Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman

Kebebasanku Terenggut Akibat Kesalahpahaman
Malam Pengantin yang Tertunda


__ADS_3

"Saya mengambil engkau Valeycia Brielle sebagai istri saya untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kesusahan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai sampai maut memisahkan kita. Sesuai dengan hukum Tuhan dan inilah janji setiaku yang tulus."


Valey menitikkan air mata saat Narendra mengucap janji suci untuknya di depan pendeta dan saksi yang datang. Setelah dia membalas janji setia yang sama, maka mereka resmi menjadi pasangan suami istri yang diberkati.


Ikrar janji suci itu ditutup dengan kedua mempelai yang berciuman. Sebagai pemula hubungan mereka.


Meski Valey duduk di kursi roda, tak membuat pancaran kecantikannya berkurang. Hari ini dia sangat cantik dengan balutan gaun pengantin yang indah. Riasan di rambutnya menambah kadar kecantikannya.


Tuxedo putih juga membalut tubuh atletis milik Narendra, membuat pria itu terlihat gagah dengan penampilan sempurna.


Bahkan makhluk kecil bernama Vandra menggunakan tuxedo senada seperti ayahnya. Walau belum mengerti dengan apa yang terjadi, tapi makhluk kecil itu seolah ikut merasakan kebahagiaan kedua orang tuanya.


Dan, kembali pada momen Narendra juga Valey, riuh tepuk tangan para saksi yang datang membuat Valey gugup dan menyudahi ciumannya bersama Narendra.


Setelah kemarin Morgan dan Shera yang menggelar janji suci, hari ini tiba waktunya Narendra dan Valey yang mengucap janji suci di depan pendeta.


Resepsi di adakan bersama Morgan juga Shera, hingga di atas pelaminan ada dua pengantin yang berbahagia.


"Huh sialan, mereka membuatku iri," celetuk Kindra di sudut ruangan sedang meratapi nasib yang belum menemukan pasangan hidupnya.


Namun dalam hatinya dia ikut bahagia melihat sahabatnya sudah menemukan kebahagiaan.


Di tengah-tengah Morgan dan Shera ada Saina. Sementara Narendra dan Valey ada Vandra.


Dalam momen bahagia itu, mereka tak henti menebar senyuman kepada tamu-tamu yang hadir.


Dan ketika malam hari, Vandra sudah mulai merengek tidak nyaman, Valey memutuskan untuk meninggalkan ruang pesta. Bersama Nanny, dia membawa Vandra ke kamar hotel yang sudah disiapkan.


Valey menemani Vandra sampai terlelap, setelah itu kembali ke kamar pengantin. Sedangkan Vandra akan di jaga oleh Nanny.


Satu wanita yang ditugaskan untuk membantu Valey, mengantarnya sampai di depan kamar. Setelah itu Valey mengatakan akan melakukan apapun seorang diri.


Kursi roda electrick memudahkan Valey untuk kesana-kemari tanpa bantuan orang lain. Dia tersenyum melihat kamar pengantin yang dirias sedemikian.


Ini semua seperti mimpi, mengingat perjalannya sangat panjang dan penuh kesakitan. Semoga saja ini awal kebahagiaan yang akan mengiringi mereka sampai maut memisahkan.


"Apa kamu sudah tidak sabar untuk tidur di ranjang itu bersamaku?"


Kedatangan Narendra yang tidak diketahui membuat Valey terkejut. "Naren ...."


Pria yang melepas tuxedo itu berjalan mendekati pengantin wanitanya. Membungkuk di belakang tubuh Valey dan memposisikan wajah mengendus ceruk leher istrinya.


Istri? Hi hi ... geli sekali mendengar kata istri. Tapi itulah status Valey sekarang, menjadi istri seorang Narendra.

__ADS_1


"Naren, jangan seperti ini, aku geli." Valey menggerakkan bahu agar Narendra menjauhkan wajahnya dari sana.


Narendra memang menjauh, tapi hanya untuk mematikan lampu utama. Setelah itu kembali mendekati pengantin wanitanya. Seolah ada magnet yang menyatukan mereka.


Narendra mengangkat tubuh Valey untuk di pindahkan ke atas ranjang. Dia pun memposisikan tubuh di atas tubuh Valey.


Matanya yang tajam berubah dipenuhi kabut gairah. Wajah malu-malu Valey membuatnya semakin ingin merealisasikan keinginannya.


