
Waktu terus berjalan hingga saat ini sudah 6 bulan berlalu dan itu artinya usia kandungan Bela sudah 9 bulan. Selama enam bulan itu pula, papa Alex terus berjuang mencari Bela yang menghilang bersama anak dalam kandungan wanitanya. Pria itu tahu bahwa kandungan Bela baik-baik saja karena sejak kepergian wanita itu, tuan Alex mulai merasakan keanehan dalam dirinya. Ia sampai mendatangi dokter spesialis sekalipun namun tidak ada penyakit yang terdeteksi oleh alat medis.
Hingga dokter menjelaskan bahwa itu adalah gejalan kehamilan simpatik. Sampai saat ini tuan Alex masih merasakan hal itu sehingga ia yakin bahwa wanita itu tidak menggugurkan anak mereka.
"Di mana kamu, kembalilah bersamanya. Aku harus melakukan apa lagi agar kamu kembali?" Lirih tuan Alex yang merasa sangat sedih malam ini entah kenapa, pria itu sangat gelisah. Ia memperdiksi, jika Bela hamil sejak mereka melakukan hubungan dimalam itu maka saat ini usia kandungan Bela sudah 9 bulan dan itu artinya dia dalam masa penantian untuk melahirkan.
Papa Alex kembali membayangkan nasib kedua puterinya yang tumbuh dewasa diluar sana dan mungkin anaknya inipun akan mengalami nasib yang sama.
"Maaf" lirihnya. Hampir setiap hari pria yang terkenal kejam itu melakukan hal yang sama. Semua jalan buntuh, tidak ada satupun titik terang tentang dimana wanita yang pernah jadi isterinya itu berada.
Akan ada orang hebat berada di titik terendah, dan itulah papa Alex saat ini. Wanita yang selama ini dia abaikan dan merendahkan itu ternyata benar-benar meninggalkannya.
"Maafkan papa nak, di mana pun kamu berada dan jika kamu lahir jangan buat mama sakit ya, kasian dia sudah banyak menderita" pria itu baru menyadari akan semua yang dia lakukan pada mantan isterinya itu.
Hari ini dia sangat gelisah, ia juga merasa takut entah apa itu ia sendiri tidak tahu.
******
Di tempat lain.
"Huh huh huh" Bela tengah berada di sebuah klinik kecil, dan karena pembukaannya belum lengkap, bidan desa itu menyuruhnya untuk bejalan-jalan di sekitar klinik tersebut.
Dengan setia, ibunya Inana menemaninya karena ia tidak memiliki siapa-siapa.
"Bu, aku tidak sanggup lagi" ucap Bela sambil meringis.
"Kalau begitu kita masuk saja" jawab ibunya Nana yang merasa ibah dengan Bela.
Mereka akhirnya melangkah masuk, Bela kembali berbaring di atas ranjang rumah sakit itu.
"Baiklah ibu, kita akan priksa sebentar ya?" ucap bidan.
__ADS_1
Bidan desa itu akhirnya kembali melakukan pemeriksaan dan ternyata sudah pembukaan lengkap.
"Ibu sudah siap ketemu dede bayinya?" ucap sang bidan sambil mempersiapkan alat-alat lahirannya.
"Sekarang sudah pembukaan lengkap jadi ibu ikuti instruksi saya ya? jangan takut, rilex saja" ucap bidan tersebut.
.
.
Setelah 30 menit kemudian, terdengar tangisan bayi yang sangat kuat. Bela tersenyum puas, akhirnya ia bisa melahirkan normal.
"Ini bu, anaknya laki-laki dan semuanya normal" ucap bidan sambil meletakan bayi yang masih penuh darah itu di atas dada Bela.
Wanita itu meneteskan air mata. Ia mulai punya semangat hidup ketika melihat puteranya lahir dengan baik.
Beberapa saat kemudian, mata Bela tertutup dan tangan yang tadi menahan anaknya melemah. Melihat kondisi itu, bidan dan para perawatnya mulai panik. Kondisi ibu yang baru melahirkan itu tiba-tiba drop, padahal sejak tadi semuanya baik-baik saja.
"Ibu, maaf kami harus membawa pasien rujukan ke kota, untuk itu kami minta ibu untuk menjaga bayi ini. Mengingat perjalanan yang jauh dengan kondisi jalan yang rusak, terpaksa kami tidak bisa membawa anaknya." jelas bidan Desa itu sambil melangkah pergi karena sirene ambulance sudah berbunyi tanda mobil akan segera keluar.
Cepatlah sembuh agar bisa membesarkan puteramu. Batin ibunya Inana sambil menggendong bayinya Bela pulang ke rumah.
Rombongan dengan mobil ambulance yang membawa Bela telah tiba di runah sakit kota.
Pasien dipindahkan ke ranjang Rumah Sakit dan di bawa ke ruang UGD terlebih dahulu.
"Keluarga pasien" tanya seorang dokter yang baru selesai memeriksa Bela.
"Saya yang bertanggung jawab dok. Bagaimana keadaannya?" tanya bapa RT yang adalah ayah dari Inana.
Pria itu terpaksa ikut ke Rumah sakit kota karena isterinya harus mengurus bayi dari Bela.
__ADS_1
"Pasien punya riwayat penyakit yang komolikasi jadi jika berkenan, harunya di rujuk saja ke rumah sakit yang alatnya lebih memadai. Kita tidak bisa berlama-lama karena bisa berbahaya bagi pasien karena ia juga hampir kehabisan darah." jelas dokter membuat bapa RT panik.
Pria itu tidak langsung mengambil keputusan, ia melangkah pergi menjauh dari orang-orang di sana dan mengeluarkan ponsel jadulnya lalu menghubungi sang isteri.
📱Halo ayah.
📱Bun, pasien harus di rujuk lagi ke Rumah Sakit yang ada alat lengkap karena nak Bela punya penyakit komplikasi.
📱Hah? ya sudah, ayah iakan saja nanti kita jual saja salah satu bidang tanah sama ternak-ternak yang penting nak Bela sembuh, kasihan babynya.
📱Baiklah bunda. Ayah tutup dulu.
Perbincangan bapa RT dan isterinya pun berakhir sehingga pria itu kembali masuk untuk memberi keputusan.
Setelah keputusan di ambil, dokter dan para perawat mulai bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan yang akan memakan waktu hampir seharian lagi. Dengan infus, O2 dan kantong darah yang tetap terhubung ke tubuh pasien, mereka kembali membawa Bela menuju rumah sakit besar yang di maksudkan.
Perjalanan yang cukup jauh dan lama itu mereka tempuh, dalam hati bapa RT ia terus berdoa agar wanita yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri itu bisa selamat dari sakitnya.
Mereka akhirnya tiba di sebuah rumah sakit dengan gedung yang menjulang tinggi.
"Dok, ini pasien dari kota K yang di rujuj ke sini" ucap seorang perawat yang diutus bersama ke sana.
Melihat dari penampilan mereka yang mengantar pasien, membuat orang tidak mempedulikan mereka.
Sekuat tenaga mereka memohon tapi malah di suruh tunggu, bahkan Bela yang sudah di bawa masuk ke salah satu ruang periksa namun tidak seorang dokterpun yang datang untuk menanganinya.
Bapa RT semakin frustrasi, tapi sebagai orang rendahan apa mau di kata.
. . .
Samar-samar, seseorang mendengar pria paruh baya yang tengah memohon kepada dokter untuk kiranya memeriksa puterinya yang sudah sekarat itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG