
FLASH BACK
# Selamat pagi tuan
# mulai hari ini tugas kamu menjaga wanita yang aku nikahi itu berakhir, karena aku sudah menceraikannya jadi tidak perlu kamu mengawasinya lagi.
# Baik tuan.
Dari balik pintu, Bela mendengar ucapan papa Alex yang membuat hatinya sangat sakit.
"Baiklah, karena kamu yang melepaskanku maka aku akan menujukan kepadamu kalau aku bisa hidup sendiri bersama anakku nanti" Gumam Bela sambil menghapus air matanya dengan kasar.
Hampir selama 4 bulan Bela susah untuk keluar karena penjagaan yang cukup ketat terhadap dirinya. Namun kali ini Bela bisa lolos begitu saja karena para anak buah yang sudah melepas tugas sesuai dengan perintah bos mereka
OFF
Alex kesulitan menemukan jejak Bela karena kelalaiannya sendiri yang memerintahkan para anak buahnya sehingga Bela lolos begitu saja dari jangkauannya.
# Halo tuan
# Bagaimana, kamu sudah menemukan titik terangnya?
# Belum tuan, kami hanya mendapat tempat persinggahannya yang terakhir yaitu di salah satu ATM di pusat kota tapi setelah itu tidak ada lagi petunjuk karena dia pergi tanpa membawa ponselnya.
#Cari tahu di rumah orang tua angkatnya dan cari tahu juga di tempat yang pernah dia singgahi dulu termasuk teman-temannya.
Setelah memerintahkan anak buahnya untuk mencari Bela di seluruh sudut kota namun hasilnya tetap nihil. Papa Alex juga menelepon anak buahnya yang ada di Paris untuk memastikan tempat-tempat yang dulu di datangi oleh Bela tapi hasilnya sama. Bela hilang bagai ditelan bumi.
__ADS_1
Papa Alex frustrasi jika Bela nekad untuk melukai dirinya sendiri juga anaknya. Bayang-bayang pembunuhan mendiang isterinya kembali berputar di otaknya. Pria itu takut bahkan sangat takut membayangkan hal serupa terjadi pada wanita yang tengah hamil anaknya itu.
"Apa lagi yang harus aku lakukan, aku tidak mau anakku terlantar di luar sana. Sudah cukup kedua puteriku terbuang selama puluhan tahun. Bela, kembalilah jangan menyusahkan dirimu sendiri, ingatlah ada satu nyawa yang harus kamu jaga" gumam papa Alex yang sudah tidak tahu arahnya kemana lagi ia mencari wanita yang sudah dia usir itu.
Di belahan bumi yang lain.
Di tengah kekalutan sang mafia yang terkenal kejam dan dingin, berbeda dengan seorang wanita yang mulai menerima kenyataan hidupnya yang pahit itu. Hidup di tengah-tengah orang-orang di desa membuat Bela belajar kehidupan yang sesungguhnya. Walaupun hidup sederhana namu Bela bahagia karena semua yang dia jalani tidak ada drama ini dan itu, semuanya kelihatan sangat natural apalagi pak RT dan isterinya yang mengijinkan puteri mereka untuk tinggal bersama Bela.
Bela bahagia karena ada malaikat kecil yang dikirim orang tuanya untuk menemaninya. Bela yang sudah berhenti mencari adik kandungnya sejak beberapa tahun belakangan ini karena semua cara sudah dia pakai namun hasilnya tidak ada.
Bela sempat menyerah dalam hidupnya ketika diusir oleh mantan suaminya tapi akhirnya dia sadar bahwa sebentar lagi dia akan punya teman di dunia ini karena itu dia punya semangat lagi tapi dia sudah memutuskan untuk hidup di desa bahkan keturunannya tidak boleh lagi kembali ke kota, itulah tekad Bela.
"Nana, ayo cepat sayang nanti telat ke sekolah." ucap Bela yang menata kue-kue yang dia buat ke dalam keranjang jualan karena mulai hari ini ia akan berjualan kue untuk menyambung hidupnya di desa ini. Ia akan menjualnya di halaman sekolah Nana.
