
"Pernikahanku dengan Sahna terjadi karna aku dijebak. Waktu itu aku sama sekali tidak berniat mengkhianatimu."
"Semua sudah berlalu, Morgan. Tidak penting lagi bagiku!" pekik Shera marah, berusaha lepas dari cekalan pria itu, tapi tidak terlepas karena Morgan mencekalnya dengan erat.
"Tidak, Shera. Semua penjelasan itu penting. Karena sampai saat ini perasaanku tidak pernah berubah kepadamu."
Shera membuang pandangan saat air mata yang menggantung di sudut mata pada akhirnya tak terbendung. Begitu sakit mengingat masa lalunya.
Beberapa tahun silam.
Seorang gadis tengah duduk di kursi taman seorang diri. Di sebelah dia duduk ada bingkisan kado untuk orang spesial.
Bibir tipisnya menyungging senyum mengingat sebentar lagi akan bertemu tambatan hatinya dan akan merayakan hari jadi mereka yang ke dua tahun. Gadis itu tampak melongok jalanan, untuk memastikan apakah si pria sudah datang.
Tapi naas, sampai pukul empat sore pria yang ditunggu-tunggu tidak muncul batang hidungnya. Padahal sudah dua jam dia menunggu disana.
Gadis itu menggerutu kesal saat nomor sang kekasih tidak dapat di hubungi. Marah, kesal, sekaligus cemas membaur menjadi satu. Perasaanya hanya bisa menerka-nerka gerangan apa yang terjadi dengan kekasihnya. Apakah ada suatu buruk yang terjadi?
Dia sudah tak bisa menunggu lagi. Selain hari semakin sore, gerimis hujan mulai mengguyur kota. Dengan perasaan kecewa, Shera pergi meninggalkan taman kota.
Namun pada saat dia sedang menerobos gerimis, ponselnya bergetar yang menandakan ada pesan masuk ke ponselnya. Dia cepat-cepat membukanya takut pesan itu dari Morgan.
Pada saat layar ponsel menyala dan jemarinya mengklik sebuah kiriman video, pada saat itu dunianya hancur tak tersisa. Air mata membaur menjadi satu dengan rintik hujan yang mulai jatuh membasahi bumi.
Tepat beberapa menit yang lalu, kekasih yang paling di cintai mengucap janji suci untuk wanita lain. Luruh sudah semua harapannya, cita-cita juga cintanya.
"Mo-Morgan ...." Bibirnya sampai tak sanggup menyebut nama sang kekasih saking hatinya menahan sakit.
"Tega sekali kamu lakukan ini padaku. Di hari anniversary kita kamu justru menikah dengan wanita lain!"
"Sahna! Kenapa wanita itu yang harus kamu nikahi?!" Shera terisak di tengah hujan yang mengguyur.
"Kenapa Morgan! Kenapa kamu mengkhianati ku?!"
Kado spesial yang disiapkan luluh lantah di atas tanah setelah dia banting dan diinjak-injaknya dengan brutal. Meluapkan rasa sakit yang menghujam-hujam hatinya.
__ADS_1
Bertanya pada dunia tentang pengkhianatan sang kekasih pun tak ada jawaban, sampai dunianya menggelap dan dia ditemukan pingsan di tengah jalan.
Dan setelah saat itu, Shera membenci semua laki-laki. Bahkan trauma yang mendalam membuatnya tak ingin mengenal laki-laki manapun. Sampai usianya 32 tahun dia tetap menyendiri.
Pengkhianatan Morgan tidak pernah terjawab karena setelah itu Morgan menghilang hingga detik ini mereka dipertemukan kembali tanpa disangka-sangka.
"Siang itu Sahna menghubungiku, dia sedang membutuhkan bantuan. Karena aku dan dia memiliki ikatan saudara jauh, maka aku datang ke rumahnya. Dia memberiku minuman tak sadar dan hal yang tak diinginkan itu terjadi." Terlihat sekali menyesali perbuatannya.
"Lalu kenapa kamu tidak menjelaskannya waktu itu? Kalau memang kejadiannya seperti itu, aku bisa membantumu. Tapi kamu memilih menghilang. Sekarang, aku pun sulit mempercayaimu. Bisa saja penjelasan itu hanya alibi mu saja." Shera masih memandang benci ke arah Morgan. Kekecewaannya terlalu mendalam hingga sulit disembuhkan.
