Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Selamatkan Ibunya


__ADS_3

"Bukan hanya orang lain, tapi aku juga membawa polisi yang akan memenjarakan mu!"


"Tangkap mereka semua!" Ziat memerintah anak buahnya untuk menangkap Shera dan Narendra, tepat saat itu Kindra dan anak buahnya juga muncul untuk memberi perlawanan.


Meski Ziat terluka namun pria itu masih menyaksikan perkelahian mereka.


Shera berusaha mendekati Valey, namun anak buah Ziat tetap menghalangi.


"Valey, kamu terluka. Bagaimana dengan perutmu?" tanya Shera dengan setengah berteriak.


"Dia tidak pa-pa, Kak." Valey menggerakkan kursi roda agar mengarah pada Shera.


"Kak, kalian harus berhati-hati dengan Latisya, dia bukan wanita baik," ucap Valey dengan mimik khawatir.


"Maksud kamu?" Shera menggeleng tak mengerti.


"Latisya bersekongkol dengan paman Ziat."


"Apa?" Ucapan Valey membuat Shera sangat terkejut.


"Mereka berdua dalang dibalik semua ini, Kak."


"Ternyata dugaan ku benar, Tisya bekerja sama dengan paman Ziat!" ujar Shera.


Sedari awal Valey ditangkap, dia sudah menaruh curiga kepada Latisya. Tak lama setelah kekasih adiknya itu tahu tempat tinggal mereka, tak lama dari itu juga Valey tertangkap.


Hanya Latisya yang tahu. Jika bukan wanita itu, maka siapa lagi yang memberitahu Ziat.


"Latisya tadi pergi lewat pintu belakang." Valey memberitahu Shera jika Latisya sudah kabur lewat pintu belakang. Sekilas tadi melihat Latisya berjalan mengendap-endap ke arah bagian barat.


Shera mengangguk. Dia berusaha melawan satu anak buah Ziat yang memegang kedua tangannya. Dia menggigit tangan itu sampai berdarah, lalu berlari menuju pintu belakang. Dia akan mengejar Latisya dan menangkapnya.


Narendra menyerang Ziat. Pria yang terluka di bahu kanannya itu masih berupaya memberi perlawanan meski tenaganya mulai melemah. Anak buahnya mulai tumbang satu per satu, dan tidak bisa melindunginya.


"Aku akan puas jika bisa membunuhku, Uncle!"


"Kamu tidak bisa membunuhku, Narendra! Tidak bisa!"


Narendra memberi pukulan sekuat tenaga pada tulang hidung Ziat sampai cairan merah pekat mengalir dari lubang hidungnya. Mungkin tulang hidung itu patah.


Valey yang menyaksikan perkelahian itu merasa takut. Apalagi saat melihat Narendra terkena pukulan. Dia ikut meringis pilu.


Tiba-tiba perutnya kembali terasa kencang, dia berusaha tenang dan menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mereda kepanikan.

__ADS_1


Tapi kali ini tidak memberi efek, karena perutnya mulai terasa sakit. Dia bisa merasakan ada cairan yang merembes keluar dari inti tubuhnya.


"Sayang, tenang, Nak. Ibu mohon, tenanglah." Valey mengelus perutnya. Dia meringis saat perutnya kembali terasa sakit.


"Jangan sekarang, Nak. Ibu mohon, jangan melihat dunia sekarang. Waktunya belum tepat," gumamnya lagi.


Kindra memberi isyarat Narendra supaya melihat ke arah wanita yang duduk di kursi roda. Terlihat kesakitan dengan memegangi perutnya.


"Valey!"


Kindra menghalau anak buah Ziat dan memberi kesempatan agar sahabatnya itu mendekati wanita yang tengah kesakitan.


"Valey ...."


"Naren, perutku." Valey menggenggam tangan Narendra untuk menyalurkan rasa sakitnya.


"Perutku sakit sekali." Valey merintih. Bulir keringat dan air mata menghiasi wajahnya yang mulai memucat.


"Bertahan, Valey. Sebentar lagi aku akan membawamu keluar dari sini."


Ketika Narendra fokus pada keadaan Valey, Ziat yang mengetahui itu tidak ingin menyia-nyikan kesempatan.


Dia mengambil pistol dan mengarahkan tepat di punggung Narendra supaya menembus dada pria itu dan membuat Narendra kehilangan nyawa.


