
Keesokan harinya, ketika keluarga Narendra sedang menikmati sarapan. pembantu yang lain memberitahukan jika ada tamu yang datang.
"Tamu siapa yang datang sepagi ini, Kak?" Narendra bertanya pada Shera yang di balas gelengan tidak tahu.
"Biar aku liat." Shera bangkit untuk melihat tamu siapa yang datang. Tapi Narendra mencegah.
"Biar aku saja!" Dan langsung menuju ruang tamu.
Saat Narendra dekat dengan pintu masuk, dadanya bergemuruh melihat Morgan berdiri di depan pintu.
"Masih punya nyali untuk datang ke rumahku!" ujar Narendra sengak. Wajahnya masih diliputi kebencian. Pria di depannya itu yang membuat kakaknya sakit, maka dia juga ikut merasakan sakit.
"Narendra, putriku demam dan terus mencari Valey. Tolong izinkan dia bertemu Valey."
"Tidak ada urusannya dengan kami. Aku tidak menerimamu, cepat pergi!" usir Narendra. Tidak peduli dengan Saina yang terlihat lemas di gendongan Morgan. Itu bukan urusannya. Pikirnya.
"Narendra, tolong. Sebentar saja," pinta Morgan.
"Kamu bicara dengan siapa, Narendra?" Shera menyusul Narendra yang begitu lama menemui tamunya. Shera penasaran dengan tamu yang datang di pagi itu.
Shera menghentikan langkah saat melihat Morgan sedang menatap ke arahnya. Jantungnya masih berdebar kala melihat wajah pria masa lalunya itu.
"Ada apa, Morgan?" Setelah beberapa saat menguasai diri. Shera menanyakan tujuan pria itu datang.
"Saina sakit, dia ingin bertemu dengan Valey. Tapi Narendra tidak memberi kami izin."
Shera melihat Narendra. "Narendra, biarkan mereka masuk."
"Tapi, Kak ...?"
"Ini bukan urusan orang dewasa, tapi tentang menolong anak kecil."
Narendra mendengus kasar dan kembali masuk ke ruang makan.
"Semua gara-gara kamu yang memberitahu alamat ini pada pria brengs*k itu. Pagi-pagi membuatku kesal," gerutunya di dekat Valey. Sementara wanita itu mengeryit, tidak mengerti.
Namun tak berapa lama Shera dan Morgan tampak beriringan menuju meja makan.
"Ante Valey ...!" teriak Saina girang.
"Eh. Hay ... sayang. Sepagi ini sudah datang?" Valey tersenyum. Sekarang dia tahu apa yang membuat Narendra kesal. Bukannya merasa bersalah, dia justru tersenyum lucu.
"Kata Ante, Saina boleh menemui Ante kapanpun."
"Iya."
"Saina pengen ketemu sekarang juga."
"Oh begitu. Oke, tidak masalah."
__ADS_1
Di tempatnya duduk, Narendra melirik sinis.
"Cih, tidak masalah bagaimana?! Jelas masalah lah! Menyebalkan!" gumamnya dalam hati.
Di kursi yang lain, tatapan Morgan tak beralih dari wajah Shera. Tampak sekali pria itu masih sangat menganggumi kecantikan Shera.
Andai waktu bisa di ulang, dia ingin mengulang saat dia memutuskan datang ke rumah Sahna yang ternyata wanita itu hanya menjebaknya.
Dia bersumpah, sampai detik itu perasaanya masih sama untuk Shera. Tak berubah sedikitpun. Namun waktu lah yang justru mengubah takdirnya.
Di kursinya, Narendra semakin sebal melihat kedekatan Valey dengan Saina. Dia merasa diacuhkan. Dan memutuskan untuk segera berangkat ke kantor.
Namun sebelum meninggalkan rumah, dia berpesan kepada kakaknya agar jangan memberi celah pria itu masuk ke keluarganya.
"Kamu tenang saja, Kakak akan menjaga dan mengawasi Valey."
"Bukan hanya Valey, tapi Kakak juga harus menjaga diri agar tidak goyah dengan kehadiran pria brengs*k itu. Ingat, bagaimana dia dulu menyakitimu, Kak!"
"Iya-iya," ujar Shera. Dia menghela napas sebelum kembali bergabung dengan Valey dan Morgan di meja makan.
"Kak, aku mau ajak Saina ke kamar melihat Vandra," kata Valey.
Kini di meja makan hanya ada Shera, Morgan dan keheningan. Shera yang belum selesai menyantap makanan tampak santai meski dalam hatinya gugup.