"Iya ka, Nana sudah selesai bersiap" ucap gadis kecil itu sambil melangkah keluar dari kamar yang keduanya tempati dengan membawa tas sekolahnya.
"Tidak bu, aku akan belajar mulai dari sekarang karena aku bukan lagi orang kota tapi aku sudah jadi orang kampung" ucap Bela sambil cengengesan.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati ya. Dan jika jualannya sudah selesai jangan dulu pulang, tunggulah sampai Nina keluar sekolah. Jangan jalan sendiri-sendiri" ucap mamanya Nana.
Keduanya berjalan meninggalkan wanita paruh baya itu, Bela kelelahan saat belum setengah perjalanan. Nana yang melihat itu mengambil alih keranjang dan memeberi tasnya untuk di bawa oleh Bela.
"Ka, kalau cape kita istirahat dulu" usul Nana.
"Jangan nanti kamu terlambat masuk kelas." ucap Bela sambil terus melangkah dan keduanya saling bergantian membawa keranjang kue.
Hampir satu jam berjalan kaki akhirnya Bela lega saat Nana menunjukan gedung sekolah yang mulai kelihatan.
__ADS_1
"Ka, itu sekolahnya Nana." ucap Nana sambil menunjuk ke arah gedung itu.
"Akhhh baiklah akhirnya kita sampai juga." jawab Bela membuang nafas kelelahannya.
"Nanti kaka duduk di bawah pohon itu, anak-anak akan jajan saat jam istirahat nanti." ucap Nana menunjukan ke arah salah satu pohon yang ada di dekat pagar sekolah.
Tidak lupa Nana mengantarkan Bela ke sana walaupun bel masuk sudah berbunyi. Bela meletakkan keranjang kuenya di atas rumput hijau di sana dan iapun duduk di sana seorang diri karena murid-murid sudah masuk kelas sehingga keadaan sangat sepi.
Bela tersenyum kecut mengingat takhdir hidupnya yang sangat lucu menurutnya. Kehidupan yang serba wah, mendadak hilang dalam sekejap, kini ia hanya menjadi seorang penjual kue. Pekerjaan yang dulu tidak pernah dia impikan, namun demi nasib anakanya nanti ia rela melakukan apapun.
"Maafkan mama sayang, kamu harus belajar hidup sederhana dari sekarang, kamu tidak sendirian karena akan ada mama yang selalu ada bersamamu, kita akan hidup berdua sampai maut yang memisahkan kita. Jangan tanyakan tentang papamu jika kamu sudah mulai mengerti nanti, karena kita bukan siapa-siapa untuknya. Papamu terlalu jauh untuk mama jangkau apalagi kamu. Tumbuhlah jadi anak yang baik ya sayang" gumam Bela sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit walaupun baru berusia tiga bulan.
Bela sesekali menguap karena mengantuk. Seorang ibu hamil yang seharusnya banyak istirahat namun tidak dengan Bela yang harus bekerja. Setelah beberapa jam duduk sendiri, terdengar lonceng istirahat berbunyi sehingga membuat Bela memperbaiki posisi duduknya di atas rumput hijau itu.
Anak-anak mulai berdatangan, rupanya Nana sudah mempromosikan kue terenak ala kakanya Bela sehingga anak-anak langsung menyerbu kue jualan Bela, tidak lupa Nana yang turut membantu sang kaka untuk melayani anak-anak yang membeli kue itu. Dalam waktu beberapa menit, kue yang dibawa oleh Bela dan Nana habis tidak tersisa.
"Nana, kuenya enak sekali." ucap teman-teman Nana,
"Iya kaka yang jual juga cantik sekali" sambung yang lain.
"Kaka cantik, esok jual lagi ya"
Banyak ucapa-ucapan memuji yang keluar dari anak-anak kecil itu. Bela bahagia karena usahanya tidak sia-sia. Wanita hamil itu bertekad untuk terus berjualan setiap hari nantinya.
Anak-anak kembali masuk ke kelas dan Bela kembali menyendiri hingga jam pulang sekolah.
BERSAMBUNG
__ADS_1