
Dua bulan sudah berlalu, selama itu juga Valey terus disekap di rumah Naren. Tak ada yang dilakukan selain memandang hamparan langit dari balik tirai kamarnya.
Semakin hari selera makannya semakin menurun. Nanny sampai kehilangan ide untuk membujuk Valey yang tetap saja menolak tawaran semua makanannya.
Dan pagi buta ini Valey sudah menjadi penghuni kamar mandi. Wanita itu tak henti mengeluarkan isi perut sampai cairan kekuningan terasa sangat pahit di tenggorokannya. Tapi rasa mual tak kunjung hilang. Tubuhnya sampai lemas dan berpegangan dengan dinding.
Ketukan di pintu membuat Valey segera keluar dari kamar mandi.
"Non, saya baru saja membuat kue karamel yang sangat lezat. Non mau mencicipi?" tawar nanny dengan membawa sepiring kue karamel dengan harum yang khas dan terlihat sangat menggoda.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi Valey yang justru merasa perutnya semakin diaduk-aduk ketika mencium aroma kue tersebut.
"Hoek!" Valey kembali ke kamar mandi dengan membekap mulut rapat-rapat.
"Tolong bawa pergi kue itu, aku mual mencium baunya!" ujar Valey dengan mencapit hidung agar tidak mencium bau kue karamel yang membuatnya bertambah mual.
"Oh, iya-iya." Nanny segera pergi membawa kue itu.
Namun sebelum sampai di dapur, nanny mendengar suara keributan dari kamar tuannya. Ia melanjutkan langkah ke kamar Naren.
"Sialan! Akh! Bagaimana mungkin bajingan itu mengambil alih semua aset hanya dalam dua bulan! Kepar*t!"
Pyar ....
Setelah berteriak marah, terdengar benda yang terbanting dilantai hingga menimbulkan suara gaduh.
Nanny memberanikan diri mengetuk pintu kamar Narendra, dan langsung masuk ketika pintu itu terlihat dalam keadaan setengah terbuka.
"Ya Tuhan," gumam nanny lirih, melihat Naren mengamuk dan membanting semua barang hingga lantai sangat berantakan.
"Tu-Tuan ...."
"Hei siapa yang mengizinkan kamu masuk! Keluar! Keluar sekarang juga!" bentak Naren dengan suara sangat keras. Kedua matanya memerah namun tersirat pilu dan luka.
Nanny kembali keluar dan menutup pintu rapat-rapat, sedangkan di dalam Naren tetap mengamuk kesetanan. Berteriak dan membanting barang-barang.
"Tuhan, apa yang terjadi dengan Tuan Naren?" Nanny masih mematung didepan kamar Naren. Pasti ada sesuatu besar yang terjadi, sampai tuannya kesetanan seperti itu.
Nanny semakin bingung dengan keadaan Naren dan Valey. Hingga sampai sore hari ia harus membujuk dua orang sekaligus yang berada di kamar berbeda.
Sejak tadi pagi usai Naren mengamuk, pria itu sama sekali belum terlihat keluar kamar. Sore harinya nanny mengetuk pintu kamar Naren untuk membawakan makanan.
Kini bukan hanya Valey yang harus dilayani tetapi si pemilik rumah juga harus dilayani.
Saat masuk ke kamar Naren, nanny terkejut melihat Naren duduk termenung di sudut ranjang. Penampilannya kacau dengan telapak tangan terdapat luka yang mengalirkan darah hingga menetes ke lantai.
"Tuan, tangan Anda terluka, biar saya bawakan obat."
Namun Naren diam saja tidak menyahut. Nanny menaruh nampan berisi makanan di atas meja, lalu mengambil kotak P3K.
__ADS_1
Membersihkan sisa darah dan meneteskan antiseptik pada luka itu, terakhir menutup dengan kasa dan merekatkan plester. Namun Naren tetap diam seolah tidak merasakan kesakitan. Tatapannya kosong dengan sorot mata redup.
Tiba-tiba Naren bersuara, "umumkan pada semuanya, suruh mereka berkemas. Ambil uang di laci untuk membayar gaji mereka bulan ini. Dan, aku tidak tau uang itu cukup atau tidak. Tapi semua sudah tak ada yang tersisa."
Nanny terdiam dan membeku sesaat. Apa yang dikatakan tuannya? Memang apa yang terjadi.
"Jika sudah dibagi segera tinggalkan tempat ini."
"Tapi, Tuan ...."
"Rumah ini sudah bukan atas namaku. Bahkan semua aset peninggalan ayah sudah dipindah alih menjadi hak milik pria keparat itu."
"Lalu ... bagaimana dengan tuan?" Nanny tak tega mendengar cerita Naren.
Pria itu terkekeh menyedihkan. "Aku?" Naren menunjuk diri sendiri. "Aku sementara akan bersembunyi untuk menyusun rencana mengambil alih milik keluargaku lagi. Biarkan dia sekarang di atas awan, tapi takkan ku biarkan dia hidup tenang," ucap Naren dengan api dendam kian menyala.
"Ba-bagaimana dengan Nona Valey?"
"Wanita itu? Kamu pikir bagaimana? Aku tetap membawanya pergi sampai kakakku ditemukan. Atau sampai dia mau menunjukan dimana markas persembunyian pria keparat itu!"
