
Valey tampak sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih tulang. Rambutnya dikepang ke samping dengan hiasan jepit rambut di atas kepalanya.
Kecantikan itu terlihat sempurna meski fisiknya memiliki kekurangan.
Narendra menatap kagum saat perias mengantar Valey sampai di depannya. Pria itu terpana beberapa detik sampai panggilan Valey menariknya ke dunia nyata.
"Naren, apa semalaman kamu akan menatapku saja," ujar Valey tersenyum melihat Narendra gelagapan lalu menggeleng kikuk.
"Sudah selesai?" tanya Narendra yang jelas hanya basa basi. Karena, jika Valey sudah dibawa keluar, itu artinya sudah selesai kan ...
"Sudah," jawab Valey singkat.
"Ayo kita berangkat sekarang." Pria itu mengambil alih pegangan kursi roda Valey dan mendorongnya menuju pintu keluar.
Shera yang sedang bermain dengan Vandra tidak bisa mengiring kepergian Narendra dan Valey. Karena kalau Vandra tahu ayahnya akan pergi, bayi menggemaskan itu akan rewel. Dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja. Meski begitu, dia juga sangat kagum melihat penampilan Valey malam ini.
Di malam waktu Narendra mengajak Valey pergi ke pasar malam memang dia yang mendandani Valey, tapi hanya dengan make up seadanya. Dan malam ini, Valey sungguh terlihat seperti tuan putri. Penampilannya begitu memukau.
Namun, sangat disayangkan wanita itu harus duduk di kursi roda. Tak bisa menggerakkan kaki jenjangnya untuk berlenggak lenggok laiknya seperti model.
Sampai di dekat pintu mobil, Narendra menggendong tubuh Valey untuk di pindahkan ke dalam mobil. Lalu dia duduk di sampingnya.
"Apa posisimu sudah nyaman?"
Valey mengangguk. "Maaf, selalu merepotkan mu."
"Berapa kali aku bilang, kamu tidak pernah merepotkan. Jangan merasa seperti itu lagi." Narendra menggenggam telapak tangan Valey. Dia menciumnya singkat dan tersenyum.
"Perlakukan baikmu kenapa membuatku semakin tidak enak hati, Naren."
Sepanjang perjalanan genggaman tangan mereka tidak terlepas. Bibir mereka diam, namun pikiran mereka melalang buana. Valey dengan perasaanya, sementara Narendra membayangkan kegugupannya nanti melamar Valey.
Jantung Narendra berdegup kencang saat mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki kawasan restoran di tengah kota.
Dari kejauhan, terlihat pegawai restoran sudah menyambut kedatangan mereka.
Seperti awal tadi mereka berangkat, saat turun pun Narendra harus melakukan yang sama. Memindahkan tubuh Valey ke kursi roda dan mendorongnya memasuki restoran.
__ADS_1
"Selamat datang, Tuan dan Nona. Silahkan masuk."
Valey terpukau melihat interior restoran yang terlihat megah dan indah. Kursi yang tertata rapi sebagian sudah di tempati pengunjung lain.
Sebenarnya bisa saja Narendra mengosongkan tempat itu, karena restoran itu adalah warisan peninggalan orang tuanya. Akan tetapi menurutnya tidak seru jika tak ada orang lain yang menyaksikan momen pentingnya.
Beberapa pengunjung mengarah ke arah Narendra dan Valey, namun kembali fokus dengan kegiatan masing-masing.
Menjadi pusat perhatian banyak orang membuat Valey terserang termor ringan. Gugup sekali karena dia tak pernah berada di situasi seperti itu. Dia tahu rencana Narendra tapi tidak terbayangkan jika lelaki itu membawanya ke tempat ramai.
Narendra fokus mendorong kursi roda Valey menuju tempat yang sudah dipersiapkan. Berada di outdoor dengan suasana taman dan banyaknya lampu hiasan kerlap-kerlip dengan indah.
"Naren, semua orang menatapku. Apa aku terlihat aneh?" bisik Valey melihat sekitarnya.
Narendra tersenyum tenang. "Mereka menatapmu karena terpesona dengan penampilanmu. Kamu terlihat sangat cantik, Valey."
