
Ike yang penasaran dengan ucapan Roby semalam, hari ini ia pergi masih sangat pagi tanpa memberitahukan siapa-siapa di rumah itu.
Dengan menyetir sendiri gadis itu akhirnya tiba apartemen papanya yang dimaksud. Tak dapat dipungkiri bahwa tempat itu masih sangat sepi karena kebanyakan orang mungkin masih tidur.
Dengan tergesa-gesa Ike menuju ke lantai atas tepatnya tempat di mana isteri papanya berada. Rasa penasaran yang begitu besar membuat gadis itu semangat melakukan hal ini.
Saat tiba di depan pintu apartemen papanya Ike membunyikan bel karena memang ia tidak tahu paswordnya.
Bela sedikit heran karena baik suaminya maupun anak buah suaminya jika datang ke apartemen ini tidak pernah membunyikan bel dan akan masuk begitu saja kecuali kamar.
Dengan rasa penasaran Bela cepat-cepat mengambil baju kebesarannya dan melangkah keluar dari kamar untuk membuka pintunya.
Begitu pintu terbuka, kedua-duanya sama-sama terkejut.
"Ka kamu?" ucap Ike tidak habis pikir.
"Kenapa kamu ada di apartemen papaku hah?" bentak Ike
Deg
Seolah jantungnya berhenti berdetak saat mengetahui kenyataan bahwa pria yang dia nikahi beberapa bulan lalu adalah papa dari gadis yang pernah jadi rivalnya.
"Oh jadi kamu wanita yang dinikahi papaku? cih murahan. Apa suamimu tidak begitu kaya sehingga kau menjebak pria tua yang kaya? jangan harap kau akan berhasil. Bersiap-siaplah untuk diceraikan papaku dalam waktu dekat" ucap Ike berapi-api sambil melangkah masuk tanpa permisi.
Deg
Untuk kedua kalinya ucapan Ike telak di jantungnya. Mendengar kata cerai, wanita hamil itu menjadi tak karuan antara senang dan juga sedih.
Bela yang dulunya di atas awan kini seperti bukan dirinya, lebih banyak diamembiarkan orang lain mencacinya.
"Kenapa diam? kenapa tidak memohon jangan diceraikan agar tujuanmu menguasai harta papaku bisa tercapai, iya kan?" ucap Ike merasa tidak puas karena belum mendengar alasan wanita ifu sampai menikahi papanya.
"Aku sudah siap jika pria itu menceraikanku, aku juga korban dalam jebakan itu. Kamu benar, aku hanya seorang wanita murahan yang dinikahi pria yang kamu sebutnya papa. Seandainya aku punya orang tua, pasti mereka akan mendidik aku untuk tidak melakukan hal sekeji ini, tapi sayang aku tidak punya." ucab Bela sambil tersenyum tulus, ia berusaha menyembunyikan luka batinnya.
Deg
Kali ini Ike yang tercekat. Kata orang tua meruntuhkan egonya yang terlanjur dia bangun sebagai tembok kebencian kepada wanita di depannya itu.
"Lalu apakah kamu ingin bercerai dengan papaku?" tanya Ike sedikit melunak.
__ADS_1
"Iya" lirihnya sambil melangkah ingin masuk ke kamar. Gerakannya membuat Ike menangkap sesuatu yang aneh dari tubuhnya.
"Apa kamu yakin akan hal itu? Apa selain kamu egois karena merampas suami orang lain, apa kamu juga tidak egois jika tidak terbuka dengan kenyataan hidupmu?" ucap Ike tegas membuat Bela berhenti.
"Maaf jika pertemuan kita sebelumnya aku banyak melukaimu, karena itu ijinkan aku untuk mengakhiri semua ini, biarkan aku egois untuk sekali ini lagi" ucap Bela yang curiga jika Ike tahu perubahan tubuhnya. Wanita itu kembali melangkah masuk ke kamar yang ditempatinya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga kamu berakhir menikahi papaku. Aku tidak akan membiarkan papa menceraikanmu walaupun kamu pernah menyakitiku sebelumnya. Batin Ike sambil melangkah keluar dari apartemen itu.
