Kau Yang Memintaku Pergi

Kau Yang Memintaku Pergi
Kekerasan Tuan Alex


__ADS_3

"Tuan, aku mohon turunkan aku. Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi, aku bahkan akan pergi sejauh mungkin" ucap bela memohon. Ia tidak mau berurusan lagi dengan yang namanya pri kaya, hidupnya sudah cukup rumit. Ayahnya yang kaya raya membuat mereka berakhir dengan kehancuran.


"Bisa diam tidak?" bentak tuan Alex membuat Bela ketakutan. Wanita itu seketika diam.


Perjalanan mereka akhirnya lebih tenang setelah Bela berhenti merengek karena dibentak, hingga sampailah mereka di sebuah apartemen yang sangat mewah.


"Ayo turun" ajak tuan Alex kepada Bela.


"Ini di mana tuan?" tanya Bela.


"Aku bilang turun, apa susahnya sih?" ketus tuan Alex.


Mereka akhirnya masuk ke dalam apartemen itu, lebih tepatnya tuan Alex membawanya masuk ke kamarnya.


"Biar aku di sini saja tuan" ucap Bela berusaha melepaskan genggaman tangan tuan Alex yang hendak membawanya ke kamar.


"Cih, jual mahal. Aku mengajakmu ke kamar agar kamu bisa beristirahat, memangnya kamu tidak lelah dengan semua masalah yang menimpamu?" ucap tuan Alex sinis.


Bela akhirnya menurut dan masuk ke kamar tersebut, ia bingung mau berbaring di mana, mau di atas tempat tidur atau di sofa?. sementara tuan Alex sudah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lagi.


Clekk


Beberapa saat kemudian, tuan Alex keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya sehingga menampakan roti sobeknya. Bela yang masih berdiri sambil bengong di kamar itu, refleks menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu.


"Kenapa masih berdiri di situ?" tanya tuan Alex dengan nada sinis.


"Aku..." ucapnya terputis karena tuan Alex yang sudah berdiri di belakangnya lalu memegang kedua sisi pundaknya dan menuntunnya ke tempat tidur.


"Tunggulah di sini, aku masih bertukar pakaian" ucap tuan Alex sedikit melunak dan melangkah masuk ke ruang ganti.


Beberapa saat kemudian pria itu keluar dengan pakaian santainya dan langsung duduk di samping Bela yang tengah duduk diujung tempat tidur.


"Dimana orang tuamu tinggal?" tanya tuan Alex.


"Aku tidak punya orang tua" jawab Bela dengan suara lirih.


"Kau seorang yatim piatu?" tanya tuan Alex lagi.

__ADS_1


"Iya" jawabnya singkat. Wanita itu sudah menunduk sejak tadi, jika sudah bicara soal keluarga atau orang tua maka bawaannya pasti menangis, tapi untuk saat ini ia berusaha menahan agar tidak menangis di depan pria itu. Ia tidak mau dicap sebagai wanita lemah.


"Lalu aku harus ijin kepada siapa untuk menikahimu?" tanya tuan Alex lagi dan lagi.


"Aku hanya punya orang tua angkat sejak musibah yang menimpa keluargaku, tapi aku harap jika tuan tidak minta ijin padanya" ucap Bela dengan suara yang semakin menghilang.


"Kenapa? kenapa aku tidak boleh?" rentetnya.


"Semua orang pasti tahu siapa itu Farel Tan" ucapnya tenang membuat tuan Alex terkejut.


"Hah? kau puteri pria brengsek itu hah?" emosi tuan Alex tiba-tiba naik, pria itu tidak dapat mengontrolnya sehingga ia bangkit dan mencekik Bela saat itu juga.


Bela yang tidak tahu menahu apa kesalahannya, memilih diam tanpa melawan, ia pasrah jika saat ini menjadi hari terakhirnya melihat dunia ini.


Otak tuan Alex cepat berputar dan dan bekerja dengan normal, ia kembali mengingat soal Bela yang mengatakan kalau dia anak angkat dan dia melarang tuan Alex untuk tidak meminta ijin pada papa angkatnya itu. Dengan cepat ia melepas tangannya yang sedang mencekik gadis itu walaupun terlambat karena gadis itu terlanjur pingsan.


"Cepat suruh dokter datang ke apartemenku, cepat!!" teriak tuan Alex pada asistennya melalui telepon.


"Baik tuan" ucap asistennya padahal ponselnya sudah terputus sambungan telepon itu.


tuan Alex sangan merasa bersalah ketika otaknya bekerja dengan baik, ia kembali memutar setiap ucapan gadis itu yang seolah hidup penuh tekanan.