Setelah satu keponakannya tewas, jalannya akan lebih mudah. Dia hanya perlu mengurus Shera.


"Naren, awas!!!" Dia mendorong Narendra ke samping, hingga timah panas itu justru mengenai dadanya.


"Valeeeeeyyyy!!!!"


Deg!


Sesaat dunia berhenti berputar. Di depan mata kepala sendiri dia menyaksikan satu peluru menembus dada atas sebelah kiri Valey.


Dia membatu, tak percaya Valey mengorbankan diri supaya dia selamat.


"Na-Naren," ucap Valey sebelum kedua netranya terpejam dan dunia menjadi gelap.


Tepat saat itu sirine polisi terdengar mendekat. Anak buah Ziat yang masih memiliki tenaga seketika melarikan diri. Termasuk Ziat sendiri, namun Kindra tidak membiarkan penjahat itu melarikan diri dengan mudah.


Suara gaduh disekitar seperti tak terdengar lagi. Narendra terlalu takut melihat darah terus-menerus keluar dari tubuh Valey. Apalagi seorang wanita yang sedang mengandung anaknya itu mulai tak sadarkan diri.


"Bertahan, Valey! Ku mohon bertahanlah!" Narendra mengangkat tubuh Valey untuk dibawa ke rumah sakit.

__ADS_1


Kindra menyuruh satu anak buahnya untuk mengantar Narendra ke rumah sakit dengan jarak tempuh paling dekat.


Berharap Valey bisa segera mendapat pertolongan pertama.


Sekitar 30 menit kemudian, mobil yang ditumpangi sudah terhenti di depan rumah sakit.


Tubuh Narendra bergetar ketika kedua telapak tangannya terkena darah Valey. Bahkan baju krem yang digunakan sudah berubah menjadi merah kecoklatan.


"Suster-suster! Tolong!" Ketika turun dari mobil, dia berteriak lantang memanggil suster rumah sakit untuk meminta bantuan.


Tubuh Valey dipindah ke atas brankar, lalu di dorong ke ruang UGD. Narendra menggenggam telapak tangan Valey yang dingin, dengan jantung berdebar tak karuan.


Dia jarang meminta sesuatu pada Tuhan, namun kali ini dia merapal doa dengan sungguh-sungguh.


Semoga Valey dan calon bayinya selamat.


Dia yang mengkhawatirkan Valey sampai melupakan keberadaan Shera. Dia baru ingat setelah satu jam berada di rumah sakit.


Segera menekan nomor Kindra untuk menanyakan keadaan kakaknya.


"Kak Shera ...." Belum selesai dia mengucap kata, Kindra sudah lebih dulu menyahut dari seberang telepon.


"Kakak kamu aman. Dia mengkhawatirkan Valey. Kirim alamat rumah sakitnya biar kami menyusul ke sana."


Narendra mengakhiri panggilan dan mengirim alamat rumah sakit.


Tepat saat itu dokter yang menangani Valey keluar.


"Tuan, pasien kehilangan banyak darah, dan saat ini kondisinya sedang kritis. Kami sedang berusaha untuk menyelamatkan nyawa bayinya.


Kemungkinan, jika nanti kami di hadapkan dua pilihan, maka siapa yang harus kami selamatkan? Ibu atau bayinya?"


Deg!


Narendra sangat bingung untuk menentukan pilihan. Dia sangat menginginkan bayinya terlahir ke dunia, tapi bagaimana dengan Valey yang sudah mengorbankan diri untuknya?


"Tuan, kami tidak punya banyak waktu. Tuan harus menentukan pilihan sekarang," ucapan dokter membuyarkan pikiran Narendra.


"Jika bisa tolong selamatkan ibu dan bayinya."


"Tentu, Tuan. Kami akan berusaha. Tapi kondisi keduanya sangat tidak mungkinkan. Maka saya meminta pendapat Anda, siapa yang harus saya pilih."


"Valey. Tolong selamatkan ibunya." Narendra sangat kelu ketika mengatakan pilihannya. Dia berharap pilihan yang diambil tidak salah.

__ADS_1


Dia sangat menginginkan bayi itu, tapi kesalahan dan hutang budi terhadap Valey begitu besar. Dia berharap masih bisa meminta maaf pada wanita baik itu.


"Maafkan ayah, Nak. Ayah tidak memilihmu bukan berarti ayah tidak sayang padamu," ucapnya dalam hati. Merasa menyesal saat dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit.


__ADS_2