mendekat ke sana lalu mengetoknya.
Tiba-tiba pintu itu terbuka lebar, pria itu takjub dengan model pintu istimewa perusahaan ini. Ia melangkah masuk walaupun tidak di persilahkan, Ike bahkan menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Apa tujuanmu datang ke sini? sampai mengelabui semua orang untuk mengijinkanmu masuk tuan yang terhormat?" ucap Ike dengan suara dinginnya.
"Aku hanya ingi bicara denganmu" ucap pria itu dengan suara rendah.
"Apa kita ada janjian untuk membahas sesuatu soal pekerjaan?" tanya Ike lagi.
"Cristin, please, aku mohon kali ini jangan bahas soal kerja" ucap Rian memohon.
"Sayangnya namaku bukan Cristin, aku Ike Kanigara" uucapnya tegas dan tidak ingin nama Cristin di bawa-bawa karena dia sendiri menganggap kalau Cristin sudah mati.
__ADS_1
Rian terdiam. Dia baru tahu jika gadis itu sudah tidak memakai nama Cristin lagi.
Tiba-tiba pintu kembali terbuka, bahkan Rian sama sekali belum dipersilahkan duduk. Rian semakin mematung saat seorang gadis yang melangkah dengan penuh elegan masuk ke dalam ruangan itu membawa beberapa map ditangannya. Gadis yang sangat mirip dengan gadis yang tengah duduk di kursi kebesarannya itu.
Rian, berpikir apa dia salah orang sejak tadi sehingga namanya beda? pria itu diam seribu bahasa karena tidak ada yang berbicara hanya menatap ke arah pintu melihat gadis yang satu itu melangkah masuk.
"Ibu tolong tanda tangani ini, berkas untuk sebentar pertemuan dengan perusahaan dari luar itu. Oh ya satu lagi, sebentar aku sama pak Aria akan keluar untuk kontrol proyek yang sedang dikerjakan itu" ucap Ika menjelaskan semua maksud kedatangannya ke ruangan itu.
"No, kamu sama Intan aku yang sama Aria ketemu klien itu." ucap Ike.
"Ike, kamu gila? masa aku harus sama Intan? perjalanannya jauh loh Ike, bagaimana kami berdua perempuan semua?" ucap Ika.
"Ka Ika berlebihan, ka Ika bisa ajak ka Robi ikut" ucap Ike ketus.
"Ka Ika jangan meragukan kehebatan Intan, Intan bisa menjamin keamanan perjalanan kita loh" ucap gadis itu santai.
"Cikhhh" decit Ika dan melangkah keluar.
Rian yang sejak tadi diam menyaksikan perdebatan ketiga gadis itu menjadi bingung sendiri.
"Tuan boleh duduk karena aku bukan orang jahat yang menyiksa tamu yang datang" ucap Ike kembali dingin.
Rian melangkah ke arah sofa lalu duduk. Ia bingung untuk mengutarakan isi hatinya tapi ia takut salah orang, apa ini yang Cristin atau yang tadi. Tapi setelah melihat tingkah gadis yang bernama Ika tadi cuek dan sama sekali tidak ada wajah terkejut saat melihat Rian, maka pria itu berasumsi jika Cristin yang asli adalah gadis yang duduk sebagai pemimpin ini.
Ike igin pria ini cepat pergi dari ruangannya karena sebentar lagi ia harus keluar bertemu dengan kliennya itu jadi lebih baik melayani pria ini agar cepat pergi dari sini.
Ike melangkah ke arah sofa lalu duduk di salah satu sofa tunggal yang ada di ruangan itu dengan gaya seperti seorang ratu yang tengah duduk.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, maka bicarakanlah karena aku tidak punya banyak waktu" ucap Ike tegas.
__ADS_1
BERSAMBUNG