"Itu memang kenyataanya. Aku berani bersumpah. Walau aku menikah dengan Sahna, tapi cintaku tidak berubah sedikitpun padamu."
Shera berusaha teguh pendirian. Tidak mudah percaya begitu saja dengan penjelasan pria tersebut.
"Shera, tolong maafkan aku." Tiba-tiba Morgan berlutut di depan Shera. Menggenggam kedua tangan Shera dengan tatapan sendu.
"Lepaskan, Morgan! Aku butuh waktu!" sentak Shera dan pergi meninggalkan Morgan yang masih dalam posisi sama.
Shera masuk ke dalam mobil dan menyuruh supirnya untuk pergi dari tempat itu. Di perjalanan dia tak henti menangis.
Dia kembali ke tempat yang tadi, dan melihat Saina duduk di antara Valey dan pria yang diketahui adalah adiknya Shera.
"Saya sungguh minta maaf atas tindakan putri saya." Morgan kembali minta maaf. Tapi pria itu justru mendapat bogem mentah dari Narendra.
"Narendra!" pekik Valey kaget. Tiba-tiba saja Narendra menyerang Morgan.
"Ternyata kamu ... bajingan yang membuat Kakakku mati rasa terhadap pria manapun!"
"Brengs*k!!!" makinya.
Morgan memegangi pipi kanan yang terkena bogem mentah dari tangan Narendra. Mungkin saat ini sudut bibirnya membengkak dan mulai membiru. Narendra memukulnya dengan kekuatan penuh.
Walau dia terluka, tapi tidak memberi serangan balik kepada Narendra. Dia merasa pantas mendapatkan itu. Bahkan kalau Narendra membuat wajahnya babak belur dia siap dan pasrah. Menganggap itu adalah balasan setimpal atas apa yang dia lakukan di masa lalu.
"Narendra, cukup! Kamu melakukan kekerasan di depan Saina. Lihat, dia ketakutan menatapmu." Valey meraih kepala Saina ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Maaf, Valey, aku tidak bisa menahan amarahku. Aku sangat ingat bagaimana kesakitan dan kekecewaan Kak Shera terhadap pria ini." Narendra menunjuk Morgan dengan tatapan nyalangnya. Seolah diri itu ikut membenci Morgan.
"Aku memang pantas mendapat pukulan darimu atas kekecewaan kakakmu. Tapi jangan memukul ku di depan Saina," ujar Morgan.
"Naren, sudah. Tenangkan dirimu. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Beberapa pengunjung menyaksikan kita," ucap Valey lirih. Berharap emosi Narendra meredam.
Narendra mendengus kasar. Tidak sudi melihat Morgan.
"Kenapa Ante mau menikah dengan Om jahat ini? Dia sudah memukul Papa, aku takut Ante di juga di pukul sama Om itu." Saina menggenggam erat tangan Valey dan tidak berani melihat ke arah Narendra.
"Lihat, Saina jadi takut kepadamu, Naren," gumam Valey pelan.
"Terserah. Aku tidak peduli."
"Om itu namanya Narendra. Sebenarnya tidak jahat. Tapi karena Papa Saina dan Om Naren punya masalah, makanya mereka bertengkar."
"Apa seperti aku dan Andini ketika berebut mainan? Setelah itu kami marahan," cerita Saina.
"Yah ... bisa dibilang seperti itu." Valey menganggukkan kepala.
"Tapi nanti bisa baikan dan main bersama lagi," imbuhnya.
Narendra memutar bola mata, jengah dengan kedekatan Valey dan anak kecil bernama Saina itu.
"Valey, ayo kita pulang!"
Valey mengangguk dan beralih lagi pada Saina.
"Sayang, sudah malam. Ante pulang dulu, ya. Saina juga harus istirahat."
"Saina tidak mau istirahat. Saina takut tidak bisa bertemu Ante lagi," sedih bocah itu.
"Saina bisa menemui Ante kapanpun. Ante tidak pindah-pindah lagi."
Setelah berbagai bujukan, akhirnya Saina mau dibawa pulang. Morgan berjanji akan membawa Saina mengunjungi tempat tinggal Valey.
__ADS_1