"Aku tidak tahu seperti apa hidupmu tapi aku mohon bertahanlah" gumam tuan Alex dengan frustrasi.


tok tok tok


Jems dan sang dokter sudah tiba di apartemen itu dan sedang mengetok pintu kamar tuannya.


Clekk


"Dok, periksalah dia terlebih di bagian lehernya" ucapnya tegas.


"Baik tuan" ucap dokter yang langsung mengeluarkan alatnya untuk menangani bela.


"Dia hanya sesak nafas dan syok saja tuan, sebentar lagi akan siuman" ucap dokter setelah menyelesaikan tugasnya.


"Kalau begitu saya permisi tuan" ucap dokter sambil memasukan kembali alatalatnya ke dalam tas dan keluar dari kamar itu dengan diantar oleh jems.

__ADS_1


Tuan Alex duduk di samping Bela sambil menggenggam tangan gadis itu, Ia hampir saja membunuhnya jika otaknya tidak bekerja dengan cepat.


(Dengan aku menikahimu, aku bisa punya senjata untuk melenyapkan si Farel brengsek itu) batin tuan Alex yang tahu kenyataannya jika Bela adalah anak angkatnya Farel Tan, si musuh buyutannya.


*****


Ika dan adik-adiknya tengah bersantai di taman yang ada di samping mansion. ketiga gadis itu akhirnya bisa punya waktu untuk bersantai karena weekend.


"Ke, aku kog masih kepikiran ya?" ucap Intan sambil memasukan satu potong buah apel ke dalam mulutnya.


"Pikirin apa?" tanya Ike sinis.


"Itu loh yang kamu bilang waktu itu" ucapnya lagi membuat Ike menatapnya tajam karena gadis yang dia anggap adik itu betul-betul menguji kesabarannya. sejak tadi bicara tapi entah apa maksud pembicaraannya itu.


"Bilang apa? kamu kalau ngomong yang jelas ya!" ucap Ike yang mulai kesal.


"Kamu kan pernah bilang ke aku kalau kamu pernah menikah kan? nah, apa yang datang ke kantor kemarin itu mantan suamimu?" tanya Intan membuat Ika terkejut kalau adiknya pernah menikah.


"Iya," jawab Ike singkat.


"Hah? jadi si ganteng yang kemarin datang ke kantor itu benaran suamimu?" tanya Intan yang mulai histeris karena ternyata pria kemarin bukan pria sembarangan.


"Ralat. Mantan suami bukan suami, oke?" ucap Ike membenarkan ucapan saudaranya yang rese itu.


"De, apa benar kamu sudah menikah?" tanya Ika dengan nada lembut dan memang itu gayanya yang membedakan dia dengan adiknya itu.


"Iya ka, aku memang benaran pernah menikah. Tapi lebih tepat, kami menikah karena aku yang menjebaknya" ucap Ike yang mulai santai tidak kesal seperti tadi lagi.


"Hah? menjebak?" ucap Intan kembali dengan nada tinggi.


"Hoh hah hoh hah kamu tu kalau bicara difilter dulu kenapa sih? kaya ada ledakan bom saja" gerutu Ike kembali kesal jika sudah bicara dengan Intan.


"Maksud kamu?" tanya Ika penuh penasaran.


"Waktu itu, aku diusir dari rumah papa sama mama angkatku karena mempertahankan kekasihku yang malah memilih untuk menikah dengan kaka angkatku. Aku benar-benar syok waktu itu, aku keluar tanpa membawa apapun kecuali pakaian yang aku pakai. Hand phone, dompet dan semuanya disita oleh papa, aku tidak tahu harus kemana sementara hari sudah sangat gelap. Aku memilih datang ke taman dimana aku dan kekasihku itu bertemu untuk pertama kali. Karena kelelahan, aku tertidur di bangku taman dan dia datang hendak membangunkanku karena pengunjung sudah pada pulang, tapi aku mengambil kesempatan itu dan membalikkan fakta jika ia ingin melecehkanku sehingga aku menuntutnya menikahiku. Sebenarnya aku melakukan itu agar aku bisa mendapat tempat untuk bertedu. pernikahan kami tidak berlangsung lama, karena aku memilih pergi saat malam dimana ia menikah dengan kekasihnya" jelas Ike panjang lebar, namun diakhir penjelasannya, Ika bisa menangkap nada getir dan kecewa yang mendalam di sana.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2