Valey berubah bersemu mendengar pujian Narendra. Sebuah pujian yang sering dilontarkan seorang laki-laki kepada wanitanya, dan hal itu sudah tidak tabu lagi. Namun entah mengapa pujian itu tetap bisa membuat Valey merona malu.
"Menggemaskan," batin Narendra melihat pipi Valey berubah memerah.
Dua pelayan beriringan menuju meja Narendra dan Valey untuk mengantar makanan. Walau belum memesan tapi Narendra sudah mengatur menu makanan itu sedari siang tadi, hingga kini mereka hanya perlu menyiapkan dan menyuguhkan menu terbaik yang ada di restoran itu.
"Apa kamu terkesan dengan malam ini?"
Valey hanya membalas dengan senyuman.
"Aku menyiapkan semua ini untukmu, Valey."
Valey diam menunggu apa yang akan dilakukan Narendra selanjutnya.
Pria itu berlutut di depannya dengan menyodorkan kota perhiasan berisi sepasang cincin berlian yang sangat indah.
Walau semua itu sudah bisa di tebak, akan tetapi pernyataan Narendra membuatnya gugup dan semakin diambang dilema.
"Valeycia, maukah kamu menikah denganku ... menjadi pasangan hidup ku sampai nanti maut memisahkan."
Deg ... deg!!!
__ADS_1
Setetes air mata lolos membasahi pipi Valey. Dia terharu bercampur sedih. Di sisi lain merasa bahagia, namun di sisi lain lagi merasa tidak pantas. Dia tak bisa egois mengorbankan kebahagiaan Narendra hanya demi rasa bersalah pria itu terhadap dirinya.
Narendra berhak bahagia dengan wanita yang sempurna. Vandra juga berhak mendapat ibu yang bisa menjaganya. Tidak seperti dirinya yang hanya akan menjadi beban.
Narendra kesulitan menarik napas demi menunggu jawaban dari Valey. Bahkan pengunjung yang menyaksikan turut menunggu jawaban 'iya' dari Valey.
"Aduh, sweet banget. Ayo dong terima."
"Kalian cocok sebagai pasangan."
"Cepat terima biar besok langsung naik ke altar."
Beberapa pengunjung tampak tidak tidak sabar dan menyuruh Valey untuk segera menerima.
"Valey ...." Wajah Narendra mulai gamang saat Valey hanya diam dengan iringan air mata. Dia cemas menunggu jawabannya.
"Naren, sebelum aku menjawab, aku ingin bertanya padamu. Apa kamu siap memiliki istri cacat sepertiku?"
"Jangan katakan itu, kamu sempurna bagiku. Aku siap menerima kekuranganmu, Valey."
"Bagimu aku sempurna, tapi kenyataanya aku hanya akan menjadi beban seumur hidupmu. Aku tidak bisa menjagamu apalagi Vandra. Sebaiknya ...."
"Valey, ku mohon ... harus berapa kali aku mengatakan, jangan merasa dirimu adalah beban bagi orang lain. Kamu seperti ini juga bukan keinginanmu."
"Dan aku juga tidak ingin menjeratmu dalam rasa bersalah, Narendra! Kamu tidak perlu menikahi ku karena rasa bersalah mu. Kamu bisa mencari wanita yang lebih sempurna dari ...."
"Mmmphhh ...." Ucapan Valey terhenti saat Narendra tiba-tiba menyatukan bibir mereka. Tak perlu peduli dengan pandangan orang, dia ingin meyakinkan Valey jika dia bersungguh-sungguh bukan semata karena rasa bersalah.
Valey terengah begitu Narendra melepas ciuman mereka.
"Apa itu tidak cukup untuk membuktikan perasaanku padamu, Valey?"
"Aku tau, kamu tidak mencintaiku, Naren. Hatimu tidak yakin dengan ku. Sebelum semua terjadi, aku mohon hentikan."
"Kamu salah, Valey. Aku mencintaimu. Hatiku sangat yakin denganmu."
"Jangan membohongiku, Naren. Aku tau semuanya. Kamu tidak sepenuhnya menginginkan aku. Perasaanmu itu hanya karena rasa bersalah."
__ADS_1
"Demi Tuhan, Valey! Atas nama Tuhan, aku benar-benar mencintaimu dan menginginkanmu menjadi istriku. Aku tidak peduli dengan keadaanmu. Lihat aku, semua yang aku katakan adalah kejujuran."