Bagaimana tidak, Morgan selalu memandanginya tanpa beralih sedikitpun. Tak bisa dipungkiri jika hatinya masih memiliki perasaan suka dengan pria tersebut.
"Shera, tak bisakah kita seperti dulu?"
"Aku dulu statusku tidak seperti dulu karena sekarang aku memiliki Saina. Tapi demi Tuhan, perasaanku masih sama untukmu Shera. Cintaku masih terjaga untukmu."
"Berhenti membual, Morgan! Kamu sudah mengkhianati ku. Kamu sudah bersama Sahna, aku tidak ingin berada di antara kalian! Cinta kita hanya masa lalu, lupakan! Lupakan semuanya. Aku mengizinkan mu di sini karna putrimu." Shera memperingati dengan tegas.
Morgan tersenyum singkat. Lalu mengusap wajah pelan. "Sahna sudah berbeda alam dengan kita. Makanya Saina terus terusan memintaku menikahi Valey, karna Valey sedikit mirip dengan mamanya."
Shera cukup terkejut mendengar wanita bernama Sahna ternyata sudah berbeda alam dengan mereka.
"Valey mirip dengan Sahna?" gumam Shera. Sudah cukup lama hingga dia lupa dengan wajah Sahna.
"Aku berharap kamu mau memikirkan tawaranku, Shera."
•
Di kamar Valey. Saina berlonjak kecil melihat bayi kecil sedang bermain dengan setumpuk mainan.
"Dia siapa, Ante?"
"Adik kecil itu namanya Vandra," ujar Valey memperkenalkan Vandra pada Saina. Gadis kecil itu mengangguk-angguk.
"Dia anak Tante," imbuhnya.
__ADS_1
"Hah? Tante sudah punya anak?"
Valey tersenyum melihat Saina terkejut. Justru terlihat lucu.
"Makanya itu Tante mau menikah dengan Om Naren. Biar Tante bisa punya keluarga kecil, seperti keluarga Saina," Valey selalu menjelaskan dengan lembut.
"Tapi kan mamaku meninggal, jadi keluargaku tidak lengkap lagi." Saina menunduk dengan sedih.
"Hay, kalian lagi main apa nih?" Shera muncul dan bergabung dengan mereka. Yah, pembicaraannya bersama Morgan terlalu berat, dia memutuskan untuk menyusul Valey ke kamar.
"Dia Kenapa, Valey, kok terlihat sedih?" bisik Shera, ketika melihat Saina berwajah murung.
"Teringat dengan ibunya yang sudah tidak ada."
Shera menghela napas. Merasa kasihan melihat Saina sangat merindukan sesosok ibu.
"Si cantik ini namanya siapa, ya? Saina, bukan?"
Saina mengangguk.
"Kok sedih gitu mukanya. Nanti jelek, loh. Gak dapet kotak rahasia dari Tante Shera."
Saina mulai melirik ke arah Shera. "Kotak rahasia apa, Ante?"
"Ada deh. Kalau Saina mau dapat kotak kado dari Tante, senyum dong. Gak boleh cemberut lagi."
Saina menampilkan senyum di depan Shera. Lalu mereka bermain sebentar.
"Kakak kenal dengan Tuan Morgan?"
Pertanyaan Valey membuat Shera menaruh mainan barbie.
"Iya, sangat kenal." Pandangan Shera mengawang. Lalu mulai menceritakan hubungannya dulu dengan Morgan.
"Aku lihat, Kakak masih punya perasaan kepada Tuan Morgan?"
Shera tersenyum kecut. "Tapi pengkhianatan Morgan sangat melukai hatiku."
"Coba Kakak berdamai dengan luka. Berpikirlah jika yang terjadi memang sudah digariskan. Maka hati Kakak akan bisa menerima masa lalu."
Shera terdiam. Selama ini dia terlalu menyalahkan Morgan, juga membenci pria itu. Hingga tidak berpikir kalau semua yang terjadi memang sudah takdir dari Tuhan.
Beberapa saat memikirkan hal itu, Shera mulai tercerahkan.
"Terima kasih, Valey. Aku akan berusaha berdamai dengan waktu."
"Apakah itu artinya Kakak akan memberi kesempatan untuk Tuan Morgan?" ?
"Entahlah. Tapi setidaknya aku akan memaafkannya."
__ADS_1
"Tuan Morgan sepertinya pria baik, Kak. Coba Kakak pikirkan lagi kemauan hati Kakak."
"Emh." Shera mengangguk.