"Tuan, tolong biarkan saya ikut dengan Anda."
Permohonan nanny membuat Naren menoleh. Memang wanita paruh baya itu sudah sangat lama mengabdi pada keluarganya, bahkan sejak ia masih kecil. Tapi, jika nanny ikut tinggal bersamanya, ia takkan sanggup untuk membayar gaji tiap bulan. Karena semua aset kekayaan telah diambil alih oleh Ziat.
Sesuatu besar yang Naren takutkan sejak brankasnya dibobol anak buah Ziat, hingga semua dokumen penting raib. Termasuk surat kepemilikan semua aset keluarganya yang juga ikut raib.
Kini, ia kehilangan semua yang dimiliki. Termasuk kakaknya yang sampai saat ini tak tahu dimana keberadaannya.
"Aku tidak bisa membayar gajimu setiap bulan."
"Saya rela tidak mendapat upah gaji. Saya akan ikut kemana tuan pergi."
"Tidak!"
"Tuan, saya mohon."
•
Tok! tok!
Nanny mengetuk pintu kamar Valey sebelum memutar kunci dan masuk ke dalam kamar itu.
"Nona apa sudah baikan?"
"Lumayan," jawab Valey.
"Saya membuat sup dan olahan ayam, apa Nona mau makan?"
Valey menggeleng, tetap tak berselera.
__ADS_1
"Non, nanti malam kita akan meninggalkan tempat ini," ucap nanny memberitahu sesuai info yang didapat dari Naren tadi.
"Meninggalkan tempat ini? Apa Naren menyuruh kita pergi dan membebaskan aku?"
Gelengan nanny membuat Valey melemas. Ia sudah berangan sejauh itu.
"Semua aset tuan Naren diambil alih oleh tuan Ziat. Rumah ini sudah bukan milik tuan Naren."
Valey terkesiap. Terdiam beberapa saat hingga nanny kembali bersuara.
"Nanny kasihan melihat masalah yang dihadapi Tuan Naren seolah tak ada hentinya ...." Pandangan nanny menerawang ke depan dan mulai menceritakan tentang semua yang dialami oleh keluarga Naren.
Dari cerita nanny, kini Valey tahu apa yang menyebabkan Naren bertempramen buruk dan memperlakukannya sangat kejam.
•
Malam hari, Naren, Valey, Nanny dan satu anak buah setia mulai berpindah ke tempat baru. Mereka menyewa mobil untuk mengantarkan mereka ketempat tujuan.
Rumah sederhana yang cenderung sangat kecil menjadi tempat tinggal mereka sekarang.
Rumah itu dibeli dari uang penjualan jam tangan milik Naren. Dan sisa uangnya untuk kebutuhan kedepannya.
Naren membuang napas kasar begitu memasuki rumah. Bahkan rumah yang akan ditinggali hanya sedikit lebih besar dari gudang rumahnya yang dulu. Bisakah ia hidup diruang sempit itu?
Valey tidak banyak bicara, hanya diam mengikuti perintah Naren. Mendengar cerita nanny kemarin membuatnya iba memandang Naren.
Kebencian yang mendalam mulai mereda melihat penampilan kacau pria itu. Seolah ia tahu dan bisa merasakan keterpurukan dan kesedihan yang dialami seorang Narendra.
Malam hari, karena rasa haus dan tak ada air minum di kamar, Valey keluar untuk mengambil air di dapur, namun terkejut mendapati Naren tiduran di atas sofa dengan tatapan menerawang langit-langit ruangan.
Pria itu menoleh begitu melihat Valey keluar.
"A-aku hanya ingin mengambil air minum," ucap Valey, padahal Naren tidak bertanya apapun, namun sorot mata Naren seolah mengisyaratkan pertanyaan. 'Mau kemana?!'
"Jangan coba-coba kabur! Walau aku sudah tidak memiliki pengawal, tapi kalau kamu berani kabur, akan ku cari kemanapun meski ke liang lahat sekalipun!" desis Naren dengan penuh penekanan.
Valey hanya mengangguk dan berlalu ke dapur.
Dari tatapan Naren, ia bisa melihat sebuah luka dan amarah yang membaur. Entah kenapa kini ia benar-benar simpati melihat pria itu.
Beberapa saat di dapur, ia kembali membawa nampan. Meski takut dan gemetar, tapi ia meyakinkan diri bahwa ia hanya sekedar berbaik hati.
"Minumlah!" ujar Valey menaruh segelas teh hangat di depan pria itu.
Naren memperhatikan Valey dengan kening mengernyit.
"Tidak ada racun. Aku juga tidak punya racun apapun, mau beli tidak ada uang," ujar Valey mencoba membaca ekspresi wajah Naren yang sedang menelisik gerak-geriknya.
Tidak ingin memaksa Naren mempercayai niat baiknya, ia acuh dan kembali masuk ke kamar.
__ADS_1
Setelah berlalunya Valey, tatapan Naren terhenti pada segelas teh yang masih mengepulkan asap. Di benaknya ia bertanya-tanya, apa maksud gadis itu membuatkan minuman? Padahal ia tadi baru saja mengancam Valey dengan nada penuh penekanan.