Dia mengawali dengan mencium bibir Valey dengan lembut. Mencecap dan menikmati rasa manis yang sesungguhnya. Membuai dalam gelora yang semakin besar.


Valey bernapas tersengal saat Narendra baru melepas ciuman mereka setelah beberapa menit berlalu. Wajahnya semakin merona dan gugup.


"Naren ...," panggil Valey lirih.


"Hem." Narendra terbuai dan segera ingin memulai. Panggilan Valey yang mendayu membangkitkan gairahnya.


"Kamu meninggalkan pesta. Apa tamunya sudah pulang?"


Hah? Narendra yang terpejam seketika membelalakkan mata. "Tidak perlu mengurus itu. Biar di urus Morgan dan Kak Shera. Kita lanjutkan sampai tuntas."


"Melanjutkan apa?"


Aysh, Valey tidak tahu apa pura-pura tidak tahu. Narendra menghela napas panjang.


"Melanjutkan malam pengantin kita."


Umh, menggemaskan sekali kalau dia terlihat malu-malu. Narendra ingin memakan Valey sekarang juga.


"Kamu dan aku sudah menjadi kita, jadi jangan malu lagi." Narendra sudah akan memulai pertarungan, tapi lagi-lagi Valey mengacaukannya.


"Tapi aku belum bersih-bersih."


"Tidak masalah. Nanti kita mandi bersama."


"Naren ...."


"Hem ...."


Pria itu menggerayangi punggung Valey untuk menurunkan resleting gaun pengantin. Di lakukan secara perlahan. Dengan kembali menyatukan bibir mereka.


Setelah berhasil dengan urusan resleting, telapak tangan penuh otot itu berpindah ke dada Valey yang masih tertutup rapat. Gairahnya semakin memuncak dan hampir tak terbendung.


Dan ketika tinggal selangkah untuk menyatukan diri mereka. Suatu gangguan muncul dari luar.

__ADS_1


"Narendra! Valey! Buka pintunya."


"Oh, ****!" Narendra langsung mengumpat kasar. Menjatuhkan diri di samping Valey dengan tangan terkepal.


Oh Tuhan, dia mengutuk seseorang yang sudah mengganggunya.


"Kak Shera!" ujar Valey. "Cepat pakai kembali pakaiannya. Dan buka pintunya."


Tok ... tok ....


"Narendra, Valey, Kakak tau menganggu kalian, tapi ini penting."


"Apa ada hal penting sebelum kita melakukan malam pengantin," gerutu Narendra yang harus memakai kembali pakaiannya padahal baru beberapa menit yang lalu dilepaskan.


Narendra duduk sebentar untuk menangkan diri. Dia melirik ke bawah yang masih terlihat menonjol meski sudah di tutup kembali.


"Tenanglah, ini hanya gangguan kecil. Kita bisa melakukannya lagi nanti," ucapnya pada adik kecil yang sudah bereaksi namun gagal melakukan tugasnya.


Valey menertawai Narendra. Ada-ada saja tingkah pria itu.


"Sabar, ya." Valey ikut meledek dan masih tertawa lucu.


"Hei, kalian dengar aku tidak! Kenapa lama sekali membuka pintunya!" Shera kembali berteriak tidak sabaran. Membuat Narendra melangkah cepat untuk membuka pintu.


"Kenapa menganggu?! Apa Kakak tidak melakukan ritual pengantin juga?!" sembur Narendra dengan kesal yang hanya dibalas mencebik.


"Kalau tidak penting, Kakak juga tidak akan menganggu mu."


"Apa ada yang lebih penting dari malam pengantin!" ucap Narendra.


"Pending itu. Vandra demam dan sedang di bawa ke rumah sakit oleh Nanny. Cepat susul mereka."


"Vandra demam? Tadi dia baik-baik saja."


"Namanya anak kecil, kalau capek biasanya langsung demam. Malam pengantin mu bisa dilakukan besok-besok lagi. Kasian Vandra kalau mencari keberadaan kalian."


"Aku akan menyusulnya sekarang."


"Selesai Kakak bersih-bersih, Kakak juga akan menyusul ke rumah sakit," ujar Shera dan berbalik pergi.


"Malam pengantin Kakak juga tertunda, dong!"


Sambil berjalan, Shera menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kakak sudah, tadi malam."


"Huh sialan," umpat Narendra.


__ADS_2