
Narendra bukanlah pria dingin dengan tempramen buruk. Tapi semenjak kematian ayahnya yang secara tiba-tiba, juga tragedi penculikan sekaligus pembunuhan ibunya, sikap Narendra berubah 180 derajat.
Nurani dan sikap hangatnya terganti dengan amarah, dendam dan kebencian. Hingga ia mampu menyakiti seorang wanita.
Pria yang menyender di sandaran sofa itu terhenyak saat pelayan mengetuk pintu kamarnya dari luar.
"Tuan, saat saya membawakan makanan untuk Nona Valey, dia tidak mau memakannya. Dan, Nona Valey demam tinggi." Pelayan melaporkan keadaan Valey.
Naren membuang napas kasar. "Merepotkan!" desisnya. Ia bangkit dan melangkah keluar diikuti pelayan tadi.
Saat ini, Naren sudah berdiri didepan Valey yang duduk bergeming tak melihat ke arahnya sama sekali.
"Jangan merepotkan! Cepat makan itu sebelum aku membuangnya dan tidak memberimu makanan lagi!" bentak Naren tinggi.
Namun, Valey benar-benar bergeming. Deru napasnya pun lirih.
Naren menyingkirkan piring makanan yang ada di samping Valey dengan kakinya.
"Jangan membuatku marah!" Ia beralih berjongkok. Saat mencengkeram dagu Valey, ternyata benar kalau suhu tubuh Valay demam tinggi.
"****!" umpatnya. Naren menoleh ke belakang. "Ambil obat penurun demam. Sekarang!" perintahnya dengan suara tinggi.
"Ba-baik, Tuan." Pelayan tadi tergopoh-gopoh keluar dari gudang.
Naren mengedar pandangan. Gudang itu membuatnya sulit bernapas. Selain debu, kotoran hewan pengerat dan kecoa ada di sudut-sudut dinding. Membuat siapapun mual.
Keadaan Valey tak ubah seperti tahanan. Sangat mengenaskan. Bahkan kini kaki dan tangannya terbelenggu sebuah rantai.
Sungguh amarah dan kebencian Naren sangat biadab!
Dan entah apa yang mempengaruhi pikiran Naren hingga pria itu melepas rantai yang membelenggu kebebasan Valey.
Naren menyuruh Valey untuk keluar dari gudang yang menyesakkan dan berpindah ke kamar tamu yang ada di rumah utama.
Pelayan tadi menyerahkan obat dan air putih yang diletakkan di atas meja.
"Cepat minum obat itu!" sentak Naren.
Namun, lagi dan lagi Valey memilih diam yang mana membuat Naren hilang kesabaran.
__ADS_1
"Cepat minum!" sentaknya yang kedua kali. Dan kali ini Naren sudah menjambak rambut Valey namun tidak terlalu kuat. Tujuannya hanya membuat Valey mendongak dan memaksa Valey meminum obat itu.
"Iblis! Aku tidak pernah bertemu iblis sepertimu!"
Teriak makian Valey membuat Naren mengepalkan tangan. Wajahnya mengeras sejurus dengan napas memburu karena amarah.
"Kenapa kamu memberiku obat kalau hanya terus-terusan menyiksaku?! Bunuh saja aku, Naren! Bunuh!"
"Kamu ingin membalas dendam atas kematian ibumu, bukan?! Sekarang ayo bunuh aku, Naren. Cepat bunuh aku!"
Teriak keputusasaan Valey sempat menggetarkan hati Naren. Terbesit keraguan jika Valey memang tidak terlibat dengan kejahatan Ziat.
Naren melepas cengkeraman di rambut Valey. Menjauh dan meninggalkan kamar itu.
"Jangan pergi, Tuan! Ayo bunuh aku sekarang juga! Bukankah kamu ingin balas dendam? Cepat bunuh aku! Dasar pengecut! Dasar kamu tuan pengecut!"
Telinga Naren masih mendengar teriakan Valey yang memilukan. Teriak keputusasaan yang seolah tak memiliki harapan untuk hidup.
Meski Naren abai dengan teriakan itu, namun hatinya sempat terusik. Kini ia bimbang sendiri, apakah Valey benar-benar tidak ada hubungannya dengan uncle Ziat.
"Akh!" Naren menjambak rambut frustasi. Kepalanya terlalu penuh dengan pemikiran sampai terasa mau meledak.
Patahan memori melintas seperti video yang diputar berulang-ulang. Bagaimana dulu keluarganya sangat bahagia dan ia hidup penuh kasih sayang.
