
Hari ini, Aria dan Ika kembali ke kota dengan membawa baby dari Bela. Mereka tidak kembali sendiri tapi Nana dan sang ibu juga ikut serta dengan mereka karena bayi itu yang tidak mau lepas dari delapan wanita paruh baya itu.
"Bu, apa sebaiknya ibu juga ikut ke kota" ucap Ika kepada wanita yang tengah memangku bayi itu.
"Apakah harus?" tanya ibunya Nana.
"Bukankah ibu juga ingin tahu keadaan Bela?" ucap Ika lagiembuat wanita itu mengangguk sedih.
"Bu, Nana juga mau ikut. Nana pengen melihat keadaan ka Bela" ucapnya memelas.
"Iya de, kamu juga bisa iku" jawab Ika.
"Bagaimana pak" tanya Ika terhadap bapak RT yang baru pulang bersama mereka ke kampung semalam.
"Pergilah bersama ibu dan Nana, bapak akan tingga yang penting perhatikan nak Bela agar cepat pulih" pesan pria itu.
"Baiklah pak, kalau begitu kami pamit kembali ke kota" ucap Ika sambil membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
"Hati-hati di jalan" setelah pamit, ke lima orang termasuk bayi itu akhirnya masuk ke dalam mobil dengan masih tetap dalam dekapan ibu tadi.
Ika dan rombongan akhirnya pulang ke kota dengan membawa bayi laki-laki yang tertidur pulas di pangkuan ibu tadi.
Perjalanan mereka cukup memakan waktu sehingga mereka baru tiba saat sudah sangat sore. Perjalanan yang harus penuh dengan Hati-hati karena mereka membawa dengan seorang bayi yang masih sangat lemah.
"Pa, bagaimana keadaannya?" tanya Ika yang baru masuk dan diikuti oleh seorang ibu yang menggendong bayi dan seorang anak gadis yang sekitar 10 atau 11 tahunan.
"Seperti ini, belum ada perubahan" jawab papa Alex dengan sayu. Ika dapat melihat penampilan papanya yang sangat berantakan.
"Mari bu," ucap Ika sambil mengambil alih bayi itu dan mempersilahkan ibu dan anak itu duduk di sofa ruangan tersebut.
"Apakah itu adikmu nak?" tanya papa Alex dengan persaan yang tak karuan.
"Iya pa, dia sangat tampan dan wajahnya sangat mirip dengan papa" jelas Ika dengan bangga sambil membawa bayi itu mendekat ke arah papa Alex yang sudah berdiri dari duduknya.
Deg
Perasaannpria itu semakin tak karuan saat pertama melihat bayi itu. tak terasa air matanya menetes.
Keinginan memiliki anak laki-laki tercapai walaupun bersama isteri yang dia cintai.
Maafkan papa nak, sudah membuat kalian menderita selama ini. tidak ada stu kenangan indah pun yang papa lakukan untuk kamu dan mama.
__ADS_1
"Apakah papa ingin menggendongnya?" tanya Ika dan di jawab dengan anggukan.
Papa Alex akhirnya merasakan begitu dekatnya ia dengan sang Putera. seperti yang dikatakan oleh puteri sulungnya jika bayi itu memang sangat mirip dengannya, hanya beberapa bagian saja yang mirip dengan Bela. Hidungnya terlihat lebih tinggi dan halus seperti Bela.
Sayang, apakah kamu tidak ingin bangun untuk melihat Putera kita? kamu sudah berjuang sampai dia ada di dunia ini, lalu apa kami tidak ingin memberinya kasih sayang?
papa Alex terus berperang dengan pikirannya yang kalut.
.
.
.
.
Di sisi lain, Intan yang hari ini tidak masuk kantor dan itu dimaklumi oleh saudaranya Ike.
Gadis itu mengurung diri dalam kamar, untuk kembali ke rumah sakit saja ia tidak sanggup.