Ia sudah merencanakan untuk berbicara dengan papanya malam nanti untuk membatalkan niatnya menceraikan Bela. Dalam hal ini, Ike mengesampingkan perasaan masa lalunya.
Setelah kepergian Ike beberapa menit lalu, papa Alex dan pengacaranya tiba di apartemen yang ditempati oleh Bela.
Tok tok tok
Papa Alex mengetuk pintu kamar Bela.
Wanita itu kembali keluar dengan masih menggunakan pakaian tadi.
"Ada apa tuan?" tanya Bela yang baru sajabuka pintu kamar.
"Ikut aku" perintah suaminya.
"Keluarkan surat cerainya" ucap papa Alex kepada pengacaranya.
Deg
Baru saja dia mengucapkan bahwa ia siap untuk bercerai tapi kini hatinya berat. Mungkin sudah saatnya anak itu hidup tanpa ayah.
"Tanda tangani ini" ucap papa Alex sambil memberikan map yang baru dia terima dari sang pengacara.
Bela menatap map itu beberapa detik dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang kamu pikirkan? aku akan memberi kamu uang sesuai yang kamu inginkan, asal kamu mau menanda tangani berkas perceraian ini." ucap papa Alex dingin.
"Baiklah aku tanda tangani" ucap wanita itu sambil mengambil map tersebut dan membubuhkan tanda tangannya di sana.
"Ini" ucap papa Alex sambil menyodorkan sebuah cart berwarna emas kepada wanita itu.
"Maaf tuan, aku tidak menerimanya." ucap Bela menolak.
__ADS_1
"Lalu kau mau apa?" tanya papa Alex heran karena wanita itu sangat jual mahal.
"Aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin pergi dari sini secepatnya" ucap Bela santai.
"Jika itu yang kamu inginkan, silahkan pergi dari apartemenku sebelum anak-anakku mendapati kamu di sini" ucap papa Alex dengan nada mengusir.
"Baik tuan" jawab Bela dengan melangkah ke kamarnya mengambil tas kecilnya di kamar dan berlalu pergi tanpa membawa pakaian atau apapun.
Papa Alex merasa lega karena akhirnya ia bisa melepaskan wanita perusak rumah tangga puterinya. Ia akhirnya pergi meninggalkan apartemen itu dengan pengacaranya.
Di tempat lain, Bela yang tahu jika mantan suaminya itu adalah seseorang yang cukup berpengaruh makanya ia pergi tanpa membawa apapun agar tidak bisa dilacak nantinya. Ponselnyapun tidak ia bawa, hanya ATM yang mengisi simpanan selama ia bekerja sebagai seorang model. Bela juga mengambil uang tunai dalam jumlah yang banyak untuk biaya hidupnya hingga anaknya lahir nanti, karena ia berencana akan pergi dari kota ini.
Bela akhirnya memutuskan pergi ke sebuah desa yang tidak ada seorangpun yang mengenalinya. Bermodalkan cincin nikah yang masih melekat di dari manisnya maka akan membantu melindunginya dari cibiran orang-orang.
Delapan jam berada di jalan akhirnya Bela tiba di tempat tujuan yang baru pertama kali dia datangi.
Di Mansion Kanigara
Ike dan kedua saudaranya baru pulang dari kantor. Mendapati papa sementara bersantai di ruang keluarga.
"Akhhh" ujar Ike merasa lega ketika menghempaskan tubuhnya di sofa tunggal yang ada di depan papanya.
"Ganti dulu pakaiannya sayang" ucap papa yang melihat kedua puterinya ikut duduk. Kali ini mereka enggan masuk kamar tidak seperti biasanya.
"Papa, ada yang mau aku bicarakan" ucap Ike dengan nada serius membuat sang papa mengernyitkan keningnya.
"Apa itu?" tanya papa penasaran.
"Aku mau papa batalkan perceraian itu" ucap Ike tegas.
Deg
Papa terkejut dengan tindakan puterinya.
"Maaf nak, papa sudah menceraikannya pagi tadi. Ia sudah menandatangani surat cerai dan sudah pergi dari apartemen" ucap Papa membuat Ike melonjak.
"Apa????" teriak Ike membuat semua orang kaget.
BERSAMBUNG
__ADS_1