Kini, dengan waktu singkat kebahagiaan bersama keluarga telah musnah. Semua hanya karena harta. Ironis, andai uncle Ziat meminta harta dengan cara baik, ia akan memberikannya tanpa harus ada korban jiwa. Apalagi itu ayah dan ibunya. Orang yang benar-benar sangat ia sayangi.
Ia benci, marah dan kini kehilangan arah.
Di kamar Valey.
"Kenapa tidak membunuhku sekalian, Tuan?! Kenapa?! Kenapa harus menyekap dan menyiksaku? Apa salahku?" Valey berteriak histeris.
Nanny baik hati yang sering membawakan makanan datang mendekat. Dengan tangan hangatnya mengusap bahu Valey yang terguncang karena tangisan.
"Nona, tenanglah. Tenangkan dirimu," ucapnya gemetar. Ia tahu dan paham dengan kesedihan dan keputusasaan yang dialami Valey.
"Nanny, kenapa Tuan Naren menuduhku membunuh ibunya dan terus berkata kalau aku bersekongkol dengan pria bernama Ziat? Aku tidak tau siapa Ziat, dan aku bukan seorang pembunuh," ucap Valey menggebu. Ia ingin menerangkan jika ia benar-benar bukan seorang pembunuh.
"Saya percaya dengan Nona. Gadis seperti Nona bukan pembunuh. Tapi bersabar, sampai kakak dari Tuan Naren ditemukan. Tuan Naren pasti hanya salah paham."
__ADS_1
Nanny memiliki sikap hangat seorang ibu, membuat Valey merindukan ibunya yang sudah di surga.
Tanpa meminta persetujuan, Valey menghambur ke pelukan Nanny dan kembali terisak.
"Sampai kapan Tuan Naren akan mengurungku dan menyekap ku?"
Pertanyaan Valey hanya dijawab oleh angin, karena nanny sendiri tidak tahu sampai kapan tuannya akan membebaskan Valey.
Keesokan hari, demam yang dialami Valey sudah menurun. Ketika nanny membawakan makanan, lagi-lagi Valey menolak.
Jika Naren tidak bersedia membunuhnya, ia sendiri yang akan menyiksa diri hingga perlahan akan mati.
Ia lelah dengan kehidupannya. Semenjak ibunya meninggal, kebahagiaan ikut menjauhi dirinya. Ia baru keluar dari cengkeraman ayah tirinya, tapi takdir justru mengarahkan pada kesedihan lain.
Kenapa Tuhan harus mempertemukannya dengan ibunya Naren yang menjadi jalan ia bertemu Naren. Hingga terjadinya kesalahpahaman itu.
"Nona, makanlah, sedikit saja. Nanti Nona bertambah sakit," bujuk nanny.
"Memang tujuanku ingin sakit, dan aku akan mati."
"Nona jangan bicara seperti itu, atau Tuhan akan marah."
"Nanny bicara tentang Tuhan? Apa Tuhan masih ingat telah menciptakan manusia seperti ku? Kalau Tuhan ada, harusnya dia meluruskan kesalahpahaman Naren. Aku lelah, Nanny. Aku lelah dikurung disini. Aku ingin pergi, aku ingin bebas. Karena aku bukan seorang pembunuh."
"Nanny percaya. Semoga saja Tuan Naren mendapat keajaiban dan segera melepasmu."
Valey menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya, ia mengatur napas dan memilih merebahkan tubuh.
Menjelaskan apapun pada nanny, tetap tak mengubah takdirnya.
Terdengar juga helaan napas Nanny sebelum berkata. "Makanannya saya taruh dimeja. Tolong nanti dimakan. Dan minum obatnya."
Setelah itu terdengar pintu ditutup dan dikunci.
Valey memejamkan mata. Mata dan seluruh anggota tubuh sudah sangat lelah, tak memiliki daya untuk menyendok makanan ataupun obat.
Dalam lelap, Valey bermimpi bertemu ibunya Naren. Wanita itu tersenyum padanya.
"Nak, maafkan ibu. Maafkan juga anak ibu yang sudah salah paham dan memperlakukanmu dengan buruk. Tunggulah, kebenaran akan tetap terungkap." Tiba-tiba bayangan itu menghilang.
__ADS_1
Valey terbangun dengan wajah terkesiap. "Kenapa hadir di mimpiku? Harusnya anda datang ke mimpi Tuan Naren," gumam Valey dengan kening berkerut.