Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Semakin Hancur


__ADS_3

Penat yang dirasa kian membuat kepalanya hampir meledak. Naren memutuskan pergi ke club untuk menghilangkan rasa tak menentu. Meski esok pagi perasaan berkecamuk kembali menyelimuti, akan tetapi malam itu ia ingin menenangkan diri sejenak.


"Hay Man, lama tidak tampil. Kemana saja?" Seseorang yang mengenal Naren menyapa.


"Biasa lagi sibuk," balas Naren singkat. Ia kembali meneguk wine yang terhidang di depan mejanya.


"Jiwa player mu bisa berkurang juga." Pria itu terkekeh. Mengambil duduk di dekat Naren.


Naren sendiri hanya menghendikan bahu. Acuh.


"Padahal ada barang baru. Gadis ting-ting baru keluar dari sangkar," ujar pria itu sambil tersenyum.


Biasanya Naren menanggapi antusias, namun kali ini berbeda. Benar-benar acuh dan malas merespon.


"Wuih, rekor pertama kamu diam saja. Yakin tidak minat? Jangan menyesal."


Namun Naren menggeleng.


"Jangan-jangan kartu debit mu kosong," cibirnya setengah mengejek.


"Pergilah! Aku ingin sendiri!" usir Naren melirik sekilas. Ia ingin bersantai, menghilangkan rasa penat tapi seseorang telah mengganggunya.


"Kamu benar-benar tidak minat? Jarang-jarang loh ada barang baru." Pria itu terus berkata yang justru membuat Naren semakin jengah.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara dan cepat pergilah!" usir Naren mulai geram.


Pria itu beranjak sambil menggeleng tak percaya melihat respon Naren yang tidak seperti biasanya.


Setelah kepergian pria itu, Naren berdecih dan kembali melanjutkan kesenangan yang tertunda.


Awal tujuan ingin menenangkan diri, tapi Naren tak henti menegak wine sampai membuat kepalanya bertambah berat.


Pria itu merancau tidak jelas dengan memanggil anggota keluarganya dan terus memaki seseorang yang dipanggil uncle Ziat.


Seseorang yang mengenal Naren berbaik hati menghantar Naren pulang ke rumah. Pengawal yang berjaga di depan pintu rumah menyambut tuan mereka dan berganti memapah Naren untuk masuk.


Namun Naren menolak. Ia bersikeras berjalan sendiri meski sedikit sempoyongan.


"Pergi! Aku bisa masuk sendiri!" bentaknya dengan nada tinggi. Akhirnya dua pengawal itu menjauh dan kembali ke posisi awal yang berjaga di luar rumah.


"Wanita sialan! Ya, dia wanita sialan!" Naren terkekeh dingin, namun sedetik kemudian berdecih jijik.


"Dia harus menderita. Akan ku buat menderita seperti kakakku yang saat ini juga pasti sedang tersiksa," gumamnya penuh dendam.


Naren mengambil kunci di laci yang ada di depan kamar tamu. Tempat yang biasa untuk menyimpan kunci.


Begitu pintu terbuka, netra berkabut itu disuguhi ruang kamar yang temaram. Ia melihati sesosok yang tertidur nyenyak di atas kasur dengan posisi miring membelakanginya.

__ADS_1


Bukan karena wajah yang membuat jiwa kelelakian Naren tiba-tiba muncul, melainkan rok panjang yang tersingkap hingga sebatas paha itu membuat pria yang diselimuti amarah itu menelan ludah kasar.


Perlahan langkah Naren mendekat, lekat memindai tubuh yang menggiurkan untuk dipaksa ke puncak kenikmatan.


Ketika Naren membalikan tubuh Valey menjadi telentang. Rahangnya berubah mengeras. Api membara dalam tubuhnya seolah ingin melahap Valey hingga tak tersisa.


Dalam tidur Valey, kening wanita itu mengernyit. Di alam bawah sadar, ia merasa ada yang sedang membelai tubuhnya.


Dan, ketika belaian itu sampai di leher. Ia terkejut tangan seseorang mencekik lehernya hingga ia terbangun secara paksa.


"Akh! Lepas!" Cekikan itu kian menyakitkan.


"Wanita sialan! Kamu telah membunuh ibuku, dan menyembunyikan kakakku. Kamu harus menerima kesakitan yang setimpal!" ujar Naren dengan nada pelan namun sangat ditekankan.


"Tu-tuan Na-ren?" Valey memegangi tangan Naren berusaha melepaskan. Sampai Valey melemas dan hampir kehabisan napas, barulah tangan besar nan kokoh itu terlepas.


Valey menghirup udara sebanyak-banyaknya dengan mata terpejam. Ia sudah diambang kematian, tapi lagi-lagi Naren seolah mempermainkannya.


Belum bernapas dengan benar, kembali diserang oleh pria itu. Kali ini Naren menyerang bibirnya dengan kasar. Merenggut ciuman pertama dengan kesan menjijikan.


Dua insan dengan gelora berbeda. Amarah, benci dan kesalahpahaman membuat Naren semakin menggila.


Sementara kesakitan, kebencian, dan keputusasaan membuat Valey ingin mengakhiri penderitaan maupun melenyapkan seseorang yang berlaku kejam padanya.

__ADS_1


Tangis pilu sebagai saksi hancurnya masa depan Valey, sedangkan naf su memburu dan peluh yang bercucuran sebagai penyaluran aksi balas dendam Naren.


Hingga sebuah era ngan menjadi aksi terakhir malam panjang yang mereka lewati dengan perasaan masing-masing.


__ADS_2