"Sungguh jahat takdir mempermainkan hidup ini. Kenapa aku harus bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini?" gumamnya sambil kembali membayangkan seorang gadis remaja yang selalu menjadi pahlawan baginya. Seorang gadis yang selalu menjadi tempat pelampiasan amarah jika dia yang melakukan kesalahan namun kakaknya yang harus menanggung akibatnya dari amukan orang tua mereka.
"Apakah ka Ika sudah pulang?" gumamnya.
Setelah beberapa saat berperang dengan perasaan kecewanya akhirnya gadis itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya agar lebih segar lagi.
.
.
.
"Papa sepertinya sudah mulai punya perasaan sama Bela, apa yang harus aku lakukan. Intan pasti hancur bangat." gumam Ike yang sejak tadi hanya mengurung diri di ruangannya.
Brummmm
bunyi pintu otomatis terbuka
"Bagaimana" ucapnya dengan suara yang sangat pelan.
"Bu, ada tamu yang ingin bertemu sama Ibu" ucap seorang karyawan yang menjadi perantara karena asisten dan sekretaris bos mereka sama-sama tidak masuk kantor hari ini.
__ADS_1
"Baiklah, suruh datang aja" ucap Ike tenang.
Beberapa saat kemudian, pintu otomatis kembali terbuka
Brummmmm
"Apakah kita ada membuat janji sebelumnya?" tanya Meiske begitu melihat siapa yang datang.
"Maaf. Aku sudah berusaha untuk tidak bertemu denganmu tapi rasanya tidak bisa." jawab pria itu.
"Aku harap ke depannya jangan temui aku dengan alasan apapun" ucap Meiske tenang. Sebenarnya ia malas untuk bertemu siapapun karena saat ini keluarganya dalam situasi yang kurang baik.
"Aku mohon, jangan katakan itu" ucap Rian penuh permohonan. Ya pria itu adalah Rian, mantan suaminya.
"Antara kita sudah selesai, jangan menguji kesabaranku untuk bertindak yang nggak baik." ucap Ike tegas.
Rian tidak punya alasan lagi untuk bisa mengembalikan gadis yang periang itu seperti semula.
"Baiklah jika itu keputusanmu, aku minta maaf jika terlalu berharap." ucap Rian putus asa. Iya melangkah keluar dengan penuh frustasi karena gadis itu sudah bukan yang dulu lagi. Masalah demi masalah telah membuatnya tumbuk menjadi anak yang keras kepala dan tidak mengalah.
Belum sempat menjangkau pintu keluar dari ruangan itu, pintu tersebut sudah terbuka lebih dahulu karena ada orang dari luar yang hendak masuk.
"Ka Ika nggak ada" ucap Ike begitu melihat siapa yang akan masuk itu. Rian juga ikut berhenti melangkah saat mendengar suara Ike dan juga melihat seorang pria yang akan masuk.
"Aku datang mengajakmu makan siang bukan mencari Ika" jawab Raka santai.
"Aku nggak punya waktu karena aku punya urusan selain makan siang" jawab Ike dingin membuat dua pria itu tidak berkutik. Rian melanjutkan langkahnya walaupun ia penasaran dengan siapa pria ini.
Raka yang tidak punya beban memilih masuk dan duduk karena tujuan utamanya datang untuk menjemput gadis ini bukan untuk bertemu kembarannya.
"Sudah aku katakan, aku orang sibuk dan akan ada kesibukan setelah ini, jadi maaf aku nggak punya waktu untuk menemanimu makan siang." ucap Ike yang kembali duduk di kursi kebesarannya.
...****************...
Di parkiran, Rian tidak langsung pergi melainkan ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia sudah kehabisan cara untuk bisa mendapatkan kembali gadis itu.
"Seperti inilah perasaanmu waktu itu? saat kamu membutuhkan aku, aku malah meninggalkan kamu dengan wanita lain" gumamnya tanpa sadar meneteskan air mata.
Ia mengalah dan pergi dari sana serta bertekad untuk melawan keinginannya untuk tidak bertemu lagi dengan gadis itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1